Pendidikan dan Spirit Keimanan antara München dan Hamburg


333852_2342502132817_116940375_oPendidikan dan Spirit Keimanan antara München dan Hamburg

Ini terjadi 3 tahun yang lalu, di München kota kaya raya amat makmur sentosa di seluruh Daratan Eropa. Di suatu sudut disana, di ujung timur daerah makmur Kota München, di Trudering. Sebuah sekolah Grundschule (SD) yang bernama Lehrer-Götz-Weg yang telah berumur lebih dari 200 tahun, disana lah putri sulungku Zahra memulai hari pertamanya ke sekolah. Hari pertama awal dari hidupnya untuk menata masa depannya.

Grundschule Lehrer-Götz-Weg adalah salah satu SD terbaik di seluruh seantero kota München yang menjadi kebanggaan masyarakatnya karena juga hasil jerih payah gotong royong mereka untuk membesarkan SD tersebut.

München adalah salah satu kota termakmur dengan masyarakatnya relijius Khatolik. Awal sekolah buat seluruh anak didik harus diawali pembukaannya di Gereja Katholik. Saya seorang muslim yang dibesarkan dalam tradisi relijius Islam, tidak menolak undangan suka rela untuk bersama putri saya sekeluarga ke gereja untuk mengikuti hikmat pembukaan hari pertama sekolah. Tentu saja kami sekeluarga tidak ikut dalam ritual kebaktian agama khatolik. Kami hanya mengikuti tradisi ritual acara penerimaan murid barunya.

Ada pengalaman yang begitu membekas di hati saya: tradisi mereka memulai untuk mengajarkan peradaban dan pendidikan pada anak-anaknya begitu melekat dengan nilai-nilai spirit keimanan terhadap Tuhannya. Ini begitu amat menginspirasi saya. Mereka mempercayai pendidikan dan keimanan pada Tuhan sebagai satu tarikan nafas yang saling melengkapi sehingga utuh membentuk jati diri sang anak.

Saat kami, para orang tua dan anak-anaknya, bersama menyanyikan lagu “Weißt du, wieviel Sternlein stehen” (Tahukah kamu berapa banyak bintang kecil di langit), sebagai awal pertama kali memulai sekolah, hati saya begitu bergetar. Syair dari lagu ini membuat saya berkontemplasi akan begitu luasnya ilmu pengetahuan dalam kekuasaan rahasia Tuhan yang harus dipelajari. Sebuah syair yang penuh dengan spirit relijius yang ingin ditanamkan pada anak-anak kita saat mengenyam pendidikan.

Weißt du, wieviel Sternlein stehen

Weißt du wieviel Sternlein stehen – Tahukah kamu berapa banyaknya bintang kecil di langit
An dem blauen Himmelszelt – Yang berada di cakrawala biru
Weißt du wieviel Wolken gehen – Tahukah kamu berapa banyak awan yang berarak
Weithin über alle Welt – Diatas luasnya dunia
Gott der Herr hat sie gezählet – Tuhan lah, Sang Penguasa yang telah mencatatnya
Dass ihm auch nicht eines fehlet – Tidak ada satu pun yang terlewatkan
An der ganzen großen Zahl – Pada jumlah yang tak terhingga
An der ganzen großen Zahl

Weißt du wieviel Mücklein spielen – Tahukah kamu berapa banyak serangga berterbangan
In der heißen Sonnenglut – Di terik panasnya matahari
Wieviel Fischlein auch sich kühlen – Tahukah kamu berapa banyak ikan (berenang) tenang
In der hellen Wasserflut – Dalam jernihnya air mengalir
Gott, der Herr, rief sie mit Namen – Tuhan lah, Sang Penguasa yang telah memanggil dengan namanya
Dass sie all’ ins Leben kamen – Bahwa mereka semua dalam hidupnya
Dass sie nun so fröhlich sind – Bahwa mereka sekarang berbahagia
Dass sie nun so fröhlich sind

Weißt du, wieviel Kinder frühe – Tahukan kamu, berapa banyak anak terlahir
Stehn aus ihrem Bettlein auf – Berdiri pada tempat tidur kecilnya
Dass sie ohne Sorg und Mühe – Yang mereka tanpa takut dan tanpa beban
Fröhlich sind im Tageslauf – Keceriaan pada hari-hari yang dilewati
Gott im Himmel hat an allen – Tuhan yang di sorga yang melingkupi semuanya
Seine Lust, Sein Wohlgefallen – Dengan kasih-Nya dan dengan rahmat-Nya
Kennt auch dich und hat dich lieb – Yang mengetahui dirimu dan yang menyayangimu
Kennt auch dich und hat dich lieb…

Sekarang, tepat minggu depan putri bungsuku Naura akan memulai masuk Vorschule (Pra-Sekolah) di Grundschule Scheeßeler Kehre, daerah pertanian di perbatasan pedalaman ujung kota Hamburg. SD ini termasuk salah satu SD yang baik di Hamburg.

