Memahami Rizal Ramli vs Jusuf Kalla!


perseteruan-rizal-ramli-dan-jusuf-kalla-sudah-meletup-sejak-2004

Tolong dibedakan yah saya menulis tentang “Rizal Ramli” bukan “Ferizal Ramli” yah🙂

Baru-baru ini banyak orang heboh karena Rizal Ramli mengkritik kebijakan pembelian Garuda secara terbuka, atau justru menantang Jusuf Kalla dalam debat terbuka tentang kebijakan pembangunan listrik 35.000 MW. Orang-orang heboh karena kok kabinet saling serang.

Saran saya, anda semua tidak perlu seheboh itu kang/jeng semua. Mari kita pahami bersama:

1. Dalam negara demokrasi mestinya apa yang dilakukan Rizal Ramli itu masih dalam tahap “biasa” saja (catatan: “biasa” dalam tanda kutip). Itu “biasa” karena secara genetik bahwa beda pendapat di ruang publik dalam kabinet itu bisa diterima.

Kenapa? Karena tim kerja kabinet itu dibangun atas dasar kepentingan politik. Dimana2 kepentingan politik itu loyalitasnya tidak tunggal: tidak cuma pada atasan an sich. Loyalitasnya dalam politik itu bisa multi loyalitas. Dia bisa juga loyal ke konstituen, loyak ke prinsipnya, loyal ke partaimya, dll.

Klo sudah secara genetis bahwa tim kabinet dengan berbagai macam loyalitas, sementara dalam politik itu kuncinya memenangkan suara publik maka beda pendapat dalam kabinet yang diutarakan ke publik harus dimaknai dengan “biasa”. Yang penting kebijakannya bermanfaat ke publik.

2. Di negara-negara Barat seperti UK, Jerman atau Amrik serang-menyerang antara anggota kabinet bahkan anggota kabinet menyerang Perdana Menteri atau Presiden secara terbuka itu “biasa”.

Contoh: Robin Cook saat jadi menteri luar negeri UK pernah mengkritisi kebijakan PM-nya Tonny Blair terkait Irak! Kritiknya diajukan secara terbuka ke publik mirip Rizal Ramli mengkritik Jusuf Kalla!

Memang jika demokrasi seperti Rusia atau ala Melayu Malaysia/Singapura jarang sekali ada beda pendapat secara terbuka dalam kabinetnya. Sekali Deputy Perdana Menteri Malaysia berani beda pendapat terbuka dengan Perdana Menteri maka masuk penjaralah dia dengan tuduhan2 yang tidak jelas diarahkan padanya.

Terlepas kita masyarakat Melayu atau ingin seperti gaya Putin saja yang diterapkan, maka kita harus pahami dibelahan dunia lain beda pendapat seperti Rizal Ramli ini masih dalam konteks wajar.

3. Harus juga dipahami kita masyarakat Indonesia itu tidak adil dalam menilai. Dalam politik itu bising, hiruk-pikuk, penuh gadung biasa! Anda saja bising kok mengkritik, membela dll di berbagai media. Tujuannya apa? Tujuannya biar yang anda anggap benar itu yang akan dijalankan oleh pemerintah. Jadi ini untuk cermin berkaca bahwa memang politik itu gaduh🙂

Di pemerintahan dan di pemegang kebijakan juga sama. Mereka pun bising, ribut dan berisik. Jika anda tanya kenapa mereka tidak bisingnya secara internal saja? Jawabnya sederhana: jika secara internal mentok maka mereka butuh dukungan publik! Publik harus tahu masalahnya sehingga diharapkan publik mendukung.

Akibatnya wajar jika ada menteri sengaja berdebat di publik dengan menteri lain atau malah atasannya. Dia ingin publik tahu masalahnya sehingga dibukalah masalahnya ke publik.

Jadi, atas dasar apa jika ada yang menuntut dalam kabinet itu harus kerjanya sunyi dimana setiap perbedaan pendapat harus diselesaikan secara internal tanpa publik tahu? Bah, aturan dari mana pula ini?🙂

Kata akhir dari saya: santai aja mencermati perbedaan pendapat dan hiruk pikuk antar kabinet. Yang penting itu adalah awasi terus kinerjanya. Jika kinerjanya bagus mau kabinet ini hiruk pikuk, mau berisik, mau bising maka biarkan saja. Yang penting kinerjanya diawasi terus. Nah, kritik masyarakat harus lebih ke kritik kinerja.

Sementara jika Rizal Ramli jadi berdebat dengan Jusuf Kalla malah anda harusnya berterima kasih. Anda itu artinya dihormati karena anda diijinkan menilai apa yang terjadi di kabinet kita. Bahkan dibuka semuanya ke anda. Jadi, bukan malah anda uring-uringan atas kejadian ini yah🙂

Dari Tepian Lembah Sungai Elbe

3 thoughts on “Memahami Rizal Ramli vs Jusuf Kalla!

  1. Positif tinking, kritik itu juga satu cara untuk berkomunikasi pada level tertentu. Sy setuju nikmati aja. bisa saja ini prose pendewasaan meskipun pelakunya sudag pasca dewasa. sy malah menunggu, kapan ya jadi debat…ahhh lumayan sambil belajar mendengar cara perpikir orang

    XXXXXXX

    Saya menungguh kapan terjadi debat publik sambil setelah itu kita tinggal mengawasi kinerjanya🙂

  2. jangan ikut ikutan budaya negara barat.,kita di negara timut ini punya budaya sopan santun, saling menghargai, teposeliro lah, tidak sepantasnya berbuat hal seperti itu. lebih santun kalo itu di klarifikasi dulu secara intern baru lihat hasilnya gimana. jgn kita samakan negara kita, budaya kita dengan budaya barat.selama apapun sebuah negara timur berdemokrasi namun budaya nya tetap dikedepankan, itu perbedaannya,

    XXXXXXX

    Sopan santun dalam ketertutupan dan pengambilan keputusan proyek2 korup? Jangan atas nama sopan santun membuat kita begitu lemah atas transparansi🙂

  3. Setuju sekali saya dengan pandangan uda Ferizal.
    Ada dinamika politik yang perlu dipahami oleh publik Indonesia. Sebagian budaya Melayu harus dibuang agar bangsa ini bisa lebih maju dan berpikiran terbuka.
    Terima kasih atas pencerahannya, uda.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s