7 Alasan kenapa kuliah di Jerman Fardhu Ain Hukumnya!


Kuliah yang paling bagus itu ke Jerman! Bukan karena saya lulusan Jerman tapi ijinkan saya utarakan kelebihan kuliah di Jerman…

Kelebihan Kuliah di Jerman 1: kualitasnya amat sangat baik merata di seluruh bidang study maupun seluruh universitas yang ada di Jerman. Ada 375-an Perguruan Tinggi di Jerman dan semuanya berkualifikasi BERMUTU secara MERATA. Semuanya berkualitas baik.

Pertanyaan paling TIDAK relevan bagi calon mahasiswa baru yang akan kuliah ke Jerman: “Universitas apa di Jerman yang paling bagus?”

Pertanyaan itu TIDAK relevan karena semua universitas di Jerman itu kualitasnya bagus atau malah bagus sekali. Jadi, yang terpenting anda diterima dan bisa lulus!

Kelebihan Kuliah di Jerman 2: Bidang teknologi, Sains canggih. Bidang Ekonomi memimpin dunia. Bidang Filsafat, Seni, Sosial terdepan.

Nyaris tidak negara yang mampu mengimbang Jerman dalam Inovasi sains dan Teknologi.

Tercatat 5 “Nabi Ilmu Sosial” adalah didikan tradisi pemikiran Jerman: Ada Martin Luther “nabi”-nya Kristen Protestan, ada Johann Wolfgang Goethe “nabi”-nya Islam, Karl Mark “nabi”-nya Atheis, Frederick Nietzsche “nabi”-nya Agnostik serta Rudolf Steiner “nabi”-nya Ilmu Klenik. Negara mana yang punya intelektual sosial sehebat Jerman?

Dalam dunia seni pun para composer Jerman adalah yang terbaik di dunia: Wolfgang Amadeus Mozart (Catatan: Kerajaan Austria-Ungarn tempat Mozart lahir itu dulu adalah bagian dari Kekaisaran Jerman!), Ludwig van Beethoven atau pun Johann Sebastian Bach. Mana ada Negara di dunia ini yang bisa melahirkan begitu banyak komposer yang amat melegenda yang tidak pernah lekang oleh waktu?

Di bidang Ekonomi pun, daya tahan ekonomi Jerman teruji oleh waktu. Bersama Jepang yang hancur total kalah dalam perang dunia II, bangkit sebagai kekuatan ekonomi dunia. Bedanya, Ekonomi Jerman tidak pernah mengenal krisis. Jepang dalam 2 dekade lebih ekonominya stagnan dalam krisis. Amerika dan Inggris serta Eropa lainnya sejak 2 tahun ini terjebak dalam krisis yang dalam. Jerman tampaknya masih tetap kuat untuk waktu-waktu mendatang.

Kelebihan Kuliah di Jerman 3: Biaya kuliah untuk kualitas yang begitu bagus nyaris GRATIS! Meskipun ada yang bayar terutama Program MBA Internasional, tetapi program lainnya biayanya GRATIS.

Tentu saja ada 2 negara bagian yang terapkan pembayaran relatif kecil yaitu 500 Euro per Semester yaitu negara bagian Bayern dan Baden Wurttemberg. Hanya kuliah di negara-negara bagian lainnya adalah GRATIS. Bahkan untuk Program S-3 malah anda digaji!

Kelebihan Kuliah di Jerman 4: Buat lulusannya, tersedia Program ZAV yaitu kerja sama Pemerintah Jerman dengan Pemerintah Indonesia. Dicariin kerja plus dpt subsidi 600 Eur /bln slm 2 tahun selain honor yang anda terima dari pemerintah Indonesia. Anda pun dibiayai kembali tanah air dan pekerjaan sudah siap menunggu anda.

Syarat untuk ikuti Program ZAV ini adalah anda harus lulus kuliah. Lalu tinggal daftar tawaran kerja yang tersedia di website-nya. Setelah anda diterima dan prosedur administrasi dipenuhi maka sudah ada instansi di Indonesia yang siap terima anda tanpa harus di tanah air anda bawa-bawa map lamaran kerja dan cari kerja dulu. Kan ah gengsi lulusan Jerman kok jadi pengangguran dulu? Lulusan universitas negara lain nganggur yah bisa. Tetapi lulusan Jerman nganggur? Apa kata dunia?!!!

Kelebihan Kuliah di Jerman 5: Prestise Reputasi lulusannya. Tidak ada tuh anak orang kaya, asal punya uang kuliah di Jerman bisa lulus! Kalau di negara lain yang universitasnya harus bayar mahal yah biasalah anak orang kaya gampang lulus. Kalau di Universitas Jerman hanya orang yang memenuhi standard kualitas akademik tradisi Jerman lah yang bisa lulus.

Jika anda lulusan dari Amerika atau Australia maka anda harus menyebut dulu nama Universitas dimana anda lulus. Jika anda cuma nyebut lulusan Amerika atau Lulusan Australia maka orang akan pikir anda pasti lulusan dari universitas level Cheng-Cheng Po.

Tetapi jika anda lulusan Jerman anda cukup menjawab: Made in Germany!

Masyarakat dunia juga tahu itu jaminan dari tradisi pendidikan berkualitas dan butuh dedikasi serta integritas tinggi untuk bisa lulus dari tradisi pendidikan tersebut!

Kelebihan Kuliah di Jerman 6: Berkesempatan bisa kerja di Jerman setelah lulus

Berbeda dengan Inggris yang sangat pelit memberi ijin visa kerja buat lulusannya. Apabila anda lulusan Jerman dan punya kualitas baik maka anda punya kesempatan besar berkarir di Jerman: menjadi Pemain Dunia dalam Pertarungan Global! Memahami dan bernafas di perusahaan-perusahaan Multi National Jerman dan mengerti apa arti sebuah dedikasi kerja Profesional dan berkualitas!

Kelebihan Kuliah di Jerman 7: Dengan kesejahteraan yang dimilikinya, Jerman menyediakan beasiswa 5.000 (lima ribu) orang Indonesia (perhatikan khusus untuk Indnesia) untuk studi Program S3 kuliah di Jerman. Program ini berlangsung selama 10 tahun.

Bisa dibayangkan betapa besarnya jaringan Jerman dalam 5 tahun mendatang dan seterusnya di Indonesia. Jika Program 5.000 doktor itu bisa mulus maka dalam beberapa tahun ke depan begitu banyak para intelektual Indonesia alumni Jerman yang mewarnai dan berkarya di tanah air. Ini adalah sebuah jejaringan intelektual yang luar biasa jika anda bersinerji di dalamnya….

Jadi buat anda yang punya adrenalin tinggi, intelektual memadai serta spirit untuk maju besar maka sekolah di Jerman adalah Fardhu Ain buat anda. Anda termasuk dalam golongan orang-orang yang merugi kelak jika abai menunaikan kewajiban ini.

Dari Tepian Lembah Sungai Ruhr – Duisburg,

Ferizal Ramli


Link ini amat berguna bagi siapapun yang ingin sekolah di Jerman. Sekolah di Jerman itu gratis, belajar B. Jerman pun bisa dilakukan secara online dengan gratis. Jadi, ini peluang emas buat siapapun yang ingin study di Jerman.

http://www.dw.de/belajar-b-jerman/kursus-b-jerman/s-2716

Berikut dibawah ini ada 5 artikel terkait tentang study di Jerman untuk menambah informasi anda tentang sekolah di Jerman:

1. Study di Jerman, siapa takut…?!!!

https://ferizalramli.wordpress.com/2009/01/02/study-di-jerman-siapa-takut/

2. Studi di Jerman!…Di Jerman!!!

https://ferizalramli.wordpress.com/2011/01/07/1015/

3. Ranking Universitas Eropa

https://ferizalramli.wordpress.com/2010/12/19/ranking-universitas-eropa/

4. 7 Alasan Kuliah di Jerman Fardhu Ain Hukumnya

https://ferizalramli.wordpress.com/2012/01/12/7-alasan-kenapa-kuliah-di-jerman-fardhu-ain-hukumnya/

5. TIPS buat yang ingin kuliah di Jerman: from Zero to Hero

https://ferizalramli.wordpress.com/2013/08/12/tips-buat-yang-ingin-kuliah-di-jerman-from-zero-to-hero/

6. Untuk mengetahui daftar universitas di Jerman beserta program studinya silahkan lihat website data base Universitas Jerman sekaligus sebagai hub dari berbagai jejaring universitas di Jerman:

http://www.hochschulkompass.de/en.html

7. Untuk mengetahui lembaga pemberi dana riset S3 di Jerman silahkan eksplore website ini:

http://www.academics.com/science/research_funding_30519.html

8. Jawaban terbuka atas salah satu surat orang tua yang putra/i-nya selepas SMU studi S1 di JERMAN
https://ferizalramli.wordpress.com/2014/01/30/1653/

Jangan lupa juga untuk mengunjungi website DAAD.

Iklan

290 thoughts on “7 Alasan kenapa kuliah di Jerman Fardhu Ain Hukumnya!

      • assalamualaikum wrohmah bapak.. saya ardi saputra dari pasuruan, jawa timur. saya skarang masih di bangku kuliah D-3 keperawatan.. rencana saya setelah lulus dari ini sangat berkeinginan ke GERMANY untuk melanjutkan kuliah S1 dengan bekerja juga untuk biaya hidup saya, tapi saya masih belum tahu apa-apa bagaimana caranya menembus kesana.. saya butuh tuntunan untuk bisa tembus kesana bapak.. yang saya tau bapak adalah seseorag yang pengalaman ada di JERMAN,, kalo bapak tidak ada keberartan hati, bolehkah saya mnta tolong kpada bapak untuk menuntun saya bapak ?, biarkan saya dikatakan sebagai orang yang tak tau malu mnt tolong kpada orang yang tdak saya kenal, yang paling penting adalah saya puny tuntunan untuk tembus ke JERMAN cita2 saya bapak.. saya yakin bapak adalah orang baik dan InsyaAllah smoga bapak dengan segala kerendahan hati bisa menuntun say untuk bisa tembus pada cita2 saya bapak.. saya adalah anak yang sangat menginginkan kdua orangtua saya menangis terharu membanggakan karna kesuksesan saya bapak.. sebelumnya Terimakasih saya ucapkan bapak..mhon maaf sbelumnya bapak, ini adalah nomor hndphone saya bapak 085730919573 .. skali lagi saya mhon maaf atas kelancangan saya bapak dan skali lagi saya ucapkan teimakasih kpda bapak.. saya sungguh2 butuh tuntunan bapak Ramli…


        TANGGAPAN saya:

        Jika anda lulus D3 lupakan langsung ke Jerman. SARAN saya, mohon jangan DIBANTAH, selesaikan S1 atau D4 Keperawatan anda di Indonesia. Banyak kok di Indonesia yang menawarkan Program S1 atau D4 keperawatan.

        Setelah lulus S1 atau D4 Keperawatan barulah ambil S2 di Jerman

        (salam – Ferizal Ramli)

      • Yang ada ekonomi Islamnya dimana? Apakah ada syarat minimal IPK?

        —–
        Saya tidak terlalu tahu universitas mana yang ada tawaran jurusan ekonomi Syariah. Tapi silahkan lihat data base univ Jerman di link ini: http://www.hochschulkompass.de

        Coba eksplorasi link tersebut. Harusnya ada Universitas yang menawarkan jurusan tentang hal tersebut.

        Syarat IPK secara resmi tidak ada. Tapi IPK 3,00 itu modal yang bagus, minimal 2,75 lah 🙂
        Salam hangat

        Ferizal Ramli

      • Syarat utama secara umum untuk berhasil saya pikir adalah adanya sikap pantang menyerah untuk berjuang secara sungguh terhadap apa Yang dicita-citakan.
        Study di Jerman juga mengharapkan persyaratan sama: anda harus sungguh2 belajar dan pantang menyerah dalam menekuni studi anda. Saya yakin setiap orang akan berhasil jika dia sungguh2 berjuang dan belajar 🙂

    • Sepertinya beasiswa banyak yg tersedia utk Program S2 dan S3, apakah ada beasiswa full untuk Program S1 ? mohon infonya

      XXXXXXX

      Yang saya tahu tidak ada beasiswa full untuk S1 dari DAAD. Cobalah untuk kontak DIKTI.

      Salam hangat

      Ferizal Ramli

    • Bea siswa silahkan ke website DAAD atau Dirjen Dikti.
      Penting untuk diketahui:
      – Untuk level S1 nyaris tidak ada bea siswa
      – Untuk level S2 hanya sedikit tersedia bea siswa
      – Untuk level S3 bea siswa berlimpah ruah bahkan tersisa-sisa yang tidak termanfaatkan. Contohnya: bea siswa debt swap yang tersedia buat 500 orang kadidat doktor dari Indonesia per tahun.

      Link ini adalah link lembaga yang memiliki dana untuk pembiayaan Study S3 di Jerman. Silahkan untuk di-eksplore ini website: http://www.academics.com/science/research_funding_30519.html

      • Saya tertarik untuk S3 di Jerman tetapi umur sudah 47th apa masih ada peluang ya? Mohon info link tahapan & persyaratan untuk bisa studi di German. Terima kasih

        XXXXXXX

        Yth Mas Risanto,

        Peluang sekolah selalu terbuka. Siapa pun boleh kuliah di Jerman pada umur berapa pun. Tapi peluang bea siswa setahu saya nyaris tidak ada untuk usia seumur anda.

        Jika anda tetap berminat ambil S3 maka ini langkahnya:
        1. Siapkan CV dan Draft Proposal Riset anda (kira-kira 2 lembar saja paling banyak) sebaik mungkin
        2. Kontak Professor Jerman Yang punya latar belakang paling pas dengan Background anda.
        Gunakan link ini untuk kontak Professor melalui Website Univ masing-masing: http://www.hochschulkompass.de
        3. Pastikan bahwa anda memang punya dedikasi excellent. Jika anda merasa dedikasinya biasa-2 saja, saran saya lupakan ambil Doktor di Jerman (kecuali biaya sendiri). Anda harus berkompetisi dengan yang 15 tahun lebih muda dan banyak diantara mereka punya prestasi untuk rebutan bea siswa.

        Sayang waktu jika harus bertempur di pertempuran Yang tidak bisa dimenangkan. KECUALI: anda yakin punya dedikasi, karya dan prestasi yang menjadi “magnet” reputasi anda.

        Salam hangat dan sukses selalu

        Ferizal Ramli

    • S2 jarang sekali dapat bea siswa. Tapi bisa coba tetap kontak DAAD untuk dapat info lebih lengkap. Jika anda dosen bisa juga kontak Dikti untuk hal tersebut. TETAPI setahu saya untuk S2 jarang sekali ada tawaran bea siswa.

  1. wah saya mau tuh…dari dulu sih mau…tapi sekarang udah terlanjur keterima S3 di jepang…apa ada kesempatan bekerja atau mengajar di Jerman?

    dulu pernah coba beasiswa S2 DAAD…tapi juga keburu keterima ke Jepang dari JICA

    matur nuwun infonya mas…….

    • Klo Jerman setahu saya untuk S1 dan S2 bea siswanya sedikit karena sekoahnya sudah GRATIS. Jadi cuma biaya hidup saja kok.

      Klo S3 baru bea siswa berlimpah karena ini menyangkut riset.

  2. Ping-balik: 7 Alasan kenapa kuliah di Jerman Fardhu Ain Hukumnya! « Ferizal … | Pusat Informasi Lowongan Kerja

  3. Ada yang kurang kyanya mas di point ke 3, bspw. di Niedersachsen dan di Munich. setau saya Studiengebühr masih di berlakukan di kedua bundesland tersebut.
    Übrigens, infonya bagus dan berkualitas! apalagi dengan program ZAV 🙂
    schöne grüße aus berlin.

    • Untuk Program S1 dan S2 jarang ada bea siswa. Jadi saran saya lupakan bea siswa untuk Program S1 dan S2. Bea siswa akan berlimpah untuk program S3.

    • Mas Ferizal,

      Anda boleh men-cap Jerman terbaik kalau Anda pernah studi di tempat lain juga. Saya percaya kualitas pendidikan di Jerman. Tapi, kalau tingkat dunia, sudah banyak lembaga independen yang membuat peringkat dan menurut saya cukup valid. Webometrics, Times Higher Education, dsb. Silakan di-cek sendiri dimana posisi universitas di Jerman.

      Tentu tidak bisa dipungkiri Jerman tempat lahirnya filsafat dan psikologi sebagai ilmu. Kalau Anda perhatikan, nama-nama yang Anda sebutkan itu memang orang-orang hebat. Harap diingat mereka sudah masuk alam barzakh puluhan tahun yang lalu. Mirip di negara kita tercinta, yang hanya bisa menyebutkan nama-nama pahlawan dari tiap daerah. Yang namanya pahlawan, sudah meninggal, mayoritas sejak zaman Belanda masih di Indonesia. Karena pembangunan tidak merata, sekrg susah menyebut tokoh daerah. Orang-orang besar daerah seperti Latuharhary, Pattimura, itu semua masa lalu. Kalau berargumen itu mbok ya ada yang up to date, bukan sekedar bernostalgia dan mengagungkan masa lalu.

      Setelah perang dunia kedua, harus diakui, suka atau tidak suka, institusi pendidikan di Amerika relatif lebih baik. Kalau Anda baca literatur bahkan filsafat dan psikologi modern, kiblatnya sudah pindah ke USA. Sebagian memang keturunan Eropa, mereka memilih pindah ke US. Soal teknologi dan sains, jangan ditanyakan lagi. Nobel Prize akademik setelah perang dunia kedua, 80% lari ke universitas/penelitian di Amerika. Silakan Anda cek sendiri.

