Sang Dokter!


Bukan Dokter Bedah

Bergabung menjadi konsultan manajemen dan IT sebuah rumah sakit yang konon terbesar di Eropa Utara dan nomor 2 terbesar di Jerman membuatku berkesempatan besar untuk memahami dunia kedokteran lengkap dengan berbagai sistem IT canggihnya yang didesain oleh para informatiker-informatiker terbaik.

Aku punya 3 cerita tentang hal ini yaitu:
(1) Pengalamanku terlibat lihat langsung melihat proses bedah dan sistem IT yang terkait yang men-supportnya

(2) Sistem IT security RS yang konon khabarnya dengan barikade yang mungkin hanya bisa ditembus oleh agen spy selevel Tom Cruise dalam cerita Mission Impossible 😀 Luar biasa sistem pengamanan data pasiennya.

(3) Rumitnya kompleksitas Landscape IT-Architechture pada Rumah Sakit.
Sistem IT RS ini ternyata jauh lebih kompleks dari berbagai perusahaan MNC yang aku pernah terlibat jadi konsultan bergabung seperti di T-System (52 ribu karyawan, Saarbrücken), Otto Versand (53 ribu karyawan, Hamburg), BMW (185 ribu karyawan, München), Benteler (28 ribu karyawan, Düsseldorf) dan Clariant (21 ribu karyawan, Frankfurt). Ternyata industri rumah sakit itu sistem IT-nya jauh lebih kompleks dari pada industri telekom, retail, otomotif, manufactuk dan kimia.

Dari ke-3 cerita diatas, saat ini aku ingin sharing cerita tentang pengalaman saya terlibat ikut melihat langsung proses operasi bedah kanker. Dua cerita lainnya ku-sharing kapan-kapan jika sempat.

“Sistem Supply Chain Management yang sempurna di Ruang Bedah”

Ada sebuah gedung khusus yang itu untuk ruang operasi tersentral. Gedung itu punya akses diatasnya adalah landasan Helikopter sementara di pintu utamanya adalah ruangan dimana ambulan bisa masuk keluar dengan cepat.
Saat kita mau masuk ruang operasi maka langsung masuk ruang ganti pakaian khusus untuk masuk kamar bedah. Disana tangan kita dicuci steril bersih serta semua pakaian kita ditanggalkan kecuali pakaian dalam, lalu berganti dengan pakaian ruang bedah.

Keluar ruang ganti dari pintu sisi lainnya maka kita langsung bertemu dengan ruang kontrol pusat administrasi untuk keperluan administrasi pasien yang akan dibedah. Setelah dari ruang pusat kontrol administrasi, si pasien akan di dorong ke ruang tunggu operasi. Dari ruang tunggu operasi akan dimasukkan ke ruang operasi, dan setelah itu akan di taruh di ruang pemulihan serta akhirnya akan di kembalikan ke ruang rawat inap. Nah, siklus ini dibuat benar-benar secara efisien mengikuti workflow sebuah sistem supply chain management di perusahaan manufaktur. Tidak ada pergerakan yang mutar-mutar tempat tidur pasien yang tidak perlu, semua dibuat flow yang membentuk circle amat efisien.

“Dokter Profesi Bersih dan Mulia tapi bersentuhan dengan sesuatu yang tidak bersih sama sekali” 🙂

Yang menarik cerita di ruang operasi. Awalnya saat masuk ruang operasi aku begitu amat antusias. Aku mulai menyimak dan mengkhayal rumitnya kamera-kamera yang melengkapi. Ada layar semacam teleconference dimana dokter lain dari rumah sakit lain bisa menyimaknya. Cuma yang membuatku kaget ternyata aku tidak melihat sama sekali pasiennya. Semua tertutup kecuali cuma ada semacam permukaan kulit yang terlihat yang akan dibedah.

