Apa beda anak-anak sekolah di Indonesia dengan di Jerman?


(Disclaimer: ini pengalaman pribadi, bisa saja saya subyektif memaknainya. Jika anda punya sudut pandang berbeda silahkan anda share).

Zahra

Saya punya sahabat di Indonesia, dia seorang Professsor top, istrinya seorang Doktor! Jadi jangan ragukan kehebatan mereka berdua. Secara tidak sengaja beberapa tahun lalu ketemu, istri yang Doktor itu dalam obrolan ringan mengeluh tentang sekolah anaknya: “Fer, aduh SD disini sulit sekali. Harus bantu anak-anakku kerjakan soal yang susah-susah. Jadi agar mereka bisa kerjakan soal kadang harus dikasih kursus tambahan!”

Aku juga dengar keluhan lainnya: “dulu juga harus susah payah ngajarin anak2 saat TK untuk sudah bisa membaca. Jika ndak bisa membaca, ndak bisa masuk SD, lebih ndak mungkin lagi masuk SD yang bagus. Jadi, masih kecil terpaksa dipaksain belajar membaca”.

Aku jadi teringat putri sulungku. Putriku baru bisa membaca saat kelas 2 SD (menurut standard Jerman). Menariknya, saat ini dia kelas 5 SD sudah biasa sekali melahap buku-buku cerita beratus2 halaman. Begitu dia bisa membaca maka sudah banyak buku yang di-khatam-kan. Nah, sejak kelas 4 SD, buku yang dia baca sudah bukan buku-buku tipis bergambar tapi buku tebal yang gambarnya sedikit dan diatas 100 halaman. Meskipun Cergam Tim und Struppi (Indonesia: Tintin dan Snowy) adalah bacaan favoritnya sambil dia terkekeh-kekeh.

Hampir setiap akhir pekan, buku yang kita pinjam dari perpustakaan, setelah pagi harinya dia selesaikan sekolah B. Arabnya (selama 4 jam) dan kadang Kursus Nari Jawa/Sunda di KJRI, maka dia akan tekun menamatkan buku-buku bacaannya. 250 halaman itu biasa dari sore akhir pekan sampai besok minggunya selesai dibaca.

Tapi ini bukan hal istimewa. Teman-temannya juga punya minat yang tinggi dalam membaca. Mereka membaca berbagai buku dan kadang setelah selesai membaca akan dengan percaya diri “memamerkan” ilmunya baik ke orang tuanya, teman main sekolahnya bahkan ke orang lain saat diskusi. Mereka percaya diri dalam mengeluarkan ide-ide dan opininya.

Tapi jangan anda pikir bahwa sekolah disini tidak ada PR?!
Wah PR-nya seabrek dan itu tiap hari pasti ada PR. Bedanya, sang guru sudah ukur jika anak2 level kelas 1-2 SD maka dalam waktu 30 menit PR tersebut bisa diselesaikan.
Klo kelas 5 SD misalkan, butuh waktu kira2 1 jam untuk selesaikan PR-nya. Jadi, mereka tiap hari dikasih PR dan dicek oleh gurunya apakah dikerjakan benar atau asal-asalan. Ini membangun tanggung jawab atas tugasnya.
Naura

Dari sini aku belajar bahwa pendidikan anak itu adalah hakekatnya masalah kecintaan atas ilmu dan membangun tanggung jawab. Pendidikan itu bukan cepat-cepatan bisa membaca atau bisa mengerjakan soal ujian atau tahu cara cepat selesaikan soal matematika. Pendidikan itu bukan Olimpiade Lari Spinter 100 meter, siapa cepat dia memang. Bukan itu…

Pendidikan itu membangun cinta terhadap ilmu. Klo orang Jerman bilang Leidenschaft alias passion. Mereka menjadi cinta terhadap membaca. “If you want to be wise you have to love reading”.

Sayang orang Indonesia tidak dididik untuk cinta membaca. Mereka dididik untuk tahu cara mengerjakan soal cepat2an agar bisa lulus ujian. Mungkin kah filosofis pendidikan kita itu menggagap orang berilmu itu adalah orang yang menang kuis Cerdas Cermat…?

Dari Tepian Sungai Elbe

Baca

2 thoughts on “Apa beda anak-anak sekolah di Indonesia dengan di Jerman?

  1. bahkan di sekolah anak saya, ada org tua yg ‘ngasong2in’ anaknya pada guru utk bisa menjadi yg pertama dan utama, pdhl kemampuan anaknya biasa saja. Saya merasa kasihan pada anaknya. Dan menurut gosip, entah benar atau tidak, ranking di sekolah anak saya bisa dibeli. Astaghfirullahaladziim… Padahal anak bukan hanya sekedar angka

  2. Assalamualaikum mas, saya Reti dari Jakarta dan saya senang sekali membaca blog ini.
    Insya Allah Desember nanti saya dan keluarga akan pindah ke Hamburg dalam rangka ikut suami pindah kerja ke sana. Kebetulan anak kami 2 dan saya butuh referensi mengenai sekolah dan sistem pendidikan bagi anak usia dini di sana. Bolehkah saya tanya2 lebih lanjut melalui email pribadi? Terimakasih sebelumnya dan salam hangat dari Indonesia🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s