      • penilaian Webometrics,dan Times Higher Education hanya berdasarkan jumlah pengunjung yg mengunjungi website univ’nya, bukan berdasarkan kualitas dari univ’nya …. amerika memang no. 1 soal teknologi (tapi dari sekian ribu univ di amrik hanya ada 300 univ yg di akui, jadi jangan sampai salah dan sembarang masuk univ disana ) ,dan teknologi terbaik kedua itu no.2 jerman dan univ di jerman semua univ’nya sudah terakui secara internasional. dan no.3 itu jepang…. seandainya saja semua perguruan tinggi di jerman ato di jepang menggunakan bahasa inggris sebagai bahasa pengantarnya,pasti bisa masuk dalam 10 univ terbaik di dunia.. dan ga menutup kemungkinan juga orang amerika pun akan berbondong-bondong untuk studi di negara tersebut (jerman dan jepang) dan karena biayanya yg lebih murah dari amerika, memang sih ada orang amrik yg kuliah di jerman dan jepang tapi hanya sebagian kecil … toh juga di indonesia sendiri sebanyak 90% menggunakan karya2 hasil teknologi dari Jerman dan Jepang … liat aja tuh mobil2 yg berlalulalang di indonesia and mesin2 gede yg ada di indonesia dan kapal2 perang dan pesawat tempur indonesia, buatan mana coba..??? dan bahkan amerikapun sangat meminati produk2 hasil teknologi jepang dan jerman sperti Mobil toyota camry,honda civic (kalangan anak muda amrik sangat bnyak loh yg pke mobil civic ini) dan mobil Mercedez, BMW ,dan Audi.. hehehee. bntar lgi lulus s1, lanjut kmna ya s2’nya… msh bingung.. 😀

      • Memang tokoh-tokoh fenomenal yang saya tulis itu sudah di alam barzah TAPI apakah USA punya tokoh fenomenal seperti itu dari sejak mulai USA berdiri? TIDAK punya! Yang punya tokoh-2 sehebat Jerman itu yah paling Perancis dan UK.

        Tokoh2 ilmuwan USA yang muncul hari ini adalah tokoh-2 yang “biasa” saja yang di Jerman juga tokoh seperti itu bertumpuk ditulis oleh pers Jerman. Bedanya karena di USA berbahasa Inggris jadi orang Indonesia kenal namanya minimal sering dikutip media negara lain, kalau di Jerman ketokohannya menjadi lebih jarang terdengar karena persoalan bahasa dan sebaran yang dilakukan media.

        Sdr Naim, sayang sekali standard yang digunakan adalah standard Webo atau THES TIME yang kredibilitas akademiknya amat sangat rendah dan cuma untuk keperluan marketing universitas USA atau UK yang biasanya BAYAR. Itu adalah standard2 akademik bubble. Lebih sayang lagi jika ada yang mau keluarkan uang karena ranking itu.

        Hanya untuk diingat Lembaga Riset yang paling prestius di dunia itu adalah Harvard University dan Max Planc Institute Jerman! Jadinya, dalam tradisi riset TIDAK ada itu universitas yang dirangkin THES TIME mampu kalahkan Max Planc Institute. Ranking itu ranking BUTA yang membandingkan dengan serampangan.

        Di Jerman Universitas itu bukan Centre of Excellent seperti di negara USA/UK. Di Jerman investasi pendidikan itu dibagi dalam 3 hal yang itu proses transfer of knowledge di Univ, proses riset di lembaga riset seperti Max Planc Institute atau Frauenhofer Institute, lalu proses praktikum di perusahaan2 Jerman. Sementara di USA/UK semuanya terpusat di Univ. Jadi membandingkan Uni USA/UK dengan Jerman itu perbandingan salah kaprah. Dikarenakan Univ itu cuma bobotnya 30-40% saja untuk mendidik seorang ilmuwan di Jerman ini. Berbeda dengan di UK/USA dimana mahasiswanya cuma di kampus dan tahunya kampus, mahasiswa di Jerman itu kuliah di kampus, riset di lembaga riset dan praktikum di perusahaan.

        Di Jerman seorang kuliah ambil Master selama 4 semester, minimal 1 sampai bahkan 2 semester dia bisa bekerja di proyek perusahaan untuk sungguh tahu apa itu dunia riil. Di Amrik, itu MBA top yang cuma kerja apprenticeship 3 bulan saja, sudah ditulis kemana-2 sebagi konsep yang terkait dengan industri. Klo di Jerman sih itu biasa saja.

        Akibatnya, secara tersistem perusahaan-2 Jerman maju dengan inovasinya dan lulusan Jerman kuat dalam praktek maupun risetnya.

        Dalam masalah Nobel dan Paten Jerman itu nomor 2 atau nomor 3 terbanyak mendapatkan nobel.

        Kalau USA nomor 1, karena USA secara aggregat itu 4 kali Jerman jumlah penduduknya. Besaran aggregat inilah yang membuat USA terlihat juga besar.

  4. Artikel yang ada tulis, mnrt saya sangat baik, tapi mnrt saya lebih dari hanya 7 alasan kenapa wajib kuliah di Jerman, namun di balik itu kita harus mencatat ada berapa banyak faktor yang menyebabkan gagalnya mahasiswa asing untuk menyelesaikan kuliahnya di jerman atau selesai kuliah tidak tepat waktu, mengingat persentase yg pernah saya baca hanya 5% mahasiswa asing yang berhasil mendapat predikat “made in germany” dan kurang dari 2% mahasiswa asing yang memperoleh predikat “made in germany” tepat pada waktunya

    • betul…kami 4 bersaudara hanya saya yg tuntas lulus, adik2 saya pulang.,.gak tahan home sick….jaman saya 73-84 banyak sekali yg gak selesai…kebanyakan kerja, ngedisko, hura2, alhamdulillah saya tepat waktu selesainya, cuman 2 0rang indonesia yg bisa on time di tempat saya dulu belajar. kelebihannya yg belajar di jerman dgn biaya sendiri/sambil kerja adalah, mandiri, mental baja,tdk mudah putus asa, karena lingkungan yg keras…saya sarankan jika mau belajar sambil kerja di jerman sebaiknya untuk ambil S2 atau S3, seperti yg saya sedang siapkan untuk anak saya nomor 3 untuk belajar di jerman……

      • Testinomi Sdr Adnan benar-2 perlu diperhatikan buat siapapun yang ingin study di Jerman. Sekolah di Jerman itu TIDAK main2. Jika tidak serius yang pasti akan di DO.

  5. Setuju, dari dulu saya jg pengen kuliah d jerman tp gak punya bekal & info yg cukup,,, kalo gitu nanti mudah2an anak2 saya bisa melanjutkan cita2 saya, aamiin,,,

      • Saya heran, ada juga yah intelektual yang memutuskan sebuah kredibilitas Akademik berdasarkan Lembaga Pengumpul Kuesioner? Mirip LSI menjaring Presiden Idol. Inilah jika kita menganggap bahwa pendidikan itu adalah Industri yang harus mengintung cash flow dari customernya. Jadinya, agar secara marketing cemerlang maka dengan instant popularitas digelumbung dengan kumnpulan kuesioner.

        Celaka banyak orang yang akhirnya mengeluarkan dananya sampai ratusan juta IDR untuk sekolah di Universitas tersebut. Benar-2 teknik marketing yang smart dari industri pendidikan…

      • Satu lagi info penting yang harus dicatat, sistem pendidikan di Jerman itu tidak menjadikan Universitas sebagai satu-2nya center of excellent. Kuliah di Jerman berarti anda akan magang di industri termasuk saya pernah magang di Telekom Jerman, dan Otto Versand juga akan melakukan riset di pusat-pusat study riset seperti Max Planc Institut misalkan.

        Untuk diketahui Max Planc Intitut adalah pusat riset yang reputasinya no 2 terbaik di dunia setelah Harvard University. Lihat link ini:
        http://www.timeshighereducation.co.uk/408424.article

        Ini sebagian artikel yang saya kutip: “… The same can be said for Germany’s Max Planck Society and France’s CNRS. What is surprising, perhaps, is that a single university, Harvard, by itself produces more papers than the Max Planck Society…”

        Jika di Amrerika atau UK yang namanya kuliah itu cuma di Univ. Jadinya semua fasilitas dana dipusatkan di Univ. Univ menjadi tempat kuliah, sekaligus tempat riset, sekaligus tempat praktikum di lab. Jadilah, Harvard menyediakan semua.

        Sementara misalkan saya kuliah di Univ Hamburg, saya riset di HWWA Hamburgische Welt-Wirtschafts-Archiv dan saya praktikum (dengan digaji) di Otto Versand sebuah perusahaan multinasional dengan karyawan lebih dari 50 ribu orang.

        Artinya, investasi pendidikan Jerman itu tidak fokus ke Uni semata. Dikarenakan filosofisnya “linkage industry” maka investasi pendidikan juga ke industri dimana mereka dapat keringanan pajak sehingga Studentnya bisa 1-2 semester kerja di perusahaan untuk magang dan digaji. Saat bersamaan riset di lembaga riset.

        Tentu saja Harvard bisa seakan-2 lebih hebat dari Univ di Jerman karena semua aktivitas berkumpul di Harvard. Akibatnya dinilai dari proses belajar, magang plus riset semuanya terkumpul di universitas.

        Klo di Jerman proses belajar di Uni, proses magang langsung di perusahaan, proses riset di lembaga riset.

        Begitu lembaga riset Jerman di nilai maka tidak ada satu pun univ di USA temasuk MIT, Yale atau UK Oxford dan Cambridge (kecuali Harvard Univ) yang mampu imbangi Jerman.

        Tapi klo misalkan Yale diadu Hamburg iya kalah Univ Hamburg, karena para penelitinya lebih aktif di seperti Frauenhofer atau Max Planc atau Leibnitz insitute. Magang para student-nya di Air Bus misalkan. Sementara di Yale aktivitas belajar, magang dan riset di Yale semua. Yah ndak fair bandingkan hal tersebut karena beda filsofis. Yang Amrik/UK Uni itu center of excellent semuanya di Kampus sementara di Jerman lingkage industri. Tidak semua aktivitas dilakukan di kampus. Out put dari Univ di Jerman adalah kira-2 1/3 dari total out put karena 1/3 nya lagi dilakukan dengan kerja sama industri dan 1/3 lagi di Pusat Study.

        Tapi jika anda kuliah di Jerman, anda akan ikuti ke-3 proses tersebut. Anda beljar di kampus, riset di pusat study dan magang di perusahaan multinasional. Asyiknya lagi itu semua gratis bahkan saat magang anda dibayar seperti saya magang di Telekom Jerman dibayar 1.000 Euro per bulan. Itu bayaran yang besar sekali!

        Moral pointnya: tidak adil membandingkan uni UK/Amrik dengan Jerman. Dikarenakan secara filosofis outcomes dari Univ Jerman itu cuma 1/3 dari seluruh total out comes sistem pendidikan tingginya. 1/3 lagi di pusat study yang itu bukan dibawah Univ dan 1/3 di industri! Sementara Univ di UK/Amrik seluruh outcomesnya 100% yah dari Univ.

      • Lihatlah testimoni ini, dari orang Amrik yang kuliah di Amrik dan Jerman dan dia bandingkan… Sesuatu yang kalau pernah kuliah di Jerman dan Amrik maka anda pasti menyesal putuskan kuliah di Amrik jika biaya sendiri…

        Klo bea siswa yah namanya bea siswa paling tidak anda tidak keluar biaya disekolahin tapi klo keluar biaya maka sangat mungkin secara value of money anda bisa menyesal kuliah di Amrik. Standard hidup sosial di Jerman yang begitu bagus dengan murah buat student (karena Student dapat berbagai kemurahan asuransi dan transportasi misalkan) yang standard hidup itu klo di Amrik hanya bisa dicapai oleh para eksekutif karena harus bayar mahal, selain itu juga biaya kuliah gratis untuk uni di Jerman yang begitu berkualitas…

      • Jerman ada tempat riset no:1 terbaik di dunia!

        http://www.academics.com/science/research_funding_30519.html

        Funding Opportunities in Research

        Germany is Europe’s number one research location. However, in a globalised world scientific and technological progress have long since ceased to take place in isolation within national boundaries. Together – through interaction and exchange between the leading experts worldwide – we can shape the future.

  6. Makasih mas Ferizal atas info nya tentang kuliah di Jerman. terus terang saya kepingin bisa kuliah di Jerman, dengan semua kualitas pendidikan terbaik yang ada disana. namun tentu saja ada resiko yg harus dihadapi tuk kuliah di Jerman. nah resiko2 itu apa saja. saya alumni S2 UPI bandung, jurusan Pendidikan Luar Sekolah atau pendidikan Nonformal, saat ini adalah Pegawai di Ditjen PNFI, Kemdikbud, untuk kelanjutan ilmu tersebut dimana aja saya bisa lanjkutkan, mohon jika ada info sekaligus beasiswa kuliah S3, soalnya kalo biaya sendiri sepertinya tidak mungkin… thanks…:)

    • Pendanaan untuk kuliah di Jerman untuk level S3 itu ada banyak cara:

      1. Bekerja dengan Professor Jerman. Untuk hal ini harus bicara langsung ke Professornya atau biasanya di website Univ akan ada lowongan kerja sebagai asisten peneliti/dosen, lalu melamar pada posisi tersebut.

      Link database Univ Jerman adalah sbb: http://www.hochschulkompass.de

      2. Bea Siswa dari lembaga-2 di Jerman seperti DAAD. Untuk hal ini silahkan lihat website tersebut.

      3. Bea siswa dari pemerintah Indonesia seperti misalkan bea siswa Dikti atau Debt Swapt yang notabene dalam bea siswa Debt Swapt ini tersedia 500 bea siswa S3 per tahunnya.

    • Sdr Indra,

      Kayaknya kondisinya akan tetap seperti sekarang ini. Dipersiapkan saja secara mental agar mandiri dan secara moral punya ahlak yang baik. Dikarenakan kultur barat yang amat bebas membuat itu kejutan budaya yang tidak mudah buat anak kita,

  7. Saya kira yang membuat Jerman unik adalah sistem pendidikan yang sangat nyambung dengan dunia kerja. Kalau dari sisi kualitas akademis mungkin masih menjadi dominasi univ2 di AS. Tetapi bagaimana begitu mudahnya lulusan univ di Jerman mendapatkan pekerjaan itu mungkin yang menjadikan dunia perkampusan di Jerman unik. Belum lagi begitu didukungnya para lulusan untuk berusaha/mandiri melalui UKM. Sy sendiri lulusan AS tapi banyak mendapat informasi dari bbrp teman. Mungkin yg menarik dari kuliah di Jerman adalah anda (lelaki) bisa mendapat kesempatan mandi (fasilitas umum) bareng mahasiswi2 Jerman…:-)) Hal yg hampir tidak mungkin ada di AS.

    • Saya pikir ada perbedaan filsofis antara Uni di USA dan Jerman. Di USA, Univ adalah pusat segala-2nya untuk mendapatkan ilmu pengetahuan. Di Jerman Uni hanya salah satu saja dari 3 aspek yang terkait.

      Prinsipnya sbb:
      1. Transfer Knowledge di Universitas
      jika level Bachelor rata-2 bobotnya 70-80%
      jika level Master rata-2 bobotnya 60-70%
      jika level Doktor rata-2 bobotnya 30-70% (tergantung jenis program doktor yang ingin diambil)

      2. Riset di lembaga peneliti
      jika level Bachelor rata-2 bobotnya 0-10%
      jika level Master rata-2 bobotnya 10-40%
      jika level Doktor rata-2 bobotnya 70-100% (tergantung jenis program doktor yang ingin diambil)

      3. Kerja Praktek di Perusahaan
      jika level Bachelor rata-2 bobotnya 10-30%
      jika level Master rata-2 bobotnya 10-30%
      jika level Doktor rata-2 bobotnya 30-70% (tergantung jenis program doktor yang ingin diambil)

      Artinya investasi pendidikan di Jerman itu tidak fokus pada Universitas saja, bahkan lembaga riset seperti Max Planc Institute Jerman adalah institusi terbaik risetnya no :2 (Harvard no 1) di dunia. Artinya Max Plan Institute Jerman itu kredibilitas risetnya di dunia diatas seluruh Universitas manapun di dunia kecuali cuma Harvard saja yang lebih baik.

      Selain itu karena pendidikan Jerman itu terkait dengan industri maka industri di Jerman di seluruh sektor industri itu inovatif dikarenakan didukung oleh para akademisinya.

      Kesimpulannya: kuliah di Jerman itu tidak semata-mata belajar dari Uni tetapi seorang mahasiswa itu akan ditempat di 3 institusi yaitu Universitas, lembaga riset dan perusahaan.

  8. Memang benar banyak orang hebat yang tercatat di dalam sejarah dan mereka berasal dari Jerman, tetapi kalau dibilang bahwa Jerman tidak pernah mengalami krisis ekonomi, dan sebagainya; sepertinya perlu diteliti lebih lanjut sebelum ‘membesar-besarkan’ nama Jerman. Saya sempat mempelajari sejarah Jerman dan keadaan Jerman HANCUR LEBUR setelah perang dunia kedua, bahkan mereka kekurangan tenaga kerja untuk membangun kembali negaranya dan mereka mengimpor orang-orang Turki. Dulu Jerman sempat mengalami inflasi yang sangat parah, bahkan Indonesia pun tidak dapat menandinginya. Contoh: Harga roti yang tadinya hanyalah beberapa cent, menjadi beberapa ratus ribu atau bahkan juta 🙂 Bisa dibayangkan bagaimana uang tidak lagi memiliki harganya pada waktu itu.
    Perbedaan antara Jerman dan Indonesia sebetulnya sangat tipis, terlepas bahwa Indonesia tentunya negara dengan iklim yang lebih bersahabat dan alam yang kaya sumber daya dan indah. Perbedaan tipis tersebut bernama DISIPLIN. Jika masyarakat Indonesia bisa setengah kali saja sedisiplin masyarakat Jerman, dan apabila para pemimpin Indonesia bisa memikirkan masyarakatnya (bukan kantong sendiri), saya yakin Indonesia merupakan negara dengan potensi yang lebih besar.
    Mengenai pembahasan bahwa semua universitas di Jerman BERMUTU MERATA, menurut pendapat saya malah semua itu tergantung individu masing-masing. Entah orang kuliah dimana, usaha dan ketekunannya yang menentukan masa depan orang tersebut. Selamat karena Anda merupakan lulusan Jerman, namun tidak boleh dilupakan bagaimana teman-teman kita yang lain pulang kembali ke tanah air dengan tangan kosong setelah sekian tahun di negara super hebat bernama Indonesia ini.
    Salam sejahtera.

