Kopdar Mantan Pegiat SM, BEM, JS dan Gelanggang Bulaksumur


935809_473503999399756_1077794790_n(Catatan Syarat Merantau Selama di Jakarta 25-28)

Kopdar Mantan Pegiat SM, BEM, JS dan Gelanggang Bulaksumur: Semangat idialisme itulah yang tetap menyatukan kita selama puluhan tahun…

Di awal tahun 1990-an kita pernah bersama. Dari demo satu ke demo lainnya menentang SDSB kala setiap habis sholat Jumat. Pernah bersama di suatu ketika, Boulevard dikelilingi pasukan Artileri Medan dan Korem Pamungkas, lengkap dengan gerak pasukan tempur dengan antena tinggi dipandu deru helikopter berputar riuh rendah diatas kampus: psywar dicanangkan oleh pasukan tempur pada para sahabat! Kukuh dan tabah bertahan atas idialisme terus menentang SDSB sampai akhirnya SDSB pun dihapus.

Pernah bersama di depan tulisan Batu Hijau Bunderan “Selamat Datang di Kampus Universitas Ndeso” terjungkal saat pasukan Brimob menerjang para sahabat yang menentang pembredelan majalah Tempo, Tabloid Detik (dan sayang sekali satu lagi saya lupa namanya). Itu terjadi di tahun mendekati pertengahan 1990-an. Para sahabat tergeletak bersama di Bunderan atau di depan gelanggang dengan punggung kena rotan, kepala kena pentungan atau minimal betis kering ini dihantam sepatu serdadu brimob berpangkat balok sepak pantat.

Pernah kita bersama-sama meminta pembatasan masa jabatan Presiden disaat mbah Harto begitu kemaruknya ingin tetap berkuasa. Kita pun pernah bersama-sama melawan tata niaga cengkeh, jeruk dan lain-lain dengan cara-cara akademis. Tidak cuma berdemo tetapi mahasiswa pun bisa melawan dengan cara-cara intelek melalui kajian penelitian bahwa tata niaga cengkeh, jeruk, tembakau yang menguntungkan anak-anak mbah Harto harus ditolak.

Pernah kita sama-sama dimasa rejim mbah Harto berkuasa, disaat para Guru Besar di kampus begitu berhasrat berlomba-lomba ingin masuk Golkar, disaat yang sama dari sudut kecil ruang Senat Mahasiswa Gelanggang justru mahasiswa menolak politisasi kampus.

Belasan tahun berlalu. Usia menginjak kepala 4, bukan lagi kepala 2 seperti kala kita dulu sibuk berdemo menentang ORBA. Ada yang indah yang kutemui dalam pertemuan itu. Meskipun belasan tahun kita tidak bertemu ternyata idialiasme disaat dulu masih saja lekat di dada. Korupsi, Maling, Mencuri adalah sebuah hal yang benar-benar diyakini di hati kita itu adalah HARAM tanpa syarat! Adalah sebuah kebanggaan ternyata bisa berkumpul dengan sahabat-sahabat lama yang tetap tabah dengan idialismenya setelah belasan atau puluhan tahun terpisah.

Ternyata masih begitu banyak para sahabat yang tetap idialis dalam nafas hidupnya, dan optimis menghadapi hari esoknya. Jika saja saya selalu bertemu dengan sahabat seperti ini dalam hidup saya maka tidak ada alasan untuk pesimis dan putus asa. Masih banyak orang baik yang dimiliki oleh bangsa ini. Para sahabat yang saya temui, anda, anda dan anda semua adalah orang-orang baik yang jika bersinerji bersama seharusnya bisa memberikan optimisme bagi hari esok kita…

Terima kasih pada waktu atas saat-saat aku bersama-sama dengan kalian semua para sahabat, yang kebersamaan itu mengajarkan aku apa artinya tabah dan kukuh dalam idialisme!

Dari Tepian Lembah Sungai Ciliwung,
Jakarta, Restaurant Bumbu Desa Cikini, 28 Juni 2013

Ferizal Ramli

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s