Hanya proses mengamati ini tidak bisa lama. Para dokter dengan cekatan mulai arahkan pisau laser. Saat sayatan pertama, aku masih sanggup melihat, keluar darah disana tapi pada sayatan berikutnya aku sudah mulai menjauh untuk melihat. Tidak lama kemudian aku melihat ada darah muncrat seperti air mancur. Itu belum seberapa, lalu terpancar gumpalan nanah. Pada titik ini aku sudah tidak sanggup lagi melihat. Aku benar-benar mau muntah melihat nanah memancar.

Aku tidak tahu apakah aku tersugesti atau itu nyata. Aku seperti membaui sesuatu yang busuk di sana saat nanah itu muncrat keluar. Aku sudah tidak bisa memperhatikan lagi. Semua khayalanku untuk menikmati pengalaman yang penuh spiritual ini berubah menjadi sebuah realitas horror yang menakutkan. Aku tidak sanggup bertahan. Cukup lah mungkin hanya beberapa belas menit saja aku di ruang operasi, kuputuskan keluar. Biarlah itu tugas para dokter. Tugasku cukup memastikan system SAP di rumah sakit tersebut berjalan dengan baik!

Keluar dari ruang operasi kupikir aku akan mendapatkan pemandangan lebih baik, ternyata harapan itu salah. Saat aku memasuki ruang istirahat para dokter setelah mereka mengoperasi, disana tersedia berbagai makanan. Nah, ada seorang dokter cantik yang baru saja selesai operasi dengan jubah pakaian bedahnya yang berlumur darah masuk ke ruang istirahat. Jubah lumur darahnya dia lucuti dan dia masukan ke semacam tempat pakaian kotor yang tersedia disana. Lalu dia cuci tangan dengan desinfektan. Setelah dia bersih-bersih di wastafel, kemudian santai menuju menu makanan dan buah-2 yang tersedia, lalu dengan santai dia santap lahap itu makanan.

Bathinku dalam hati, ini dokter ini seperti ndak masalah kalau beberapa menit yang lalu dia baru saja bergumul dengan darah, nanah dan mungkin bagian tubuh pasien yang busuk. Main santap lahap aja itu makanan di meja sambil cekakak-cekikik ngobrol dengan dengan dokter lain. Di ruang itu aku kehilangan selera makan sama sekali. Jangan kan untuk makan, menyentuh juice saja aku tidak sanggup.

Untuk menghibur diri kudekati dokter cantik itu. Kuajak ngobrol dokter itu, ternyata si cantik itu ahli bedah Urologi toh. Hmm dokter kebidanan banyak yang laki-laki, ini dokter urologi justru wanita cantik 😀

Dia cerita dia butuh 15 tahun sekolah untuk sampai pada level spesialis bedah Urologi yaitu 8 tahun kuliah kedokteran di Universität Göttingen, 2 tahun kuliah Spesialis Urologi di New York University dan 5 tahun kuliah bedah Urologi di Universität Hamburg. Dia pun bercerita dengan cekakak-cekikik tentang penyakit yang berhubungan dengan senjata pria ini padaku 🙂

Aku cuma mikir kehidupan pribadi dokter memang amat kompleks. Bagaimana mungkin dia bisa begitu rasionalis dingin dari ruang operasi bedah Urologi, penuh darah di jubahnya, cuma bersihin tubuh langsung bisa menikmati santap makan. Lalu di rumah mungkin dengan suaminya bercinta padahal tadi siang dia baru saja mengoperasi senjata lelaki yang terkulai loyo.

Aku butuh cukup lama untuk melupakan realitas horor di ruang operasi untuk kembalikan selera makanku. Kuputuskan aku tidak berminat lagi melihat langsung proses operasi. Satu-satu rasa syukur yang ada padaku, untung aku profesinya konsultan IT dan Manajemen sehingga kemana-mana bisa pakai jas, dasi dan wangi serta ketemu dengan orang-orang yang rapih, necis, cantik-cantik dan wangi. Jadi pekerjaanku jauh lebih bersih dari pada pekerjaan dokter yang memang mulia tapi aduh bergelimpangan dengan kotoran.

Salam hormatku buat anda para dokter…

Dari Tepian Lembah Sungai Elbe

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s