Inggris yang terbelah menjadi 2?


Saltire and union flagJangan meremehkan motif ekonomi sehingga menjadi perpecahan bangsa. Negara yang punya persoalan dengan kesejahteraan rakyat akan punya masalah serius mempertahankan kesatuannya.

Negara-negara di Eropa mengajarkan kita bahwa kegagalan membangun kesejahteraan rakyatnya akan menyebabkan sebuah negara terpecah-belah.

Berikut contoh-contohnya:
BELANDA pasca perang melawan Diponegoro menyebabkan ekonominya hancur lebur dalam kebangkrutan. Pada akhir tahun perang Diponegoro justru Kerajaan Belanda pun terbelah menjadi 2 yaitu Belanda dan Belgia. Jadi, sesungguhnya Belanda lah yang “kalah” dalam Perang Diponegoro kalau dilihat dari konsekuensi kelanjutan bangsanya.

Sedikit intermeso:
Andaikata saja dulu ada internet maka sangat mungkin orang Indonesia yang di Eropa akan kasih tahu begini: “Tuanku Diponegoro jangan mau berunding dengan Belanda. Yang kalah perang tuh Belanda sampai negaranya “bubar” terbelah jadi 2″ :). Sayang internet belum ada saat itu sehingga Diponegoro tidak tahu kehancuran yang terjadi di Beanda akibat perang dengannya.

JERMAN saat kalah Perang Dunia I dan bangkrut meneyebabkan dia kehilangan Polandia, Ceko dan Slowakia sebagai bagian negara Jerman.

Uni Sovyet saat sistem komunis gagal membangun Ekonominya termasuk harus sibuk terlibat perang dingin dengan Sekutu Barat maka rontoklah satu-satu persatu Uni Sovyet menjadi negara baru.

Yugoslavia mengalami hal yang sama persis seperti Uni Sovyet karena persoalan sama yaitu sistem komunis gagal mensejahterakan.

Jangan lupa Indonesia, saat krisis moneter menghantam maka kita kehilangan Timtim.

Saat ini, Inggris (United Kingdom atau Great Britania) pun dibayangi keterbelahan menjadi 2 negara yaitu Skotlandia dan Inggris. Tahun depan sangat mungkin akan muncul negara baru yaitu Skotlandia.

Apa yang salah dengan Inggris, sebuah negara yang punya catatan sejarah emas amat gemilang saat bersatu bersama Skotlandia pernah menguasai dunia membangun masa keemasan yang dikenal Pax Britania, sekarang mereka menjadi negara yang terpecah belah?

Ekonomi Inggris memang fundamentalnya salah urus. Mereka “salah navigasi” dengan lebih fokus membesarkan sektor jasa finansial dan perbankan serta sektor jasa publik lainnya dan mengabaikan sektor manufaktur. Akibatnya, value added yang diciptakan oleh Inggris amat kecil untuk mensejahterakan rakyatnya. Uang yang digunakan untuk mensejahterakan rakyatnya lebih didapat dari hutang karena dia tidak punya kekayaan alam yang bisa diekspor, juga tidak punya produk manufaktur yang bisa diekspor untuk pemasukan uang.

Yang menarik adalah fakta bahwa Inggris itu sebagai salah satu negara yang punya SDM terbaik di dunia. Itu negara kumpulan orang-orang pinter. Tapi saat kebijakan ekonominya hanya bertumpu pada sektor jasa finansial maupun sektor jasa lainnya maka, Inggris tertinggal dalam mengkreasi produk bernilai tambah buat bangsanya sehingga mandeg lah mesin ekonominya.

