Kebanggaan semu sebagian orang tua (Catatan Kritis tentang Study di Jerman selulus SMU)


(Catatan redaksi: tulisan pada Artikel ini adalah tinjauan sudut kritis yang melihat dari sudut pandang sulitnya sekolah di Jerman selepas SMU.
Jika anda ingin mendapatkan gambaran saran positif buat anda yang ingin sekolahkan putra/i-nya di Jerman maka silahkan klik link ini: https://ferizalramli.wordpress.com/2014/02/23/7-saran-penting-agar-putrai-remaja-anda-selulus-smu-sukses-menjadi-pemenang-global-saat-studi-s1-di-jerman/ )

Sang anak sesaat lulus SMU berangkat ke Jerman. Dengan tepuk dada membusung para orang tua melambung angan sesaat saat anaknya berangkat ke Jerman. Mungkin pesta selamatan sak sekatenan dilakukan bahkan bisa jadi diarak pakai rebana (mengingatkanku saat dulu sunatan menjelang ABG yang dirayakan sekampung). Mungkin para orang tua ini cerita seantero jagat mewartakan pada dunia anaknya yang masih remaja selulus SMU berangkat ke Jerman. Tidak lupa juga sang anak diberikan berbagai target beban atas ambisi kebanggaan sang orang tua.

Tapi SADARKAH orang tua yang mabuk kebanggaan ini atas apa yang terjadi? Coba pahami fakta nyata ini:

1. Anak anda selepas SMU ke Jerman itu BARU pada level kursus B. Jerman. Dia belum berhasil apa-2 kok! Dia baru kursus Bahasa seperti kursus2 bahasa di Indonesia, bedanya anak anda kursusnya di Jerman!

Ingat jika level kemampuan B. Jerman anak anda bahkan sudah sertifikasi B1 maka anak anda butuh waktu kursus lagi bisa sekitar 1 tahun hanya untuk kursus. Silahkan anda hitung biaya yang harus anda keluarkan untuk hidup 1 tahun sekitar 6.000 euro dan kursus bisa habis budget 2.000 euro.

Jika level kemampuan B. Jerman anak DIBAWAH level sertifikasi B1 saat ke Jerman maka saya sarankan suruh pulangkan saja anak anda. Terlalu sulit buat dia untuk atasi tantangan di depannya.

Agak lumayan jika anak anda sudah lulus sertifikasi level B2 saat di Indonesia mungkin dia hanya butuh kursus bahasa sebentar sekaligus penyesuaian diri. Itu pun anda harus hitung 6 bulan dibutuhkan buat anak anda.

2. Setelah kursus Bahasa selesai maka anak anda harus berkompetisi dulu masuk Studienkolleg! Ini kompetisi amat NGERI (tanpa ada ngeri-negri sedap sama sekali!) ketatnya. Dikarenakan tempat Studienkoleg terbatas serta kuota setiap negara dibatasi. Kompetisi masuk Studienkoleg itu sulitnya seperti masuk PTN elit di Indonesia. Faktor gagal diterimanya amat besar.

Saya sering lihat banyak lulusan SMU Indonesia yang di Jerman sampai sudah 2 tahun di Jerman saja masih belum dapat tempat di Studienkolleg! Jadi, untuk bisa dapat tempat di Pra Universitas saja setelah 2 tahun di Jerman tetap banyak yang belum berhasil!

3. Jika anak anda diterima di Studienkoleg, barulah tahap awal anak anda studi di Jerman bisa dikatakan dimulai disini. Hanya harus diingat belajar di Studienkolleg amat ketat. Ini pakai sistem DO ketat. Waktu tempuh belajar di Studienkolleg 1 tahun dengan kesempatan mengulang 1 tahun lagi. Jika sampai ngulang gagal juga maka di DO tanpa ampun!

Di Studienkolleg ini anda harus sudah hitung biaya yang anda keluarkan. Biaya Studienkoleg memang gratis tetapi biaya hidup 1 sampai dengan 2 tahun yang per tahunnya sekitar 6.000 euro harus anda tanggung.

