Pendidikan Elit dan Sekolah Elit


IKG-Gym_Post(Keterangan Gambar aksi Zahra di laboratorium Biologi-Fisika-Kimia searah jarum jam: (1) Biologi-Melihat Sel Darah dengan Mikroskop, (2) Fisika-Simulasi Gaya, (3) Kimia-Reaksi Pembakaran, (4) Fisika-Medan Magnet dan Energi dan (5) Kimia-Reaksi Kimia)

Besok Pagi hari Senin tanggal 02 Februari 2015 Zahra mendaftar ke Gymnasium untuk selanjutnya tahun ajaran baru 2015-2016 pada bulan Agustus akan sekolah di Gymnasium…

Hari Rabu kemarin tanggal 25 Januari 2015 Zahra terima rapot dari Grunschule-nya (Sekolah dasar). Cukup baik dengan nilai Matematika dan B. Inggris diatas rata-rata. Nilai B. Jerman dan Ilmu Sains-nya normal. Iya, dikarenakan tentu saja B. Jermannya bukan bahasa ibu bagi Zahra, jadilah dia tidak bisa berprestasi maksimal disana. Ilmu Sains (IPA dan IPS)-nya pun hanya rata-rata normal dikarenakan amat terkait dengan kemampuan B. Jerman.

Sementara Matematika dan B. Inggris adalah pelajaran yang paling fair buat Zahra dan temen-temen Jermannya untuk berkompetisi. Di kedua bidang ini sama-sama tidak terlalu tergantung pada kemampuan B. Jerman. Nilai Zahra pun di kedua bidang ini diatas rata-rata.

Zahra pun dapat nilai Rapot dengan EMPFEHLUNG atau REKOMENDASI dari Gurunya sebagai berikut: „Die Schülerin/ der Schüler wird ihren/ seinen Bildungsgang nach derzeitigem Stand im achtjährigen GYMNASIUM erfolgreich fortsetzen können“.

Arti harafiahnya kira-kira: (berdasarkan pengamatan guru) bahwa si murid dengan kondisinya saat ini akan bisa sukses melanjutkan sekolahnya ke GYMNASIUM.

Di wilayah kami berada ada 4 Gymnasium yang sama baiknya yaitu:
1.    Immanuel-Kant-Gymansium dengan spesialis IPA dan Billingual
2.    Werner-Heisenberg-Gymnasium dengan spesialis IPA dan Sosial Kompeten
3.    Alexander-von-Humboldt-Gymnasium dengan spesialis IPA dan Ilmu Lingkungan
4.    Friedrich -Ebert-Gymnasium dengan spesialis IPA dan Musik

Tidak ada yang lebih baik dari keempat Gymnasium itu. Semuanya relatif sama dengan Kompetensi Utamanya adalah IPA. Yang membedakan cuma di spesialisasi tambahannya saja. Untuk diketahui hampir semua Gymnasium di Jerman kompetensi utamanya adalah IPA, dalam istilah Jermannya MINT (Mathe, Informatik, Naturalwissenschaft/IPA dan Technik).

Zahra kami putuskan akan mengambil Immanuel-Kant-Gymnasium karena spesialis tambahan Gymnasium-nya adalah bilingual. Pelajaran di sekolahnya dalam B. Jerman dan B. Inggris. Di Gyamnasium ini sejak kelas 7 ada mata pelajaran yang diajarkan dengan bahasa pengantar dalam B. Inggris seperti Geografi dan Sejarah. Disini ada juga program untuk bersekolah di English Speaking Countries selama 6-12 bulan untuk memperdalam B. Inggrisnya pada saat kelas 9 atau 10.

Dikarenakan kita orang asing yang belum tentu selamanya tinggal di Jerman sehingga kebutuhan akan B. Inggris amat penting dibandingkan orang asli Jerman maka Gymnasium ini kami anggap pilihan yang paling cocok buat masa depan Zahra.

Pendidikan Sekolah Elit ala Indonesia

Ada yang menarik dengan sistem pendidikan di Jerman. Berbeda dengan Indonesia, di Jerman tidak ada Sekolah Elit tetapi adanya Jalur Elit! Kualitas Guru, Fasilitas Sekolah, Metodologi Belajar, Kurikulum dan Sistem Pendidikan umumnya terstandarisasi sama. Memang dalam dicara implementasinya berbeda; tergantung pada kebijakan propinsi (negara bagian masing-masing) tetapi dalam standard kualitas relatif sama terjaga baik dan merata antara satu sekolah dengan sekolah lain. Jadi di Jerman TIDAK DIKENAL adanya sekolah Elit!