    • Ya namanya juga kalah perang setelah dikeroyok yah pasti hancur-hancuran lah.

      Moral pointnya: Jerman pun belajar bahwa dia tidak boleh semena-mena mendikte orang lain sehingga terjadi perang yang menghancurkan segalanya.

      Kesuksesan seseorang memang dari individu tapi sebuah sistem yang baik juga mempengaruhi kesuksesan seseorang secara significant. Itu sebabnya negara dengan sistem pendidikan lebih baik maka pasti penduduknya lebih maju.

  9. makasi bang>>saya bener: tertarik untuk ambil beasiswa s2 saya di jerman apalagi mengingat saya saat ini sudah ambil jurusan teknik mesin s1 terbaik di indonesia..tapi saya bingung bagaimana untuk mendapatkan info beasiswa di german??selain dengan ikut les bahasa di goethe dan konsultasi dengan frau nadia konsultan german disana..mohon sekali bantuannya kakang 🙂

  10. Ranking universitas itu bisa saja penting kalau mengambil kuliah bachelor dan master. Tapi kalau mengambil studi doktoral, lebih mending melihat Profesornya dan tidak perlu peduli dari negara mana Profesor tersebut berasal.

    Selain itu, beberapa universitas menolak untuk masuk ranking dari Times Higher Education, padahal mereka termasuk universitas yang produktif dalam sains.

    Sebelum masuk kuliah, lebih baik bertanya pada diri sendiri. Buat apa kuliah? Ingin bekerja? Ingin berusaha? Ingin menang Nobel?

    Kalau ingin bekerja di Jerman, kuliah di Jerman cocok buat Anda.
    KAlau ingin jadi pengusaha, sebetulnya kuliah di Jerman tidak terlalu cocok. Tapi lumayanlah pengalaman bekerja sewaktu kuliah di Jerman bisa melengkapi diri kita dengan perasaan peka sosial supaya tidak menindas buruh kalau mau buka usaha di Indonesia.
    Kalau ingin menang Nobel, masuklah di universitas Jerman yang memiliki pemenang Nobel dan tradisi penelitian yang kuat.

    Jangan tertipu ranking. Saya masuk universitas di Jerman yang rankingnya kalah dengan universitas saya di Indonesia, menurut metode ranking Times Higher Education. Tapi di Jerman, aku bisa bertemu dua pemenang Nobel dan seminggu sekali bertemu peneliti terkenal dari berbagai negara di bidangku. Di Indonesia, pengalaman berbagi ilmu ini tidak kudapat.

  11. permisi ikut nimbrung. saya lihat percakapan sudah berbobot. sebenernya kalo orientasi masa depan kerja di indonesia, lalu yang memiliki prospek lebih tinggi yang mana? cukup menjadi SarjanaTeknik(ST) di Indonesia kemudian Master di Jerman, atau Bachelor+Master di Jerman? mana yang prospeknya lebih bagus? terima kasih banyak, mohon tanggapannya 🙂

  12. Terima kasih atas infonya,Pak, sangat inspiratif bagi saya.
    Perkenalkan,saat ini sy mahasiswa S2 Teknik Industri ITS. Begini,Pak, sy mengikuti beasiswa fasttrack jerman sejak S1 dan rencanany sy ingin melanjutkan kuliah S3 di Jerman. Namun, masih belum ada gambaran ingin kuliah di universitas mana di Jerman. Fokus studi yang ingin sy dalami mengenai system dynamics modelling. Sy mohon informasinya tentang universitas di Jerman yang terdapat fokus bidang tersebut.
    Terima kasih,

    Kindly regards,
    Diesta

  13. terimakasih buat info nya… doakan anak saya insya Allah juga mau meneruskan kuliah ke Jerman .. ga nyangka yg niat awalnya hanya ingin mengikuti pak Habibie ternyata banyak sekali kelebihan kuliah di Jerman… sekali lagi terimakasih yaaa.. 🙂

  14. i gotta be there ! keep fighting !!!!
    saya benar-benar ingin kuliah di Germany. Tolong beri arahan kepada saya 🙂

  15. Kalau ingin tanya2 tentang kuliah di jerman, bisa email ke kuliah_dijerman@yahoo.com. Saya seorang private consultant utk kuliah ke jerman. Hanya dengan persiapan di Indonesia sekitar 27jutaan + Deposit 8090Euro, anda sudah bisa InsyaAllah kuliah di jerman utk paket Studkol ataupun paket S2 🙂

    • Hai perkenalkan nama saya salman firdausy mahasiswa peternakan UNSOED 2009..Banyak dosen saya lulusan universitas di jerman baik itu yang s2 maupun s3..Kini saya juga ingin seperti dosen saya dan anda,melanjutkan studi di jerman..Sudah ada perkembangankah tentang keinginan anda untuk melanjutkan studi di jerman? (sekedar sharing saja)…Terimakasih.

  16. Mas Ferizal, Terimakasih banyak sharingnya semoga menjadi Amal Zariah bagi anda. Insyaalloh… setelah anak saya lulus kuliah didalam negeri segera akan saya dorong untuk melanjutkan kuliah di Jerman … If There is will there is away.. (Manjadda Wa Jadda!) … Aamiin YRBA.

  17. pak mumpung saya masih sma, saya mau tanya sedetailnya tentang univ2 di jerman. jadi saya mau minta no handphone nya… trims

  18. Apapun alasanya tujuanya mas Ramli patut diacungi jempol, memotivasi bagi yg ingin dan punya semangat meraih pendidikan yg berkwalitas, insya Allah putri sy yg paling kecil brangkat bln November utk study S1di Jerman, Insya Allah Jg 2 Kakaknya berminat akan nyusul study S2 di Jerman (saat ini masih Semester akhir di UI dan Undip)

  19. “Jika Program 5.000 doktor itu bisa mulus maka dalam beberapa tahun ke depan begitu banyak para intelektual Indonesia alumni Jerman yang mewarnai dan berkarya di tanah air”
    nampaknya ambisi positif ini bila terealisasi akan memberikan dampak yang RUAARRRR BIASA!! bagi kondisi dalam negeri. namun pada kenyataannya, banyak anak bangsa yang sudah dan telah belajar di luar negeri ogah untuk pulang kampung. Alasan utamanya adalah “take home pay” yang lebih kecil dibandingkan di luar negeri dan “pengakuan” secara kelembagaan bila bekerja di tanah air.
    sungguh ironis

  20. sangat ingin ke jerman. setelah melihat betapa banyaknya org indonesia yg sukses belajar dan bahkan bekerja disana. jaminan hidup manusia yg sangat layak sepertinya.

  21. Alhamdulillah terima kasih Mas Ferizal atas infonya yang sangat bermanfaat ini bagi sy orang tua yang ingin anak2 kelak bisa meneruskan study di Jerman seprti mas.

  22. kak… minta info tentang tempat tinggal sementara seperti dormitory atau apartemen yang murah di Jerman ya….. saya dapet surat penerimaan dari Technic University of Munich… terima kasih atas infonya!!

  23. Saya Kira Menghargai intelektualitas, sehingga disegani dan diperhitungkan oleh dunia. tetapi merendahkan dan menjadikan kambing hitam di negara sendiri tidak cocok. Made in Germany perlu di contoh.

  24. Mas, saya ini masih kuliah S1 di Jogja. Saya ingin sekali melanjutkan studi saya ke Jerman di bidang ilmu komunikasi. ada saran ga ya mas saya harus ke jerman bagian mana? dan sapa tau mas ada link kesana, maklum dari keluarga kurang punya duid jd rencana saya mau kuliah cari full scholarship. Ini saya jg masih nyambi kerja buat biaya kuliah saya plus biaya sekolah adek saya yang masi sd haha, jadi kali aja mas ada link atau saran gitu. Kalo boleh tau emailnya tolong donk saya di email ke email saya wendywidianto@gmail.com makasih mas 😀

  25. Ehem…blognya bagus, pede abis dan banyak benarnya..tapi ada ralat mas, Wolfgang Amadeus Mozart bukan Orang Jerman tapi Austria. Bisa ngamuk2 para pemusik dunia dan tentunya rakyat Austria baik yg udah di surga, neraka maupun yg masih di bumi…hehe… Karl Marx nabinya Ateis? kurang tepat, mestinya nabinya Sosialis. Sebelum dia lahir, ateisme udah ada. Goethe nabinya Islam,wah ini bahaya tingkat tinggi… Goethe lebih tepat adalah nabinya Sastra Jerman, meskipun sastra jerman terbaik justru lahir dari seorang Martin Luther, yang dengan sangat jenius mengkolaborasi spiritualitas dan nasionalisme. As a matter of fact, Luther tetap katolik sampai akhir hayatnya.

  26. Satu lagi info penting yang harus dicatat, sistem pendidikan di Jerman itu tidak menjadikan Universitas sebagai satu-2nya center of excellent. Kuliah di Jerman berarti anda akan magang di industri termasuk saya pernah magang di Telekom Jerman, dan Otto Versand juga akan melakukan riset di pusat-pusat study riset seperti Max Planc Institut misalkan.

    Untuk diketahui Max Planc Intitut adalah pusat riset yang reputasinya no 2 terbaik di dunia setelah Harvard University. Lihat link ini:
    http://www.timeshighereducation.co.uk/408424.article

    Ini sebagian artikel yang saya kutip: “… The same can be said for Germany’s Max Planck Society and France’s CNRS. What is surprising, perhaps, is that a single university, Harvard, by itself produces more papers than the Max Planck Society…”

    Jika di Amrerika atau UK yang namanya kuliah itu cuma di Univ. Jadinya semua fasilitas dana dipusatkan di Univ. Univ menjadi tempat kuliah, sekaligus tempat riset, sekaligus tempat praktikum di lab. Jadilah, Harvard menyediakan semua.

    Sementara misalkan saya kuliah di Univ Hamburg, saya riset di HWWA Hamburgische Welt-Wirtschafts-Archiv dan saya praktikum (dengan digaji) di Otto Versand sebuah perusahaan multinasional dengan karyawan lebih dari 50 ribu orang.

    Artinya, investasi pendidikan Jerman itu tidak fokus ke Uni semata. Dikarenakan filosofisnya “linkage industry” maka investasi pendidikan juga ke industri dimana mereka dapat keringanan pajak sehingga Studentnya bisa 1-2 semester kerja di perusahaan untuk magang dan digaji. Saat bersamaan riset di lembaga riset.

    Tentu saja Harvard bisa seakan-2 lebih hebat dari Univ di Jerman karena semua aktivitas berkumpul di Harvard. Akibatnya dinilai dari proses belajar, magang plus riset semuanya terkumpul di universitas.

    Klo di Jerman proses belajar di Uni, proses magang langsung di perusahaan, proses riset di lembaga riset.

    Begitu lembaga riset Jerman di nilai maka tidak ada satu pun univ di USA temasuk MIT, Yale atau UK Oxford dan Cambridge (kecuali Harvard Univ) yang mampu imbangi Jerman.

    Tapi klo misalkan Yale diadu Hamburg iya kalah Univ Hamburg, karena para penelitinya lebih aktif di seperti Frauenhofer atau Max Planc atau Leibnitz insitute. Magang para student-nya di Air Bus misalkan. Sementara di Yale aktivitas belajar, magang dan riset di Yale semua. Yah ndak fair bandingkan hal tersebut karena beda filsofis. Yang Amrik/UK Uni itu center of excellent semuanya di Kampus sementara di Jerman lingkage industri. Tidak semua aktivitas dilakukan di kampus. Out put dari Univ di Jerman adalah kira-2 1/3 dari total out put karena 1/3 nya lagi dilakukan dengan kerja sama industri dan 1/3 lagi di Pusat Study.

    Tapi jika anda kuliah di Jerman, anda akan ikuti ke-3 proses tersebut. Anda beljar di kampus, riset di pusat study dan magang di perusahaan multinasional. Asyiknya lagi itu semua gratis bahkan saat magang anda dibayar seperti saya magang di Telekom Jerman dibayar 1.000 Euro per bulan. Itu bayaran yang besar sekali!

    Moral pointnya: tidak adil membandingkan uni UK/Amrik dengan Jerman. Dikarenakan secara filosofis outcomes dari Univ Jerman itu cuma 1/3 dari seluruh total out comes sistem pendidikan tingginya. 1/3 lagi di pusat study yang itu bukan dibawah Univ dan 1/3 di industri! Sementara Univ di UK/Amrik seluruh outcomesnya 100% yah dari Univ.

    • Jerman ada tempat riset no:1 terbaik di dunia!

      http://www.academics.com/science/research_funding_30519.html

      Funding Opportunities in Research

      Germany is Europe’s number one research location. However, in a globalised world scientific and technological progress have long since ceased to take place in isolation within national boundaries. Together – through interaction and exchange between the leading experts worldwide – we can shape the future.

      • Jerman ada tempat riset no:1 terbaik di dunia!

        http://www.academics.com/science/research_funding_30519.html

        Funding Opportunities in Research

        Germany is Europe’s number one research location. However, in a globalised world scientific and technological progress have long since ceased to take place in isolation within national boundaries. Together – through interaction and exchange between the leading experts worldwide – we can shape the future.

      • Lihatlah testimoni ini, dari orang Amrik yang kuliah di Amrik dan Jerman dan dia bandingkan… Sesuatu yang kalau pernah kuliah di Jerman dan Amrik maka anda pasti menyesal putuskan kuliah di Amrik jika biaya sendiri…

        Klo bea siswa yah namanya bea siswa paling tidak anda tidak keluar biaya disekolahin tapi klo keluar biaya maka sangat mungkin secara value of money anda bisa menyesal kuliah di Amrik. Standard hidup sosial di Jerman yang begitu bagus dengan murah buat student (karena Student dapat berbagai kemurahan asuransi dan transportasi misalkan) yang standard hidup itu klo di Amrik hanya bisa dicapai oleh para eksekutif karena harus bayar mahal, selain itu juga biaya kuliah gratis untuk uni di Jerman yang begitu berkualitas…

  27. bagaimana dengan lulusan s1 keperawatan dari indonesia yang mau bekerja d;jerman?
    apakah bisa?
    mohon balasannya ^__^
    danke 🙂

    • Bisa sekali. Banyak perawat Yang dibutuhkan. Masalahnya ini terkait dengan Standard kompetensi internasional. Nah saran saya buat anda cuma 3:

      1. Cari kerja ke Jerman melalui Head Hunter Yang profesional di bidangnya. Coba kontak Head Hunter di Indonesia yang kredibel dan punya jaringan internasional ke Jerman

      2. Bisa lamar langsung melalui Website, silahkan search di Gugel: Jobpilot atau Monster

      3. Kuliah ambil Master dulu bidang Keperawatan atau Kesehatan. Setelah itu kerja di Jerman 🙂

    • Sudah sering dijelaskan di berbagai tulisan saya sebelumnya:

      Jika ingin jadi ilmuwan atau dosen maka ambil Uni karena dari lulusan Uni anda mudah terus lanjut sampai S3.

      JIka ingin jadi praktisi maka ambil FH karena banyak praktikumnya dan programnya terkait erat dengan industri. Cuma lulusan Master FH sulit bisa kuliah S3.

      Salam

  28. mau tanya, emang kalau sekolah di jerman itu kira-kira berapa tahun ya ?
    kalau lagi liburan waktu kuliah bisa pulang atau tunggu selesai baru pulang ?

    • Buat orang Indonesia mungkin Bachelor butuh 4-5 tahun. Klo liburan Sommer ada waktu panjang lebih dari 2 bulan libur untuk bisa pulang.

      Klo Master tergantung Programnya tapi rata-2 2-2,5 tahun lamanya.

    • Klo Program Bachelor iya berbahasa Jerman.
      Klo Program Master banyak sekali yang berbahasa Inggris. Jadi bisa pilih mau Yang berbahasa Inggris atau Jerman.

      Klo Doktor sih bebas, itu tergantung kesepakatan dengan Professor pembimbing

  29. Ping-balik: 7 Alasan Kuliah di Jerman | studyinjogja.com

  30. jadi bang saya mau nanyak ini..
    jika saya nanti ingin melanjutkan studi saya ke jenjang strata-1 nya di jerman bang yang mana bang saya adalah lulusan D-3 di indonesia ?
    bagaimana kira-kira caranya bang ?
    dan info info serta pengalaman dar abang sangat membantu dan saya perlukan ?
    Terimah kasih

    • Selesaikan S1 atau D4 anda di Indonesia. Jangan sekolah ke Jerman jika anda lulus D3 dikarenakan anda disuruh mulai dari awal lagi seperti lulusan SMU. Jadi, selesaikan ke D4 paling nambah 1 tahun atau ke S1 setelah itu bisa langsung ambil Master.