Ingat juga bahwa banyak yang tidak lulus Studienkoleg!

4. Setelah lulus Studienkolleg barulah dia bisa daftar Universitas di Jerman. Untuk mendapatkan tempat di Uni/FH Jerman relatif mudah dikarenakan ada sekitar 375 an Uni/FH di Jerman yang kualitasnya relatif sama bagusnya. Jadi, tinggal kirim lamaran maka saya yakin dari 375 Uni/FH pasti ada yang diterima.

Yang jadi masalah adalah untuk lulusnya yang amat susah. Sistem kuliah di Jerman itu kejam. 3 kali tidak lulus ujian pada mata kuliah yang sama pasti di DO. Untuk bisa lulus ujian setiap mata kuliah di Jerman itu sulit! Mahasiswa baru dinyatakan lulus 1 mata kuliah di ujian, jika dia bisa mengerjakan soal minimal 65%. Jika dibawah itu maka tidak akan lulus. Lalu 3 kali tidak lulus pada mata kuliah yang sama maka akan di DO!!!

4. Belum lagi faktor non teknis seperti culture shock. Budaya antara Jerman dan Indonesia amat berbeda. Amat sangat berbeda budayanya, dan anak anda diusia semuda itu harus bisa menyesuaikan perbedaan budaya ini.

Saya sering sekali akhirnya ketemu contoh ekstrim para anak2 muda yang sekolah S1 di Jerman (1) kalau tidak mereka liberal bebas dalam arti lebih barat dari orang barat, (2) klo ndak menjadi fundamental berpikir ala Taliban. Tidak semua seperti ini tapi banyak yang seperti ini karena getirnya mereka harus menyesuaikan diri atas pergesekan 2 budaya yang amat berbeda sehingga akhirnya ditemukan lah sebuah sikap hidup yang ekstrim.

Akibatnya, saya sering dengar paling hanya 25 persen saja dari para anak2 muda yang lulus SMU berangkat ke Jerman bisa pulang membawa ijasah S1 mereka. Sisanya gagal! Kegagalan bukan karena mereka tidak pintar tapi lebih karena anda sebagai orang tua juga salah dengan memberi mereka tantangan penuh resiko yang jelas2 faktor gagalnya tinggi sekali!

5. Ini sikap pribadi saya: sebaiknya ambil S1 di Indonesia saja. S1 itu cuma transfer knowledge. Banyak Univ di Indonesia yang kualitasnya sama baiknya dengan Uni/FH di Jerman. Jadi, ngapain sekolahkan anak anda S1 di Jerman jika resiko gagalnya besar sementara hasilnya dengan kuliah di Indonesia sama saja bagusnya.

Kuliah di Jerman amat saya sarankan untuk jenjang S2 serta dilanjutkan S3. Di jenjang ini kuliah disertasi riset. Untuk tradisi riset inilah universitas di Indonesia tertinggal jauh dari Jerman. Jadi, untuk level S2 apalagi S3 kita kalah kualitas dari Jerman.

Kuliahkan anak anda mulai S2 di Jerman. Selain kualitasnya relatif jauh lebih bagus, peluang lulusnya amat besar karena anak anda relatif sudah dewasa, untuk S2 tidak perlu bersaing meraih tempat di Studienkoleg dulu, serta banyak program dalam B. Inggris yang kita sudah belajar bahasa Inggris sebelumnya. Tingkat kesuksesaan bagi yang kuliah S2 di Jerman ini mencapai angka 75%. Sebuah peluang yang realistis untuk anda dan anak anda ambil.

Akhir kata buat anak anda yang lulus SMU berangkat ke Jerman saya cuma ingin ingatkan pada anda berhenti lah dengan kebanggaan semu berlebihan bahwa anak anda saat ini di Jerman. Lebih baik fokuskan untuk membantu anak anda untuk berhasil raih ijasah S1-nya. Jika pun sampai gagal, anda jangan kecewa karena salah anda sendiri menyuruh anak anda dengan usia begitu muda untuk menempuh pendidikan yang penuh resiko kegagalan. Jadi, anda harus siap plan B kalau dia gagal.

