Dangdut!


Ida Laila

Aku penggemar Dangdut. Aku suka sekali dengan lagu-lagu Tante Ida Laila sejak kecil. Suara Tante Rita Sugiarto juga kugemari. Kalau Tante Elvie Sukaesih sebenarnya aku tidak terlalu suka. Suaranya terlalu pas-pasan menurutku. Meskipun aku masih kanak2 tapi seleraku terhadap suara sang biduan dangdut tetap bisa selektif. Hal ini karena aku belajar dari Papaku yang merupakan penggemar dangdut sejati —like father, like son!

Kesukaanku pada Tante Elvie Sukaesih dulu lebih pada mengikuti trend selera masyarakat yang begitu memuja Elvie. Padahal suaranya kalah jauh dengan cengkokan suara emas Tante Rita Sugiarto. Apalagi Tante Ida Laila suaranya begitu indah, merdu dan mendayu sensitif sejuta cita rasa.

Syair-syair dangdut adalah unik yang bercita rasa tinggi yang jarang dimiliki oleh mahzab musik lain: begitu sangat orisinil! Syair dangdut itu merupakan cita rasa jujur ekspresi wajar dari masyarakat dimana aku hidup. Aku memang masih kanak-kanak tapi aku amat bersetuju dengan Papaku penggemar dangdut tulen bahwa musik dangdut adalah musik orisinil masyarakat kita.

Dengarlah syair-syairnya; mendayu lebay penuh pemujaan cinta, disertai relijius terselipkan nasehat-nasehat bijak spirit Tuhan yang bersatu padu dalam kontradiksi desahan sensual eksoktis. Itulah ekspresi orisinil masyarakatku: lebay, relijius tapi juga begitu kontradiksi dalam liukan eksotis sensual!

Syair tersebut bersatu dalam dendang yang tidak kalah bergeloranya, yang membius kita pun berdendang dalam lenggak-lenggok gelora. Itulah dangdut: sederhana, kontradiktif penuh warna.

Di generasiku, aku suka dengan Tante Evie Tamala dan Iis Dahlia. Selain itu biduan lainnya seperti Ikke Nurjanah, Lilis Karlina, Ines Shintya, Kristina Iswandari, Cici Paramida, Iyeth Bustami, Yulia Citra, Kitty Nurbaiti, Murni Chania juga kukenal.

Tentu saja tidak ketinggalan pendekar dangdut seperti: Prof. Haji Raja Dangdut Rhoma Irama, Ona Sutra maupun Meggi Z, menjadi daftar favoritku! Meskipun aku lebih suka biduan dangdut dari pada pendekar dangdut.

Sayang saat ini aku kebingungan untuk menemukan kembali biduan wanita yang bisa menjadi pujaanku. Tampaknya generasi dangdut kali ini lebih menoton. Mereka lebay untuk 1 hal saja: eksploitasi sensual belaka! Padahal dangdut yang indah itu spirit syairnya harus khas jiwa masyarakat kita: pemujaan cinta yang lebay, penuh nilai-nilai relijius disertai kontradiksi dendangan eksotis sensual!

Dari Tepian Lembah Sungai Elbe

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s