  31. terima kasih mas atas infonya.
    mas saya dari dulu pengen banget bisa lanjutin S2 di jerman. skrng sya sdang menempuh S1 ilmu komunikasi di PTN. kalo untuk jurusan ilmu komunikasi di jerman gmna? trus kira2 universitas mana aja yng bsa dijadiin referensi khususnya dalam bidang komunikasi yang bsa saya pilih?
    trima kasih

    • Klo buat lulusan SMU mau S1 di Jerman yang paling penting adalah menguasai B. Jerman.

      Yang harus anda lakukan untuk ambil S1 di Jerman:
      1. Kuasai B. Jerman paling tidak sampai level B1
      2. Nilai Raport dan NEM anda harus bagus. Usahakan rata-2 Raport mendekati 8.

  32. Ping-balik: Buat yang ingin belajar B. Jerman dari Level Dasar hingga level Mahir GRATIS | Ferizal Ramli's Blog

  33. mantapppp! terima kasih sudah membahas ini:D saya semakin mantap untuk mempersiapkan persiapan untuk kuliah di jerman. oh iya, mau nanya. apa kuliah di jerman ada yang menyediakan jurusan bahasa/sastra asing?

    • Semua jurusan ada. Ndak usah khawatir. Jerman itu negara amat maju sehingga jurusan apapun ada yang bahkan dibanyak negara ndak ada, di Jerman tersedia. Jadi, segera wujudkan saja niatmu untuk kuliah di Jerman 🙂

  34. bagaimana dengan kehidupan orang-orang islam di jerman? saya pernah mendengar bahwa seorang perempuan berkerudung, di jerman dipandang rendah. kebetulan saya perempuan berkerudung dan saya juga berniat untuk kuliah di luar negeri.

    • Secara umum toleransi di Jerman atas berbagai agama baik sekali.

      Jadi, informasi anda salah jika perempuan berkerudung itu dipandang rendah di Jerman. Wanita berjilbab itu di Jerman ada jutaan orang dan mereka ndak punya masalah.

      • Sejak kelas 1 SMA saya sudah ingin melanjutkan studi di Jerman. Saat ini saya sedang studi S1 fisika di salah satu PTN di Surabaya. Menurut bapak, apa saja yg harus saya persiapkan untuk melanjutkan studi S2 dengan peluang beasiswa yg agak sedikit agar dapat diterima?
        saya pernah membaca bahwa beasiswa DAAD salah satu syaratnya adalah berpengalaman kerja selama 2 tahun. Lalu jika ingin melanjutkan setelah lulus langsung melanjutkan studi S2, bagaimana caranya ?
        mohon sedikit penjelasan informasinya =)
        terimakasih.


        Jawaban dari saya:

        1. Bea siswa untuk S2 tidak banyak. Silahkan lihat di website DAAD atau ke website DIKTI.
        2. IPK yah harus bagus, semakin bagus semakin baik minimal 3.00.
        3. B. Inggris harus bagus minimal TOEFL 550 tapi sebaiknya tidak lebih rendah dari 570.

        Salam,
        Ferizal
        S

    • Sekolah di Jerman itu yah se-HARUS-nya berbahasa Jerman bukan berbahasa Inggris. Tetapi karena B. Inggris bahasa internasional maka ada program kuliah yang berbahasa Inggris. Jadi, sebagian besar yang program kuliahnya berbahasa Jerman bukan B. Inggris.

      Hanya program internasional saja berbahasa Inggris.

    • Iya tentu saja boleh bahasa Jerman di negara Jerman 🙂

      Jika kita bisa B. Jerman maka akan mudah sekali sekolah di Jerman. Hanya B. Jerman itu salah satu bahasa tersulit di dunia. Itu sebabnya pemerintah Jerman dan Univ Jerman memberi kemudahan boleh pakai B. Inggris dikarenakan untuk blejara B. Jerman itu butuh waktu paling tidak intensif 2 tahun untuk punya standard bisa kuliah di Jerman.

  35. Pak Ferizal ,nama saya Esty masih kls 12 sma dan ingin sekali melanjutkan kuliah di german , tapi saya masih bingung sekali , saya ingin sekolah german tapi tdk menggunakan agen karena biaya nya sangat mahal,
    1.Bagaimana caranya supaya bisa kuliah di german tanpa agen tetapi bisa mengurus semua nya sendiri secara lancar?
    2.Apakah jurusan komunikasi di german itu bagus? apa peluang kerja setelah lulus dari sana sangat menjanjikan?
    3.haruskah melampirkan test TOEFL untuk mendaftar ke Universitas?

    maaf ya pak nanya banyak karna saya masih awam bgt 😦 saya sangat ingin kuliah di german tanpa ada hambatan dlm mengurus2 sesuatu nya tanpa menggunakan agen , Terima kasih 🙂

    • 1. Agen itu TIDAK bisa membantu anda untuk terima di Jerman. Dia cuma membantu anda dalam hal mendapatkan informasi dan mungkin fasilitas penjemputan di Jerman atau carikan anda kost di Jerman.

      Untuk dapat kuliah di Jerman anda harus diterima di Studienkolleg dulu, Ini website-nya: http://www.studienkollegs.de/en/

      INGAT tidak ada 1 pun agen yang mampu membuat anda diterima di Studienkolleg. Anda harus melamar sendiri dan lulus ujiannya!

      Setelah 1 tahun pendidikan di Studienkolleg dan anda lulus, barulah anda boleh daftar di Univ Jerman untuk level S1

      2. Pertanyaan nomor dua anda apakah Jurusan komunikasi di Jerman itu bagus? Jawab saya: IYA! Standard Jerman seluruh Jurusan dan Universitas distandarisasi dengan ketat.

      Apakah setelah lulus dari Komunikasi anda akan bisa kerja di Jerman? Jawab saya: SULIT!

      Jerman lebih menerima para ahli di bidang IT, Teknik dan Sains. Diluar bidang itu sulit bisa kerja di Jerman!

      3. Jika anda lulusan SMU dan ingin S1 di Jerman maka TIDAK butuh TOEFL.

    • Jika program B. Jerman hampir pasti GRATIS!

      Yang bayar itu biasanya: Program MBA berbahasa Inggris dan ada beberapa program B. Inggris yang secara market lulusannya laku di pasaran seperti Program Master dengan Spesialis SAP di FH Furtwangen, Master in Business Consulting.

  36. Benar-benar mantap mas “Made in germany”….

    Sekalian mohon sarannya, anak saya sekarang ini masih kelas satu smp tapi kayaknya mantab banget setelah lulus sma nanti pengen banget ngelanjutin kuliah ke germany, saya senang dia punya niat seperti itu dan saya sangat mendukungnya, maka dari itu mumpung waktu masih cukup lama kira-kira sedini mungkin selain biaya apa saja ya… yang harus kami persiapkan dari sekarang untuk rencana kuliah di germany.
    Terima kasih sebelumnya.

    • Pak Abdur Rasyid yth

      Persiapannya:

      1. Mental! Secara kultur dan budaya Jerman amat berbeda dengan Indonesia. Itu negara free sex dan bebas dalam hal apapun.

      2. Persiapan B. Jerman dari awal karena itu Bahasa yang amat sulit dikuasai. Dibutuhkan waktu lama untuk kuasai B. Jerman.

      3. Tentu saja dana karena terkait pengurusan Visa paling tidak ada dana 7.000 Euro yang dikirim ke Bank Jerman untuk jaminan serta 7.000 Euro yang ada di rekening Bapak. Total general jika ingin dapat visa maka di tabungan harus ada dana 14.000 Euro.

      Untuk catatan PENTING yang perlu Bapak pertimbangkan:

      1. Bagi yang lulusan SMU lalu sekolah langsung ke Jerman, data yang pernah saya dengar cuma 25% bisa lulus! Itu pun banyak sekali yang lulus terlambat.

      Saya yakin persoalan non teknis yang menjadi penghambatnya seperti culture shock, dll.

      Bagi saya perempuan atau lelaki sama saja. Saya pernah muda. Umur 19 tahun, saya tahu betapa labilnya saya. Bisa dibayangkan jika tiba-tiba (tanpa persiapan mental apapun) saya dikirim ke sebuah negara yang amat liberal. Jam 10 atau jam 11 malam iklan di TV itu gambar2 perempuan telanjang. Di sebalah kamar asrama mahasiswa, lelaki dan wanita bebas kumpul kebo dan minum alkohol. Jika dari kecil saya hidup dengan budaya seperti ini maka yah itu sudah biasa. Tapi jika tiba2 bertemu budaya seperti ini diusia masih relatif labil?

      Bagi saya ini resiko besar. Akhirnya saya sering bertemu 2 tipe anak muda Indonesia yang sekolah di Jerman level S1: yaitu anak muda yang liberal dalam segala hal, atau malah sebaliknya jadi fundamentalis kaku dalam agama. Bagi saya, kedua2nya tidak sehat secara perkembangan emosi anak.

      2. Untuk level S1 itu selisih kualitas antara Uni Jerman dan PTN bagus Indonesia tidak berbeda. Dikarenakan pendidikan level S1 itu transfer knowledge. PTN2 Top kita sudah sejajar jika melakukan transfer knowledge dengan Uni Jerman.

      Tapi level S2 sudah riset apalagi level S3. Untuk riset PTN top Indonesia masih kalah jauh. Oleh karena itu, saran saya di level S2 dan S3 saja ke Jerman. Level S1-nya di Indonesia saja. Toh kualitasnya tidak jauh berbeda…

  37. saya merupakan mahasiswa tingkat akhir jur peternakan. saya ingin kuliah di jerman. apakah untuk melanjutkan S2 ke jerman perlu mendapat rekomendasi dari Prof di jerman dahulu??

    apakah ada tips untuk lolos beasiswa S2 jerman pak??

    • Untuk S2 tidak perlu rekomendasi dari Profesor.

      Silahkan baca tulisan saya “Study di Jerman, siapa takut?!”. Disana sudah saya bahas tips untuk melamarnya.

  38. Mohon dijawab ya om.. Belajar di Jerman itu seberapa sulit dan berapa tahun biasa nya? Apakah perlu menjadi jenius baru sanggup untuk belajar di Jerman? Tolong info tentang kehidupan dan orang” disana dong om. Terima kasih.

    • Belajar di Jerman itu SULIT!
      Harus serius! 3 kali ndak lulus ujian pada mata kuliah yang sama akan di DO.

      Tidak harus jenius untuk bisa lulus sekolah di Jerman tapi butuh disiplin serta pantang menyerah, dan tidak cepat puas diri. Mereka pakai standard tinggi tapi standard itu tetap kita bisa lewati asal sungguh2 karena fasilitas pendidikan yang baik akan membantu kita memudahkan untuk belajar.

  39. Pak, Bagaimana dengan bidang Teknologi Informasi? Bagaimana perbandingannya Jerman dengan Amerika? Di Amerika saya tau ada raksasa IT seperti Google, Microsoft, IBM, Apple, dll, saya kurang tau kalau yang Jerman pak. Apa Jerman masih lebih unggul dalam bidang ini?, mohon pencerahannya. Kebetulan saya lagi cari perbandingan mengenai bidang teknologi informasi pak. Terima kasih.

    • Untuk IT Software itu Jerman salah satu raksasa ERP (Enterprise Resources Planning) terbesar di dunia dengan standard software SAP yang dipakai oleh hampir sebagian besar perusahaan di dunia.

      Silahkan cek SAP itu apa di wikipedia.

  40. saya ingin kuliah digerman tapi bingung universitas yang menyediakan fakultas psikologi dijerman apa ya??tolong dibalas ya. krna lagi proses mendaftar beasiswa untuk kejerman.

  41. Mas Ferizal Ramli, monggo ikutan gabung di milis Beasiswa. Kontributor Jerman baru Mas saptocondro. Sekaligus “menularkan” virus semangat sekolah lanjut termasuk ke Jerman. Semoga sukses selalu.

  42. mungkin inilah mengapa di SMA aq diajarkan bahasa jerman……
    saya yakin banget guru saya pasti sudah membaca artikel mengenai jerman dan bodohnya saya hanya bisa ich liebe dich….
    hiks poor me..

    • Bisa B. Jerman itu tentu saja keunggulan tapi bukan berarti karena tidak bisa B. Jerman maka kesempatan kita sekolah ke Jerman akan tertutup.

      Masih banyak program B. Inggris yang gratis untuk kuliah di Jerman 🙂

  43. Salah satu artikel yang menggugah.
    Bapak, jika boleh saya menghubungi Bapak untuk berdiskusi, bolehkah saya tahu kemana saya harus menghubungi Bapak? Barangkali bolehkah saya tahu alamat surel Bapak? Berikut saya berikan alamat surel saya : budionorahmat0105@gmail.com. Semoga Bapak berkenan menerima saya untuk berdiskusi. Salam dari kota hujan.

    • Banyak klo untuk bea siswa S3 apalagi untuk guru B. Jerman. Itu amat banyak. Detailnya lebih baik anda ke website DAAD dan kalau perlu korespondensi langsung dengan DAAD. Saya amat yakin banyak bea siswa untuk anda.

      Semoga sukses

    • Leipzig itu kota indah dan bagus. Itu salah satu kota termaju di Jerman timur selain Berlin. Tapi apakah anda akan mudah dapat kerja sambil kuliah disana? Saya kurang yakin itu. Untuk hidup dan kuliah Leipzig itu ideal. Tapi untuk kerja sambil kuliah maka itu sulit. Mungkin saat liburan anda bisa kerja di kota besar seperti Hamburg, München atau Frankfurt…

  44. Assalaualaikum Pak Ferizal,
    apakah untuk S2 di jerman masing2 jurusan punya kualifikasi khusus, misalnya background S1 nya harus sama. saya lulus S1 Humanities di UI tp ingin belajar Master of accountancy di Jerman.
    bagaimana peluangnya pak?mohon bimbingannya.
    terima kasih

    • Tidak harus background S1 di Indonesia harus sama dengan S2 di Jermannya. TAPI itu jelas kebijakan masing2 Universitas. Jadi saran saya, coba saja. Tinggal lamar saja kok gratis, kenapa harus ragu?

      Selamat berjuang 🙂

  45. Pak Ferizal

    saya terkesan sekali dengan tulisan yang saudara sajikan ini, saya berhasrat sekali untuk bisa melanjutkan kuliah S3 di Jerman. Saya lulusan S2 Teknik Elektro ITB Jurusan Wireless Telecommunication Engineering, sekarang ini saya bekerja di PT. Telkomsel sebagai staff Trafik Engineering. Perusahaan Telkomsel mengizinkan saya untuk bisa melanjutkan study ke S3, saya berminat untuk bisa study di Jerman tapi saya belum tahu bagaimana langkah langkah. Kiranya Pak Ferizal bisa memberikan saran kepada saya pak?
    Terimakasih

    • Untuk S3 itu ada beberapa hal yang harus diawali:

      1. Tentukan bidang minat kita dan rumuskan itu dalam proposal

      2. Cari professor yang bisa bimbing. Silahkan eksplore link ini lalu masuk ke web Univ dan cari nama professor yang sesuai dengan minat anda: http://www.hochschulkompass.de/en/home.html

      3. Buat kontak dengan Professor dan dapatkan surat rekomendasi darinya bahwa dia bersedia membimbing S3 anda.

      4. Selesaikan prosedur adminiatrasi dengan Univ-nya sesuai petunjuk professor yang telah menerima anda.

      Jika anda sudah sampai pada tahap 4 artinya anda sudah diterima di Univ Jerman.

      Selamat berjuang 🙂

  46. Ping-balik: Study di Jerman, siapa takut …?!!! | Ferizal Ramli's Blog

  47. Ping-balik: Studi di Jerman!…Di Jerman!!! | Ferizal Ramli's Blog

  48. Ping-balik: Ranking Universitas Eropa | Ferizal Ramli's Blog

  49. Ping-balik: TIPS buat yang ingin kuliah di Jerman: from Zero to Hero! | Ferizal Ramli's Blog

  50. Ping-balik: Jawaban terbuka atas salah satu surat orang tua yang putra/i-nya selepas SMU studi S1 di JERMAN | Ferizal Ramli's Blog

  51. assalammualaikum.
    saya mau tanya, sekarang saya masih kuliah d3 keperawatan.
    tahun depan lulus.
    apa ada program transfer d3 keperawatan ke s1 keperawatan dgn beasiswa di sana?
    terima kasih.

    • Jika anda lulus D3 lupakan langsung ke Jerman. SARAN saya, mohon jangan DIBANTAH, selesaikan S1 atau D4 Keperawatan anda di Indonesia. Banyak kok di Indonesia yang menawarkan Program S1 atau D4 keperawatan.

      Setelah lulus S1 atau D4 Keperawatan barulah ambil S2 di Jerman

    • Sebagian besar informasi telah saya tulis. Tinggal sekarang mengolah informasi tersebut sehingga anda bisa merumuskan rencana anda.
      Secara ringkas point penting yang anda persiapkan:

      1. Kuasai TOEFL B. Inggris minimal 550, lebih baik lagi 570
      2. Kuasai Level B1 B. Jerman
      3. Persiapkan semua persyaratan Yang dibutuhkan –> Silahkan lihat pada Artikel “Study di Jerman siapa takut?!” disana sudah saya tulis beberapa persyaratan penting Yang dibutuhkan.

      Sukses selalu yah 🙂

    • Sangat bisa sekali Jeng Mayang!, bahkan bea siswanya saya pikir banyak kalau ingin ambil S2 Pendidikan B. Jerman. Coba lah hubungi DAAD. Lihat websitenya dan kalau bisa kirim email langsung ke DAAD untuk tanya bea siswanya.

      Semoga sukses 🙂

  52. Klo IPK/GPA di indonesia dengan cara menyetarakannya gimana?
    Saya liat di salah satu univ di hamburg program S2 tp yg internasional,salah satu syaratnya ditulis “GPA minimum 2.5/B-/good. Itu mksdnya GPA dlm standar jerman atau indonesia??