Hanya biar bagaimana pun saya berdoa atas kesuksesan anak anda. Saya berharap anak anda sukses dan memetik buah termanis perjuangannya…

Dari Tepian Lembah Sungai Elbe

FH-Furtwangen-Campus
Gambar Kampus FH Furtwangen yang punya reputasi terhormat bidang IT di saat Musim Winter yang indah dengan salju setinggi 1 meter lebih dan suhu bisa mencapai minus 20 lebih sebuah sisi lain yang indah dalam beratnya tekanan study

Iklan

20 thoughts on “Kebanggaan semu sebagian orang tua (Catatan Kritis tentang Study di Jerman selulus SMU)

  1. Salam kenal,
    Terima kasih atas informasinya Pak. Memberikan perspektif lain daripada sekedar gengsi untuk menyekolahkan anak di Jerman. Yang jadi masalah Pak, kuliah di univ negeri di Indonesia sekarang mahalnya sudah sama dengan di luar negeri. Biaya hidup pun sangat tinggi karena tingkat inflasi di Indonesia. Banyak juga yang memilih menguliahkan anak ke luar negeri karena alasan ini Pak. *Tapi saya sih tidak, anak saya baru umur 1 tahun ๐Ÿ™‚

  2. hallo Pak Ferizal Ramli,

    terima kasih atas artikel kritisnya, ini benar-benar menjawab apa yang baru saya diskusikan dengan teman2 di Aachen beberapa hari yang lalu. Waktu itu kami diskusi panjang lebar tentang tingginya tingkat kegagalan calon mahasiswa bachelor. Saat itu juga terdapat satu alumni diplom FH Aachen yang memberitahukan dari semua angkatannya (WNI), yang lulus sampai diplom itu malah kurang dari 20%. Mungkin karena sistem lama jadi masa studi juga lebih panjang. Dari penuturan salah seorang teman yang pernah menjadi tutor buat pelajaran mathe di Berlin menyebutkan bahwa, mereka yang ditemui itu banyak dari mereka lulus dengan membeli soal UN karena difasilitasi oleh sekolah karena takut tidak lulus, kebanyakan mereka datang dari daerah luar Jakarta. Saya pikir itu gila, mentalitas jalan pintas mau survive di Jerman. BUkan selesai begitu saja, rendahnya inisiatif dan kemandirian juga masalah terbesar kedua. Walaupun mereka dikirim oleh agen, tapi mereka tidak tahu harus bagimana dan kemana mengurus ini itu. Untuk daftar diri Bรผrgerservice masing-masing kota saja mereka tidak tahu dan takut untuk mengurus sendiri. Rendahnya niat dan tekat yang kuat untuk studi ke luar negeri juga sumber masalah berikutnya. Merka yang niat pasti akan berusaha sebaik mungkin dan benar-benar memanfaatkan waktu mereka di Jerman untuk belajar. Saya pernah temui sekelompok mahasiswa Studienkolleg atau masih Sprachkurs yang terlena dengan internet kencang di Jerman, akhirnya mereka mengahbiskan waktu dengan game. Ada juga yang keasikan berkerja sampai lupa tanggung jawab utama untuk belajar bukan untuk berkerja.

    Tantangan terbesar adalah dalam diri sendiri, asal memiliki motivasi tebal dan pandai memilih teman serta lingkungan sosial, saya yakin mereka pasti bisa melewatinya.

