Intelektual Pengusaha


0

Sebenarnya mereka-mereka yang berilmu dan berpendidikan tinggi bisa menjadi pengusaha. Senjatanya adalah ilmu pengetahuan yang dimiliki, keahlian yang dikuasai, informasi yang dalam aksesnya, pengalaman yang pernah dia lakukan serta jejaringan yang ada padanya. Ini benar-benar senjata nyata para intelektual untuk bisa menjadi pengusaha.

Kegagalan para pebinis umumnya adalah dia memasuki bisnis yang amat kompetitif dimana persaingan sempurna tanpa bebas hambatan. Para pebisnis yang dunia bisnisnya begitu mudah bisa dimasukin siapapun, adalah bisnis yang berkarakter frontal dan brutal. Bisnis jualan makanan atau restauran, bisnis retail, bisnis toko kelontong, bisnis travel atau yang mirip seperti ini adalah bisnis-2 yang nyaris bisa dimasuki oleh siapapun. Ini bisnis yang “no barrier to entry”. Siapapun bisa masuk ke bisnis ini sehingga persaingan menjadi brutal dan frontal. Akibatnya, banyak juga yang terlempar: “easy in, easy out!”

Catatan menunjukkan mereka yang bisa tetap survive di bisnis seperti kharakter diatas mesti orang-orang yang mentalnya baja dan pantang menyerah. Satu-satunya pembeda antara Pemenang dan Pecundang adalah sifat pantang menyerahnya!

Sebenarnya para orang-orang terdidik yang sekolah tinggi justru lebih mudah lagi untuk menjadi pengusaha. Dia bisa menentukan sebuah segment bisnis tersendiri yang sesuai dengan kompetensinya. Artinya dia memasuki bisnis dalam pasar yang susah dimasuki oleh pesaingnya. Jika orang-orang berilmu ini punya jiwa wirausahan serta berkarakter pantang menyerah mestinya akan sukses menjadi pengusaha dengan kompetensi ilmu, pengalaman dan jaringan yang dimilikinya.

Masalahnya, semakin seorang tinggi sekolahnya maka semakin dia berada dalam posisi Zona Nyaman baik nyaman secara finansial ataupun nyaman secara jenjang karir. Disisi lain, ilmu yang dimiliki membuat dia menjadi berpikir terlalu struktural, terprogram dan “birokratis”. Pola pikir seperti ini tidak terlalu cocok untuk menjadi pengusaha yang harus berani inovasi dan improvisasi di lapangan.

Jadi ada 3 kendala mental seorang terdidik malah sulit menjadi pengusaha:
1. Kebiasaan hidup di zona nyaman membuat tidak berani menjadi “risk taker” dan “figth to the market”
2. Kebiasaan berpikir dalam keteraturan membuatnya tidak bisa dengan cepat merubah tantangan menjadi peluang
3. Kebiasaan bekerja difasilitasi sistem oleh sistem yang baik dengan aturan jelas membuatnya sulit untuk inovatif dan improvisasi

Jika para intelektual terdidik tsb bisa mengatasi 3 hal diatas, mestinya mereka akan bisa menjadi pengusaha hebat. Masalahnya mengatasi 3 hal diatas benar-benar seperti tembok tinggi yang begitu kokoh. Saya pribadi pun merasa seperti membentur tembok kokoh yang membuat saya bergeming (diam deprok) dalam kefrustasian. Akan kah tahun 2015 saya sanggup mengatasi tingginya tembok kokoh ini sehingga mampu menjadi pengusaha? Bagaimana dengan anda; apakah anda punya cita-cita yang sama bahwa tahun 2015 menjadi pengusaha atau mengambil keputusan radikal dalam hidup anda?

Dari Tepian Lembah Sungai Elbe

 

Iklan

One thought on “Intelektual Pengusaha

  1. Benar sekali pak. Yang dibutuhkan adalah keberanian dan kemauan untuk membuang segala idealisme!

    Biasanya orang berpendidikan tinggi menjadi sangat idealis, cengeng, membandingkan semua hal dengan kondisi ideal di kampus, di luar negeri, di perusahaan multinasional dsb. Orang-orang “pintar” seperti ini biasanya keluhannya adalah tidak difasilitasi, tidak ada perhatian dari pemerintah, tidak ada ini, tidak ada itu.

    Sementara seorang CEO/entrepreneur adalah sosok yang harus bisa beradaptasi dan bertarung dalam segala situasi yang tidak ideal. Kadang harus bisa berpolitik, harus bisa mengatur konflik, harus bisa bisa entertain orang oops…

    Sebagai doktor bidang engineering yang menjadi pengusaha dan CEO di beberapa perusahaan, saya merasa pendidikan tinggi memberikan edge bagi saya untuk..belajar apa saja dengan cepat, berkomunikasi secara tulisan dan verbal dengan sangat baik dan memiliki pola pikir scientific yang terstruktur.

    Basically bisnis itu seperti riset. Kita mengajukan hipotesis, yaitu kalau kita membuat service/produk A dengan modal n, maka akan ada x customer yang membutuhkannya dan return-nya adalah y yang bisa didapat dalam z tahun.

    Dengan pola pikir akademis yang scientific dan terstruktur, maka sebenarnya tidak sulit untuk bisa membuktikan hipotesis tersebut, dengan syarat hilangkan semua idealisme dan persepsi bahwa sistem berada pada kondisi ideal.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s