Kritik Jaya Suprana dalam biusan Sindroma Film Rhoma Irama


60436969Apakah anda penggemar film Rhoma Irama (RI)? Di tahun 1980-an itu Raja Dangdut beken sekali namanya. Jika anda pernah menjadi penggemarnya maka anda satu selera dengan saya 🙂

Saya penggemar sejati filmnya dan lagu-lagu dangdutnya. RI itu idola kanak-2 remaja saya saat memerankan film. Kelak saya tahu bahwa perannya yang selalu sebagai manusia sempurna adalah manifestasi dari fantasi masyarakat kita dalam berbagai level pendidikan dan strata sosial.

Lihatlah saat RI memerankan flim di berbagai film apa saja, tinggal anda sebut judulnya: Berkelana, Perjuangan dan Doa, Satria Bergitar, Nada-Nada Rindu, dll, dll.

Peran RI itu sempurna mirip mimpi fantasi masyarakat kita: menjadi lelaki yang merasa ganteng, sukses dalam perjuangan, penyayang anak-2 yatim dan dermawan mesjid, jago berantem, pandai baca Al Quran, fasih bicara dakwah agama, pemimpin di masyarakatnya, jago main musik, dipuja-puja banyak wanita cantik, dan sejumlah atribut estetika lainnya yang menyilaukan fantasi masyarakat kita.

Nah, peran RI beserta atributnya inilah yang tampaknya merupakan manifestasi dari khayalan bawah sadar masyarakat kita semua BAHWA seorang yang baik itu pribadinya seakan harus seperti dalam film RI. Harus sempurna dan tidak boleh ada sedikit pun kekurangannya.

Masalahnya, yang mampu memerankan seperti film RI di dunia nyata itu pasti cuma malaikat, bukan manusia. Manusia tidak mampu memerankannya di dunia nyata. Akhirnya yang muncul adalah manusia2 hipokrit yang cukup melakukan satu hal saja: bersikap basa-basi SANTUN PENCITRAAN! Jadilah tercitrakan sebagai manusia sempurna bak lakon film RI.

Jadi, akurat memang jika budayawan Moechtar Lubis dulu pernah bilang bahwa masyarakat kita itu adalah masyarakat yang hipokrit. Senang dengan pencitraan agar tercitrakan sempurna 🙂

Nah, dikarenakan memerankan seperti dalam film RI itu mustahil di dunia nyata, lalu diambil jalan pintas yaitu: penuhi fantasi masyarakat kita tentang sosok yang sempurna cukup melalui profil diri sebagai seorang yang penuh kesantunan (meskipun palsu). Jadi, cukup satu saja yang dia lakukan yaitu: BERSIKAP SANTUN penuh pencitraan, maka terpoleslah citranya sebagai pribadi sempurna.

Meskipun dia koruptor, jauh dari nilai2 hidup agama yang seperti yang diajarkan Quran, dicintai wanita cantik hanya karena uang korupsinya belaka untuk membayar cinta si wanita itu, memberi bantuan yatim dan mesjid dari uang korupnya, tetap saja karena dia bertutur kata SANTUN maka profil wajahnya akan dianggap wajah malaikat. Itulah realitas masyarakat kita.

Di titik itulah pula para koruptor tahu betul bagaimana memanfaatkan fantasi masyarakat kita sehingga terlihat menjadi pribadi sempurna, melalui cuma 1 cara: SANTUN!

Hanya saja, jika masyarakat bawah bersikap seperti itu masih dimaklumi tetapi jika  seorang budayawan selevel Jaya Suprana (JS) pun tidak lepas dari jebakan ini, maka patut disayangkan. Tampaknya buat JS, ketika seseorang SANTUN maka dia akan secara otomatis memenuhi semua fantasinya tentang pribadi pemimpin yang sempurna mirip dalam film-film yang diperankan oleh Rhoma Irama 🙂

Andaikata  saja JY mau sedikit berpikir lebih ke esensi bahwa setiap orang bisa saja memiliki kelemahan seperti Ahok yang dianggap tidak santun, —dan itu belum tentu juga karena kharakternya, bisa jadi ketidaksantunan Ahok adalah bagian dari strategi perjuangannya melawan topeng2 kepalsuan para koruptor yang berlindung dalam kesantuan—, padahal Ahok itu bersih dan berjuang memberantas kebathilan, maka kritik JY tidak lebih kritik dalam mentalitas para hipokrit.

Saya membaca kritik JY terhadap Ahok yang esensi dan isi kritisnya lebih mempersoalkan kesantunan Ahok, itu kritik remeh-temeh. Sebuah hal yang dipersoalkan relatif tidak esensial sama sekali dalam konteks menghadapi para koruptor.

JY saat mengkritik Ahok tampaknya sedang berfantasi seorang tokoh yang harus sempurna tanpa cela bahkan untuk urusan “remeh-temeh” sekali pun harus sempurna. Kalau perlu esensi perjuangan untuk melawan koruptor dikesampingan demi menjaga kesantuan.

Saya hampir yakin andaikata Ahok itu SANTUN, sementara Ahok tidak peduli Pemda Jakarta itu korup atau tidak, kecuali cuma bersikap santun tebar pesona pencitraan kesana-sini, maka JY hampir pasti TIDAK akan mengkritik Ahok. Bagi JY pemimpin yang berani melawan koruptor bukanlah esensi penting. Pemimpin santun jauh lebih penting tidak peduli dia korup atau tidak.

Klo tidak percaya, lihat saja JY tidak pernah mengkritik pemimpin daerah yang korup. Mana jejak rekamnya JY pernah mengkritik Gubernur mana pun yang daerahnya terjerumus dalam kubangan korupsi? JY lebih hobi mengurusi kritik Ahok yang dianggap tidak santun meskipun berani melawan koruptor.

Kayaknya saya khawatir JY itu sedang bermimpi 1 hal saat kritik Ahok, yaitu: Pemimpin sempurna itu harus seperti film RI, dan indikatornya nyatanya adalah: dia harus santun sehingga akan terlihat sempurna.

Sebuah cara pikir hipokritt yang menyedihkan tentu saja…

Dari Tepian Lembah Sungai Elbe

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s