Ursula von der Leyen sang Wanita Terhormat!


http://de.wikipedia.org/w/index.php?title=Datei%3AVon_der_Leyen_2010.jpg&filetimestamp=20110101232604

Saya mengormati Angela Merkel, Kanselirin Jerman, wanita yang berwajah dingin tetapi gigih melindungi rakyatnya. Jujur, penuh dedikasi dan jauh dari mentalitas pencitraan atas setiap kebijakan yang diambil. Dari jejak rekamnya dapat dibaca, tujuannya cuma satu: melindungi kepentingan rakyatnya.

Tapi mari kita lupakan Angela Merkel sejenak. Saat ini saya sedang ingin memuja si cantik Ursula von der Leyen, Menteri Tenaga Kerja Jerman. Wanita cantik, cerdas, dan penuh empatik serta gigih membela nilai-nilai relijius kristiani! Di tangan Ursula inilah (tentu saja berkat keberhasilan kemajuan ekonomi Jerman dibawah Merkel dan Menkeu-nya Schäuble) pengangguran di Jerman mencatat prestasi terendah dalam sejarah sejak Perang Dunia. Sebuah kondisi kemakmuran yang tiada terkira yang belum pernah dinikmati oleh Jerman sepanjang sejarah.

Tapi jatuh cinta saya setengah mati pada si Ursula bukan semata karena kinerjanya, tetapi pada tatanan nilai relijius (kristiani) yang dia pegang teguh. Saat dia menjadi Menteri Urusan Keluarga, Jompo, Wanita dan Pemuda, dia perjuangkan betul pentingnya nilai-nilai luhur keluarga yang harus dipertahankan. Tahu bahwa sekularisme dan kapitalisme menghancurkan sendi-sendi keluarga: semua bersikap hidup liberal semau guwe termasuk urusan sex, semua juga diukur dengan uang, Ursula gigih memperjuangkan agar masyarakat Jerman harus kembali pada nilai-nilai luhur Kristiani untuk membangun keluarga.

Si cantik Ursula tahu, jika arus deras distorsi atas nilai-nilai keluarga secara agama terus dibiarkan maka orang akan malas membangun keluarga. Institusi keluarga bukan lagi jadi institusi sakral yang harus diperjuangkan. Akibatnya semakin banyak orang tidak mau menikah. Semakin banyak pula orang yang tidak mau punya anak. Ini akan berisiko terjadi yang generasi penurus yang hilang. Ini berarti berakhirnya eksistensi sebuah peradaban, eksistensi sebuah kebudayaan dan lebih dari itu eksistensi kehidupan itu sendiri. Apa arti kemajuan ekonomi jika secara sosial yang terjadi adalah pemusnahan eksistensi hidup untuk masa yang akan datang?

Mulai lah si cantik Ursula membuat kebijakan-kebijakan yang intinya melindungi institusi keluarga. Selain dia mengkampanyekan nilai-nilai Kristiani, bukan sekularisme yang liberal, untuk membangun keluarga, Ursula juga mulai mengeluarkan kebijakan yang rasional agar orang punya anak. Dia buat berbagai kemudahan-2. Negara membangun „sekolah“ yang berupa taman bermain untuk anak-anak usia amat belia sekitar mulai 1 tahun sampai dengan 3 tahun. Setelah 3-6 tahun masuk Kindergarten yang disediakan negara. Ibu-ibu yang melahirkan punya hak asuh (terserah Ibunya atau Bapaknya yang mengasuh) selama 2 tahun untuk ambil cuti dalam tanggungan negara. Selama cuti 2 tahun berjalan perusahaan tempat bekerja TIDAK boleh memecat orang tua yang sedang menjalankan Hak Asu tersebut. Ibu yang punya anak pun akan menerima Muttergeld yaitu uang untuk sang Ibu dari negara.

Itu adalah kebijakan-kebijakan nyata negara menginternvesi urusan keluarga yang tujuannya mendorong agar institusi keluarga kokoh membangun generasi penerus. Tentu saja Kebijakan si cantik Ursula tsb yang benar-benar ingin melindungi kepentingan institusi keluarga mendapat kecaman banyak pihak. Untuk apa negara ikut campur dalam urusan keluarga? Sebuah beban biaya yang tidak terkira besarnya. Tapi si cantik itu kukuh dengan keyakinannya. Dia terus jalankan kebijakan itu bahkan sampai hari ini setelah dia berpindah jabatan menjadi Menteri Tenaga Kerja, kebijakannnya tentang keluarga tetap berjalan.

Hanya yang menurut saya yang amat monumental adalah keberaniannya konsisten satu sikap antara apa yang dikampanyekan, kebijakan yang dia ambil serta sikap hidupnya sehari-hari. Saat dia bicara membangun institusi keluarga adalah penting agar melahirkan generasi penerus, saat yang sama dia konsisten melakukannya. Dia pun memiliki anak 7 orang! Anda bisa bayangkan seorang wanita karir tinggi di level top di Barat dengan gelar S-3 Dr.-med. serta MPH (master of Publich Health) , calon kuat pengganti Kanselir Merkel, bisa membangun rumah tangga kokoh dan memiliki anak 7 orang!

Bandingkan dengan wanita-wanita karir yang banyak kita temui di sekitar kita, yang hanya takut kehilangan karirnya dia putuskan tidak menikah atau tidak mau punya anak. Tentu saja saya tidak bilang anda perlu punya anak sampai 7 orang, karena kondisi di Indonesia kita justru booming angka kelahiran. Tapi cobalah dimaknai bahwa seorang wanita karir hebat, begitu yakin akan nilai relijiusnya bahwa membangun institusi keluarga dan melahirkan anak-anak dari perkawinan itu dan mendidiknya adalah keharusan, dan si Cantik Ursula pun meneladani dalam kehidupannya. Saat dia tahu bahwa Jerman kekurangan generasi penerus maka dia memberi contoh bahwa dia siap mengurus anaknya sebanyak 7 orang!

Semakin lama, tampaknya saya samakin sadar. Nilai-nilai sekularisme itu menusuk titik paling penting dalam eksistensi kita dan peradaban hidup kita dengan pasti yaitu: hancurnya institusi keluarga. Institusi paling fundamental bagi kelangsungan eksistensi hidup kita.

Perilaku liberal termasuk dalam perilaku sex bebas yang diboleh dalam sekularisme ini membuat institusi keluarga menjadi tidak terhormat lagi. Saat sex bebas boleh, pelacuran boleh, aborsi boleh, lesbi dan homosex boleh bahkan mungkin ke depan antas nama kebebasan HAM incest pun oleh kalangan liberal sekularis minta dilegalkan maka perilaku ini benar-benar mendistorsi nilai-nilai luhur berkeluarga. Ini penghancuran institusi keluarga secara tragis. Intitusi keluarga menjadi tidak terhormat lagi, menjadi rapuh. Penguruh buruknya, tidak ada lagi yang tertarik membangun institusi keluarga. Pada akhirnya, tidak ada lagi generasi penerus yang lahir. Itulah awal dari kehancuran sebuah eksistensi kemanusian dan peradaban…

Tidak bisakah kita belajar dari sana? Atau malah jangan-jangan anda sudah siap-siap melakukan kloning untuk generasi penurus anda? 🙂

Dari Tepian Lembah Sungai Main, Bad Soden – Frankfurt

Ferizal Ramli

Iklan

One thought on “Ursula von der Leyen sang Wanita Terhormat!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s