Pilihan Ekonomi Inggris saat ini tampaknya cuma 2:
1. Mengembangkan kembali industrinya seperti otomotif, mesin-mesin berat, perkapalan, penerbangan, dll…dlll lalu berintegrasi dengan EU semakin kuat, termasuk bergabung dalam mata uang Euro sehingga produknya bisa dia pasarkan di pasar bersama Eropa atau bersama Eropa ekspansi ke negara-negara lain. Inggris itu punya tradisi kompetisi jauh diatas Italia, Spanyol dan kebanyakan negara Eropa. Jika dia berintegrasi sungguh-sungguh dengan EU dan merevitalisasi industri manufakturnya maka Inggris akan menjadi pemimpin ekonomi EU bersama Jerman.

Jika pilih strategi ini maka sangat mungkin Skotlandia akan tetap bersama dengan Inggris. Dikarenakan Skotlandia itu pro EU dan butuh EU. Skotlandia itu negara kecil yang tidak bisa berdiri sendiri. Jika Inggris semakin erat dengan EU maka untuk apalagi Skotlandia berpisah dengan Inggris.

2. Inggris memilih cara Swiss atau Finland dengan fokus di sektor jasa keuangan atau jasa supplier lainnya. Kedua negara ini non EU dan berdiri independen. Hebatnya kedua negara ini lebih sejahtera dari rata-rata negara EU. Kelemahan cara ini adalah mungkinkah Inggris yang penduduknya 50 jutaan (10 kali lipat lebih banyak dari Swiss atau Finland) bisa efektif gunakan cara yang sama dengan Swiss dan Finland, keluar dari EU dan fokus pada pengembangan industri keuangan dan jasa?

Yang kedua Swiss dan Finland memang lebih sejahtera penduduknya dari Jerman sekali pun tapi kedua negara itu sama sekali tidak punya kekuatan politik karena prasyarat untuk memilih cara Swiss dan Finland adalah dia harus menjadi negara netral yang nyaman buat siapa pun. Artinya, jika Inggris pilih cara ini maka Inggris pun harus melepaskan keterlibatannya dalam politik aktif dunia. Sebuah privilage yang terlalu mahal yang harus dibayar oleh Inggris jika pilih cara ini.

Selain itu, jika Inggris pilih cara ini maka sangat mungkin Skotland milih berdiri sendiri lalu dia akan bergabung ke EU.

Apapun itu yang terjadi dengan Inggris ke depan maka ada pelajaran menarik disini bagi NKRI:

1. Hal yang membuat ikatan NKRI kuat itu salah satu yang terpenting adalah kesejahteraan rakyatnya secara merata. Jika itu gagal diwujudkan maka ikatan itu akan lepas dan NKRI bisa bubar adalah sebuah keniscayaan.

2. Modal utama membuat ekonomi sebuah negara menjadi kokoh itu adalah keberhasilan kebijakan ekonomi untuk memproduksi produk yang punya nilai tambah. Pada titik ini membangun industri manufaktur yang kompetitif adalah sebuah keharusan. Kegagalan kita membangun sektor manufaktur yang kuat hanya akan membuat kita bisanya cuma menghabiskan kekayaan alam serta berhutang untuk membiayai hidup kita.

Jika Inggris yang punya sejarah gemilang saja bisa dalam ancaman terbelah-belah maka kita pun bisa alami masalah sama jika sampai salah urus terus-menerus terjadi pada bangsa ini…

Dari Tepian Lembah Sungai Elbe

Ferizal Ramli

Iklan

One thought on “Inggris yang terbelah menjadi 2?

  1. Tulisan yang menarik, karena isu disintegerasi Inggris merupakan salah satu isu hot di Eropa. Soalnya ini juga terkait dengan isu disintegerasi di Spanyol (oleh Basque dan Catalan). Takutnya nanti Basque dan Catalan ikut2an kayak Skotlandia minta referendum.

    Tapi Pak, mohon ijin koreksi dikit ttg paragraph yg ini: “2. Inggris memilih cara Swiss atau Finland dengan fokus di sektor jasa keuangan atau jasa supplier lainnya. Kedua negara ini non EU dan berdiri independen. Hebatnya kedua negara ini lebih sejahtera dari rata-rata negara EU. Kelemahan cara ini adalah mungkinkah Inggris yang penduduknya 50 jutaan (10 kali lipat lebih banyak dari Swiss atau Finland) bisa efektif gunakan cara yang sama dengan Swiss dan Finland, keluar dari EU dan fokus pada pengembangan industri keuangan dan jasa?”

