Menakar Kepribadian Capres Cawapres 2014


Hamdi_Muluk

(oleh: Prof. Dr. Hamdi Muluk)

Capres-Cawapres no: 1
Prabowo: Sosok yang Ambisius, Tegas dan Berani
Hatta Rajasa: Sosok Tenang, Cerdas dan Oportunis

Capres-Cawapres no: 2
Jokowi: Pekerja Keras, Sederhana, dan Jujur
Jusuf Kalla Pemimpin Berani, Tegas, dan Cerdas

Serangkaian kampanye dan debat calon presiden yang dilakukan oleh KPU memberikan perspektif baru dalam menilai kedua kandidat Calon Presiden. Melalui kegiatan-kegiatan tersebut, publik dapat menilai lebih jauh kesiapan dan kualitas masing-masing kandidat untuk memimpin Negara Indonesia hingga 5 tahun ke depan. Namun demikian, belum ditemukan informasi kepribadian para kandidat yang cukup. Padahal, aspek kepribadian dalam kajian-kajian Psikologi Politik secara meyakinkan mampu memprediksi perilaku politik calon pemimpin. Katakanlah misalnya bagaimana sang pemimpin menjalin hubungan dengan menteri-menteri di kabinet, bagaimana corak kebijakan publik dan internasional yang akan diambil, atau bagaimana ia akan menyelesaikan berbagai potensi konflik yang muncul pada masa pemerintahannya.

Bergerak dari pentingnya peran aspek kepribadian dalam pengambilan keputusan seorang pemilih, Laboratorium Psikologi Politik Fakultas Psikologi UI bekerja sama dengan Ikatan Psikologi Klinis Indonesia, Ikatan Psikologi Sosial Indonesia, dan Fakultas Psikologi Universitas Padjajaran, melakukan tiga rangkaian studi: (1) Survei ke 204 psikolog untuk menilai aspek kepribadian, (2) Analisis psikobiografi, dan (3) Analisis pidato dan wawancara kandidat di berbagai media. Ketiga metode ini lazim disebut dengan menakar aspek kepribadian dari jauh (psychological at distance).


Prabowo: Sosok yang Ambisius, Tegas dan Berani

Minat Prabowo terhadap dunia militer sudah terlihat sejak kecil, tidak heran pada akhirnya dia memilih masuk Akademi Militer. Dari remaja pun kegemarannya membaca buku-buku tentang tokoh-tokoh dunia, terutama tokoh militer. Peristiwa gugurnya kedua pamannya di medan perjungan sangat membekas bagi diri Prabowo. Tidak mengherankan apabila di kemudian hari apabila semangat heroisme militer mendarah daging di dalam dirinya.

Nilai-nilai keprajuritan sangat melekat di dalam dirinya bahkan dia menganggap bahwa dunia bisnis itu juga sama dengan dunia militer dan keprajuritan, keduanya harus memiliki semangat pantang menyerah. Kecintaannya terhadap Indonesia tampak ketika dia akhirnya memutuskan untuk melanjutkan pendidikan di jenjang perguruan tinggi, yaitu dengan pulang ke Indonesia dan bersekolah di AKABRI, bertekad menjadi tentara untuk tanah air.

Analisa komprehensif berdasarkan hasil survei dengan responden psikolog, analisa psikobiografi, wawancara di media, dan pidato, menunjukkan beberapa hal yang menonjol dari Prabowo antara lain adalah keinginannya untuk berprestasi yang tinggi (M=7.41) sehingga dia akan gigih memperjuangkan apa yang menjadi cita-citanya, akan tetapi hal ini juga menyebabkan Prabowo menjadi orang yang terlihat ambisius. Dia akan mencoba berbagai macam cara untuk dapat mencapai apa yang menjadi keinginanya tersebut. Mengandalkan kerja fisik, disiplin ketat, tegas, berkemauan keras serta berkeinginan untuk mengembalikan kejayaan masa lalu adalah ciri-ciri lain yang menonjol dari Prabowo. Motivasi untuk berkuasa juga tergolong tinggi (M=8.64), sehingga ketika menjadi seorang pemimpin dia akan cenderung memiliki gaya kepemimpinan yang otoriter (N=76%).

