The Patriot – Tragedi Kekalahan Sang Letnan Jenderal Aristokrat!


patriot1Saya teringat pada fragmen terakhir film Legendaris The Patriot yang dibintang Mel Gibson. Flim yang menceritakan perang kemerdekaan Amerika melawan imperialisme Inggris. Saat itu tentara Inggris sudah amat tersedesak oleh tentara relawan Amerika. Kekalahan tentara Inggris sudah nyata di depan mata. Tetapi Letnan Jenderal Aristokrat “The Earl Cornwallis” tetapngotot berperang dan tidak pernah percaya bahwa kekalahan nyata diderita pasukannya.

Letjend Aristokrat Lord Cornwallis yang besar dari kalangan Aristokrat terdidik tidak percaya kalau pasukannya dikalahkan oleh seorang Jenderal Kampung George Washington dengan pasukan yang sebagian besar hanya relawan milisia. Kekalahan pasukannya yang didukung persenjataan canggih melawan relawan adalah sesuatu yang sulit dia pahami oleh akal sehat sang Jenderal Aristokrat ini.

Di titik inilah ada adegan yang begitu mengharukan terjadi. Asisten kepercayaannya, yaitu Brigadir Jenderal O’Hara dengan penuh permohonan kepada atasannya (Letnan Jenderal Lord Cornwallis) memohon untuk segera menghentikan pertempuran. Dalam bahasa yang amat santun menyarankan pada atasannya agar memerintahkan seluruh pasukan untuk menyerah: “My lord, I beseech you. You must order the surrender”.

Saran dari orang kepercayaannya yang memang seorang Jenderal yang kredibel inilah yang akhirnya dituruti oleh Panglima Tentara Inggris Letnan Jenderal Aristokrat Lord Cornwallis untuk mengibarkan bendera putih. Brigjend O’Hara tahu jika mereka terus berperang maka akan mengalami kekalahan total yang memalukan. Brigjend O’Hara adalah Jenderal Lapangan yang tahu kapan saatnya mengakhiri perang dan dia tahu bagaimana melaporkan keadaan pasukannya secara jujur pada Panglimanya sehingga sang Panglima bisa mengambil sikap dengan benar.

Film The Patriot karya legendaris Mel Gibson hampir 20 tahun lalu ini kembali terngiang di memori saya. Saya jadi berempatik dengan apa yang terjadi pada Sang Letnan Jenderal Aristokrat Prabowo Subianto di detik-detik mencekam ini. Letjend Aristokrat Prabowo Subianto sudah amat terdesak tanpa harapan menghadapi pasukan milisi relawan yang dipimpin Jenderal Ndeso Joko Widodo. Letjend Aristokrat Prabowo akan menghadapi kekalahan yang amat memalukan jika dia memaksakan diri terus berperang. Dia akan bernasib sama dengan si Otoriter Jenderal Adolf Hitler yang akhirnya ditinggal sendirian oleh para Jenderal kebanggaannya. Jadilah Hitler bunuh diri dalam kesendirian yang diselimuti kekalahan yang memalukan.

Sayangnya, di sekitar Letjend Aristokrat Prabowo tidak ada penasehat yang kredibel sekelas Brigjend O’Hara seperti dalam film The Patriot. Disekitar Letjend Prabowo adalah kumpulan Barisan Sakit Hati, Barisan Opportunis dan Barisan Nasi Bungkus. Mereka tidak cukup punya kredibilitas untuk memberikan saran akurat pada sang Jenderal. Mereka adalah kumpulan petualang politik yang greedy, mencaplok setiap kesempatan untuk kepentingan pribadinya.

Mereka adalah kumpulan Para Intelektual Tukang yang mengadakan Survey Abal-Abal untuk membohongi Sang Jenderal.

Mereka adalah juga kumpulan Para Intelektual Tukang yang mengadakan Quick Count Abal-Abal untuk menyenangkan hati sang Jenderal. Mereka adalah aktivis Politisi Petualang yang mengadakan Real Count Abal-Abal untuk membuat sang Jenderal hatinya penuh bunga atas fakta semu yang ditampilkan.

Sang Letjend Aristokrat Prabowo bukanya tidak tahu perilaku buruk mereka. Ini perilaku tanpa kredibilitas dan tanpa integritas. Oleh karena itu justru ini menjadi boomerang bari sang Letjend Aristokrat. SLetjend Aristokrat malah kebingungan sendiri dalam bersikap. Galau, karena tidak tahu nasehat siapa yang harus didengar.

Sekarang saatnya Sang Letjend Aristokrat Prabowo Subianto perlu kontemplasi sejenak dalam kesendirian. Sang Letjend Aristokrat sudah tidak punya orang yang dia percayai. Satu-satunya yang dia percayai adalah nuraninya. Waktu amat mendesak. Jam berjalan cepat: tik…tak…tik…tak…

Jika saja mengambil keputusan salah maka kekalahan memalukan dan amat tidak terhormat akan menimpanya: dari Letjend Aristokrat menjadi Pencundang yang terseok-seok! Semoga sang Letjend Aristokrat mampu berdialog dengan nuraninya…

Semoga saja doa sederhanaku di Bulan Ramadhan ini buat Sang Letjend Aristokrat ini bukanlah sebuah hal yang terlalu mewah untuk Engkau kabulkan ya Tuhan…

 

Dari Tepian Lembah Sungai Elbe…

 

Ferizal Ramli

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s