“Leidenschaft” – Makna Penting dari Pembelajaran Puasa


1262322
Gambar: Ma Eroh

Sebenarnya saya amat bingung untuk menterjermahkan kata “Leidenschaft” di atas ke dalam B. Indonesia. Catatan: ucapkan “Leidenschaft” dalam dalam pengucapan Indonesia: La-i-den-syaf-t. Sementara dalam B. Inggrisnya dengan mudah kita temukan padanannnya adalah “Passion”. Sayangnya saya kesulitan menemukan padanannya dalam B. Indonesia secara akurat.

Di kamus Google Online itu artinya gairah. Di kamus Inggris-Indonesia John M. Echols; “Passion” artinya nafsu, keinginan besar, kegemaran, juga berarti gairah. Di kamus Jerman-Indonesia Adolf Heuken; “Leidenschaft” artinya juga nafsu, keinginan besar, kegemaran dan gairah.

Saya terus terang merasakan bahwa terjemahan pada kamus tersebut tidak pas. Dalam B. Inggris B. Jerman maka „Passion” dan „Leidenschaft“ itu terjemahannya amat pas. Tapi ketika diterjemahkan ke dalam B. Indonesia; apakah itu diartikan „nafsu“, „keinginan besar“ atau „kegemaran“ tampaknya tidak pas.

Diterjemahkan „gairah“ pun tidak pas. Dalam konteks tulisan saya ini andaikan harus digunakan kata „gairah“ sebagai terjemahannya maka harus dimaknai disana ada „kecintaan sepenuh hati dan kekuatan ketabahan“ dalam kata gairah itu.

Dikarenakan saya sulit menggunakan padanan kata Indonesianya maka ijinkan saya tetap menggunakan kata dalam B. Jermannya „Leidenschaft!“ atau jika dipaksa dalam B. Indonesia maka saya gunakan frasa: „Cinta dalam Ketabahan“ atau „Ketabahan dalam Cinta?“

Sekarang timbul pertanyaan yang menarik kenapa perlu membahas „Leidenschaft“ saat ini? Buat saya ini amat relevan karena dalam perenungan saya pribadi sesungguhnya Puasa itu adalah proses belajar kita untuk mempertebal „Leidenschaft“ di hati kita. „Leidenschaft“ itu adalah kekuatan yang tampaknya amat langka yang dimiliki oleh sedikit diantara kita semua.

Ingat Ma Eroh (tolong jangan ketukar dengan Bu Dukun Mak Erot) pemenang Kalpatruh yang membelah Gunung di Tasikmalaya. Dengan cangkul kecilnya nenek tua itu penuh tekad baja membelah gunung, membuat saluran air sepanjang 5 km untuk mengatasi kekeringan di daerahnya.

Ingat Bu Hajjah Rabiah yang dikenal sebagai suster apung menghabiskan separuh hidupnya bertaruh nyawa menyeberangi lautan si sekitar Kepulaun Sulawesi dan Flores untuk mengobati dan menyambangi pasien-pasiennya tanpa kenal takut gelombang samudera dan tanpa kenal lelah.

Baru ini juga di dunia Sosmed kita tahu M. Saleh Sopir Bus Malam yang bertampang Preman dan berhati Kyai pun menginspirasi kita dengan keping-keping keringatnya dari penghasilan sopir bus malam yang tidak seberapa, dia membangun sekolah buat orang tidak punya tanpa biaya.

Baru-baru ini juga Wahyudi anak muda pemulung pun berhasil dengan susah payah menyelesaikan sekolahnya dan saat ini kuliah MBA di ITB.

Novel masyhur „Laskar Pelangi“ pun sebenarnya cerita tentang apa itu arti kekuatan Cinta dalam Ketabahan. Bicara tentang perjuangan guru-guru desa yang menunjukkan dedikasi tanpa lelah tanpa pamrih kecuali hanya ingin mewujudkan idialismenya dengan cinta yang penuh ketabahan.

Masyarakat kita sesungguhnya masyarakat yang punya contoh-contoh nyata kekuatan dari „Leidenschaft“ itu. Kekuatan yang mampu bahkan untuk membelah bukit hanya dengan tekadnya. Kekuatan yang mampu menari diatas gelombang laut hanya dengan perahu sampannya. Kekuatan yang dalam penuh tekanan amat berat tetap tabah dalam cinta mewujudkan visinya.

Sayangnya sehari-hari kita terlalu didikte dengan cerita-cerita sinetron opera sabun dimana orang terhormat itu adalah orang yang kaya dan untuk kaya tidak perlu bekerja. Cerita-cerita mereka yang korup dan culas bisa hidup mewah berkuasa. Akhirnya “Leidenschaft” menjadi suatu karakter yang langka di masyarakat kita serta di pemimpin kita.

Kita berpuasa dalam menahan lapar, haus, emosi dan berpasrah pada kekuatan Tuhan sesungguhnya kita sedang melatih kekuatan „cinta kita akan nilai-nilai Ilahyah dalam ketabahan“. Seharusnya setelah kita berbuka puasa harus tumbuh kekuatan ketabahan dalam cinta yang membuat kita berani berkarya tanpa pamrih kecuali demi idialisme. Demi nilai-nilai Tuhan.

Seharusnya setiap kita habis berbuka puasa „Leidenschaft“ kita menebal. Kita mempunyai tekad yang kuat untuk mewujudkan dedikasi kita seperti Ma Eroh yang kuat membelah Bukit dengan cangkul kecilnya, seperti Hajjah Rabiah yang menerjang gelombang laut.

Kita pun bisa berkarya buat banyak orang tanpa kenal lelah dan pamrih kecuali kecintaan kita untuk berbuat yang terbaik. Bukan kah hidup yang bisa memberi makna buat orang banyak sesungguhnya sebuah kekayaan hati yang tidak bisa ternilai harganya?

Dari Tepian Lembah Sungai Elbe

One thought on ““Leidenschaft” – Makna Penting dari Pembelajaran Puasa

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s