Singapura Menyerah


12967426011067986847

Tanah Genting Kra, apakah anda pernah mendengarnya? Itu nama daerah pertama kali saya dengar kelas 2 SMP yaitu sebuah daratan letaknya di “celah sempit” semenanjung Malaya di Thailand berbatasan dengan Malaysia. Dulu dalam pelajaran Geografi saya denger jika Thailand mau membuat terusan seperti terusan Suez atau terusan Panama di Tanah Genting Kra, maka Selat Malaka akan mati.

Saya setuju jika benar direalisasikan pembuatan terusan di Tanah Genti Kra maka akan mati itu Selat Malaka atau minimal berkurang ke-sexy-annya sebagai jalur selat terpadat di dunia. Pertanyaannya: seberapa ruginya bagi Indonesia jika benar Terusan ini terealisasi?

Jawabnya tentu saja kita rugi. Selat Malaka akan menjadi relatif sunyi. Pelabuhan-pelabuhan di sepanjang Selat Malaka akan terkena dampaknya. Itu logis. Hanya Indonesia itu besar bahkan sesaat setelah keluar dari Tanah Genting Kra telah menunggu Pelabuhan Samudera Banda Aceh. Jadi, buat Indonesia yang diperlukan adalah strategi mengantisipasi pembukaan Tanah Genti Kra. Jadi, kerugian Indonesia itu memang terjadi dengan Selat Malaka jadi berkurang ramainya. Hanya mari kita lihat keuntungan dibalik ancaman tersebut:

Singapura sebagai kota pelabuhan jelas akan mati. Tidak ada lagi yang akan mengunjungi pelabuhan Singapura. Akibatnya dominasi Singapura sebagai Pelabuhan Utama di Asia Tenggara akan hilang. Akan muncul dominasi baru yang kita bisa kocok ulang. Andaikan dominasi barunya di sekitar wilayah Tanah Genting Kra sekalipun, tetap saja peran Singapura tidak dominan lagi. Singapura akan kehilangan ke-sexy-annya sebagai kota Pelabuhan. Paling banter Singapura berusaha mempertahankan 2 kaki lainnya agar tidak putus yaitu: Kota Pusat Keuangan dan Kota Pusat Perdagangan.

Masalahnya apakah Singapura akan mampu mempertahankan kedua pilar tersebut? Saya ragu jika Singapura mampu. Iya Singapura mungkin mampu jika Vietnam, Thailand, Indonesia bahkan Brunei dan Malaysia diam saja atas lemahnya posisi Singapura. Nah, jika Negara-negara ini berubah menjadi “Predator” Singapura maka akan membuat posisi Singapura benar-benar sulit, sangat terbantai.

Dengan kehilangan posisi sebagai kota pelabuhan maka Singapura sulit untuk mempertahankan posisinya sebagai kota Dagang. Di negara mana pun namanya Kota Dagang itu memprasyaratkan adanya pelabuhan yang amat strategis sebagai simpul jejaringan transportasi. Jika Singapura letaknya menjorok di ujung Selat Malaka dimana para kapal berlayar melalui terusan Tanah Genti Kra maka dimana strategisnya Singapura sebagai kota dagang? Kecuali, jika memang negara-negara ASEAN sebagai kompetitornya tidak menyiapkan kota Dagang dan Pelabuhan Alternatif. Tapi ini sebuah hil yang mustahal yang terjadi.

Disisi lain Indonesia meskipun rugi dengan kehadiran terusan Tanah Genting Kra, tapi Indonesia punya keuntungan lebih ganda lagi.

1. Tidak ada lagi kota kompetitor yang amat strategis dan sudah begitu modern untuk menjadi kompetitor pelabuhan kita. Kita bisa buat minimal 2 Pelabuhan Besar Baru untuk Kalahkan Singapura yaitu di Bitung Sulawesi sebagai Penghubung Laut China Selatan dan Samudera Indonesia, dan Pelabuhan Sabang sebagai Pintu Masuk menuju Terusan Tanah Genting Kra. Ini juga akan merangsang pembangunan jalur infrastruktur Kereta Api dari Ujung Sabang Sumatera menuju Tanjung Karang, serta Ujung Bitung Sulawesi menuju Makassar. Di kedua Kota Pelabuhan tersebut di bangun juga Kota Baru Metropolitan Dagang.

2. Lemahnya Singapura sebagai kota Dagang dan Pelabuhan bisa mempengaruhi posisinya sebagai Pusat Keuangan secara tidak langsung. Dalam arti nilai strategis Singapura jauh berkurang. Ini akan membuat Jakarta bisa melawan Singapura sebagai pusat keuangan. Selama ini Singapura amat kuat dan sudah amat modern. Jadinya saat ini Jakarta tidak punya kesempatan mengalahkan Singapura. Hanya saja jika nilai strategis Singapura hilang maka Jakarta bisa kalahkan Singapura.

Berangkat dari hal ini maka sebenarnya Indonesia tidak perlu terlalu khawatir dengan perubahan radikal lingkungan regionalnya. Kita negara besar sehingga tetap bisa mengoptimalkan keuntungan dari sini manapun. Sekarang kembali pada kita semua: Pemerintah, Pemda, Politisi, Intelektual dan seluruh masyarakat; apakah kita bisa mengantisipasi perubahan radikal lingkungan regional yang sangat mungkin terjadi beberapa tahun ke depan?

Dari Tepian Lembah Sungai Elbe

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s