    • Mungkin itu dalam Standard Jerman. Dalam standar Jerman penilaiannya begini 1 itu terbaik dan 5 terburuk. Untuk lulus butuh nilai 4:
      Sehr Gut 1 – 1,5
      Gut 1,6 – 2,5
      Befriedigung 2,6 – 3,5
      Ausreichend 3,6 – 4
      NICHT Bestanden 4,1 – 5

      Masalahnya saya TIDAK tahu persis bagaimana konversi dengan sistem IPK Indonesia. Hanya saran saya usahakan di Indonesia raih minimal IPK 3,00.

  53. Asalamualaikum Bapak Ferizal Ramli, saya Ima, sekarang baru menempuh pendidikan S1 (semester 6) di STT Adisutjipto Yogyakarta jurusan teknik penerbangan. Kamis besok, yakni 20 Maret 2014, Bapak BJ Habibie, seorang insan dirgantara yang kita tahu beliau adalah produk Jerman, hendak berkunjung ke kampus saya. Tentu saja hal itu membuat keinginan saya untuk melanjutkan study di Jerman kembali membuncah. Pertanyaan saya pak, apakah ketika study di Jerman, bahasa yang kita gunakan dalam proses pendidikan tersebut adalah Bahasa Jerman atau Bahasa Inggris ? Sebab beberapa teman SMA saya yang sekarang kuliah di Jerman mengatakan mereka memakai Bahasa Jerman dalam perkuliahan. Tentu saja hal tersebut sedikit mengikis mimpi saya, karena walaupun sewaktu SMA Bahasa Jerman merupakan pelajaran wajib untuk sekolah saya, namun sejujurnya kemampuan saya mengenai hal itu bisa dikataka nyaris nol. Sebelumnya terimakasih Pak Ferizal Ramli dan mohon maaf apabila pertanyaan saya sekiranya pertanyaan yang sepele. Wasalamualaikum wr wb.

    • Jika ambil Program S1 maka itu berbahasa Jerman.
      Jika ambil Program S2 dan S3 banyak sekali program yang menawarkan berbahasa Inggris. Saran saya karena anda ingin ambil S2 maka per dalam B. Inggris anda kalau bisa sampai TOEFL 570!

      Semoga sukses

    • Share pengalaman sudah saya lakukan, bukan dengan menulis begitu banyak Artikel tentang sekolah di Jerman 🙂

      Saya berdoa semoga putra/putri anda bisa study di Jerman… Amien

  54. Mas, numpang tanya…
    Universitas Leipzig itu di Jerman sebelah Barat atau Timur ya? Universitas Leipzig negeri atau swasta? Makasih sebelumnya :).

    • Leipzig di Jerman Timur dan itu universitas punya reputasi akademik terhormat. Itu negeri dan hampir semua (katakanlah 95%) Univ di Jerman itu NEGERI.

  55. terimakasih Bung Ferizal, tulisan ini sudah membuka wawasan saya untuk kuliah di jerman. oiya, saya sangat tertarik dengan filsafat dan sastra, mohon informasi program master internasional untuk filsafat dan sastra di universitas di jerman?

    • Jurusan sastra dan filsafat itu amat maju di Jerman. Banyak sekali penulis sastra di Jerman. Silahkan anda cari di Website ini: http://www.hochschulkompass.de

      Tapi jika anda ingin mencari keterkatian dengan Indonesia maka Jerman punya 3 Universitas Yang mengembangkan Pusat Studinya tentang Indonesia yaitu: Universität Hamburg, Universität zu Köln dan Universität Frankfurt am Main

  56. mas numpang nanya. kalo s2 tehnik lingkungan jg bisa ke jerman??
    biaya kuliah y gratis y?? biaya hidup y mahal gx??
    hatur nuhun mas.//

    • Jurusan S2 T Linkungan tentu saja bisa lanjut ambil S3 ke Jerman.

      Tentang biaya kuliah dan biaya hidup sudah sering saya bahas dalam berbagai tulisan saya. Biaya hidup sekitar minimal 500 per bulan.

      Biaya kuliah Klo Bachelor gratis. Master juga gratis kecuali Program MBA internasional dan beberapa program internasional.
      S3 biasanya malah dibayar atau minimal dapat bea siswa yang tersedia “berlimpah” di Jerman ini 🙂

  57. Ping-balik: 7 Alasan Kenapa Kuliah di Jerman Fardhu Ain Hukumnya | Rahmatullah's Blog

  58. salam kenal kak ^^, saya baru baca blog kakak, boleh minta alamat e-mail dan bertanya pribadi langsung dengan kakak soal study di jerman..?
    saya saat ini masih kuliah semester 2 jurusan psikologi dan saya berniat untuk mengambil s2 di jerman,
    tetapi masih benar-benar buta, untuk itu mulai dari sekarang saya sudah mencari informasi.

    semoga kakak mau memberikan alamat e-mailnya ^^

    atau bisa langsung e-mail ke indahinfitsu@yahoo.com

    terima kasih kak ^^

    —–
    Semua info sudah saya tulis di Blog ini. Jadi mestinya tidak akan buta informasi jika sudah membacanya dan mengeksplorasi link-link penting Yang telah direkomendasikan.

    Silahkan ajukan pertanyaan disini, saya akan jawab sebisanya dan Yang lain juga ikut baca.

    Semoga sukses dan Salam hangat

    Ferizal

  59. Bismillahirrahmanirrahim….. 4 tahun lagi berangkat ke jerman.. aminn… dengan tekad dan semangat untuk menjadi orang besar untuk mengharumkan nama INDONESIA,, aminn

    —–
    Semoga Allah SWT mempermudah jalan anda mewujudkan cita2 anda. Amien…

    Salam hangat

    Ferizal

  60. Terimakasih mas Ferizalramli atas info yang diberikan, sangat bermanfaat sekali.
    Mas saya mau tanyaa mengenai ijin ke Jerman, rencana saya mau ke Jerman melalui konsultan edukasi di Indonesia yang mengirim mahasiswa2 ke jerman. kalau mas Ferizal dulu pakai jasa konsultan kah ? atau pergi ke jerman sendiri ? terima kasih sebelumnya,

    —–
    Pertanyaan anda tidak saya jawab karena ini bisa menyebabkan bias persepsi buat yang membaca.

    Saran saya:
    1. Jika pakai konsultan pastikan konsultan anda kredibel membantu anda. Untuk anda pahami, konsultan anda tidak punya kuasa apapun menentukan diterima atau tidaknya di Univ Jerman tapi dia bisa memberikan informasi lebih akurat karena mereka lebih berpengalaman. Saran saya pastikan anda mengeluarkan biaya konsultan setelah anda benar2 diterima di Uni Jerman (bukan lembaga kursus bahasa yah) serta visa anda turun.

    2. Jika anda memilih daftar sendiri maka penuhi syarat2nya seperti Yang saya tulis dalam Blog saya: “Study di Jerman siapa takut?!”

    Prinsipnya, jika anda ketemu konsultan yang tepat maka bantuan dari konsultan amat mempermudah anda meskipun keputusan diterima bukan dari konsultan. Hanya pastikan anda tidak korban konsultan abal-abal yah 🙂

    Semoga sukses dan Salam hangat

    Ferizal

  61. saya mahasiswa s1 di bidang akuntansi di indonesia, sekarang sedang melaksanakan praktikum di jerman, sekaligus untuk mengambil double degree. saya sangat tertarik mengambil s2 di jerman, saya juga telah mencari beberapa informasi untuk s2 di bidang finance. dan saya menemukan bahwa student hanya dibutuhkan membayar semester fee,dan kontribusi ke kampus, pada salah satu univ di berlin. saya ingin menanyakan apakah bapak tau kisaran fee untuk s2 finanace dan kontribusi ke kampus ?

    Terimakasih untuk infonya

    —–
    Sekolah di Jerman itu gratis, kecuali Program MBA banyak Yang bayar.

    Uang Semester itu paling dibawah 100 Euro per Semester umunya 40-80 Euro. Jika anda diminta bayar samapi hampir 300 Euro per Semester maka anda beruntung. Itu artinya Univ anda menyediakan Semester Ticket Yang artinya dengan kartu mahasiswa anda, anda bisa naik transportasi umum gratis di kota anda.

    Di Jerman saya tidak pernah denger ada uang kontribusi ke kampus model Indonesia, kecuali anda pilih Uni Swasta. Tapi ngapain milih swasta jika Yang negeri ratusan jumlahnya dan kualitasnya umumnya lebih bagus dari swasta?

    Salam hangat

    Ferizal

  62. Saya berharap bisa menjadi salah satu mahasiswa di jerman kelak,. Dan tentunya bisa lulus dengan hasil yang maksimal,. Amiin

    —–
    Saatnya wujudkan impian anda menjadi kenyataan 🙂

    Salam hangat

    Ferizal

  63. Kak. hehe telat banget yah aku bacanya. Mau tanya, Kalo dari d3 tetep pengen s1 di jerman gimana dong kak? thamkyou :’0

    —–
    Selesaikan S1 atau D4 anda di Indonesia. Jangan lulus D3 ke Jerman, nanti anda disuruh ngulang seperti SMU.

    Lebih baik ambil D4 paling 1-2 tahun atau S1 paling butuh 2-2,5 tahun di Indonesia lalu S2 ke Jerman.

    Salam hangat

    Ferizal

  64. Ferizal Ramli : Saya tdk setuju dg pendapat Anda tentang PT di Australia, kalau di USA sich mungkin saja ! Sy sbg penerima beasiswa S-2 di negara Kangguru tsb memahami bhw PT disana sangat diawasi oleh pemerintah dan tidak ada sekolah yg abal-abal berdasarkan komersil ! Seluruh tamatan Australia mendapatkan pengesahan di Dikti, sejauh ini sy belum mendengar adanya permasalahan terhadap lulusan Ausie. Memang harus diakui tdk semua PT yg favorit bagi calon mahasiswa dari Indonesia, dg menyebut: RMIT, Monash, Melborune Univ. Swinburne UT, Quensland UT, Wollongong Univ. dst., dst….. Salam.

    —–
    Berarti pendapat saya menurut Mas Dasmito “half true” untuk Kasus Aussie. Terima kasih untuk kesediaan anda menuliskan sudut pandang Yang berbeda 🙂

    Salam hangat

    Ferizal

  65. informasi yang anda tulis di blog anda sangat menarik dan bermanfaat. saya sedang mencari informasi untuk bisa melanjutkan program S2 psikologi di eropa dan salah satu negara tujuan saya adalah jerman, karena jerman kebetulan juga menjadi tempat awalmula adanya psikologi. yang mau saya tanyakan kalo boleh minta saran bapak, universitas apa pak di jerman yg bagus psikologinya? terimakasih

    —–
    Universitas bagus mana untuk study psikologi di Jerman bukan isu besar Yang perlu didiskusikan. Yang penting anda bisa diterima dan bisa lulus, itu tantangan terbesarnya.

    Semua Universitas di Jerman itu beda kualitas antara satu dan lainnya relatif tidak menyolok. Jadi, lupakan diskusi tentang Univ mana yang bagus untuk jurusan anda. Yang terpenting masuk ke Website Uninya dan lihat apa kurikulumnya sesuai Yang anda inginkan? Itu jauh lebih penting untuk jadi pertimbangan.

    Ini link terkait untuk semua Website Uni Jerman http://www.hochschulkompass.de

    Salam hangat

    Ferizal

  66. Pak Ferizal sy lulusan Administrasi Bisnis FISIP, saat ini bekerja di Perbankan sbg Assistant Manager sudah 5 thn,umur 30 thn..membaca ulasan Bapak membuat sy berhasrat melanjutkan studi lanjut, di Jerman, mengingat sy selalu senang bila mendengar cerita ttg negeri Bavaria..menurut Bapak, jika sy hrs kuliah di Jerman, jurusan apa yg pas buat sy, kemudian apakah sbg praktisi atau akademisi?

    —–
    Ambil jurusan Management atau Business Admnistrasi. Boleh Program MBA biasanya bayar atau Program Yang gratis yaitu MA atau MSc bidang Management, Bisnis Administrasi, Keuangan atau Internasional Bisnis.

    Banyak sekali Uni Yang tawarkan Program ini.

    Salam hangat

    Ferizal

  67. Baden-Württemberg and Bavaria abolished tuition fee, meaning that there is not state which has tuition fee anymore. Maybe you want to correct this.
    Cheers 😉

    —–
    Ich dachte, BW hat schon lange keine mehr Studiengebühren und Bayer hat gerade eben Studiengebühren gelöscht. Der Artikel in meiner Website habe ich schon mehr als 2 Jahre geschrieben. Selbstverständlich ist es nicht aktuell mehr. Da muss die Leser darüber beachten.

    Viele Grüße

    Ferizal

  68. Pak..boleh saya konsultasi study di jerman unt anak saya? Sekarang anak sy duduk di kelas XI..masih Adakah jalan dan kesempatan unt study di jerman? Terima kasih.

  69. klo dilihat dari sisi materi dan dunia tentu sepertinya baik, bagaimana dengan aqidah /iman pak ? mengingat germany adalah negeri kafir, dan situasinya tidak mendukung untuk ibadah, setahu saya syariat islam mengatakan tidak boleh menuntut ilmu di negeri kafir klo di negara2 muslim masih ada.

  70. Maaf saya ingin bertanya bagaimana prospek kerja lulusan jerman jika ingin bekerja pada perusahaan perminyakan yg tdk ada kerja sama dg jerman sendiri ? Maaf pandangan saya masih awam. Karena setahu saya kebanyakan ketika kembali ke Indonesia menjadi dosen. Terimakasih

    —–
    Secara kualitas lulusan Jerman bagus. Indsutri apapun termasuk minyak pasti butuh lulusan bagus.

    Salam hangat

    Ferizal

  71. nama fb nya apa kang… trmakasi

    —–
    Ferizal Ramli itu FB saya. Ada 2 FB yang satu sudah penuh jadi bisa add yang Fb lainnya dengan nama sama 🙂

    Salam hangat

    Ferizal

  72. kebanyakan orang indonesia kuliah di universitas mana ? 🙂

    —–
    Kebanyakan kuliah di Kota Berlin dan Daerah di sekitar Balung Gebiet itu yang terbanyak. Universitasnya bisa macam2 tapi orang Indonesia paling banyak sekali di sekitar 2 daerah itu.

    Hanya secara umum populasi study orang Indonesia menyebar di seluruh Jerman.

    Salam hangat

    Ferizal

  73. Reblogged this on Latif Lf and commented:
    Alasan kenapa saya kuliah di Teknik Mesin ITS sebagai upaya menuju jerman !

    —–
    Saatnya mewujudkan visi anda menjadi kenyataan 🙂
    Selamat berjuang. Keep the spirit high and never give up!

    Salam hangat

    Ferizal

  74. Mari kita rame-rame kuliah di jerman, bekerja di sana, dan kuasai ekonomi, politik, dan ilmu pengetahuan jauh melampaui orang jerman. sejak dahulu telah terjadi kesenjangan intelektual yang sangat besar antara ras kulit putih dan orang-orang asia, di mana IQ ras kulit putih jauh di bawah rata-rata orang asia. kita jangan sampai kalah dengan negara china yang warganya sudah lebih dulu banyak kuliah di jerman. orang jerman itu tidak terlalu pandai dalam sains, matematika, dan teknik dibanding orang asia. orang jerman itu jauh lebih lambat dalam berpikir dan berhitung cepat dibanding orang asia. ini fakta saya sudah melihatnya sendiri. dalam kehidupan sehari-hari saja sangat jelas terlihat kesenjangan intelektual antara orang asia dan jerman atau orang kulit putih dari negara manapun. lihatlah mahasiswa-mahasiswa fisika china di jerman mereka sangat-sangat intelektual dan jenius jauh melebihi mahasiswa fisika jerman.

    —–
    Saya yakin orang Jerman itu tidak pandai dalam sains dan matematika jika cara ukurnya adalah bagaimana cepat2-an menghafal rumus dan selesaikan soal ujian model Ebtanas atau model Olimpiade sains. Itu sebabnya orang Asia langganan pemenang Olimpiade Sains.

    Hanya kan guna dari ilmu matematika itu bukan dalam hal cepat2an bisa kerjakan soal ujian. Guna ilmu matematika itu agar bisa diimplimintasikan ke pengembangan ilmu murni model Fisika, Kimia dan ilmu-ilmu murni lainnya. Lalu guna dari ilmu murni itu untuk bisa menghasilkan inovasi Yang meningkatkan derajat hidup Kita dengan penemuan2 barunya. Nah, kalau standarnya ini maka orang Asia itu kalah jauh. Orang Asia itu umumnya jiplak hasil karya orang lain. Nah, kalau alat ukurnya ini, maka Saat ini Asia (kecuali Jepang) masih amat tertinggal jauh bahkan masih amat jauh… 🙂

    Salam hangat

    Ferizal Ramli

    • Menurut pengalaman saya. Secara UMUM. Mahasiswa Asia (Cina, Taiwan, India, Pakistan) yang kuliah di Jerman memang lebih kuat untuk bidang STEM (Science Engineering Technnology Math) dibanding orang Jerman kebanyakan. Pemuda Jerman, seperti kebanyakan pemuda kulit putih pada umumnya lebih suka mengambil kuliah yang praktis seperti vokasional atau yang mudah-mudah seperti psikologi, ilmu sosial dan akuntansi.

      Tapi BIASANYA kalau ada pemuda Jerman yang mengambil Engineering/Science di TH atau Uni, maka memang pemuda tersebut memang luar biasa Nerd dan pintarnya.

      Kenapa ??

      orang Eropa/Jerman itu hanya mengambil jurusan yang memang mereka benar-benar minati dan punya bakat disitu, tidak seperti orang Asia yang mengambil jurusan yang berprospek saja, meskipun tidak benar2 diminati dan berbakat disitu.