  3. info yang sangat berguna skali pak..

    jerman memang sampai sekarang merupakan jujukan engginering dunia, kalo misal mau jurusan lain, mungkin bisa pilih negara lain yang tinggkat keberhasilannya lebih tinggi

  4. Betul cuma harus ditambahi sedikit bagi 25 persen yang lulus itu sebagian besar pasti molor– jadi kalo ada yang kuliah sambil kerja tapi bisa ngga molor karena alasan apapun dianggap ajaib

  5. Perspektif yg bagus. Tp for the record, tidak semua org tua mengirim anak2nya hanya utk kebanggaan. Sebagian org tua memang tahu bahwa tempat tersebut lah yg terbaik bagi anaknya sesuai kemampuan anak2nya. Sebatian anak2 yg sekolah kesana pun berangkat krn memang niat untuk belajar sampai kesana. Saya memang bukan orang tua. Tp saya tahu betapa beratnya bagi orang tua utk melepas anaknya sendirian ke jerman. Bukan krn masalah biaya seperti yg penulis ini katakan, tp lebih krn permasalahan budaya dan adaptasi bagi anak2 yg baru berumur 18-19 tahun untuk menghabiskan masa mudanya di negara yg sangat liberal. Ketakutan bahwa anaknya dapat menjadi lebih barat dari orang barat sendiri. Tp apakah penulis ini tahu, tidak ada jaminan juga anak anda tidak akan menjadi “kebaratan” melihat pergaulan yg semakin menekan di jakarta. Justru dengan jauh dr rumah lah seorang anak muda bisa sadar betapa berharganya rumah, keluarga, dan budaya. Betapa terasanya sebuah kerja keras yang sangat sulit dirasakan bila anak2 tersebut masih di dekat anaknya. For the record lagi, semua masalah benteng pergaulan ada di setiap pribadi anak2 tsb sendiri. Di beberapa kota di jerman sendiri pun ada Perhimpunan Pelajar Indonesia dan perhimpunan warga Indonesia yg biasanya menyelenggarakan pengajian. Kelompok2 seperti ini bisa membantu anak2 tsb utk tetap “ingat rumah” ditengah tekanan untuk survive yg begitu berat. Jadi, bila memang memiliki kemampuan akademis yg tinggi dan finansial yg cukup, kenapa tidak mencari kualitas yg lebih tinggi? Ingat, pelajaran tidak hanya didapat dari materi kelas tp jg dr lingkungan.

  6. Terima kasih ulasannya Bang, pas banget nih bahasannya. Sebenarnya banyak yang tergoda karena banyak banget promosi agency yang dateng ke sekolah-sekolah dan mempromosikan murahnya kuliah di Jerman dan blablabla. Bahkan di sekolahku aja udah ada yang ngebet mau ke Jerman gara-gara iklan mereka padahal dia belum tau bisa survive apa nggak. Btw, thanks a lot Bang! ๐Ÿ™‚

  7. Ya itulah orang tua jaman sekarang.
    Anak adalah produk n aset berharga.
    Bukan titipan Tuhan yang berhak menentukan arah n tujuan hidupnya.

    Bahkan jika para ortu juga tak sungkan men-cap anak mereka dg label durhaka, bila tak menuruti mau mereka.

    Maka, saat anda nanti jadi orang tua beranikah anda mempertaruhkan Hidup n kerja keras anda demi melihat nasib anak yg tak jelas nantinya. ? (karena anak tak mau menuruti keinginan anda sebagai ortu)

    Anak hanya titipan yg mana orang tua hanya berhak menuntun, membantu dan mendukung mereka dalam menjalani pilihan Hidup mereka.

    Salam.

  8. Aduh pak… sy makin khawatir sm anak sy….
    Sebenarnya dr awal sy tdk setuju anak sy kuliah di jerman sampai nangis2 sy omelin… tp anaknya keukeuh sekali…. ya akhirnya sy lepas krn ga tega…. sy hanya bisa berdoa semoga bisa beradaptasi…. bisa selesai pd wktnya….

    • Doa Yang sama dari saya. Ndak usah khawatir berlebihan yang penting sekarang berilah dukungan selalu dan jadilah sahabat terbaik bagi sang anak.

      Salam hangat ๐Ÿ™‚

    • Kann sudah dibilang di Jerman itu ndak terlalu penting univ-nya. Yang penting diterima sesuai keinginan/minat dan bisa lulus ๐Ÿ™‚

  9. Tambahan pak, godaaan akan kerja sampingan selama studi. Banyak teman yg saya lihat (termasuk saya) tergoda maupun terpaksa untuk mengambil kerja sampingan yg terlalu banyak selama mereka studi yg berpengaruh besar sehingga mengganggu performa belajar mereka.

