Saya Optimis Indonesia menjadi bangsa besar!


11Saat McKenzie, PriceWaterhouseCooper dan World Bank beberapa tahun lalu memuji-muji Indonesia akan menjadi kekuatan ekonomi no: 7 bahkan ada juga yang bilang no: 6 terbesar di dunia, waktu itu saya cuma nyengir saja. Saya sedang mikir apa maksud dari lembaga-2 neolib ini memuja-muja Indonesia. Adakah “udang dibalik rempekyeknya” 😀 atas pujian itu. Apalagi saya lihat di bawah SBY di periode keduanya, merupakan 5 tahun negara dalam kondisi Autopilot! Jadi, di kepala saya pujian itu lebih saya maknai sebagai “bunga-bunga kehidupan” di tengah penatnya berita politik yang tidak karuan…

Mata hati saya mulai optimis saat Jokowi Widodo menggandeng Jusuf Kalla untuk maju dalam pemilu Presiden. Wah ini ideal buat bangsa kita. Apalagi saat tokoh muda idialis seperti Anies Baswedan turut serta berpartisipasi mendukung Jokowi-JK beserta puluhan juta relawan lainnya. Baru pertama kali dalam hidup saya, saya begitu aktif terlibat dalam pemilu. Suka cita saya menemukan puncaknya saat Jokowi-JK resmi terpilih jadi Presiden. Kita benar-benar punya pemimpin eksekutif yang terbaik!

Lalu tidak lama kemudian Pimpinan DPR dan MPR dikuasai Koalisi Merah Putih (KMP). Banyak rakyat Indonesia begitu khawatir dengan fakta ini, tetapi saya berpikir agak sebaliknya. Tentu saja awalnya saya pun khawatir. Hanya setelah saya renungkan kembali dengan tenang, saya justru berterima kasih KMP memenangkan kepemimpinan di Parlemen.

PERTAMA, Proses cross check antara Eksekutif dengan Parlemen justru menjadi relatif berimbang. Pada akhirnya rakyat akan disuguhi pertontonan dimana kekuatan politik yang saling berseberangan terpaksa menunjukan yang terbaik buat rakyat. Jika tidak, justru mereka akan mendapat perlawanan dari rakyat.

KEDUA, jika yang terjadi Jokowi dengan PDIP yang kuat di Parlemen, sangat mungkin justru itu belum tentu menguntungkan Jokowi. Di PDIP itu ada Putri Kencana yang masih remaja manja yang sulit dikendalikan Jokowi. Jika PDIP kuat maka sang Putri Kencana akan lebih banyak ngerecoki Jokowi untuk kepentingan pribadinya. Jokowi lebih sulit menghadapi “kenakalan” si Putri Kencana karena tidak enak hati. Jokowi malah lebih mudah bertarung dengan KMP di Parlemen.

Ingat lah contoh kecil saja pada Ibu Risma Walikota Surabaya. Yang justru ngerecoki Ibu Risma malah PDIP, sementara partai Lain malah mendukung program-program Ibu Risma yang pro rakyat. Jadi, PDIP kuat di Parlemen dan Putri Kencana jadi Ketua DPR misalkan maka belum tentu menguntungkan Jokowi, bisa jadi malah Jokowi dipaksa ikuti maunya PDIP yang aneh-aneh. Sulit bagi Jokowi untuk bersikap jika ketua DPR sang Putri Kencana yang terkenal manja ini.

KETIGA, KMP sendiri demi mendapatkan simpatik rakyat justru sekarang ingin membatalkan banyak UU yang pro asing. KMP ingin mencabut UU Perbankan, UU tentang Migas dan lain-lain yang pro asing. Padahal rakyat tahu persis bahwa UU itu disahkan oleh kelompok orang yang sama dulu, baik yang digolkan di masa Poros Tengah berkuasa di Parlemen atau saat mereka bergabung dalam koalisi besar SBY.

Padahal dulu orang-orang yang sama inilah yang justru membuat UU kita begitu liberal. Sekarang saat mereka bergabung di KMP justru mereka “dipaksa” sadar atas kesalahannya sehingga malah ingin mencabut dan mengkoreksi UU liberal tersebut yang nota bene dulu mereka juga yang mengesahkan.

Tentu saja sebagai politisi sejati mereka tidak akan mengakui kesalahan masa lalunya. Politisi itu pantang ngaku salah. Tetapi karena ingin menunjukkan yang terbaik bagi rakyat maka saat mereka bergabung dalam KMP, mereka mengkoreksi kesalahannya. Tidak mengapa mereka tidak mengaku salah yang penting mereka bersedia mengkoreksi. Ini jelas bagus buat rakyat Indonesia. Jadilah KMP di Parlemen pun ingin berbuat yang terbaik buat bangsa ini.

Jadi sebenarnya ini semua hikmahnya adalah justru membuat kita optimis dengan masa depan bangsa kita. Tentu saja ada kekhawatiran bahwa Jokowi-JK akan direcoki KMP terus. Kekhawatiran ini beralasan. Hanya jangan remehkan jejak rekam Jusuf Kalla yang selalu berhasil menyelesaikan konflik sebesar apapun. Mendamaikan konflik Poso, Ambon, Kalimantan, Aceh saja selesai di tangan JK.

Lihatlah, begitu juga periode pemerintahan SBY-JK yang awalnya cuma didukung PD yang lebih kecil dari PDIP saat ini. Toh dengan keluwesan JK, parlemen periode SBY-JK amat baik bekerja sama dengan pemerintah. Justru saat PD besar dan SBY tinggalkan JK, malah Parlemen membuat pemerintahan SBY-Boed lemah.

Ini semua menjadi bukti jejak rekam JK amat baik membangun komunikasi dengan Parlemen. Saat bersamaan jejak rekam Jokowi sangat baik berkomunikasi dengan rakyat. Sebuah paduan pemimpin eksekutif yang nyaris sempurna. Akan lebih sempurna lagi jika Anies Baswedan sebagai tokoh muda yang kaya dengan konsep idialisnya terlibat dalam merumuskan kebijakan pemerintah yang pro rakyat.

Dari sini saya akhirnya menjadi yakin bahwa ramalan para instititusi neolib seperti dari McKenzie, PriceWaterhouseCooper dan World Bank tidak cuma mampu kita wujudkan bahkan mungkin kita bisa lampauinya! Artinya kita tidak cuma tumbuh menjadi kekuatan ekonomi 6 atau 7 besar dunia tetapi kita pun menjadi negara yang bisa membangun kesejahteraan secara merata!

Baru kali ini saya begitu amat optimis dengan bangsaku 🙂

Dari Tepian Lembah Sungai Elbe

Iklan

One thought on “Saya Optimis Indonesia menjadi bangsa besar!

  1. good thought, semoga hal seperti itu yg akan terjadi. like note about “Putri kencana”. semoga jokowi membuktikan dia bukan boneka

    ——-
    Azhar yth,

    dan sekarang saatnya kita sama-sama berkarya untuk Indonesia.

    Salam hangat dan Semoga Sukses

    Ferizal Ramli

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s