      Orang Jerman kalau yang mbambung ya mbambung, tapi yang serius, luar biasa seperti robot. Dan di jurusan Informatik TH/Uni saya terheran-heran melihat anak muda Jerman usia 19-20thn sudah bisa menciptakan software2 Open Source yang luar biasa rumitnya. Sementara rekan-rekan Asia yang bisa bikin seperti itu yang sudah selevel Doktor!

      Kalau masalah pemahaman konseptual, inovatif dan kreativitas, sistem pendidikan Asia secara umum BELUM bisa mengalahkan sistem pendidikan Eropa!

      ——-
      Pembelajar yth,

      Saya melihat orang Jerman itu sedikit yang mengambil posisi sebagai saintis dibandingkan orang Asia saat study. Tapi ini bukan karena Asia lebih pandai, ini karena sistem pendidikan Vokasional di Asia tertinggal. Buat orang Asia jika dia tidak kuliah di Univ maka masa depannya suram. Klo orang Jerman misalkan, dikarenakan pendidikan vokasionalnya bagus maka umumnya mereka yang sedang2 saja kemampuannya akan masuk vokasional. Yang masuk jadi saintis di Univ memang mereka yang kemampuan intelektualnya tinggi. Itu sebabnya hanya “sedikit” saja dari mereka yang masuk Univ dibandingkan negara lain. Tapi bukankah memang saintis dimana2 itu tidak banyak dalam proporsi jumlah penduduk? Saya khawatir banyak orang masuk Univ di Asia bukan karena memang mereka cerdas tapi lebih karena tidak ada pilihan lain… 🙂

      Salam hangat dan terima kasih atas sharing sudut pandangnya

      Ferizal Ramli

      • Faizal Ramli & pembelajar.
        Yg sya maksud orang asia itu adalah china, taiwan, hongkong, korea, jepang, indonesia, malaysia, singapura, bangkok dan sejenisnya, jadi pakistan tidak masuk dalam kategori asia. saya memandang kecerdasan manusia itu dari segi genetik dan riset medis bukan sekedar justifikasi dari hasil pengamatan sosial semacam itu. pada orang asia terjadi perkembangan otak yang khas, yaitu konvulasi pada otak yang diikuti dengan mengembangnya lapisan dura dan perluasan kranial. hal ini tidak pernah terjadi pada ras kulit putih dan semua pan kaukasoid, ras kulit hitam afrika, dan homo erectus. konvulasi yang terjadi pada otak ras kulit putih dan ras kulit hitam afrika tidak diikuti dengan mengembangnya lapisan dura dan perluasan kranial, sehingga ukuran otak dan densitas sinaptik ras kulit putih dan ras kulit hitam afrika tidak mengalami perubahan yang berarti dari generasi ke generasi kecuali tergantung pada konvulasi tadi. sementara pada orang asia ukuran otak, densitas sinaptik, dan perluasan kranial terjadi peningkatan yang signifikan dan terus-menerus dari generasi ke generasi tanpa ada batasan. perkembangan kepala yg terjadi pada orang-orang asia menuju ke arah fitur lebih neoteni dan pedomorfi. ciri khas perkembangan yang terjadi pada orang asia adalah terjadi perkembangan secara lebih cepat dengan periode waktu yang lebih singkat dibanding orang kulit putih, kulit hitam afrika, dan homo erectus. dari sampel yang diambil dari beberapa pria dewasa menunjukkan ukuran otak orang asia dapat mencapai lebih dari 1700 cc china hunan timur, bandingkan dengan orang2 kulit putih skandinavia yang hanya 1400 cc, dan kulit hitam afrika yang hanya 1300 cc, bahkan beberapa orang ethiopia ditemukan memiliki volume otak hanya 980 cc !. bahkan ada prediksi ekstrim yang mengatakan bahwa di masa depan ras kulit putih dan ras kulit hitam afrika akan punah karena tidak mampu bersaing dengan orang asia (ras mongoloid dan semua pan mongoloid) sebagaimana punahnya ras manusia purba karena tidak mampu bersaing dengan homo sapiens modern.

    • Yg sya maksud orang asia itu adalah china, taiwan, hongkong, korea, jepang, indonesia, malaysia, singapura, bangkok dan sejenisnya, jadi pakistan dan india tidak masuk dalam kategori asia. saya memandang kecerdasan manusia itu dari segi genetik dan riset medis bukan sekedar justifikasi dari hasil pengamatan sosial semacam itu. pada orang asia terjadi perkembangan otak yang khas, yaitu konvulasi pada otak yang diikuti dengan mengembangnya lapisan dura dan perluasan kranial. hal ini tidak pernah terjadi pada ras kulit putih dan semua pan kaukasoid, ras kulit hitam afrika, dan homo erectus. konvulasi yang terjadi pada otak ras kulit putih dan ras kulit hitam afrika tidak diikuti dengan mengembangnya lapisan dura dan perluasan kranial, sehingga ukuran otak dan densitas sinaptik ras kulit putih dan ras kulit hitam afrika tidak mengalami perubahan yang berarti dari generasi ke generasi kecuali tergantung pada konvulasi tadi. sementara pada orang asia ukuran otak, densitas sinaptik, dan perluasan kranial terjadi peningkatan yang signifikan dan terus-menerus dari generasi ke generasi tanpa ada batasan. perkembangan kepala yg terjadi pada orang-orang asia menuju ke arah fitur lebih neoteni dan pedomorfi. ciri khas perkembangan yang terjadi pada orang asia adalah terjadi perkembangan secara lebih cepat dengan periode waktu yang lebih singkat dibanding orang kulit putih, kulit hitam afrika, dan homo erectus. dari sampel yang diambil dari beberapa pria dewasa menunjukkan ukuran otak orang asia dapat mencapai lebih dari 1700 cc di china hunan timur, bandingkan dengan orang2 kulit putih skandinavia yang hanya 1400 cc, dan kulit hitam afrika yang hanya 1300 cc, bahkan beberapa orang ethiopia ditemukan memiliki volume otak hanya 980 cc !. bahkan ada prediksi ekstrim yang mengatakan bahwa di masa depan ras kulit putih dan ras kulit hitam afrika akan punah karena tidak mampu bersaing dengan orang asia (ras mongoloid dan semua pan mongoloid) sebagaimana punahnya ras manusia purba karena tidak mampu bersaing dengan homo sapiens modern. soal tes IQ yang bagi orang kulit putih dapat diselesaikan dalam waktu satu menit, dapat diselesaikan hanya dalam waktu 9 detik oleh orang asia. seandainya china, semenanjung korea, jepang, dan indonesia bersatu seperti amerika dan uni eropa, dan tidak saling berperang seperti saat ini, maka dapat dipastikan asia timur akan menjadi raksasa. ekonomi masing-masing akan berkembang jauh lebih cepat daripada saat ini, dana untuk riset sains dan teknologi tidak ada hambatan. anda bisa melihat walaupun china dihadapkan pada banyak masalah dalam negeri tapi sangat produktif mencetak ilmuwan-ilmuwan jenius dalam segala bidang. walaupun saat ini negara2 asia masih berjuang sendiri-sendiri toh mereka mampu mengungguli negara2 barat dan mampu membuat perusahaan2 multinasional negara2 barat nyaris bangkrut.

      ——-

      Electronium yth,

      Terlepas setuju atau tidak setuju, opini anda memotret sebuah sudut pandang yang menarik. Terima kasih untuk sharingnya.

      Salam hangat dan Semoga Sukses

      Ferizal Ramli

      • Saya sangat berharap juga bahwa bangsa Asia menjadi bangsa unggulan dimasa mendatang, dengan keunggulan fisiologis dari otak kita.

        Sayangnya sebagaimana dulu bangsa putih unggul karena kehebatan mereka dalam strategi politik/Ekonomi, militer dan eksplorasi maritim, sekarang bangsa putih masih unggul dalam strategi politik/ekonomi, militer dan EKSPLORASI LUAR ANGKASA.

        Saya yakin bahwa bangsa yang pertama kali mendirikan koloni di luar angkasa adalah yg akan menjadi bangsa pemenang yang mengungguli bangsa-bangsa lain.

        Saya berharap semoga itu adalah orang-orang Asia termasuk Indonesia dengan kapasitas otak kita yang luar biasa..

        ——-
        Pembelajar yth,

        Setiap bangsa mempunyai peluang untuk menjadi yang terbaik. Penguasaan Teknologi Luar angkasa, Bioteknologi, Energi dan Materi adalah titik-titik krusial yang membuat sebuah peradaban bisa meloncat maju ke depan.

        Salam hangat dan Semoga Sukses

        Ferizal Ramli

  75. kalau untuk S2 jurusan ilmu sejarah ada tidak yg menerima di jerman?

    ——–
    Julkifli yth,

    Pasti lah ada jurusan sejarah di Jerman malah amat lengkap dengan kekhususan tertentu sesuai minat anda.

    Salam hangat dan Semoga Sukses

    Ferizal Ramli

  76. Pak saya mau nanya, jika ingin lanjut program S3, prasyaratnya nilai akeademik S1 atau S2 yang jadi bahan pertimbanganan? mengingat nilai akedemik S1 kurang pede untuk melamar ke luar negeri (jerman).
    Terimakasih…

    ——–

    Arry yth,

    Syarat yang menjadi pertimbangan untuk Study S3:

    1. Proposal anda yang baik dan menarik (ini paling utama)
    2. CV anda yang punya jejak rekam baik
    3. Nilai anda
    4. Kemampuan Bahasa anda
    5. Cara anda approach ke calon Professor pembimbing.

    Jika ada Professor pembimbing yang tertarik bimbing anda maka anda akan mendapatkan surat kesediaan si Professor bimbing anda. Ini berarti tiket anda untuk sekolah ke Jerman.

    Salam hangat dan Semoga Sukses

    Ferizal Ramli

  77. Selamat Malam pak
    Perkenalkan saya chalik dari jakarta, saat ini saya sedang melanjutkan study S2 Magisterm Manajemen di Universitas Trisakti Jakarta. Insya Allah setelah selesai study saya di akhir tahun 2015 saya ingin melanjutkan study S3 saya dijerman. Cuma saya bingung mengenai informasi study manajemen untuk program S3 dijerman yang bagus dimana ya pak???? soalnya banyak yang bilang kalau study manajemen itu gak bagus, malah yang bagus katanya untuk sains. apakah benar demikian? sekiranya bisa infokan untuk ilmu manajemen S3 di jerman yang bagus di universitas mana ya pak???

    Terima kasih

    Salam,
    Khalik

    XXXXXXX

    Salam Khalik,

    Jika sudut pandang bagusnya adalah standardnya majalah seperti rangking Business School seperti The Economist atau The Financial Times maka Jerman tidak maju dalam ilmu manajemen.
    Jika sudut pandang bagusnya adalah Perusahaan Jerman yang berhasil menjadi MNC, Negara Eksportir terbesar di Dunia (Cuma kalah dalam 2 tahun terakhir oleh produk murah Cina), Hasil Produksinya kualitas tinggi maka itu pasti hasil dari pendidikan manajemen yang bagus.

    Tinggal sudut pandang mana yang anda ingin gunakan. Cuma untuk diingat Jerman tidak pernah menggunakan Metode Marketing untuk Branding Pendidikan Tingginya. Jika bidang Sains dan Engineering Jerman terlihat dominan karena negara lain berperilaku sama, untuk bidang ini negara lain tidak lakukan Marketing. Jadilah kualitas Jerman menonjol.

    KLo bidang Business Negara lain keluarkan dana yang tidak kecil untuk Marketing dan Branding. Sementara Pendidikan Jerman dalam bidang apapun tidak pernah Branding. Jadilah, seakan pendidikan manajemen di Jerman jarang dibicarakan.

    Salam hangat dan semoga sukses,

    Ferizal Ramli

  78. Pak Ferizal, sedikit info dr saya: Bayern dan Baden-Württemberg saat ini juga sudah bebas uang kuliah (Studienbeitrag). Dng demikian, berarti skrg pendidikan tinggi di seluruh Jerman sudah gratis. Satu lg, tdk semua mahasiswa S3 di Jerman itu digaji. Saya contohnya, ‘cuma’ difasilitasi satu ruang pribadi lengkap dng komputer dan printer. Tapi mungkin sisi positifnya, supervisor saya pun jadinya tdk terlalu mem-pressure saya, walaupun studi saya yg dimulai sejak akhir 2011 progres-nya sudah agak melambat 😀 Salam dari Regensburg, tanah Bavaria yg sedang dingin.

    XXXXXXX

    Salam Juanda,

    Mahasiswa S3 mestinya digaji. Bisa juga tidak digaji itu karena mungkin tidak mememuhi kualifikasi yang ditetapkan atau nasibnya amat sial atau karena memang dia tidak ingin digaji. Dikarenakan dia memilih program Doktoral Eksternal dimana dia mendapatkan financial resources dari pihak lain, bekerja di tempat lain. Digaji ambil Doktoral itu kan prinsip bekerja untuk kepentingan Univ. Jika anda bekerja untuk kepentingan lainnya yah anda tidak digaji saat ambil doktoral.

    Benar BW dan Bayern gratis. Tulisan saya itu dibuat beberapa tahun lalu dan dalam berbagai komentar sudah saya tulis bahwa BW dan Bayern kembali gratis.

    Salam hangat

    Ferizal ramli

    • Betul sekali pak. Mahasiswa program doktoral eksternal spt saya memang tdk digaji, krn sumber pendanaannya berasal dr luar universitas. Biasanya yg digaji itu adalah wissenschaftliche/r Mitarbeiter/in yg merangkap menjadi mahasiswa doktoral, jadi sebenarnya mereka digaji sbg staf universitas, bukan sbg mahasiswa. Selain itu, mahasiswa program structured PhD (PhD model Anglo-Saxon) setahu saya juga tdk digaji.

      XXXXXXX

      Bedanya Antara ambil Doktor di Jerman dan di Anglo-Saxon:
      1. Di Univ Jerman anda ndak perlu bayar 30.000 – 40.000 Euro untuk bayar kuliah Doktor anda.
      2. Di Uni Jerman menjadi Wissenschaftlicher Mitarbeiter itu banyak peluangnya jika mau melamar sehingga Kasus yang punya persoalan finansial itu sebenarnya bisa diatasi karena financial resources-nya banyak untuk diakses. Andaikan pun anda kerja diluar Uni maka ijin visa kerja anda cukup untuk biayai hidup anda.

      Itu dua beda yang amat signifikan yang saya bingung kalau dipaksakan sama.

      Pada Kasus anda, saya amat bingung jika anda bisa TIDAK dapat apa2 dalam ngambil Doktor di Jerman apalagi jika sampai kerja (maaf istilah anak bachelor-nya) “NGULI” di Restaurant misalkan atau kerja Kuli lainnya. Mesti ada yang salah entah di bagian mana sehingga jalan “pembantaian” itu diambil untuk Level mahasiswa Doktoral padahal peluang jadi Wissenschaftlicher Mitarbeiter begitu terbuka. Serius saya bingung. Bisa anda sharing apa yang terjadi?

      Saya ingin tahu apa yang terjadi karena saya khawatir contoh anda akan membuat misleading seakan Para Doktal di Jerman mayoritas seperti anda; tidak digaji oleh Univ-nya, tidak dapat bea siswa sehingga harus kerja kuli. Kalau yang saya tahu, kesan yang seperti anda dengan cari uang biaya sendiri itu langka. Umumnya mereka dapat bea siswa atau dapat kerja sebagai Wissenschaftlicher Mitarbeiter atau kerja di Perusahaan.

      Salam hangat,

      • Begini Pak, seperti yg saya utarakan di atas, saya mendapat sumber pendanaan dari luar universitas, dalam hal ini dlm bentuk beasiswa dari pemerintah provinsi Aceh. Saya tdk sampai nguli kok utk memenuhi kebutuhan hidup saya, krn saya tdk memiliki tanggungan siapapun kecuali saya sendiri di sini. Dan salah satu faktor yg saya kira membuat supervisor saya bersedia membimbing penelitian saya adlh faktor sumber pendanaan eksternal ini, krn saya hanya meminta beliau utk menjadi pembimbing penelitian saya, tdk meminta utk menjadi wissenschaftlicher Mitarbeiter pd departemen yg beliau pimpin (lagipula saat itu memang seingat saya tdk ada lowongan utk itu). Demikian, smg dng ini persoalannya menjadi jelas.

        XXXXXXX

        Sdr Juanda yth,

        Iya penjelasan anda membuat semuanya jelas terang benderang.

        Andaikan saat anda membuat negasi bahwa tidak semua orang dapat gaji kuliah Doktor di Jerman berkaca pada kasus anda, disertai dengan penjelasan anda sudah dapat bea siswa itu dinyatakan secara jelas. Atau pada kasus lain seperti pada saya pribadi tidak dapat gaji dari Universitas tapi bekerja sebagai Ekspatriat, maka tentu saja tidak perlu gaji dari Univ Saat ambil Doktor. Untuk apa lagi gaji dari Uni?

        Akibatnya, saat anda membuat NEGASI atas kalimat saya “ambil Doktor di Jerman itu bukan cuma gratis tapi digaji”, tidak akan membuat misleading.

        Apalagi anda tambah2 dengan pernyataan bahwa di Anglo-Saxon juga sama, maka benar2 pernyataan anda membuat makna yang salah dengan pembaca tentang Doktor di Jerman seakan:

        1. Kuliah Doktor di Jerman itu berbiaya Antara 20.000 – 40.000 seperti Anglo-Saxon
        2. Kuliah Doktor di Jerman harus biaya sendiri.

        Ini misledaing yang fatal dan tidak sesuai kenyataan bahkan dengan kenyataan anda sendiri yang buat pernyataan pun, pernyataan anda ternyata tidak sesuai. Jadi, itu sebabnya saya perlu tegas menyatakan bahwa Statement anda sebelumnya amat misleading tanpa tende aling-aling saya nyatakan. Dikarenakan pernyataan anda memang TIDAK BENAR dan amat mengganggu.