    Masing2 memang punya alasan untuk mengambil banyaknya jam kerja sampingan, bahkan beberapa itu menjadi keterpaksaan (untuk biaya hidup contohnya). Tapi kalau saya lihat, sudah terlalu banyak contoh teman2 yg terganggu kuliahnya karena faktor ini.

  10. Ping-balik: 7 saran PENTING agar Putra/i Remaja anda selulus SMU sukses menjadi Pemenang Global saat studi S1 di Jerman | Ferizal Ramli's Blog

  11. Mohon diingat bahwa pak Ferizal menyampaikan point-point diatas berdasar pengalaman beliau. Saya pribadi sangat setuju dengan point 5. Menurut saya kuliah S1 di Jerman, selain kemungkinan drop out besar, lulusnya juga lama sekali, bisa 6 tahunan hingga 12 tahun !! dihitung dari Studienkolleg.

    Di zaman modern dimana waktu adalah segala-galanya, dan persaingan dimulai dari usia sedini mungkin, apakah mau anak kita kalah start dengan rekan-rekannya yang sudah terjun ke dunia kerja ketika mereka masih berusia 21-22 tahun?? Lulusan Inggris/Singapore/Australia bisa mendapatkan Master dalam 4 tahun !! dan Doktor dalam 3 tahun, jadi total 7 tahun sudah doktor! Lulusan jerman 7 tahun baru dapat Diplom. itupun kalau lulus.

    Yang kedua. Penguasaan bahasa INGGRIS, bahasa dunia dari lulusan diplom Jerman pasti lebih buruk dari lulusan S1 dari PTN atau PTS terbaik di Indonesia, apalagi yang programnya internasional.

    Kalau saya pribadi, untuk S1, anak akan saya sekolahkan di PTN terbaik (UI, ITB, UGM) atau swasta berorientasi Internasional (SGU, Binus, UPH) kemudian baru tingkat Master dan Doktoral, mereka kuliah ke Jerman.

    Atau ke Jerman ambil Fachhochschule saja. Jangan TH/atau Uni.

  12. Nice info pak…
    Saya salah satu orang yg mempunyai keinginan study s2 di jerman. Sekarang masih tahap penyelesaian s1.
    Mau tanya…. Kalau untuk s2 tidak usah mengikuti studienkolleg, berarti tinggal daftar di univ yg kita minati saja? Lalu tunggu jawaban lulus? Atau ada serangkaian ujian lagi yg harus dilewati?.
    Mohon jawabannya pak.

  13. Serem ;-( tpe aku justru menjadi semangat utk s2 kesana

    XXXXXXX

    Selamat berjuang kalau gitu. Saatnya wujudkan mimpi jadi kenyataan ๐Ÿ™‚

    Salam hangat

    Ferizal Ramli

  14. Permisi, Pak. Mau tanya.. Kalau perpanjang visa di daerah Hamburg deposit yang ada di tabungan minimal berapa euro ya? Terima kasih.

  15. Ini hanya menjatuhkan mental anak bangsa yang mempunyai passionate yg tinggi. kalau belum perang aja sudah kalah , gimana mau study ?
    Ingat pepatah, “orang yang tidak maju adalah yg Membatasi diri mereka” .

    XXXXX

    Kalau mentalnya sudah jatuh ndak usah perang dari pada gagal, buang uang, buang energi, buang waktu dan buang harapan. Ambil tantangan yang relevan dengan kemampuan anda. Terlalu banyak orang yang gagal sekolah di Jerman ini dan anda ndak perlu menambah daftar kegagalannya hanya karena sesungguhnya anda tidak siap menghadapi tantang berat. Sukses itu ditentukan juga dari caranya anda bisa mengukur diri.

    Semoga anda semua sukses ๐Ÿ™‚

    Salam Hangat

    FR

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s