Bonus Demografi atau Malapetaka Demografi?


dependancy ratioBanyak orang bilang kita akan menikmati bonus demografi beberapa tahun ke depan dimana usia produktif bangsa Indonesia yang melonjak tinggi sehingga ini akan membuat produktifitas bangsa kita diharapkan ikut melonjak.

Ijinkan saya menulis dari sudut satir dengan sudut pandang tanpa basa-basi, lugas dan tanpa tendeng aling-aling untuk mengkritisi optimisme tersebut. Ini dimaksudkan bukan untuk mendeskriditkan bangsa sendiri tapi ini dimaksudkan sebagai sistem peringatan dini atas kemungkinan bencana bagi bangsa kita.

Sungguh saya TIDAK YAKIN sama sekali akan adanya bonus demografi usia produktif buat bangsa kita. Realitasnya kualitas Pendidikan Dasar-Menengah serta Pendidikan Tinggi dan Riset kita itu amat rendah. Diperburuk dengan perbedaan amat besar jurang kualitas antara (1) sekolah elit yang jumlahnya amat sedikit dengan (2) sebagian besar mayoritas sekolah yang bisa diakses masyarakat pada umumnya yang berkualitas rendah. Saya amat sangat cemas dengan “bonus demografi” ini malah justru akan menjadi ledakan beban bangsa yang amat berbahaya.

Saya amat khawatir dengan imperialisme gaya baru yang akan terjadi di negara kita. Lulusan Sekolah-Sekolah atau Universitas Top Elit di Indonesia ini, di berbagai lini, akan kalah dengan orang asing lulusan universitas negara-negara maju secara profesionalitas dan kualitas. Tradisi dan sistem pendidikan mereka dari mulai pra sekolah sampai pendidikan tinggi dan riset amat maju dan terhormat.

Saat bersamaan situasinya adalah Sekolah dan Universitas Top Elit itu, di negara kita sendiri ibarat menara gading jauh menjulang tinggi tak tertandingi dari kebanyakan umumnya sekolah atau universitas di Indonesia lainnya. Jadilah si sedikit Elit ini akan menjadi penentu dominan arah bangsa Indonesia.

Masalahnya si elit yang sedikit di Indonesia yang amat dominan ini, justru kalah dengan orang asing didikan pendidikan negara maju kapitalis global. Realitas ini berbahaya yang akan amat memungkinkan terjadinya Kolonialisme Gaya Baru di Indonesia dengan modus seperti ini:

1. Para Lulusan Sekolah dan Top Elit Universitas di Indonesia yang kalah bersaing dalam pertarungan kapitalis global dan frontal ini bahkan di kandangnya sendiri pun terkoyak, akhirnya pragmatis malah menjadi agen buat kepentingan luar negeri. Dikarenakan inferioritas dalam kualitas. Dari pada kalah bersaing, yah sudah lebih baik jadi kaki-tangannya saja. Pameo-nya: “If you can’t beat them, join them!”

2. Kemudian sebagai agen luar negeri, para elit lulusan Sekolah dan Perguruan Tinggi Top ini akhirnya malah akan menekan masyarakat kebanyakan yang inferior karena tidak bisa mencicipi pendidikan cukup. Para elit ini justru menjadikan bangsanya dieksploitasi untuk dijadikan kuli untuk kepentingan tuannya si imperalis asing tadi.

3. Dikarenakan penduduknya amat banyak, ini artinya banyak perut yang harus diisi. Sementara pendidikan mereka tidak memadai untuk berkompetisi jadilah mereka akan bekerja apa saja bahkan menjadi kuli di negaranya sendiri; yang penting bisa makan. Si kuli ini justru digunakan untuk mengeruk kekayaan alam kita untuk diberikan ke asing sebagai tuannya, yang kondisi pahit ini bisa terjadi karena lulusan sekolah dan universitas elit kita telah jadi kaki tangannya.