Dalam menjalin relasi dengan orang lain, Prabowo dapat menjalin relasi dengan banyak orang akan tetapi dalam berelasi kurang menunjukkan hubungan yang hangat (M=5.21) dan kurang menunjukkan kerendahan hatinya (M=5.23). Dalam menjalin pertemanan, cenderung merupakan hubungan pertemanan yang biasa dan bukan hubungan interpersonal (M=5.07) karena dia memiliki sifat cenderung tidak mudah mempercayai orang lain kecuali orang-orang dekatnya. Hal ini akhirnya juga dapat berpengaruh terhadap area pekerjaannya. Dalam mengambil keputusan, Prabowo cenderung memiliki banyak pertimbangan, akan tetapi pertimbangannya tersebut didasarkan pada pendapat diri-sendiri (N=82%) atau pendapat orang-orang terdekatnya saja (N=69%) dan cenderung mengabaikan pendapat orang lain atau pendapat seluruh anggota rapat (N=31%). Oleh sebab itu seperti yang telah disebutkan di atas gaya kepemimpinan yang lebih dominan adalah otoriter (N=76%).

Beberapa prediksi kondisi psikologis yang dapat dipotret adalah dalam menghadapi persoalan Prabowo cenderung tidak dapat tenang (M=5.16). Prabowo cenderung tidak dapat bekerja di bawah tekanan saat menghadapi masalah yang kompleks (M=6.08). Kondisi-kondisi psikologis tersebut dapat menyebabkan Prabowo melakukan tindakan yang kurang tepat atau tidak sesuai dengan situasi dan kondisi yang ada (M=6.51). Selain itu Prabowo diprediksi memiliki kepercayaan diri yang berlebihan dan berpotensi grandiose (M=7.52), yaitu penilaian yang berlebihan atas dirinya, memiliki kekuasaan dan pengetahuan yang lebih tinggi juga dari orang lain.


Hatta Rajasa: Sosok Tenang, Cerdas dan Oportunis

Hatta merupakan anak kedua dari dua belas bersaudara, merupakan anak laki-laki pertama di dalam keluarganya sehingga sering diberi tanggung jawab yang lebih oleh orangtuanya. Misalnya dia selalu ditugaskan untuk mengambil beras jatah dari kantor tempat ayahnya bekerja, yang beratnya bisa mencapai puluhan kilogram. Kedekatan Hatta dengan ibunya sangat tinggi. Ketika kecil ibunya selalu menceritakan dongeng-dongeng yang sarat dengan nilai-nilai kehidupan, misalnya tentang keberanian dan kesetiakawanan. Walaupun sangat dekat dengan ibunya akan tetapi Hatta merupakan pribadi mandiri, pekerja keras, dan ulet.

Berdasarkan analisis yang dilakukan Hatta dianggap memiliki kemampuan berpikir yang cenderung tinggi (M=6.52). Hatta cukup mampu mengeluarkan ide yang cemerlang (M=6.07) dan menerapkannya menjadi sebuah kebijakan yang nyata (M=6.20). Keinginan untuk berprestasinya juga cukup tinggi (M=6.59) sehingga apa yang dicita-citakan sedapat mungkin dapat dicapainya.

Hatta memiliki gaya kepemimpinan yang cenderung demokratis (N=58%). Dalam mengambil keputusan cenderung lebih mau mendengar pendapat orang lain (N=54%), akan tetapi lebih kepada orang-orang terdekatnya saja (N=56%). Gaya pengambilan keputusan tersebut juga dapat berpengaruh terhadap pekerjaannya. Misalnya ketika menjadi pemimpin kelak, jika terjadi krisis diplomatik, maka Hatta akan berusaha kompromi supaya tidak memutuskan hubungan kedua belah pihak (N=62%).

