Cafe, tradisi intelektual Eropa, ajang kekerasan Indonesia


stadt_cafe_landtmann_660x400

Cafe itu adalah budaya Eropa yang diimport di negara kita. Di Eropa Cafe itu dulunya tempat para intelektual dan sastrawan (Dichter und Denker) Eropa duduk tenang. Menikmati kopi kesukaannya, berpakaian jas necis yang amat rapih dan elegant, lalu mulai mencoretkan imajinasi dan pikirannya sambil perlahan menyeruput lezatnya secangkir kopi hangat. Jadilah karya-karya tulis besar yang akhirnya dibaca oleh masyarakatnya terlahir disini.

Cafe di Eropa itu dibangun dengan tradisi semangat berkontemplasi, berpikir dan menulis!

Saat ini Cafe di Eropa memang memang tidak se-intelek dulu. Hanya tetap jauh dari kesan mesum, dugem apalagi mabuk-mabukan. Cafe tetap lah tempat yang nyaman untuk kita saling duduk dan bicara secara terdidik.

Memang sejak muncul Cafe Franchise seperti Starbucks dan merek seperti itu di Eropa, agaknya Cafe menjadi terkesan instant dan ngepop. Disini jadi tempat ngongko-ngongko anak muda. Hanya tetap tidak ada minuman keras dijual.

Para anak muda biasanya menjadikan Cafe ini sebagai titik berkumpul bersama, lalu rapat bersama. Sering juga dari sini karena internetnya gratis dijadikan ajang business meeting untuk para pengusaha muda. Dari Cafe ini mereka kontak ke customer atau client untuk mulai akusisi kerja sama.

Pada Cafe Eropa asli kesan formalnya tetap dipertahankan ada dan jauh dari dugem. Masih banyak Cafe-Cafe di Eropa yang berusaha tetap menghidupkan spirit aristokrat ningratnya (Lihat Gambar Terlampir, suasana Cafe di Eropa).

Jadi, meskipun ada kemunduran tradisi intelektual, tetap saja Cafe di Eropa saat ini secara umum bukan ajang untuk dugem, mesum apalagi mabuk-mabukan.

Ini ternyata berbeda dengan Cafe di Indonesia. Sering kali di Cafe malah menjadi ajang premanisasi, bahkan kekerasan yang menyebabkan korban. Ironisnya justru aparat keamanan yang malah terlibat dalam berbagai kekerasan di Cafe yang biasanya karena mabuk dan tidak jarang berakhir dengan kematian.

Peristiwa kematian anggota TNI AU baru kemarin yang dikeroyok Kopassus menambah daftar panjang tentang catatan hitam Cafe di Indonesia sebagai tempat berkumpul.

Ada baiknya di Indonesia didefinisikan secara jelas antara Cafe, Pub dan Bar. Jadikan lah Cafe adalah tempat kumpul anak muda yang terbebas dengan minuman keras dan suasana dugem. Jadikan lah cafe-cafe di Indonesia juga menjalankan fungsi sebagai fasilitas publik untuk meeting point dan melakukan aktivitas bisnis maupun sosial.

Jika ingin mabuk dan minum-minuman keras serta dugem maka itu bukan di Cafe tempatnya tetapi di Bar atau Pub atau Nite Club. Hanya buat kita yang aturan apapun mudah dilabrak maka apalah arti perbedaan nama antara Cafe, Pub, Bar dan Nite Club?

Toh selama mendatangkan uang, masalah sosial yang terkait disana bukan urusannya lagi. Apalagi jika harus menjalankan misi sosial sebagai meeting point untuk membangun kemajuan masyarakat, siapa yang peduli?

Dari Tepian Lembah Sungai Elbe

One thought on “Cafe, tradisi intelektual Eropa, ajang kekerasan Indonesia

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s