Jadi lah sejarah penjajahan berulang kembali. Kalau dulu penjajah asing datang berkolaborasi dengan Para Bangsawan dan Tuan Tanah yang kalah persenjataan dalam perang melawan bangsa asing, lalu menyerah jadi kaki tangannya untuk menindas rakyatnya dalam mengeksploitasi kekayaan alam kita. Rakyat banyak yang tidak terdidik itu terpaksa ikut demi kehidupan periuk nasinya.

Kalau sekarang Strata Bangsawan dan Tuan Tanahnya bertransformasi menjadi Strata Lulusan Sekolah Elit dan Universitas Elit yang kalah bertarung karena kalah kualitas! Akhirnya menyerah kalah berkolabarasi dengan para investor kapitalis global untuk menindas rakyatnya sendiri.  Dengan “bonus demografi” tapi pendidikannya terbatas, jadilah mereka bersedia sebagai tenaga kerja kuli murah untuk diekspolitasi. Ironisnya itu digunakan untuk mengeksploitasi kekayaan alam kita, sekaligus menjadikan kita sebagai pasar produknya.

Ini ketakutan yang nyata. Akan tetapi ketakutan ini bisa tidak terbukti jika dan hanya jika mulai saat ini juga dikebut membangun tradisi kualitas Pendidikan kita dari mulai Pendidikan Pra-Sekolah, Pendidikan Dasar, Pendidikan Menengah Umum dan Kejuruan terus dilanjutkan pada Pendidikan Tinggi dan riset yang bermuara pada kemajuan industri kita.

Kita memang bukan Bandung Bondowoso yang bisa membuat 1.000 candi dalam semalam tapi jika serius pendidikan kita dibenahi maka dalam satu dekade ke depan hasilnya mulai dirasakan secara signifikan.

Dari Tepian Lembah Sungai Elbe

Iklan

3 thoughts on “Bonus Demografi atau Malapetaka Demografi?

  1. Malapetaka Demografi akan terjadi jika para suami dan isri hanya mementingkan urusan “selangkangan” apalagi bocah yang terlahir hasil dari hubungan antara lanang dan wadon yang berselingkuh. Bisa disimpulkan bahwa bocah bayi itu lahir tanpa perencanaan bagaimana ngopeni secara berkualitas termasuk pendidikan. Ini bencana bangsa kalau banyak terjadi. Ternyata lumayan banyak juga. Di institusi pendidikan setingkat SMA dan bahkan SMP banyak yang di DO karena “meteng duluan”. Lha nanti anake mau dikasih makan apa? Mau disekolahkan dimana? Akhirnya anaknya jika sudah besar ya trimo kerjo sak-sake. Ora sekolah yo ra po po. Sing penting isoh mangan. Bahaya ini… bahaaaaaaaaaaaaaaaya..
    Beda dengan orok yang dilahirkan dari rahim ibu cerdas. Bapake juga cerdas. Tentu orang tua tersebut akan berfikir bagaimana masa depan anaknya. Pendidikan sangat diperhatikan. Orang tua itu akan senantiasa berfikir agar anaknya kelak mampu bersaing secara global. Tidak hanya mikir asal wareg. tapi juga wareg otaknya.

    Dari Lereng Gunung Sindoro

  2. mas@ Bonus Demografi hanya penghalusan kata, sebenarnya pertambahan penduduk untuk tidak terlalu bombastis, mengatakan ledakan penduduk…
    sy sangat setuju “Si kuli ini justru digunakan untuk mengeruk kekayaan alam kita untuk diberikan ke asing sebagai tuannya”. Sy kutip Mas, ini yang terjadi dengan freeport dan lain2nya,
    bangsa ini tidak dimajukan melalui pendidikan, pembangunan hanya fisik paska bung Karno, sehingga, mental inferiori itu semakin akut, dari elit sampai level rakyat, ….
    Salam kenal 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s