Kritisi Pemerintah dengan Argumentatif, bukan NYINYIR atau IYIK! :)


debat1Saat saya berada di hidup dalam genarasi aktivis tahun 80 dan 90-an maka Para Pejabat yang dikritisi itu umumnya “takut” berdebat. Alibi mengelaknyanya saat kita kritisi: Jangan cuma kritik doang tapi juga kasih solusi.

Dikarenakan kritik yang diberikan penuh argumentatif dan tahu mana yang subtansi dan mana yang cuma masalah sepele, maka umumnya pejabat cara ngelaknya kasih kami solusi.

Saat ini kritik ke pemerintah bertaburan terutama di medsos. Sayangnya, jangan kan memberi solusi; untuk membedakan subtansi masalah saja sering kali ndak bisa. Banyak hal sepele di-“goreng” dengan sentimen kebencian tanpa argumentatif.

Terkadang malah kemampuan kritiknya cuma mem-posting berita atau analisa yang tidak bertanggung jawab. Terkadang dia sendiri tidak paham isinya, yang penting bisa teriak marah-marah. Istilah gaulnya cuma bisanya: menjonru!

Terjadi degredasi kualitas kritik dari yang argumentatif, saat ini berubah menjadi tukang nyinyir yang iyik bawel belaka. Subtansi masalah sering kali ndak pahami, data ndak punya, cuma karena sentimen belaka lalu ikut2an ngamuk mengkritik.

Bagi saya, pemerintah itu harus dikritisi jika salah. Hanya kritik lah secara proporsional:

1. Jika salahnya bukan subtantif dan saat pemerintah mau dengarkan kritik tersebut dan telah mengkoreksinya maka segera move on, masih banyak kerja besar yang harus dilakukan. Jangan terus-menerus digoreng itu isu!

Contoh kasus salah tanda tangan keppres tentang tunjangan mobil DPR. Sudah dikoreksi oleh Presiden, itu artinya presiden peka jika salah sehingga dia koreksi. Ndak perlu digoreng lagi dengan hal macam2. Percayalah SBY juga pernah kok mengkoreksi keppresnya yang salah!

Jaman Soeharto juga UU yang Lalu Lintas yang diajukan Pemerintah dan disetujui DPR ternyata dianggap masyarakat menyakiti keadilan, juga dikoreksi kok oleh Soeharto.

Selama sudah dikoreksi ndak usah digoreng terus itu isu 🙂

2. Kritik lah memakai data dan argumentasi. Jangan asal mengkritik dengan menggunakan sentimen belaka atau pengalaman sepotong2 yang bias persepsi.

Contoh: Tuduhan mata uang Rupiah jatuh dibawah Jokowi. Lha yang jelas mata uang rupiah itu relatif stabil terhadap USD dibandingkan mata uang negara lain yang terjun bebas terhadap USD. Nah, pahami datanya dulu sebelum mengkritik sehingga bukan asalh protes tapi ndak tahu fakta.

Contoh lain: bilang harga-harga mencekik leher. Lalu dicontohkan BBM dan Gas Naik, Tiket KA naik! Nyatanya data statistik resmi dari Bank Indonesia, tingkat inflasi masa Jokowi sama dengan tingkat inflasi masa SBY kok!

Klo BBM naik itu kan yang kena banyak masyarakat kelas menengah; lalu dari atas kendaraannya sambil pakai smart phone protes BBM naik. Lha nyatanya angka inflasi indeks harga konsumen kita itu relatif normal kok!

Jadi, saat protes harga mahal jangan pakai sentimen marah karena di pom bensi harga BBM naik. Tapi pahami datanya di lapangan secara konprehensif yang ternyata inflasinya normal dan harga sembako relatif stabil.

Dari Tepian Lembah Sungai Elbe

Iklan

One thought on “Kritisi Pemerintah dengan Argumentatif, bukan NYINYIR atau IYIK! :)

  1. Saya netral. Tidak pro pihak mana pun. Tetapi saya setuju bahwasannya sekarang banyak orang sudah terlalu bebas berbicara. Saking bebasnya ia pun tidak sadar bahwa kicauannya di socmed tidak bermutu lagi.

    Saya sangat setuju dengan pendapat pak Ferizal Amri 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s