    Koreksi dari saya tentang Finlandia:
    1. Finlandia itu adalah anggota EU. Finlandia pakai mata uang Euro.

    2. Ekonomi Finlandia kayaknya nggak terlalu fokus ke sektor finansial sejak pernah ada krisis perbankan di Finlandia tahun 1990an, sektor finansial mensolidkan diri sejak itu. GDP di bidang servis ada 70% & sisanya juga ke sektor manufaktur & industri, material polimer, IT, kehutanan, ama tambang. ITnya ini & manufaktur material2 khusus ini yg katanya lagi kenceng digalakkan. Apps “Angry Bird” aja itu dari Finlandia, haha..

    Monggo lihat di sini: http://stats.oecd.org/index.aspx?queryid=9185 terus ganti “country” nya jadi Finlandia. Tahun 2013, B1GVK: pos “Financial and insurance activities (ISIC rev4)” cuma 4 179.0. Bandingkan dengan B1GVF: Construction (ISIC rev4) & B1GVC: of which: Manufacturing (ISIC rev4).

    3. Menurut saya pribadi, Finlandia juga kelihatannya aktif di politik dunia. Mereka terlibat dalam Perjanjian Helsinki yang mendamaikan GAM dengan Pemerintah RI. Pasukan2 Finlandia juga dikirim untuk misi2 perdamaian UN di Afrika, dll. Finlandia hingga saat ini aktif memberikan visa pengungsi/asylum bagi orang2 Somalia untuk migrasi ke Finlandia. Namun Finlandia lebih cenderung berpolitik “bebas aktif” agar dapat keuntungan ekonomi, kiri kanan oke, terutama karena Finlandia berbatasan langsung dengan Rusia. Oleh sebab itu, hubungan dengan Rusia dijaga sedemikian baik. Sejak Rusia serang Ukraina dan Rusia diembargo, terjadi penurunan perdagangan antara Rusia & Finlandia, dan Finlandia merasa rugi (walaupun banyak orang Finlandia generasi tua tidak suka Rusia karena Rusia pernah nyerang Finlandia). Selain itu, coba googling tentang berapa banyak negara yang bisa dikunjungi dengan menggunakan paspor Finlandia tanpa visa (visa free). Paspor Finlandia termasuk urutan kedua di dunia untuk kemudahan perjalanan. Nomor satu itu paspor Swedia. Ini contoh bagaimana pemerintah Finlandia aktif berteman dengan negara2 lain supaya warga negaranya bisa berpergian ke mana saja dengan mudah.

    Selain tentang Finlandia, saya mau menambahkan sedikit ttg status UK di dalam EU. Jangan lupa kemungkinan jika pada saat referenderum penentuan status UK di dalam EU di akhir tahun 2017 (http://www.theguardian.com/politics/2014/jun/21/eu-referendum-majority-leave-opinium-observer-poll), mayoritas penduduk UK akan memutuskan untuk memisahkan diri dari EU. Ada kemungkinan UK akan memisahkan diri dari EU dengan alasan bergabung di EU hanya buang2 duit & tidak memberi manfaat ekonomi bagi UK (tiap negara anggota EU harus menyisihkan uang dari APBN dan menyetor uang untuk anggaran EU), serta keinginan untuk mengurangi imigran2 (terutama yang gelap) dari Romania, Polandia, dan negara2 lain karena mereka dianggap mencuri pekerjaan orang lokal serta hanya membawa kriminalitas. Jadi skenario nomer 2 itu mungkin sekali terjadi, di mana UK meninggalkan EU.

    Ini akan jadi hal yang menarik untuk dipelajari, semoga Indonesia bisa belajar dari peristiwa ini.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s