Ini berbeda diametral dengan di Indonesia. Di Indonesia yang ada adalah sekolah elit. Misalkan saja di Yogyakarta yang kita kenal sebagai propinsi yang pendidikannya termaju dan terbaik sekali pun, tetap di kenal adanya sekolah elit!

Di Kodya Yogya misalkan akan didominasi dengan Sekolah Elit SMU 1 Teladan dan SMU 3 Padmanaba dan mungkin disusul SMU 8. Sekolah elit ini diisi oleh kumpulan siswa-siswa elit yang masuk dengan persaingan ketat, bahkan amat ketat. Inilah sejatinya karakter elit konsep pendidikan kita yaitu adanya Sekolahnya yang Elit yang kualitasnya jauh diatas sekolah lainnya.

Di beberapa Kota Besar ada juga sekolah elit yang berasal dari swasta. Sekolah ini jelas secara guru, fasilitas dan metode belajar amat sangat baik. Hanya untuk masuk ke sekolah ini si murid pun harus berasal dari keluarga elit dikarenakan selain prestasi belajarnya harus baik, uang sekolahnya pun amat sangat baik angkanya. Jika si murid bukan dari keluarga ekonomi amat sangat mapan, akan sangat sulit masuk sekolah elit yang dikelola swasta ini.

Jalur Pendidikan Elit ala Jerman

Di Jerman sekolah elit tidak ada. Semua kualitas sekolahnya nyaris sama. Sama-sama diperhatikan kualitas guru, fasilitas, metodologi, kurikulum dan sistemnya. Pada titik ini nyaris semuanya relatif sama sehingga sulit mengatakan antara sekolah yang satu lebih baik dari pada yang lain.

KECUALI jika sekolah itu berada di lokasi „Slumdog“ sehingga murid-murid yang masuk adalah murid dari latar belakang keluarga imigran kelas bawah dengan orang tuanya bekerja sebagai buruh kasar, di sekolah seperti ini memang kualitas input muridnya jelek sekali. Tetapi, kualitas proses belajar-mengajarnya justru malah bagus dikarenakan pemerintah bersungguh-sungguh memberi subsidi dengan guru berkualitas dan fasilitas amat baik agar mereka di level bawah pun bisa mencapai standar yang telah ditetapkan.

Jadi sekali lagi tradisi sekolah elit di Jerman nyaris tidak ada yang ada adalah jalur elit! Penentuan antara orang yang bisa masuk Jalur Elit atau Tidak berdasarkan seleksi amat ketat yang dilihat dari Prestasi dan Talentanya. Tidak ada faktor kemampuan finansial orang tua berperan disini karena pendidikan di Jerman itu adalah Gratis!

Bagi mereka yang dianggap punya Prestasi dan Talenta maka direkomendasikan oleh Sang Gurunya saat setelah kelas 4 (SD di Jerman sampai kelas 4) untuk melanjutkan ke GYMNASIUM selama 8 tahun (Catatan di Negara Bagian Hamburg Gymnasium itu 8 tahun sementara di negara bagian lainnya ada yang 9 tahun tergantung kebijakan masing-masing negara bagian). Nah, siswa-siswa yang masuk Gymnasium ini akan berproses secara ketat yang kelak disiapkan menjadi saintis-saintis atau pemimpin masa depan.

Tentu saja meskipun si murid tidak dapat rekomendasi ke Gymnasium, jika orang tuanya tetap ngotot ingin masukan anaknya ke Gynmasium tetap dibolehkan. Prinsipnya, ada kebebasan memilih pendidikan yang tepat dan cocok buat masa depan anaknya masing-masing. Tetapi saat di Gymnasiun tetap ada acuan evaluasi standard kualitas prestasi si siswa.

Selain berdasarkan rekomendasi Guru, di Gymansium ini berlaku sistem semacam D.O sebagai acuan prestasinya. Jika dalam 2 tahun di Gymnasium tidak menunjukkan prestasi baik maka harus pindah ke jalur non Gymnasium yang dikenal dengan Gesamtschule. Jadi, di Gymnasium ini akan selalu dievalusi terus-menerus apakah sang siswa tetap mampu berada di jalur elit.

Apabila dinyatakan setelah 2 tahun evaluasi gagal di Gymnasium maka ini artinya si siswa pada saat itu dianggap tidak siap untuk berada di jalur elit. Mereka pindah bisa ke Hauptschule atau Realschule yang biasa dikenal dengan jalur Gesamtschule atau jejang sekolah pada umumnya.

