…dan Bojoku pun mulai berkarir di usia kepala Empat lebih


Make-UpWanita-400x260

Kemarin lusa adalah hari pertama Bojoku bekerja di sebuah Perusahaan. Pekerjaan sederhana tetapi yang amat menyenangkan baginya. Kuantar hari pertama kerjanya sampai ke depan Firma-nya. Selesai kerja pun kujemput dia di stasiun kereta Hamburg. Dia tersenyum dengan penuh suka cita amat sangat. Mungkin ini pertama kalinya di Jerman Bojoku bekerja dengan menghasilkan uang dalam arti membayar pajak sendiri, membayar Asuransi Jaminan Sosial sendiri, dll…, dll…, dll…

Memang sudah dimulai sejak 2 tahun terakhir kita bersama-sama mempersiapkan “hari depan” buatnya. Diawali dengan semakin intensif kursus B. Jerman, lalu kerja sosial menjadi asisten lepas membimbing anak-anak di Sekolah TK/SD, juga aktif dalam kegiatan Sosial Budaya lainnya…

Kesadaran ini tersentak dikarenakan 2 tahun lalu, saat Putri kecil bungsu kami kala itu usia 4 tahun dengan suara tercadel-cadel bersungut-sungut ke Mamanya: “Mama, lasst mich bitte in Ruhe” (Mama tolong biarkan saya sendiri saja).

Mungkin sang Mama terlalu melindungi sang Putri kecil. Lah bagi Putri Kecil yang mulai merasa mandiri karena di TK-nya diajari mandiri, malah “tidak senang” terlalu dilindungi Mamanya. Akibatnya dia meminta agar diijinkan main sendiri dan Mamanya dianggap “mengganggu”.

Sang Mama terkejut kaget. Aku bisa melihat sekilas ada rawut berubah dari wajah manis bojoku. Meskipun kami sama-sama diam atas perkataan putri kecilku, tapi pikiranku dan pikirannya saling menerawang. Aku bisa membaca kecemasan bojoku saat itu. Dia merasa putri-putrinya sudah semakin besar dan mandiri, lalu apa yang akan dia lakukan jika putri-putrinya sudah asyik membangun masa depannya masing2. Aku bisa membaca guratan kecemasannya disana…

Aku flashback akan masa lalu kami bersama-sama sudah 17 tahun menikah. Seperti kebanyakan Lelaki lainnya, aku “terdoktrin” lelaki itulah yang paling tanggung jawab cari uang, wanita di rumah urus keluarga. Sebagai wanita yang baik, istriku habiskan waktunya untuk mengurus keluarga dan mendidik anak2nya. Itu semua dia lakukan dengan nyaris sempurna. Tapi sekarang anak-anaknya sudah relatif besar, ada perasaan takut pada dirinya akan kehilangan arti penting bagi anak-anak2nya.

Malamnya, kita diskusi dalam tentang “masa depan” istriku. Umur sudah tidak muda lagi, sudah menginjak kepala 4 untuk bekerja apalagi berkarir. Tetapi tidak apa-apa toh uang bukan tujuan utama, yang penting harus mengisi hari-hari ke depan tetap bermakna dan berguna.

Mulai lah dibuat rencana matang: kursus B. Jerman lebih intensif 1 tahun lebih, lalu mulai aktif bekerja sosial di TK/SD, mulai aktif dalam kegiatan2 budaya dan organisasi.

Terakhir saat kulihat bojoku sudah mulai terbiasa aktif dengan kegiatan “non domestik rumah tangga”, maka kuajak dia ke “Job Center” Jerman agar dia dapat kursus keahlian, dll. Setelah berkonsultasi dengan Konsultant “Job Center” disarankan untuk cari kerja dulu supaya bojoku itu bayar Pajak ke pemerintah, bayar asuransi sosial, dll. Dengan begitu maka status Visanya di Jerman tidak cuma “Ikut Suami” tapi sebagai Subyek yang bekerja, membayar pajak dan bayar asuransi sosial lainnya.

“Kita tidak tahu apa yang terjadi esok hari. Jika sesuatu terjadi dengan anda (Herr Ramli, begitu sang Konsultan dengan hormat menyebut nama saya), sementara istri anda tidak pernah kerja dan bayar pajak disini (di Jerman) maka ini bisa sulitkan posisi istri anda kelak”. Jadi dukunglah istri anda kerja. Kami pun akan bersedia memberikan pelatihan yang dibiayai oleh pemerintah Jerman untuk tingkatkan skill-nya.

Hari itu juga kami putuskan untuk cari kerja buat bojoku di Firma. Memang usia sudah tidak muda tapi dimana ada kemauan disitu ada jalan. Lalu atas bantuan dari Sang Uni (Uni itu panggilan kakakku perempuan karena kita orang Minang) di hamburg, maka bisa juga bojoku bekerja.

…dan dia sekarang, saat aku menulis status ini, sedang dengan suka cita tersenyum simpul berangkat kerja karena dapat Shift Kerja hari Sabtu pada minggu ini. Cipika-cipiki denganku dan kedua putrinya, berangkat lah dia bekerja sambil penuh suka cita. Sambil bilang tahun depan aku akan coba mulai kuliah lagi untuk selesaikan MBA atau Masternya nya atau memilih menjadi “WirschaftprĂĽfer” alias Akuntan Publik katanya dengan penuh optimis karena merasa cita-citanya layak untuk terwujud.

Ah, aku senang melihat dia begitu percaya diri menatap masa depannya, semoga saja terwujud…

Dari Tepian Sungai Elbe
(Tulisan ini kudedikasikan buat kakakku Uni dan Abang di Hamburg yang telah banyak menolong)

One thought on “…dan Bojoku pun mulai berkarir di usia kepala Empat lebih

  1. saya suka menulis sejak SD. Tapi saya mulai menekuninya kembali baru2 ini, dimana usia saya sudah tdk muda lagi. Tak ada kata terlambat, menurut saya. Lewat blog, saya intens menulis dan saya menyenanginya. Inilah passion saya, walaupun tulisan saya bukanlah tulisan yang ‘wah’. Tapi setiaknya, kesenangan saya bisa tersalurkan. Semoga sukses utk nyonya pak.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s