        Tapi terima kasih anda akhirnya memberikan penjelasan amat transparan: anda itu pemegang bea siswa sehingga memang tidak pantas jika harus dapat gaji lagi dari Uni Saat ambil Doktor. Itu pointnya kenapa anda tidak dapat gaji 🙂

        Salam hangat,

        Ferizal Ramli

  79. Mhn maaf bila pernyataan saya seblmnya menimbulkan misleading. Sebenarnya seandainya Bapak tdk hanya mengatakan “Bahkan untuk Program S-3 malah anda digaji!”, namun ditambah dng kalimat semisal “kecuali jika Anda memiliki sumber pendanaan sendiri utk kuliah S3 Anda” tentu saya tdk akan salah dlm memahami informasi yg Bapak sampaikan tsb. Tapi ya sudahlah, yg penting sekarang persoalannya sudah terang-benderang 🙂
    Selain itu saya ingin meluruskan bhw saya tdk pernah menyatakan bhw kuliah S3 di negara2 Anglo-Saxon sama dng kuliah S3 di Jerman. Yg saya maksud dng program structured PhD pd komentar saya di atas adlh program structured PhD di Jerman yg modelnya mirip dng PhD model Anglo-Saxon. Bahkan ada universitas di Jerman yg meminta GRE sbg salah satu syarat pendaftaran program ini, yg mana GRE ini lazim menjadi syarat pendaftaran utk universitas2 di AS. Saya dulu seblm diterima di universitas tempat saya studi sekarang ini juga sempat melamar ke tiga universitas di Jerman yg menawarkan program ini, dan seingat saya tdk ada iming2 bhw mahasiswa program tsb akan digaji. Demikian, smg maksud pernyataan saya menjadi semakin jelas 🙂

  80. Sya mhasiswi prodi bahasa jerman di salah satu univ negri di Indonesia pak. Menurut bapak ketika saya lulus bisakah langsung mendaftar s2 di jerman dengan fokus study germanistik atau saya harus bekerja dulu di indonesia ataupun di jerman sebagai Aupair atau Pekerja sosial itu pak?

    XXXXXXX

    Atika,
    Bisa, anda bisa langsung daftar ambil S2. Kerja itu adalah kondisi ideal saja. Masih banyak Univ Jerman yang menerima tanpa ada pengalaman kerja.

    Semoga sukses selalu

    Ferizal Ramli

  81. Terima kasih atas tulisan yang sangat meninspirasi dan penuh semangat Pak.

    Saya Alumni FISIP UI angkatan 2009.
    Saya pernah berdiskusi dengan teman-teman kampus, kesimpulannya sederhana: “kalau mau kuliah di Jerman, harusnya lo anak Teknik bukan Sosial (red. FISIP).”

    Saya langsung ke topik pertanyaan:

    1. Jika memang s2 di Jerman ‘nyaris’ tidak ada beasiswa.
    Apakah ketika sampai di jerman kita bisa mendapatkan ‘beasiswa’ untuk living cost nya selain dengan bekerja (karena harus fokus kuliah)? — sedangkan financial resources saya sangat minim, atau boleh dikatakan modal niat dan tekad mau sekolah saja yang ada, selain itu s1 saya juga program beasiswa.

    2. Untuk master ini saya berencana akan mengambil disiplin ilmu (tourism management, development or marketing) yang sama sekali tidak linear dengan disiplin ilmu s1 saya (sosiologi). Hanya saja ini sangat linear dengan minat dan passion saya di dunia pariwisata, saya sendiri sudah sertifikasi dinas pariwisata untuk Tour Guide and Tour Leader sejak 2010.
    Adakah saran bapak untuk FH yang memiliki jurusan tersebut tanpa mengharuskan mahasiswanya dari disiplin ilmu tourism?

    Demikian pertanyaan saya, mohon bantuan sarannya dan terima kasih atas perhatian dan dukungannya.

    Salam, Arsiya.

  82. Salam Pak Ferizal,

    Saya sependapat bahwa ranking tdk bisa secara mutlak dijadikan sbg indikator bhw kualitas suatu universitas lbh baik/buruk ketimbang universitas lain. Tapi yg disayangkan, ada satu lembaga pemerintah pemberi beasiswa yg mensyaratkan universitas yg dituju oleh penerima beasiswa harus universitas yg termasuk Top 200 dlm ranking yg populer, atau jurusannya termasuk jurusan yg berada pd range ranking yg tinggi. Lembaga ini sangat tinggi tingkat selektivitasnya, jadi bisa dijamin bhw para penerima beasiswanya (setidaknya sebagian besar) adlh putra-putri terbaik bangsa. Jadi sangat disayangkan bila penempatan studi mereka terkonsentrasi pd universitas2 di negara2 Anglo-Saxon, mengingat ranking2 universitas sangat ramah thd universitas2 dari negara2 tsb dan krg ramah thd universitas2 dari negara2 lain, termasuk Jerman.

    Xxxxxxxxxxxxx

    Mas Juanda yth,

    Saya melihat sangat mungkin itu kebijakan yang disengaja karena di para pemegang keputusan di lembaga tsb adalah para agen dan kader dari pperguruan tinggi dan afiliasinya.

    Jadi, dg bea siswa yang by desgin disadari pasti akan ke PT yang sealiran mahzab berpikir para petinggi negara tsb maka itu bentuk kaderisasi sesama mahzab pemikirannya.

    Ini hipotesis saya tentang kasus diatas.

    Salam hangat

    Ferizal Ramli

    • Hipotesis yg masuk akal Pak Ferizal.
      Saya sudah melihat daftar perguruan tinggi luar negeri tujuan beasiswa tersebut, dan hanya 25 universitas Jerman yg termasuk di dalamnya (tanpa ada satupun Fachhochschule ataupun lembaga penelitian). Saya pikir mungkin ada baiknya dari pihak PAJ (Persatuan Alumni Jerman) dan IASI beraudiensi dng para pemegang keputusan lembaga tsb utk memberikan pencerahan bhw kualitas lembaga pendidikan tinggi di Jerman itu hanya ada dua: bagus dan bagus sekali. Sehingga kebijakan hanya membatasi 25 universitas Jerman saja merupakan suatu blunder besar. Coba Anda bayangkan, berapa besar potensi uang negara yg bisa “diselamatkan” kalau seandainya seluruh lembaga pendidikan tinggi dan lembaga riset di Jerman yg terakreditasi oleh pemerintah Jerman masuk ke dlm daftar yg saya sebutkan di atas!
      Berikut link daftar perguruan tinggi luar negeri yg saya maksud.
      http://www.lpdp.depkeu.go.id/wp-content/uploads/2014/04/Daftar-Perguruan-Tinggi-Tujuan-Beasiswa-LPDP.pdf

  83. Ping-balik: rendisukirman

  84. Terimakasih pak atas informasinya yg sngat bermanfaat ini :). Saya anggi angelina. Saya sekarang sedang kuliah di universitas jambi semester 6, dan sedang mencari informasi beasiswa keluar negri yg full tanpa biaya dengan kemampuan saya. Saya tau dari informasi bapak bahwa beasiswa ke jerman untuk S2 sngtlah sedikit. Tapi saya sangat ingin menjadi salah satu dari yang sedikit itu. Jika bapak tidak keberatan, bisakah bapak membimbing saya untuk mencapai keinginan saya ini?
    Terimakasih pak atas waktu luangnya untuk membaca permintaan dari saya. Semoga saya mendapatkan kesempatan pertimbangan dari bapak.

  85. salam , saya mau tanya saya mahasiswa smt 2 teknik industri , sedang mencari info beasiswa s2 di jerman . Agar dapat mempersiapkan diri , ada kah saran anda untuk saya ini ? Terimakasih

  86. Pak Ferizal yang terhormat, saya Alif Akbar Pranata dari Surabaya.
    Pak sekitar sebulan lalu saya mendapat LoA unconditional dari the University of Goettingen untuk melanjutkan kuliah S2 disana. Mulai kuliahnya 1 Oktober 2015.
    Saat ini saya masih belum lulus sarjana. Saya mahasiswa semester 8 dan rencana lulus bulan September 2015. Saya ingin mencari sponsor beasiswa yang bisa memfasilitasi biaya hidup saya selama tinggal di Goettingen. Karena untuk mengajukan visa, saya harus menyerahkan jaminan rekening orang tua, dan itu kemungkinan belum bisa saya lakukan jika saya tidak bisa mendapat sponsor/beasiswa.
    Saya mohon referensi dari Pak Ferizal, sekiranya Bapak bisa memberikan solusi atas persyaratan pengajuan visa saya sekaligus tahu lembaga yang bisa memfasilitasi biaya hidup disana.
    Terima kasih.

    XXXXXXX

    Mas Alif,

    Bea siswa S2 cuma bisa anda dapatkan dari DAAD atau dari Bidikmisi. Diluar itu sulit dapat bea siswa.
    Untuk anda ketahui institusi pemberi bea siswa untuk level S2 itu amat sedikit.

    Solusi pengajuan Visa yah memenuhi persyaratan visa dan tidak bisa disiati kecuali mampu memenuhi persyaratan itu. Juga tidak ada yang memfasilitasi biaya seseorang kecuali dapat bea siswa. Jadi saran saya: anda ke DAAD atau ke Bidikmisi Dikti untuk tanya bea siswa atau yah dengan menggunakan biaya berdasarkan swadaya sendiri.

    Salam hangat

    Ferizal

  87. Asslamu’allaikum wr wb
    saya dian anom s dari mojokerto… apakah ada beasiswa kusus pendidikan agama Islam di jerman bpk.. kalau ada mohon bantuannya terkait masalah ling beasiswa kusus s2 d jerman pak..
    trimaksi…

    XXXXXXX

    Program S2 jarang sekali mendapatkan bea siswa. Jika ingin mencari bea siswa silahkan lihat website DAAD atau ke Dikti cari bea siswa Bidikmisi.

    Salam

    Ferizal

  88. Assalamu’alaikum wr wb…
    Saya berniat melanjutkan study S-2 saya d luar negeri. Jerman adalah salah satu negara tujuan saya.
    Hanya saja saya tidak tahu jurusan apa yang cocok untuk saya.

    Saat ini saya sedang, menjalani pendidikan S-1 saya di jurusan kimia dengan program study Pendidikan Kimia…..

    Mohon arahan dan bimbingan bapak.

    XXXXXXXX

    Yang tahu jurusan apa yang harus anda ambil harus anda sendiri. Anda berada dalam umur sekitar 20 tahun, bukan lulus SMA dan sudah kuliah S1. Jadi, anda dalam posisi harus tahu apa yang terbaik buat masa depan anda.

    Nah untuk tahu jurusan yang yang terbaik untuk anda pertama yang anda lakukan:
    1. Cari tahu bidang minat jurusan yang sesuai dengan latar belakang anda: bisa ambil Pendidikan Kimia, Kimia Murni, Teknik Kimia, Bio-Kimia, Bio Teknologi, dll. Lalu anda lihat prasyarat di Universitasnya apakah latar belakang S1 bisa melanjutkan ke bidang yang anda ingin lamar.

    2. Untuk melakukan semua itu anda harus riset ke Website setiap Universitas yang menawarkan bidang tadi. Caranya gunakan Cockpit Universitas di Jerman ini: http://www.hochschulkompass.de

    Semoga sukses
    Salam

    Ferizal

  89. pak saya baru lulus SMA tahun ini. saat ini saya terdaftar sebagai mahasiswa di salah satu ptn. biaya pendidikan saya mahal, apakah bisa lulusan SMA melanjutkan studi di jerman s1 jurusan film? dan bagaimana agar bisa kuliah gratis di jerman?

    XXXXXXX

    Bisa melanjutkan S1 di Jerman ambil jurusan Film. Yang perlu anda perhatikan bahwa anda harus lulus Studkol dan syarat untuk bisa daftar Studkol harus lulus Ujian B. Jerman B2. Artinya, untuk semua itu anda keluarkan biaya yang tidak kecil. Itu pun anda belum tentu diterima di Jerman. Jika tidak diterima maka anda harus kembali lagi ke Indonesia tanpa gelar dan harus mulai dari NOL lagi.

    Jadi, saran saya selesaikan S1 anda di Indonesia. Ambil S2-nya baru di Jerman.

    Salam

    Ferizal Ramli

  90. Kak/pak, beberapa bulan belakangan ini keinginan saya untuk studi lanjut jenjang S2 keluar negeri muncul. Namun ada beberapa ketakutan saya yg mungkin dapat dikatakan ketidak beranian saya untuk melangkah ke sana. Seperti, takut tidak bisa ini dan itu, tidak punya bekal atau pengalaman ini itu, takut tidak mampu mencapai itu, dll. Benar benar saya merasa nol. Mungkin juga benar benar merasa sebagai mahasiswa kupu kupu (kuliah pulang,kuliah pulang). Tapi saya bener bener pengen merasakan mencapai impian saya yg satu ini. Melanjutkan S2 program komunikasi ke luar negeri. Tapi belum ada yg bisa atau mungkin saya blm menemukan teman yg bisa saya ajak untuk sharing mengenai impian saya ini. kalau boleh, apakah kak/pak ferizal ramli berkenan untuk sharing dg saya? Dan adakah info mengenai beasiswa s2 komunikasi di jerman? Terimakasih.

    XXXXXXX

    Semua tentang sharing cerita apapun saya sudah tulis di Blog saya. Semoga saja bermanfaat.
    Bea siswa S2 di Jerman amat sedikit dan bisa anda lihat di webiste DAAD.

    Semoga sukses

  91. pak,apakah bahasa inggris juga penting saat kuliah dijarman? kalau saya ingin mengambil jurusan kedokteran, bahasa apakah yang digunakan saat belajar dikelas?

    XXXXXXX

    Jika anda ambil Program Bachelor maka anda pakai B. Jerman. Jika ambil Master boleh pilih pakai program B. Inggris, boleh juga pilih B. Jerman.
    Kalau Fakultas Kedokteran biasanya B. Jerman.

    Salam Hangat

    Ferizal Ramli

  92. assalamualaikum wr,wr.
    bapak saya masih sekolah dibangku kelas 3 smk sekarang dan saya tertarik untuk melanjut kuliah di jerman,tetapi saya belum punya banyak modal contoh nya saja dalam berbahasa khusus nya B.Inggris saya tidak terlalu pintar untuk itu,saya takut kelak untuk berbahasa saya akan kesusahan untuk awal nya,,
    mohoon saran nya pak,,,

    wasalam

    XXXXXXX

    Bahasa itu mutlak harus dikuasai sampai level amat baik. Tanpa penguasa bahasa yang baik maka tidak mungkin bisa diterima apalagi bisa lulus.
    Saran saya lebih realistis kuliahlah di Indonesia untuk S1-nya. Lalu saat kuliah persiapkan sebaik mungkin semuanya sehingga ada kesempatan untuk bisa kuliah ke LN.

    Tentang cara belajar B. Asing sudah saya tulis di Blog ini. Silahkan untuk dilihat2 artikel belajar B. ASing.

    Semoga sukses dan salam hangat

    Ferizal Ramli

  93. apa harus menguasai bahasa jerman ? atau bisa berbekal bahasa inggris ?
    apa ada universitas di jerman yang menawarkan beasiswa untuk lulusan Diploma IV Keperawatan yang ingin melanjutkan S2 ?

    XXXXXXX

    Jeng Nurul,

    1. Untuk Program S2 banyak universitas yang menawarkan program kuliahnya dalam B. Inggris.
    2. Bea siswa biasanya untuk level S2 dari DAAD. Silahkan untuk menghubungi DAAD.

    Salam hangat

    Ferizal Ramli

  94. Assalamualaikum kak/pak, saya sekarang kuliah semester akhir di jurusan Desain Komunikasi Visual (jenjang S1) di sebuah Universitas di kota Palembang, dulu pas SMK saya tertarik untuk kuliah desain di Jerman lewat jalur beasiswa namun karena dulu kurang giat menggali informasi akhirnya keinginan saya pun kandas. nah saya rencananya lulus nanti mau lanjut S2 Jerman atau kuliah S1 lagi jurusan Desain Produk lewat jalur beasiswa sambil kerja part time atau freelance disana. yang mau saya tanyakan :

    1. kalo menurut akreditasi jurusan saya akreditasinya masih C dan kampus akreditasinya A. Apakah akreditasi kampus atau jurusan itu berpengaruh kalau saya mau daftar beasiswa s2 ?

    2. adakah batas usia kalo saya mau daftar beasiswa S1? karena Juli tahun ini umur saya sudah menginjak 23 tahun dan Inshaallah akan wisuda akhir tahun nanti.

    terima kasih pak sebelumnya, salam hangat

  95. Assalamualaikum kak/pak, saya sekarang kuliah semester akhir di jurusan Desain Komunikasi Visual (jenjang S1) di sebuah Universitas di kota Palembang, dulu pas SMK saya tertarik untuk kuliah desain di Jerman lewat jalur beasiswa namun karena dulu kurang giat menggali informasi akhirnya keinginan saya pun kandas. nah saya rencananya lulus nanti mau lanjut S2 Jerman atau kuliah S1 lagi jurusan Desain Produk lewat jalur beasiswa sambil kerja part time atau freelance disana. yang mau saya tanyakan :

    1. kalo menurut akreditasi jurusan saya akreditasinya masih C dan kampus akreditasinya A. Apakah akreditasi kampus atau jurusan itu berpengaruh kalau saya mau daftar beasiswa s2 ?

