Asuransi Janda


Mari-BerasuransiAda yang memprihatinkan atas keseimbangan pasca perceraian baik itu pada negara mayoritas Muslim maupun negara barat. Bedanya pada negara mayoritas orang Islam maka yang menderita pasca perceraian umumnya wanita. Wanita di pihak yang paling menyedihkan. Selain itu yang menderita juga adalah anak-anaknya. Mereka umumnya banyak (meskipun tidak semua) yang hidup di bawah garis kemiskinan pasca perceraian.

Sementara pada negara barat maka yang menderita pasca perceraian umumnya lelaki. Si lelaki biasanya dibebani tanggung jawab untuk membiayai mantan istrinya sampai si mantan istrinya dianggap bisa mandiri, atau menikah dengan lelaki lain. Cilakanya, banyak wanita yang kadang2 memutuskan kumpul kebo aja dengan lelaki lain, sementara mantan suaminya membiayai hidup si wanita tadi. Menyakitkan memang buat lelaki barat, jika kena kasus mantan istrinya tidur dengan gonta-ganti lelaki lain, sementara setiap bulan gajinya dipotong buat ngidupin si mantan istri tersebut. Boris Becker mantan juara dunia Tenis pernah marah-marah karena harus membiayai mantan istrinya yang hidup enak-enakan untuk kumpul kebo dengan pacar barunya. Jika anda lelaki maka bisa dibayangkan teriris-irisnya perasaan anda πŸ™‚

Akibatnya memang di barat banyak sekali para pria yang memutuskan malas menikah. Dikarenakan konsekuensi untuk menikah amat berat buat lelaki. Jadilah mereka pragmatis saja: kumpul kebo tanpa nikah, atau yah lebih pragmatis lagi untuk urusan bawah perut maka “beli jadi”. Di negara yang mayoritas Islam umumnya situasinya agak kebalikan. Umumnya banyak lelaki enteng menikah, bahkan malah nikah lagi πŸ™‚ Dikarenakan salah satu konsekuensinya adalah perceraian itu tidak membebani lelaki.

Sebenarnya situasi dimana masyarakatnya mudah menikah itu jauh lebih baik dibanding dengan masyarakat yang ingin kumpul kebo saja. Dengan menikah akan membuat keluarga utuh untuk mendidik anak-anaknya dengan benar. Dalam Islam disebut membangun keluarga sakinah. Hanya yang perlu dipahami adalah jika terjadi perceraian, ternyata dalam banyak kasus sebagian besar si wanita amat menderita dan bahkan juga anak-anaknya.

Kenapa ini terjadi? Jawabnya, menurut apa yang saya pelajari dengan segala keterbatasan saya, maka saya menyimpulkan: kita (bangsa pada negara yang mayoritas Islam) gagal memahami Ayat Suci untuk diimplementasikan dalam kebijakan Manajemen Asuransi Pembiayaan yang Efektif.

Dalam Agama kita Islam (yang saya tahu, mohon koreksi jika pengetahuan saya mengandung kelemahan), seorang wanita yang cerai hidup maka seperti ini jaminan hidupnya:
1. Selama masa idah akan dijamin oleh mantan suaminya.
2. Setelah itu, jika si wanita dalam posisi lemah maka harus dibantu oleh saudara lelakinya
3. Jika saudara lelakinya tidak mampu maka masyarakat sekitarnya yang harus membantunya.

Nah pada point 1 maka Pengadilan Agama begitu mudah untuk menerapkan aturan terssebut: Si mantan suami harus membiayai mantan istrinya selama masa Idah. Masalahnya bagaimana setelah masa Idah selesai dan si saudara lelakinya juga ternyata miskin atau tidak mau membantu si wanita bercerai ini? Bagaimana juga masyarakat dimintakan pertanggungjawaban untuk membantu wanita bercerai dalam kesusahan ini? Di titik inilah nagara-negara yang mayoritas beragama Islam gagal menterjemahkan perintah Ayat Tuhan dalam sistem manajemen pembiayaan.

Harusnya negara-negara yang mayoritas beragama Islam mempunya Asuransi buat Para Janda (baik janda cerai hidup apalagi yang cerai mati). Asuransi ini mengikat seluruh warganya yang telah akil balik dan berpenghasilan sendiri baik wanita maupun pria dengan nilai preminya relatif proporsional berdasarkan kemampuannya. Nah, kapital yang terkumpul dari iuran asuransi inilah yang akan digunakan untuk menjamin para janda yang tidak mampu pasca cerai.

Jadi saat si saudara lelaki dari wanita tersebut tidak mampu atau tidak bersedia membiayai maka si Janda tadi berhak untuk ajukan klaim asuransi sampai dia akhirnya menikah lagi, atau malah seumur hidupnya. Besar asuransi disesuaikan dengan standard hidup minimal rakyat Indonesia. Dengan demikian kebutuhan minimal wajar dari si wanita tadi dipenuhi oleh asuransi. Jadilah tidak ada lagi ketakutan akan kelaparan dan kemiskinan yang menghantui para janda.

Bercerai itu amat menyakitkan. Apalagi jika wanita yang ditalak oleh si lelaki karena kesewenangan si lelaki maka ini benar-2 merupakan penderitaan ganda bagi si wanita. Lebih parah lagi akibat perceraiannya membuat si wanita jatuh amat miskin, maka ini akan jadi malapetaka buat wanita. Ayat-ayat Tuhan mengajarkan kita untuk mengantisipasi hal buruk ini. Sayangnya secara manajemen negara yang mayoritas beragama Islam terlalu primitif untuk mampu menterjemahkan keluhuran Ayat-Ayat Tuhan tersebut ke dalam sistem manajemen pembiayaan yang profesional.

Dari Tepian Lembah Sungai Elbe

 

Iklan

2 thoughts on “Asuransi Janda

  1. asli gw demen ini bgt Mas Bro, tidak pernah terpikirkan akan adanya “ASURANSI JANDA”.
    Sungguh menyakitkan buat para wanita janda di Indonesia. Apalagi dgn adanya Poligami dengan dalih Sunnah Nabi SAW. Jadi buat renungan dan pembelajaran. Thx Mas Bro.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s