Prabowo Subijanto sosok tokoh yang selalu kalah


28d3424b13608365e679a06a4619c401_prabowo-berkudaAda sebuah ironis antara klaim yang dilakukan oleh Prabowo yang selalu mempresentasikan dirinya sebagai Grandeur, tokoh besar dan hebat, a great man, dengan realitas track record-nya dalam berkompetisi.

Saya membayangkan betapa Prabowo akan terlihat seperti anak bawang jika dia harus berhadapan dengan tokoh model Barack Obama, Angela Merkel, David Cameron, Xi Jinping, Vladimir Putin atau Shinzo Abe. Jangankan lawan mereka, ketemu PM Malaysia atau PM Singapura tampaknya Prabowo akan kalah kelas saat harus adu strategi.

Anda tidak setuju dengan statement saya? Kalau tidak setuju silahkan utarakan sudut pandang anda. Tapi ijinkan saya ajak anda mengikuti jejak rekam Prabowo di masa lalu.

Nyaris hampir semua kesuksesan Prabowo dikarenakan dukungan dari mertuanya Soeharto yang menjadi penguasa tunggal selama ORBA 32 tahun. Tapi saat Soeharto dalam kejatuhannya, Prabowo gagal untuk bisa berdiri tegak diatas kakinya sendiri. Dia terlempar bahkan dipecat dari karir militernya. Yang amat memilukan dan menjadi aib para lelaki adalah, hanya untuk mempertahankan istrinya saja dia gagal. Dia pun harus terseok-seok melarikan diri keluar negeri selama bertahun-tahun di pengasingan.

Sepulang dari luar negeri dengan kekayaan yang dulu dia miliki sebagai mantan mantu Soeharto, Prabowo berpolitik melalui Gerindra. Lagi-lagi Prabowo tertipu oleh “langkah kuda” SBY dalam kasus Century. Saat voting tentang kasus Century tepatnya “Perpanjangan Tim Pengawas Proses Hukum Century” di Parlemen, Prabowo bela SBY dengan harapan dikasih kursi Menteri Pertanian. Nyatanya Prabowo dikadali SBY. Disini terlihat begitu mudahnya Prabowo menari dalam gendang yang ditabuh SBY.

Di Pilpres 2014 kemarin, kembali Prabowo menelan kekalahan. Belasan tahun mengkampanyekan diri untuk jadi Presiden, ternyata kalah dengan Jokowi yang hanya butuh waktu beberapa bulan saja dalam mengkampanyekan diri jadi presiden. Disini terlihat ketidakmatangan Prabowo membaca peta politik.

Lalu dibuatlah KMP (Koalisi Merah Putih) untuk menghadapi Jokowi. KMP memang cukup kuat mengalahkan KIH (Koalisi Indonesia Hebat) pendukung Jokowi di Parlemen. Hanya KMP itu bukan lah Prabowo. Keliru jika anda anggap KMP itu Prabowo. KMP itu ada Golkar dengan Akbar Tandjung-nya, ada PAN dengan Amien Rais-nya, ada PKS dengan platform militannya yang kepentingan mereka secara idiologi, visi, strategi amat berbeda sekali dengan Prabowo. Yang menyatukan KMP itu cuma kepentingan taktis semata: kursi kekuasaan!

Nah dalam permainan internal di KMP ini kembali kepemimpinan Prabowo kedodoran. Sebagai partai pemenang nomor 3 dalam pemilu, Gerindra nyaris cuma dapat hadiah hiburan yaitu wakil ketua DPR. Ini jelas kalah jauh dengan pencapaian PKS yang saat ini nota bene PKS ditekan sana-sini karena kasus sapi-nya, toh tetap berhasil meraih kursi kekuasaan lebih baik dari pada Gerindra.

Jangan tanya dengan PAN. Amien Rais bahkan membuat besannya menjadi ketua MPR. Selain itu juga mendapat kursi wakil ketua DPR. Golkar dengan arsitek Akbar Tandjung berhasil meraih kursi yang amat strategis yaitu ketua DPR plus wakil ketua MPR. Permainan di KMP itu sepenuhnya didikte oleh Akbar Tandjung dan Amien Rais. Prabowo itu cuma jadi anak bawang dihadapan mereka berdua.

Prabowo pun harus merelakan orang yang pernah kurang ajar padanya yaitu Omar Sapta Odang untuk dia dukung jadi wakil MPR, sementara Gerindra justru ndak dapat kursi disana. Klo Prabowo dan Gerindra menghibur diri dengan mengatakan ini bagian dari pengorbanan Gerindra untuk konsolidasi dan solidaritas KMP, maka Prabowo dan Gerindra betul-betul tidak paham politik.

Lihatlah Prabowo, kepentingan pribadi Amien Rais aja dia golkan kok dengan menjadikan besannya ketua MPR.
Lihatlah Prabowo, PKS aja ndak mau ngalah kok ke PPP demi berbagi kursi MPR padahal PKS sudah dapat kursi DPR. Akibatnya, PPP pergi.
Jadi pahami Prabowo, ini adalah masalah kekuasaan yang ndak mungkin diberikan ke orang lain meskipun atas nama koalisi KMP ๐Ÿ™‚

Ndak ada ceritanya dalam politik itu pakai “Filsafat Lilin” yaitu membiarkan diri meleleh habis terbakar demi menerangi orang lain.

Untunglah Prabowo tidak jadi Presiden Indonesia. Apa jadinya kalau jadi Presiden kita, sementara itu orang track record-nya kalahan melulu. Baru dengan sesama politisi dalam negeri saja sudah kedodor-dodoran terus. Bagaimana mau hadapi orang-orang hebat seperti Barack Obama, Angela Merkel, Vladimir Putin, David Cameron, Shinzo Abe atau Xi Jinping? Bisa di-plokotho habis-habisan si Prabowo itu. Kita pikir dia Macan Asia, ternyata tidak berdaya ๐Ÿ˜€

Apalagi mereka-mereka (para pemimpin negara-negara hebat itu) tidak cuma terkenal cerdik dan cerdas tapi juga naluri membunuh mereka amat sempurna sekaligus negara mereka adalah negara-negara yang punya catatan sejarah sebagai pemenang. Bisa habis kita diplokhoto karena lemahnya Prabowo dalam berstrategi ๐Ÿ™‚

Ternyata klaim Granduer itu amat bertolak belakang dengan catatan keberhasilannya berkompetisi dengan rivalnya ๐Ÿ™‚

Dari Tepian Lembah Sungai Elbe

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s