Selain itu, bagi yang T-I-D-A-K mendapatkan EMPFEHLUNG atau Rekomendasi dari guru SD-nya untuk ke Gymnasium, umumnya juga akan melanjutkan ke Gesamtschule yaitu bisa ke Hauptschule, bisa juga ke Realschule.

Di Realschule, siswa tetap bisa ke Universitas kelak, bisanya masuk Jalur Sekolah Vokasi Tinggi seperti Fachhocschule atau Berufsakademie jika mampu menunjukkan prestasinya kembali. Realschule itu ibaratnya jalur „lambatnya“ Gymnasium. Tetapi di Realschule pun, banyak murid yang memutuskan tidak ke pendidikan tinggi lanjutan melainkan ambil praktek kerja 2-3 tahun kemudian langsung kerja di industri melalui jenjang Ausbildung atau Duale-System.

Di Hauptschule itu biasanya murid-murid dididik untuk menjadi kelas pekerja kerah biru (blue-collar worker) yang profesional. Mereka setelah lulus Hauptschule akan melakukan Ausbildung (Kerja Praktek di Industri) 2-3 tahun lalu jadilah setelah selesai Ausbildung akan langsung masuk dunia kerja. Mereka tidak mempunyai gelar akademik tetapi memiliki kualifikasi profesional dengan jenjang: Junior Fachmann, Fachmann, Senior Fachmann dan Meister! Jenjang Meister ini selevel dengan Master lulusan universitas. Jadi, melalui jenjang ini pun seseorang tetap punya karir profesional.

Pemaknaan Sudut Positif dari Sistem Pendidikan Jerman

(1) Pada prinsipnya seharusnya sekolah itu tidak boleh ada yang elit. Sekolah itu harus punya standard kualitas yang merata relatif sama sehingga setiap orang akan mempunyai kesempatan adil untuk mendapatkan pendidikan sama bagusnya

(2) Pembagian kesempatan siswa dalam bersekolah lebih ditentukan oleh talenta dan prestasinya. Bagi yang prestasinya baik dan bertalenta, mereka bisa masuk jalur elit Gymnasium untuk dididik menjadi saintis dan pemimpin masa depan.

(3) Bagi yang berprestasi sedang, mereka bisa masuk „Gymasium jalur lambat“ di Realschule untuk kelak melanjutkan ke sekolah vokasi tinggi menjadi „White-Collar Profesional“. Bisa juga memutuskan ke jalur kejuruan.

(4) Bagi yang prestasi akademiknya biasa, mereka bisa masuk ke jenjang kejuruan di Realschule untuk selanjutnya kerja praktek di industri dan bekerja sebagai „Blue-Collar Profesional“. Jika bisa tunjukkan dedikasi maka tersedia jenjang pengembangan kualifikasinya bahkan bisa ke level Meister.

(5) Sekolah Elit tidak ada di Jerman dikarenakan semua sekolah itu baik. Apakah di Gymnasium atau pun Gesamtschule (Hauptschule dan Realschule) standard kualitasnya terjaga sama baiknya. Jadi, di sekolah mana pun siswa bersekolah, prinsipnya kualitas sekolah tersebut terjaga sama baiknya.

Bagaimana dengan di Indonesia?

Tetap kah kita membangun model pendidikan yang mempertahankan Sekolah Elit model SMU 1 Teladan Yogya atau SMU 3 Padmanaba Yogya atau model SMU Taruna Nusantara,  yang nota bene hanya para elit terbaik dari yang terbaik yang bisa menikmati sekolah tersebut?

Kelemahannya terjadi „inequality“ antara sekelompok kecil elit yang mendapatkan pendidikan terbaik dengan mayoritas lainnya tidak dapatkan hak istimewa seperti dalam sekolah elit tersebut.

Ataukah kita membuat pemerataan kualitas sekolah. Dibuat kualitas sekolah hampir semua sama tetapi ada yang masuk Jalur Pendidikan Elit buat mereka yang punya bakat dan dedikasi baik untuk jadi pemimpin masa depan. Ada juga yang masuk jalur kelas pekerja bagi mereka yang memang talentanya berada di kelas pekerja. Hanya saja, apakah mereka masuk Jalur Pendidikan elit atau tidak, mereka tetap di sekolah yang kualitasnya sama baiknya dimana pun mereka bersekolah.

Jika kita memilih sistem Jalur Elit ini maka tugas terbesar kita adalah membuat kualitas antar sekolah relatif sama dari SD-SMP-SMU/SMK. Ini adalah sebuah pekerjaan yang maha raksasa atau malah ini mungkin cuma menjadi mimpi uthopie belaka yang tidak bisa kita wujudkan?

Dari Tepian Lembah Sungai Elbe

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s