Buku-buku yang menginspirasi…

14 Sep

Saya dulu saat kecil seneng baca buku. Banyak buku yang saya lahap. Salah satu buku yang paling saya ingat bahkan air mata ini berurai-2 selama berbulan saat kanak-2 SD adalah buku yang berjudul: “Merpati Post-ku Sayang!” atau “Kisah Perjalanan Sang Air”.

Buku itu benar-2 mengajarkan moral dan sosial kompeten terhadap saya. Begitu nikmat membaca banyak bacaan…

Sayang, entah siapa yang kasih ide. Di awal kelas 5 SD saya diminta ikut program untuk ke SMP tanpa kelas 6. Sejak itu saya “dilarang” baca buku cerita. Waktu saya difokuskan untuk belajar Matematika; rumus Pitagoras, rumus Archimedes, rumus Bejana berhubungan, rumus segitiga sama sisi, sama kaki, lingkaran, dan lain-2 harus saya pelajari.

Hancurlah hidup kanak-2 saya yang begitu indah. Saya tidak bisa baca buku cerita indah lagi. Waktu saya difokuskan mengerjakan soal-2 yang memuakkan agar lulus loncat kelas! Saya lulus loncat kelas dan nilai baik. Tapi saya kehilangan waktu-2 indah kanak-kanak saya membaca buku cerita.

Di SMP, minat sekolah menjadi rendah. Bosen! Ranking di SMP pun menjadi rangking 20 di kelas. Masak bodo ah. Sang Emak marah-2. Yah sudah resiko. Tetapi saya menikmati membaca cergam. Buku Tintin dan si Anjing Pudel Snowy favorit saya atau buku cerita Pilot Perancis Tanguy and Laverdure. Sayang buku itu tidak terlalu mendidik. Buku itu tidak membuat sosial kompeten saya naik. Itu cuma dagelan biasa mirip komik Shincan atau Kenji atau Kunfu Boy!

Baru di SMA saya temukan buku-2 bagus lagi. “Burung-Burung Manyar” karya Romo Mangun adalah inspirasi hidup saya. Apalagi saat disuatu ketika secara pribadi secara tidak sengaja Romo Mangun pernah mengajarkan saya cara menulis. Setelah itu hampir semua buku sastra Indonesia saya lahap. Mulai saat itu saya mulai juga melahap tulisan-2nya Gibran Khalil Gibran dan Jalaludin Rumi. Sampai kuliah saya tetap menikmati membaca…

Sayang saat kuliah bahkan sampai lulus tidak ada lagi karya bagus penulis Indonesia. Tulisan Ayu Utami (yang dikritik Penyair Taufiq Ismail sebagai “sastra lendir”) dalam novel “Larung” mendapatkan penghargaan novel terbaik. Padahal kualitas isi dan imajinasinya jauh lebih rendah dari pada “Pada Sebuah Kapalnya” NH Dini (meskipun sama-2 agak bersentuhan dengan “lendir”). Ini benar-2 penurunan kualitas sastra Indonesia.

Trilogi Laskar Pelangi, saya butuh susah payah untuk melahapnya. Bagaimana mungkin tulisan seperti itu jadi dapat penghargaan Novel terbaik? Okya, pada Novel yang pertama Laskar Pelangi masih lumayan lah. Novel kedua dan ketiga benar-benar sangat miskin imajinasi. Saya ndak punya energi menuntaskan tulisan itu. Jika kita baca karya-2 sebelumnya ambil contoh misalkan model tulisan Kuntowijoyo seperti Mantra Penjinak Ular, wah ora ono opo-2 ne iku Laskar Pelangi. Imajinasi kita ora metu membaca cerita Laskar Pelangi.

Semenjak itu sudah bertahun-tahun saya males baca tulisan dari Indonesia. Saya mulai fokus melahap tulisan penulis Jerman: Gothe seperti “Faust der Tragödie” atau Nietschze seperti “Also sprach Zarathusta”, juga beberapa cerita-cerita berat dari Kafka.