Hamburg adalah sebuah kota kaya yang menjadi pesaing terberat München dalam hal kemakmuran dan sebagai salah satu kota termakmur di Eropa. Tetapi Hamburg memiliki karakter yang amat bertolak belakang terhadap München. Hamburg adalah kota dengan tradisi bebas. Masyarakatnya amat metropolis, internasionalis, multikultur dan banyak sekali para pendatang warga asing. Masyarakat disini dikenal tidak terlalu relijius bahkan liberalis dalam berperilaku.

Tetapi Hamburg terkenal sebagai kota sosialis sebagai konsep ekonominya. Pemerintah kotanya menginvestasi pendidikan per kepala buat siswanya adalah yang terbanyak dibandingkan wilyah manapun di seluruh Jerman. Fasilitas phisik sekolah-sekolah di Hamburg relatif lebih bagus dari fasilitas sekolah dimana pun di seluruh negara bagian Jerman, bahkan saya rasa sedikit lebih bagus dari pada München dalam hal fasilitas phisik ini. Sementara proses belajar mengajarnya pun amat baik, sebaik München dan relatif lebih baik dari wilayah lainnya di Jerman.

Hamburg menerapkan proses belajar mengajar Ganztagsschule (sekolah dari jam 8 pagi sampai dengan jam 4 sore) buat murid-murid SD-nya agar kualitasnya bagus. Hebatnya lagi program yang begitu bagus nyaris berbiaya gratis kecuali orang tua dibebani biaya makan siang anak cuma 1 Euro per hari (catatan: harga menu McDonald untuk anak sekitar 3 Euro). Hamburg tercatat kota yang paling royal se Jerman yang menginvestasikan dananya untuk pendidikan. Mereka mensubsidi habis-habisan proses belajar Ganztagsschule yang biaya operasionalnya begitu mahal.

Uniknya ternyata kualitas Pendidikan Hamburg tidak terlalu baik, kalah jauh dari München. Penyebabnya: kehadiran pendatang asing yang kebanyakan tidak bisa berbahasa Jerman adalah kendala terbesar yang membuat Hamburg kesulitan untuk membuat pendidikannya melesat hebat meskipun anggarannya begitu berlimpah.

Minggu depan putri bungsu saya akan memulai Vorschule. Itu adalah program pra sekolah selama 1 tahun dimana menjadi masa persiapan anak-anak sebelum masuk SD. Pemerintah Hamburg menerapkan program Vorschule untuk menyiapkan anak-anak agar memiliki kompetensi yang cukup khususnya bahasa Jerman. Program ini tampaknya adalah program unik pemerintah Hamburg untuk meningkatkan kualitas pendidikannya.

Saya senang putri saya bisa sekolah di salah satu SD yang dianggap baik di Hamburg. Hanya ada satu yang was-was disini. Saya rindu dengan suasana relijius saat pertama kali putri sulung saya masuk sekolah di München 3 tahun yang lalu. Saya seperti khawatir nanti di Hamburg, di hari pertama putri saya sekolah, dia hanya disambut dengan acara seremonial “rasionalis” belaka. Mungkin penuh dengan keceriaan tapi tidak ada spirit relijius disana.

Pemerintah Hamburg memang pemerintah kaya raya yang bisa menyediakan fasilitas luar biasa untuk ambisi pendidikannya. Hanya dalam hal mengisi spirit relijius, saya khawatir pemerintah Hamburg akan absen disini.

Ah saya ingin menyanyikan kembali lagu yang 3 tahun lalu pernah saya nyanyikan…
Weißt du wieviel Sternlein stehen
An dem blauen Himmelszelt
Weißt du wieviel Wolken gehen
Weithin über alle Welt
Gott der Herr hat sie gezählet
Dass ihm auch nicht eines fehlet
An der ganzen großen Zahl
An der ganzen großen Zahl

– Dari Tepian Lembah Sungai Elbe –

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s