Menjadi Dosen!


Insya Allah Semester depan jika tidak ada halangan saya menjadi Dosen Tamu di Universität Hamburg di Asien-Afrika-Institut. Rasa berbinar ini bukan hanya semata-mata karena Universität Hamburg amat prestisius, tapi ini juga sebuah tugas yang sesuai kata hati saya. Akhirnya cita-cita saya menjadi dosen terwujud meskipun hanya berstatus dosen tamu.

hamburg

Sebenarnya passion saya itu sejak dulu adalah dosen, bukan menjadi Konsultan IT dan Manajemen. Saya benar-benar sangat cinta dengan pekerjaan sebagai dosen. Sayang sekali meskipun sempat nyaris mau menjadi dosen “Fatima” (Fakultas Teknologi Informatika dan Multimedia) UGM Yogyakarta tahun 2006 sebagai PT BHMN kala itu, dikarenakan fakultasnya aborsi sebelum lahir jadilah SK-nya batal, maka saya memutuskan berkarir di Jerman saja.

Meskipun sebagai penggantinya adalah sebuah tawaran menarik yaitu menjadi Konsultan SAP, Business Process Design dan Business Intelligent di BMW Headquarter di München, tetap saja menjadi Dosen lah cita-cita saya yang tidak pernah pupus.

Bagi saya dosen itu pekerjaan yang amat mulia. Itu adalah pekerjaan mendidik dan menanamkan idialisme. Pekerjaan memperkaya sudut pandang. Pekerjaan “Amar Maruh Nahi Mungkar”. Itu pekerjaan mulia, meskipun miskin kompensasi finansial.

Tentu saja saya sadari menjadi dosen tidak akan dapat kompensasi finansial besar. Tapi memang dalam hidup itu tidak boleh kemaruk alias greedy; ingin mulia, ingin juga dapat uang banyak. Banyak dosen itu “kemaruk”, gaji dosen memang dimana pun itu sedikit, tapi itukan pekerjaan mulia.

Cuma karena banyak yang “kemaruk” maka mulia saja tidak cukup baginya, mereka butuh kaya. Jadilah mroyek untuk kepentingan dapat menggelembungkan penghasilannya belaka. (Catatan: tentu mroyek boleh jika tujuannya memang “link and match” antara institusi pendidikan dan industri). Kerugiannya jika mroyek karena motivasi uang belaka: idialisme dosen terkooptasi oleh kepentingan industri.

Kembali pada sejatinya tugas dosen; di tangannya lah spirit idialisme sebuah bangsa dijaga. Dosen punya legitimasi moral untuk bicara benar adalah benar dan salah adalah salah. Mereka harus mampu menjadi garda depan navigasi sebuah bangsa dalam membangun peradabannya secara benar.

Oleh karena betapa mulianya profesi dosen itu maka dia harus bisa menjaga jarak untuk tidak berada di bawah posisi Proyek Manager atau Proyek Owner sebuah perusahaan. Ini berarti menurunkan kredibilitas profesinya yang amat mulia…

Dari Tepian Lembah Sungai Elbe

One thought on “Menjadi Dosen!

  1. Assalamualaikum Bapak Ramli, salam hangat saya dari Indonesia.

    Baru dua hari ini saya membaca blog Bapak tentang berkuliah di Jerman, tetapi semangat, motivasi dan keinginan yg kuat untuk berkuliah di Jerman entah mengapa mengalir begitu derasnya di nadi saya. Berawal dari keingin tahuan saya mencari universitas terbaik di Dunia mengantarkan saya ke blog Bapak. Sungguh suatu inspirasi dan berkah besar saya bisa membaca blog anda. Dari tulisan – tulisan anda saya mendapatkan informasi bahwa anda sudah lama tinggal dan bekerja di Jerman, bahkan anda sekarang menjadi dosen tamu di Universität Hamburg, selamat ya pak saya ucapkan. Jika Bapak berkenan saya ingin bertanya pak, jika saya ingin mengambil S2 di Jerman jurusan psikologi.. Universitas mana yg bisa saya jadikan acuan untuk melangkah ke Negara asal “Bratwurst” ini? Dan bagaimana menurut Bapak untuk universitas yg Bapak refrensikan ke saya, apakah Universitas tersebut memang bagus untuk bidang Ilmu Social dan Ilmu Psikologi? karena menurut pengetahuan saya dan dari artikel yg Bapak tulis kebanyakan Universitas di Jerman lebih mengedepankan Ilmu Science serta Technologi Industry. Jika ada waktu luang mohon kesediaannya menyediakan waktu Bapak yg begitu berharga untuk menjawab pertanyaan saya ini. Balasan Bapak Ramli sangatlah saya tunggu dan nantikan. Wassalamualaikum Wr. Wb

    Salam hangat dari penggemar anda di Indonesia

    XXXXXXX

    Salam,

    Pertama adalah penting untuk digaris-bawahi, seingat saya tidak pernah menulis satu kali pun bahwa universitas di Jerman itu lebih mengendepankan sains dan teknologi. Yang selalu saya tulis adalah sebaliknya bahwa Univ Jerman amat maju di bidang sosial, seni dan budaya. Dikarenakan kemajuan tersebut maka mereka memiliki keunggulan untuk mengembangkan riset di bidang sains dan teknologi. Jadi, keunggulan di bidang sains dan teknologi adalah konsekuensi logis dari majunya ilmun sosial dan keteraturan sistem sosialnya. Seperti itu yang saya sering tulis🙂

    Kedua, tidak ada referensi universitas mana yang baik. Semua universitas di Jerman kualitasnya relatif sama. Jadi yang penting diterima di jurusan yang kita minati dan bisa lulus.

    Ketiga, untuk mencari universitas yang tepat dengan minat studynya maka saran saya luangkan waktu untuk searching di cockpit data base universitas Jerman: http://www.hochschulkompass.de

    Salam hangat dan Semoga Sukses

    Ferizal Ramli

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s