Hatta merupakan sosok yang cukup hangat dalam berinteraksi dengan orang lain (M=5.81). Di dalam keluarganya, Hatta selalu berusaha untuk menjalin kedekatan dengan anak-anak dan istrinya. Gaya kepemimpinan demokratis juga tampak di sini, dalam mengambil keputusan misalnya ketika Hatta akan terjun ke dunia politik, mencalonkan diri menjadi presiden, dia mengumpulkan istri dan anak-anaknya untuk dimintai pendapat.

Beberapa prediksi kondisi psikologis dari Hatta yang dapat dipotret adalah dinilai sebagai pribadi yang tenang, cerdas, hati-hati namun demikian dianggap oportunis dan ambisius sehingga diprediksi dalam mengambil kebijakan akan cenderung kompromis. Hal ini diprediksi akan berpengaruh juga ke kebijakan pemberantasan korupsi semisal itu melibatkan partai pendukung (N=63%). Hatta juga dianggap rentan mengalami skandal politik (M=6.42).


Jokowi: Pekerja Keras, Sederhana, dan Jujur

Jokowi, berasal dari keluarga yang tidak berkecukupan. Pengalaman masa kecil tersebut menjadikan ia tumbuh menjadi sosok yang sederhana. Jokowi kurang terlihat memiliki ambisi berkuasa yang tinggi karena pada awalnya ia hanyalah seorang pengusaha mebel di Solo. Namun, setelah mendapat dukungan dari rekan-rekan sesama pengusaha, barulah ia memutuskan untuk maju sebagai Walikota Solo. Hasil survei yang telah dilakukan mendukung penilaian ini. Responden menilai Jokowi memiliki motivasi berkuasa paling kecil dibandingkan kandidat lain (M=6.36).

Jokowi juga dinilai memiliki motivasi berprestasi (M= 8.06) dan afiliasi (M=7.95) yang lebih tinggi dibandingkan kandidat lain. Hal ini berarti, Jokowi memiliki kecendrungan untuk dapat menyelesaikan tugas-tugasnya dengan baik serta selalu ingin membina hubungan baik dengan orang lain. Terkait dengan kepemimpinan, Jokowi dinilai memiliki gaya kepemimpinan demokratis (N=87%).

Hasil survei juga menunjukkan bahwa Jokowi memiliki kompleksitas kognitif yang tinggi. Kompleksitas kognitif diasosiasikan dengan perilaku adaptif yang sophisticated dan lebih baik, khususnya pada situasi-situasi ambigu dan membingungkan. Jokowi memiliki rata-rata kognitif kompleksitas yang lebih tinggi dibandingkan dengan kandidat lain. Ia dinilai mampu mengeluarkan ide-ide cemerlang untuk mengatasi berbagai persoalan Negara (M=7.73), mampu melihat permasalahan secara komprehensif dan menterjemahkannya menjadi kebijakan yang konkrit (M=7.79), dan mampu untuk melihat permasalahan secara komprehensif dan menterjemahkannya menjadi kebijakan yang konkrit di lapangan. Meskipun demikian, ia dinilai memiliki latar belakang pendidikan akademis yang kurang memadai dibandingkan kandidat lain (M= 7.49). Kompleksitas kognitif ini memiliki implikasi terhadap berbagai kebijakan kreatif yang dilakukan oleh Jokowi, seperti lelang jabatan lurah.

Dalam menjalin hubungan dengan orang lain, Jokowi dinilai cenderung menawarkan pola hubungan yang hangat (M= 8.20), memiliki kesopanan atau kerendahan hati yang memadai saat berhubungan dengan orang lain (M= 8.36). Jokowi juga dinilai memiliki sifat suka hal-hal baru dan berbeda (M= 8.02), dan memiliki ketelitian serta kejelian saat menghadapi persoalan-persoalan (M=7.38). Secara emosional, Jokowi dinilai lebih stabil dibandingkan dengan kandidat lain (M= 7.67). Dilain pihak, Jokowi terkesan lemah dan mudah percaya pada orang lain dibandingkan kandidat lain (M= 6.99). Namun, beberapa responden justru menilai karakteristik Jokowi yang menonjol adalah tegas dalam mengambil keputusan.

