Yogyakarta bukan Luxembourg atau Monaco!


alun-alun_utara_kota_jogja104102013025331 Gambar Yogyakarta dengan Alun-Alun Utaranya

Beberapa tahun lalu (jaman fesbuk belum populer betul) saat debat keras di Milis Kagamamuda, —milis dimana tempat ngumpul para mantan Aktivis Senat Mahasiswa dan Gelanggang UGM di era 90-an—, terjadi debat panjang antara Pro Kontrak Keistimewaan DIY. Diawali dengan Rekomendasi Tim Guru Besar UGM ingin DIY itu bukan “kerajaan”. Mereka tidak ingin Sultan Yogya “Otomatis” menjadi Gubernur DIY.

Saya termasuk menolak usulan diatas. Saya setuju DIY seperti sekarang ini yang seperti “Kerajaan”. Sekarang kita sama-sama tahu DIY punya otonomi yang begitu luas dimana Sultan Yogya memerintah seperti dalam sistem “kerajaan”.

Gambar Kota Luxembourg:luxembourg-1

Alasan saya dulu setuju dengan sistem seperti ini karena ada contoh kisah suksesnya Luxemburg dan Monaco. Mereka adalah kerajaan kecil dengan sistem Kerajaan dimana Raja lah yang berkuasa.

Memang ada juga kisah sukses kerajaan dimana Raja sekaligus menjadi kepala pemerintahan yaitu Abu Dhabi, Dubai dan Brunei. Hanya saja kesuksesan mereka karena adanya anugerah minyak yang ngucur dari dalam perut bumi yang tiada terkira.

Nah, DIY ini lebih mirip Luxembourg atau Monaco. Mereka ndak punya kekayaan alam tetapi memiliki SDM yang luar biasa. SDM Luxembourg dan Monaco salah satu terbaik di Eropa. SDM DIY terbaik di Indonesia. Jadinya, saya berharap jika DIY diberikan otoritas dengan sistem kerajaan akan amat maju.

Kekuasaannya langgeng sehingga tidak terlibat intrik politik jangka pendek dagang sapi. Saat bersamaan dengan SDM yang begitu hebat digawangi secara spirit dengan Universitas terbaik dan terbesar yang dimiliki oleh Republik ini, plus ratusan Universitas bagus lainnya, maka DIY akan dengan cepat menutup celah dengan Singapura dan akan semakmur Singapura atau Brunei.

Impian saya saat itu:
Akan terbangun Lembah Silikon “Palo Alto”-nya Amerika di Pegunungan Kidul, akan terbangun Lembah Bioteknologi “BioPark London” di Pegunungan Menoreh, Lembah UGM menjadi “Kawah Chandradimuka”-nya para intelektual2 terbaik Asia dan bahkan dunia, membangun industrial park “Eindhoven”-nya Asia sebagai pusat innovasi UKM.

DIY menjadi Pusat Wisata “Monaco”-nya Asia, Pusat Keuangan “Luxembourg”-nya Asia serta di Selatan Bantul menjadi Kota Pelabuhan “Hamburg”-nya Asia sebagai pusat perdagangan dengan Australia serta menjadi jembatan laut Perdangangan dengan Timur Tengah dan Afrika.

“Ini Yogya mas!!!”
DIY punya segalanya untuk itu: SDM terbaik di Indonesia, sistem sosial dengan “social trust” yang amat tinggi, sistem politik yang stabil! Sudah mau apalagi?! Ini benar-benar modal kuat menjadi terbaik di Asia!

Tidak ada konflik Parpol, tidak ada Pilkada Uang, tidak ada Parlemen yang seperti Taman Kanak-Kanak. Tinggal Visi Raja saja harus bener dan pener, setelah itu perintahkan Rakyatnya yang Pinter-Pinter dan Loyal-Loyal ini untuk mewujudkan itu semua.

“Ini Yogya mas!!!”
Yogya itu harusnya menjadi pesaing terkuat Singapura, Hong Kong dan Dubai di Asia! Yogya itu harusnya sehebat Luxembourg atau Monaco. Itulah awalnya saya dulu kenapa saat debat terbuka amat panjang di milis Kagamamuda dengan para sahabat saya, saya pribadi memilih lebih setuju DIY mirip “kerajaan” dengan kekuasaan Raja yang besar. Adakah sejarah hari ini menyatakan faktanya bahwa keinginan saya dulu itu terwujud saat ini atau minimal Yogya lebih baik? Akankah Yogyakarta seperti Luxembourg atau Monaco?

Gambar Kota Monaco: monaco-and-eze-small-group-day-trip-from-nice-in-nice-48425

Dari Tepian Lembah Sungai Elbe

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s