Kemarin baru beberapa hari lalu, saya bertemu dengan sahabat lama Anies Baswedan di Berlin dalam sebuah acara yang kebetulan sang sahabat itu diundang oleh Kanselir Jerman untuk berbicara bersama Presiden Jerman di Istana Belleuve. Nah, saat bertemu di Berlin, sang sahabat lama ini menghadiahkan saya oleh-2 buku tentang Indonesia yang begitu amat indah. Ada 7 buku yang diberikan ke saya. 3 buku otobiografi Mohammad Hatta dan 4 buku tulisan testimoninya Rosihan Anwar tentang perjalan hidup bangsa Indonesia.

Ah…benar-benar 7 buku yang amat menginspirasi. Begitu nikmat kubaca. Sudah lama saya ndak menikmati membaca buku seindah ini dari penulis Indonesia, selain belasan tahun lalu saat membaca “Burung-Burung Manyar”-nya Romo Mangun Wijaya…

Dari Tepian Lembah Sungai Isar,

Ferizal Ramli

About these ads

4 Tanggapan to “Buku-buku yang menginspirasi…”

  1. lukman September 14, 2011 pada 11:40 pm #

    Terimakasih Bang atas tulisannya saya akan saya coba mencari buku buku yang rekomendasikan. Semoga saya juga mendapat pencerahan, sebagai hiburan ditengah kecamuk problem bangsa tak berujung. Selalu menunggu tulisan tulisan Anda…Great!

  2. devavrata September 16, 2011 pada 11:13 pm #

    “Buku Tintin dan si Anjing Pudel Snowy favorit saya atau buku cerita Pilot Perancis Tanguy and Laverdure. Sayang buku itu tidak terlalu mendidik. Buku itu tidak membuat sosial kompeten saya naik. Itu cuma dagelan biasa mirip komik Shincan atau Kenji atau Kunfu Boy!”

    Benarkah? Beberapa kisah Tintin memberikan contoh moral dan kebaikan yang sangat tinggi. Coba baca “Lotus Biru”, “Tujuh Bola Ajaib/Tawanan Dewa Matahari”, “Tintin di Tibet”.

    Lotus Biru menceritakan penindasan yang dilakukan tentara pendudukan Jepang dan pemukim Eropa kepada rakyat Cina di Shanghai. Dalam Lotus Biru berkali-kali ditunjukkan betapa Tintin mau menolong rakyat Cina yang ditekan dan ditindas karena prasangka dan diskriminasi rasial.

    Tujuh Bola Ajaib/Tawanan Dewa Matahari membela hak-hak kaum lokal/indigenous Inca dari infiltrasi dan pengaruh asing. Dua album ini mengkritik kebijakan negara-negara Eropa yang seringkali menindas dan membuat budaya asli punah (Indian di Amerika Utara, Aborigin Australia, dll).

    Tintin di Tibet menceritakan persahabatan yang kuat antara Tintin dan Chang, sehingga Tintin rela menempuh segala marabahaya untuk menolong Chang yang tersekap di pegunungan Himalaya. Makhluk Yeti dalam Tintin di Tibet tidak digambarkan sebagai makhluk buas, namun sebagai makhluk yang mau menolong sesama. Dalai Lama sendiri telah memberikan penghargaan khusus kepada Tintin di Tibet, sebagai salah satu karya sastra yang menggambarkan budaya asli Tibet dan memperkenalkan Tibet kepada dunia.

    Saya sarankan anda untuk membaca buku karangan Michael Farr tentang sejarah di balik penulisan Tintin, maka anda bisa tahu ada apa dibelakang penulisan setiap album Tintin. Dan bagaimana terkadang penerbitan album Tintin memicu protes dari pihak-pihak yang kebobrokannya terbongkar dengan penerbitan album Tintin. Lotus Biru ketika diterbitkan tahun 1930an, Duta Besar Jepang di Belgia memprotes buku tersebut. Pemerintah RRC mencoba mengganti judul “Tintin in Tibet” dengan “Tintin in Chinese’s Tibet” namun ditolak mentah-mentah oleh Herge.

  3. tineano Februari 27, 2014 pada 2:58 pm #

    Tinggalin jejak dlu ya slm kenal sya readers baru dsini
    Terimakasih tulisan anda sgt mmbantu

    • ferizalramli April 2, 2014 pada 3:45 pm #

      Semoga informasi ini bermanfaat buat anda dan segera saja persiapkan untuk study ke Jerman :)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 128 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: