Karnila Willard, MBA., MA. sebuah catatan “Act of Valor”


Act of Valor

konference Pers 8Ini bukan bicara tentang cerita film Act of Valor tentang petualangan pasukan elit Navy Seals. Ini cerita tentang keberanian seorang wanita yang amat kucintai, kukagumi dan aku sering terinspirasi karenanya.

Di akhir tahun 2008, setelah dia menyelesaikan M.B.A-nya di International Business di Jerman dan M.A. in Global Marketing di Spanyol bekerjalah dia di salah satu Hotel paling prestius di Eropa Atlantic Kempiski Hotel Hamburg di tepi danau indah Alster di dalam pusat kota Hamburg.

Tiba-tiba suatu hari dia temui aku ke Berlin untuk mendiskusikan rencananya yang begitu radikal: “go home”, pulang kampung! Dia tinggalkan kota Hamburg dan pekerjaan prestiusnya dan diputuskan untuk menerima tawaran kerja Program Pengiriman Tenaga Ahli Jerman ke Pemda di salah satu kota di Kalimantan.
Kami tidak tahu Kalimantan. Sang wanita cantik itu pun tidak tahu apa itu Kalimantan. Kami cuma kenal Jawa meskipun berdarah Minang aseli. Benar selama 1,5 dekade dari umur si cantik itu dihabiskan di LN dan hampir seluruh kota di Eropa, sebagian Amerika, Asia bahkan Afrika pernah ditinggali, tapi Kalimantan? Sayang sekali dengan penuh penyesalan kami tidak tahu tentang itu. Semua gelap buat kami!

Hanya si cantik sudah amat kangen tanah airnya, negeri indah rayuan Pulau Kelapa yang berjejer rapih di Katulistiwa. Dia pun bertekad untuk keras kepala putuskan balik ke tanah air ke Kalimantan, membantu pengembangan parawisata disana dan jadi konsultan parawisata untuk Pemda. Kontrak kerja 2 tahun dari program pemerintah Jerman.

Saya ikuti betul perjalanan hidup si cantik membantu kembangkan program2 parawisata disana dengan posisi yang jauh dari prestisius dibandingkan di Hamburg dulu. Kata si cantik, bekerja dengan orang-orang Pemda betul-betul butuh hati seluas samudera. Penuh tetes air mata. Padahal Pemda cuma kasih uang saku 1-2 juta sementara gaji sebesar 650 Euro (berdasarkan kurs saat itu kira-2 8-8,5 jutaan) justru dari Pemerintah Jerman. Tapi dengan Pemda lah si cantik itu mengerti apa arti bekerja dengan “passion” menghadapi attitude arogansi para pamong praja. Si cantik pun putuskan bertahan membantu Pemda untuk menyelesaikan komitmen kontrak kerjanya dengan pemerintah Jerman selama 2 tahun, begitu tekad si cantik. Si cantik tampaknya tidak mau cacat komitmen, khas didikan disiplin tradisi akademik Jerman🙂

Hanya yang membuatku tercengang adalah tidak lama setelah kontrak kerjanya habis di Pemda 2 tahun, seketika semuanya melesat. Dia justru melenting menjadi Direktur Eksekutif di Lembaga Turis, sekaligus menjadi manajer Pusdiklat dan sekarang mendapat promosi menjadi Wakil Rektor sebuah Perguruan Tinggi prestisius disana.

Kemarin saat si cantik chat denganku, dengan senyum kecil percaya dirinya bercampur guyon menasehatiku: “Jika kelak pulang ke tanah air, Uda (Uda adalah panggilannya padaku) harus diingat betul bahwa 2 tahun pertama yang perlu uda banyak gunakan hati uda, baru setelah itu ilmu uda bisa diaplikasikan!”

Dari Tepian Lembah Sungai Main

Ferizal Ramli

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s