    2. adakah batas usia kalo saya mau daftar beasiswa S1? karena Juli tahun ini umur saya sudah menginjak 23 tahun dan Inshaallah akan wisuda akhir tahun nanti.

    terima kasih pak sebelumnya, salam hangat dari Palembang 😀

  96. Ralat pertanyaan saya sebelumnya nih pak yang nanyain beasiswa :D, maaf pak saya belum baca-baca post yang lain ternyata rata-rata biayanya gratis yaa di Jerman.. oke langsung aja ;Ralat pertanyaan saya sebelumnya nih pak yang nanyain beasiswa :D, maaf pak saya belum baca-baca post yang lain ternyata rata-rata biayanya gratis yaa di Jerman.. oke langsung aja ;

    Assalamualaikum kak/pak, saya sekarang kuliah semester akhir di jurusan Desain Komunikasi Visual (jenjang S1) di sebuah Universitas di kota Palembang, dulu pas SMK saya tertarik untuk kuliah desain di Jerman lewat jalur beasiswa namun karena dulu kurang giat menggali informasi akhirnya keinginan saya pun kandas.

    nah saya rencananya lulus nanti mau lanjut S2 Desain/Seni Rupa atau kuliah S1 lagi jurusan Desain Produk atau kuliah DKV lagi (karena tanya-tanya sama orang standar pendidikan desain di Indonesia dan di luar negeri terlebih Jerman itu beda jauh) sambil kerja part time atau jadi freelance designer disana. yang mau saya tanyakan :

    1. kalo menurut akreditasi, jurusan saya akreditasinya masih C dan kampus akreditasinya B. Apakah akreditasi kampus atau jurusan itu berpengaruh kalau saya mau daftar s2 ?

    2. adakah batas usia kalo saya mau daftar S1? karena Juli tahun ini umur saya sudah menginjak 23 tahun dan Inshaallah akan wisuda S1 akhir tahun nanti.

    3. kota mana di Jerman yang suasananya paling pas buat saya mempelajari Seni Rupa dan Desain? semacam Jogja atau Bandungnya Jerman lah.. hehe

    terima kasih pak sebelumnya, salam hangat dari Palembang 😀

    XXXXXXX

    Aslm Wr Wb sdr/i Appaxa,

    1. Setiap Universitas di Jerman punya aturan sendiri. Jadi, ndak usah terlalu pusing tentang hal itu. Daftar saja ke semua Univ yang menawarkan jurusan yang anda inginkan. Masak ndak ada yang diterima kalau anda daftar 30 Uni misalkan? 🙂
    Jadi, ndak usah pikirkan tentang akreditasi, segera penuhi persyaratannya lalu daftar. Sudah ndak usah terlalu risau…

    2. Tidak ada batasan untuk sekolah S1, S2 dan S3.

    3. Kota Berlin, Hamburg, Köln dan München itu kota besar yang bagus. Tapi kota seni, kota pelajar itu Heidelberg.

    Salam Hangat,

    Ferizal Ramli

  97. Maaf saya mau nana kalau misalnya mau S2 di jerman tanpa beasiswa. Kira-kira total biaya nya berapa ya? Hanya biaya pendidikan bukan akomodasi

    XXXXXXX

    Mbak Indri,

    Biaya Pendidikan GRATIS. Paling hanya bayar Administrasi 40-80 Euro per semester. Jika pun anda harus bayar 300 Euro per semester misalkan, berarti anda dapat Semester Tiket yang artinya dengan kartu mahasiswa anda maka anda bisa naik transportasi umum di dalam kota gratis.

    Tapi jika anda ambil MBA dalam B. Inggris maka ada biaya kuliah. Itu tergantung Univ masing2 yang biasanya antara 10.000 sd 20.000 Euro untuk full program.

    Saran saya ambil jangan Program MBA jika ingin yang gratis.

    Salam Hangat

    Ferizal

  98. Terimakasih atas sharing dan informasinya 😊😊 Sangat memotivasi haha

    Sebenarnya saya sedang dalam masa ke-galau-an mengenai pilihan studi yang akan saya tempuh di Jerman. Apakah akan melanjutkan studi s-3 (karena saat ini saya sedang menpuh s-2 di Indonesia) atau akan kembali mengambil studi s-2 dengan penjurusan yang berbeda. Saat ini saya sedang menempuh Magister Akuntansi, dan kalaupun mengambil kembali s-2 di Jerman saya ingin mengambil jurusan yang lain, misalnya MBA.

    Yang ingin saya tanyakan : Apakah bagi lulusan s-3 Jerman yang ingin bekerja di Jerman hanya peluang kerja sebagai akademisi saja yang terbuka ? Ataukah lulusan s-3 Jerman juga bisa berkarir di perusahaan ?

    Salam, Giovania.

    XXXXX

    Saran saya ambil S3 langsung saja di Jerman. Jika nilainya baik dan beruntung bisa kerja disini bisa sebagai Praktisi atau Dosen.

    Semoga sukses dan salam hangat

    Ferizal Ramli
    Terimakasih sekali atas jawabannya.

  99. assalamualaikum pak saya mau tanya sedikit tentang universitas di jerman
    sekarang saya sedang galau untuk mencari universitas di jerman yang ada program ilmu ekonomi ya yang khususnya program s2 yang terapan

    yang ingin saya tanyakan universitas yang menurut bapak recomended di jerman buat program studi ilmu ekonomi ?
    dan apakah dijerman terdapat program s2 terapan yang bebas dari tesis hanya teori
    terima kasih 🙂 🙂

    XXXXX

    Mbak Mega,

    Saya tidak merekomendasikan Universitas apapun. Semuanya kualitasnya sama. Tinggal anda cari saja yang paling pas mata pelajarannya buat anda. Selanjutnya sana ndak paham apa yang dimaksud dengan S2 terapan bidang Ekonomi? Tolong jelaskan secara detail maksudnya sehingga nanti bisa saya sarankan apakah masuk ke FH atau masuk ke Univ.

    Salam

    Ferizal

  100. Selamat malam pak. Pak saya mau tanya, saat ini saya kuliah dengan strata Diploma 3. Rencananya mau melanjutkan lagi studi ke jenjang yang lebih tinggi. Di Jerman, apa ada universitas dengan beasiswa yang menerima Diploma 3 untuk ke S1? Lalu, di Jerman juga apa bisa lulusan D4 di sini mengambil beasiswa S2? Terima kasih, mohon balasanny 🙂

    XXXXX

    Salam juga…

    1. Dari D3 tidak bisa ambil S1. Jadi harus ngulang lagi dari awal. Saran saya selesaikan D4 atau S1-ya di Indonesia.
    2. Bea siswa untuk Bachelor di Jerman tidak ada.
    3. Bea siswa S2 ada yang nyediakan DAAD silahkan untuk cek ke website DAAD. Hanya saja peluang dapat bea siswa amat sulit karena tidak banyak tawaran bea siswa untuk S2.

    Semoga sukses

  101. selamat siang, saya sangat tertarik untuk melanjutakn studi s3 saya di jerman,kompetensi saya bidang ilmu komunikasi dan linier. kira2 menurut pandangan bapak..apa yg hrs saya lakukan atau prosedur apa yg hrs disiapkan terimaksih

    XXXXX

    Hallo Bambang,

    Secara umum yang harus anda persiapkan adalah draft rancangan penelitian sekitar 2 lembar saja, CV dan dokumen terkait lamaran.
    Kemudian cari Professor pembimbing yang cocok dengan bidang kompetensi anda. Silahkan carinya disini: http://www.hochschulkompass.de
    Jika ketemu Prof yang dianggap cocok yah di-approach melalui email agar ybs mau memberikan LoA. Sudah jadilan anda kuliah di Jerman

    Salam

    Ferizal Ramli

  102. assalamualaikum, pak ferizal ramli. saya mahasiswi di salah satu perguruan tinggi negeri di indonesia. sekarang saya sedang mengambil S1 jurusan keperawatan. saya sudah search tentang universitas-universitas di jerman yang menyediakan program S2 untuk keperawatan hanya saja yang sering muncul itu hanyalah program S2 bisnis. kalau boleh saya mau minta saranya, kira2 setahu pak ferizal, universitas apa saja dijerman yang menyediakan program S2 untuk keperawatan. mohon responnya pak 🙂 wassalamualaikum

    XXXXX

    Hallo Hilwa,

    Untuk anda ketahui keperawatan itu umumnya bukan jenjang akademis tapi jenjang prakter kerja atau yang di kenal Ausbildung. Anda tidak bisa ambil Ausbildung di Jerman.
    Tapi tetap ada yang Keperawatan seperti “Pflege” di HAW Hamburg https://www.haw-hamburg.de/studium/studiengaenge/studiengaenge-nach-fakultaet.html
    Hanya umumnya kalau carinya misalkan: Health Science, Public Helath atau manajemen kesehatan lebih banyak lagi tawarannya. Silahkan Kamu coba searching disini: http://www.hochschulkompass.de

    Semoga sukses

    Salam

    Ferizal

  103. Assalamualaikum bapak,,,

    saya Mahasiswa Pascasarjana UM, background saya S1 Pend. teknik Mesin dan sekarang S2 pend Kejuruan smster 4. Adakah info buat saya bapak jika saya mau melanjutkan studi di Jerman, berdasarkan study yang linier dengan saya di sana, dan bagaimana sistem pendidikannya? serta bagaimana prospek kedepannya di bidang saya. terimakasih.

    XXXXX

    Hallo,

    Seinhgat saya semua info tentang study di Jerman yang saya ketahui telah saya tulis di Blog saya ini: https://ferizalramli.wordpress.com/category/b-iasi-ikatan-ahli-sarjana-indonesia-jerman/b-2-informasi-seputar-studi-di-jerman/

    Salam Hangat

    FR

  104. Salam sejahtera Bapak
    Pertama-tama saya hendak memperkenalkan diri terlebih dahulu,nama saya DjunMing lulusan S1 dari background Software Engineering. Saya sudah membaca blog yg bapak tertulis,isi nya sangatlah lengkap apalgi untuk orang awam seperti saya yang hendak melanjutkan study lanjut S2 ke jerman. Saya ingin minta bertanya beberapa pertanyaan dan meminta pendapat dari Bapak Ferizal,diantara nya adalah:

    1. Jurusan Bisnis konsulting selain di FH Furtwangen ada di mana lagi ya pak,soalnya saya sangat tertarik mengenai pembeljaran SAP yg tentu nya masih ada hubungan dengan jurusan saya sebelum nya? Saya sudah melakukan sedikit pencarian lewat http://www.hochschulkompass.de/en.html dan menemukan cuma 2 aja univ yang ada materi pembeljaran SAP selain FH Furtwangen cuma ada di Univ Halle-Wittenberg saja. Apakah ada yg lain kah selain kedua univ itu?

    2. Di blog saya juga menemukan jika tidak ingin biaya gratis(free) bisa mencoba di FH Pforzheim atau FH Ingolstadt. Saya melihat untuk yg
    FH Pforzheim sekarang sudah dikenakan biaya yg relatif mahal 3000/semester dan pure MBA sedangkan FH Ingolstadt menggunakan bahasa jerman tidak menemukan jurusan yg sama. Apakah yang bapak maksud itu jurusan MBA ya soalny saya cari yg ada hubgnan dengan SAP tidak ada.

    Terima kasih sudah menghabiskan waktu membaca dan saya hendak minta maaf kapan hari ada sempat mengirimkan email ke bapak

    Best regards,

    XXXXX

    Hallo,

    1. Saran saya: anda kuliah dimana saja ndak masalah. Jika anda ingin kuasai SAP maka ambil kursus bersertifikat resmi dari SAP di Universität Duisburg Essen. Itu kursus cuma untuk mahasiswa di Jerman yang boleh mengikutinya dan biayanya amat murah cuma 500 Eur per paket. Untuk anda ketahui jika kursus langsung di SAP maka biayanya bisa antara 7.000 sd 9.000 Euro.

    2. MBA umumnya bayar di FH atau Uni manapun. Saran saya jika ingin ambil bisnis maka bukan MBA tapi MA atau MSc bidang Bisnis.

    Semoga sukses selalu dan salam hangat,

    FR

  105. selamat pagi saya Nova mahasiswa S1 keperawatan dan saya ada rencana mau melanjutkan S2 keperawatan, boleh tau caranya seperti apa jika saya melanjutkan kuliah di Jepang dan apa saja syaratnya serta bagaimana daftarnya? terima kasih,
    Tuhan memberkati.

  106. Selamat Sore , Saya Dana Hartono Mahasiwa D4 Teknik Kelistrikan Kapal di Surabaya.Saya berkeinginan melanjutkan studi S2 saya di Jerman. Saya mohon saran dari Bapak keuniversitas mana yang cocok atau linier dengan jurusan saya dan apa saja yang perlu saya persiapkan dari sekarang ? saya sekarang masih semester 5

    XXXXX

    Semua Fachhochschule yang tawarkan jurusan yang sesuai dengan anda itu cocok.

    Salam Hangat

    Ferizal

  107. Selamat malam bapak,
    Saya sekarang masih kuliah di jurusan ilmu komunikasi-public relations semester 5, dan niat saya ingin melanjutkan studi s2 ke jerman. Saya mohon bantuan bapak untuk memberi saya arahan, apa saja yang harus saya persiapkan dari sekarang dan ketika ingin mendaftar nantinya?

    XXXXX

    Salam Engel,

    Yang harus anda persiapkan B. Inggris anda minimal TOEFL 550. Yang lain silahkan baca tulisan saya: “Study di Jerman siapa takut?!”
    Sudah saya jelaskan disana.

    Salam dan semoga sukses

    FR

  108. Assalamualaikum Pak Ferizal.

    Jika ingin mengambil program MBA di Jerman, kota manakah yang mempunyai business school terbaik dengan biaya hidup yang tidak terlalu tinggi?

    Danke Schon.
    Wassalamualaikum.

    XXXXX

    Walaikumsalam Wr Wb…

    Rizky,

    Saya kok ndak terlalu tertarik bicara mana yang terbagus di Jerman yah, lha wong pada nyatanya standard kualitas antara univ satu dengan lainnya relatif sama baiknya. Jadi klo saran saya yang penting diterima dan bisa lulus 🙂
    Selamat berjuang dan semoga sukses

    Salam

  109. Kak saya siswi kelas 2 sma di palembang. Bingung mau kuliah dimana. Saya ingin kuliah di jerman krn saya ingin tau bagaimana rasanya studi di jerman dgn mutu yang sangat baik dan persaingan yang sangat ketat pula. Saya sering menonton video Gita Savitri Devi di youtube mengenai kuliah di jerman. Kedengarannya susah sekali proses awal untuk bisa kuliah di jerman. Saya ingin lanjut studi s1. Saya sudah banyak mencari info mengenai kuliah di jerman, semuanya gratis. Tp saya bingun dgn biaya hidup di jerman nantinya (bia saya lulus di jerman). Penggasilan orangtua saya terbilang kecil. 3jt/bln msh membiayai sklh kakak saya yg msh kuliah dan saya. Saya ingin mencari beasiswa agar bisa memenuhi biaya hidup disana nantinya yang terbilang besar bila dibandingkan dengan biaya hidup di indonesia. Bagaimana solusinya kak?

    XXX

    Hallo Eny,

    Solusinya, cobalah:
    1. Coba ikut Program Au Pair: http://www.aupair-to-germany.com/
    2. Kuliah di PTN bagus Indonesia untuk S1/D4 lalu S2nya dengan bea siswa ke Jerman.

    Semoga sukses

    Salam

  110. Kalau untuk jurusan pertanian di Jerman bagaimana? Tepatnya jurusan Agribisnis

    XXX

    Hallo Ridho,

    Banyak kok misalkan di Universität Göttingen atau di Universität Freiburg setahu saya ada jurusan pertanian.
    Sukses selalu buat anda

    Salam

  111. assalamualaikum mas,
    saya lulusan ekonomi islam juga, apa benar kalau S2 digerman kalau gratis hanya bayar iuran sekitaran 3 juta persemesternya, kalaupun bayar sekitaran 8 jutaan persemesternya ??
    disana apakah harus bahasa german? kalau saya kursus dulu malah tambah makan waktu sedangkan saya tidak tau sama sekali bahasa jerman, apakah bisa??
    selain syarat2 toefl dan tes bahasa jerman apakah ada lagi syart2 yg lain??
    cara mendapatkan beasiswa nya gimana ya kang??
    Terimakasih.

    XXXXX

    Waalaikumsalam Wr Wb.

    Mas, Ilyas di Jerman itu dari S1 sd S3 GRATIS dan TIDAK ada yang namanya bayar iuran 3 juta. Yang ada bayar biaya ADMINISTRASI sekitar 50 Euro atau kira 750 ribu IDR. Biaya ADMINTRASInya sekitar umumnya cuma 50 Eur saja.
    Jika ada Univ yang tetapkan uang kuliah 300 Eur (atau sekitar 4,5 juta) itu malah BAGUS karena pasti disertai Tiket Mahasiswa GRATIS selama 6 bulan muter2 seluruh kota bebas bahkan Propinsi. Bayangkan jika anda kuliah di DKI, lalu dengan bayar 4,5 juta IDR uang kuliah maka anda bisa gratis kemanapun di JABOTABEK naik transportasi umum?

    S2 tidak usah pakai B. Jerman, ambil yang B. Inggris saja. Belajar B. Jerman klo level B1 anda butuh sekitar 9 bln sd 1 tahun, kalau level B2 antara 1 thn sd 1,5 tahun. Untuk kuliah Program B. Jerman anda harus lulus C1 dimana butuh paling tidak 1,5 sd 2 tahun kursus dengan catatan semuanya itu intensif sekitar 5 jam pelajaran per hari 4-5 hari seminggu. Jadi, saran saya ambil yang B. Inggris.
    Bea siswa untuk S2 silahkan lihat di website DAAD atau ke Program Bea Siswa DIKTI.

    Salam Hangat

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s