Dalam mengambil keputusan, Jokowi diprediksi oleh sebagian besar responden akan lebih mau mendengar pendapat orang lain daripada memaksakan pendapatnya sendiri (N=66%) dan lebih mau mendengar pendapat menteri-menteri di kabinet daripada orang-orang dekatnya saat mengambil keputusan terkait kebijakan-kebijakan negara (N= 64%). Beberapa prediksi kondisi psikologis saat menghadapi persoalan yang dapat dipotret adalah Jokowi akan mampu bekerja dibawah tekanan saat menghadapi masalah berat dan kompleks (M= 7.56) serta dapat terhindar dari kelelahan fisik dan mental ketika sudah menjabat (M= 4.64).


Jusuf Kalla Pemimpin Berani, Tegas, dan Cerdas

Jusuf Kalla merupakan anak pengusaha yang berlatar belakang 2 organisasi Islam berbeda di Indonesia. Sang ayah adalah pengikut Nahdatul Ulama, sedangkan sang ibu merupakan warga Muhammadiyah. Hal ini membuat Jusuf Kalla menjadi sosok yang terbiasa menghargai orang lain, termasuk orang yang berbeda pandangan dan keyakinan dengannya. Sejak muda, Jusuf Kalla sudah berkeinginan masuk dunia politik, tapi atas permintaan orang tuanya, ia memutuskan untuk ikut membenahi bisnis keluarganya. Dalam sebuah wawancara saat menjabat sebagai Wakil Presiden, Jusuf Kalla pernah mengatakan bahwa ”Sekiranya ada keputusan wapres (kepwapres), tentu semua kebijakan sudah saya ambil sehingga semuanya bisa berjalan dengan cepat dan lebih baik. Dengan demikian, krisis bisa segera kita selesaikan.” Pernyataan ini mengindikasikan bahwa Jusuf Kalla, dengan latar belakang pengusaha sukses, adalah sosok yang memiliki inisiatif tinggi dan keinginan kuat untuk memberi dampak yang bermakna dan segera kepada lingkungannya.

Analisis hasil survei menunjukkan bahwa Jusuf Kalla memiliki motivasi berprestasi (M= 8.15) dan motivasi afiliasi (M= 7.45) yang relatif lebih tinggi dibanding kandidat lain. Namun, berbeda dengan pasangannya, Jusuf Kalla dinilai memiliki motif berkuasa yang relatif lebih tinggi (M=7.31). Kompleksitas kognitif Jusuf Kalla dinilai relatif lebih tinggi dibanding kandidat lain dan pasangannya sendiri. Hal ini terlihat dari temuan bahwa Jusuf Kalla dinilai memiliki latar belakang pendidikan lebih memadai (M=7.94), lebih mampu mengeluarkan ide-ide cemerlang (M= 7.91), lebih mampu melihat permasalahan secara komprehensif dan dapat menterjemahkannya menjadi kebijakan yang konkrit (M= 7.98).

Jusuf Kalla juga dinilai sebagai sosok yang cukup hangat (M= 7.65), tapi tidak terlalu mudah mempercayai orang lain (M= 6.22). Secara emosional Jusuf Kalla terlihat mudah terusik dan merasa tak nyaman bila menghadapi situasi yang tak efisien dan buang-buang waktu. Namun, ia dinilai oleh responden survei memiliki stabilitas emosi cukup tinggi (M= 7.51). Jokowi dinilai oleh sebagian besar responden sebagai pemimpin yang demokratis (N= 78%).

Dalam mengabil keputusan, sebagian responden menilai saat mengambil keputusan Jusuf Kalla cenderung akan lebih mengikuti pendapat sendiri (N= 56%) jika ia anggap pendapatnya tersebut tepat. Ia cenderung akan tetap bertahan dengan pendapatnya kendati keputusan yang ia ambil tidak populer (N= 62%). Karena itulah, Jusuf Kalla dikenal sering melakukan one man show. Beberapa prediksi kondisi psikologis saat menghadapi persoalan yang dapat dipotret adalah Jusuf Kalla akan bisa bekerja di bawah tekanan saat menghadapi masalah berat dan kompleks (M= 7.87) dan mampu terhindar dari kelelahan psikologis (M= 4.22).

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s