Perilaku Business Dynamics


 

Cak John D. Sterman itu guru besar top dari institut teknologi paling kesohor di negeri Pak Dhe Sam. Itu tuh kata orang namanya „MIT Sloan School of Management”. Dikarenakan nyantrinya di Pesantren yang beken maka Cak Sterman pun bisa nulis kitab-kitab bisnis yang ciamik.

Nah, dalam kitab bisnis yang namanya “Business Dynamics: Systems Thinking and Modeling for a Complex World”, dia dongengin sebuah model untuk memahami dinamika sebuah bisnis. Kata Cak Sterman banyak diantara para eksekutif sebuah perusahaan gagal membuat keputusan akurat karena kesalahan mengantisipasi perilaku dinamika bisnis.

Saat perubahan terjadi, biasanya para eksekutif akan mengambil keputusan untuk mengantisipasi perubahan agar perubuahan tersebut bergerak ke arah kondisi yang memberi keuntungan buat perusahaannya. Tetapi sayang sekali hasil dari keputusan yang dibuat biasanya tidak sesuai dengan tujuan awalnya. Kenapa hal ini bisa terjadi?

Cak Sterman bilang ada „lack“ atau „perbedaan rentang waktu“ antara sebuah keputusan dibuat untuk mengintervensi perubahan lingkungan dengan dampak yang akan dihasilkan. Eksekutif yang bisa memahami „lack“ tersebutlah, yang berhasil mengambil keputusan-2 tepat. Intervensinya terhadap lingkungan akan membawa dampak terbaik bagi perusahaannya. Disinilah ketinggian tenaga dalam dari para eksekutif diuji, yaitu memahami hakikat dari „lack“ dari sebuah dinamika bisnis.

Cara gampangnya untuk memahami „lack“ tersebut itu seperti ini: misal sampeyan jadi Turis di Yogyakarta. Seharian sampeyan jalan-jalan di Malioboro, shopping kaos “Dagadu Aseli Djokja” dan kerajinan lainnya. Kebetulan cuaca Yogya saat itu lagi panas karena dampak Merapi sedang aktif. Badan sampeyan keringatan, kepanasan dan dehidrasi akibat seharian belanja dan jalan-jalan. Pokoknya sumuk. Lalu sampai di hotel setelah mandi karena amat lelah maka sampeyan ingin tidur. Masalahnya badan sumuk sekali…

Pasti yang pertama kali dilakukan turunkan temperatur AC kamar hotel ke 18 grade misalkan. Dikarenakan masih kemringet maka kembali diturunkan temperatur AC pada titik terendah supaya suhu ruangan menjadi dingin. Tapi bagi tubuh, suhu ruangan terasa tetap tidak dingin, lalu diputuskan cuma pakai pakain dalam saja dan tidur tanpa selimut.

Tiba-tiba tengah malam, sampeyan terbangung. Badan menggigil kedinginan. Suhu ruang beku seperti musim Winter di atas Puncak Mont Blanc Pegunungan Alpen. Tubuh sampeyan sedingin es batu. Refleks, keputusan yang sampeyan ambil adalah kembali memakai baju lengkap, klo perlu dengan sweater plus pakai selimut tebal. Seakan sampeyan menegasikan keputusan beberapa jam sebelumnya.

Artinya, keputusan sampeyan sebelumnya untuk menurunkan temperatur AC, lepaskan pakain dan selimut agar badan yang tadinya sumuk menjadi segar, justru dampaknya tidak seperti yang diharapkan. Yang terjadi, tubuh sampeyan kedingan dan menggigil. Kenapa kok sampeyan bisa salah mengambil keputusan?

Ini terjadi karena sampeyan sulit mengukur dampak langsung antara keputusan yang diambil dengan hasil yang diharapkan. Ada rentang waktu antara saat keputusan diambil dengan dampak yang kita terima. Dikarenakan lingkungan yang diintervensi membutuhkan waktu untuk berubah. Lingkungan punya karakter sendiri yang tidak sama dengan karakter diri kita.

Dalam bisnis fenomena ini selalu terjadi. Perilaku di Bursa Saham adalah contoh yang paling ideal. Saat indeks bullish, semua orang melakukan intervesi terhadap bursa dengan berbondong-bondong membeli saham. Beli, dan beli…

Para investor tahu keputusan beli secara kolektif tersebut pasti dalam titik tertentu akan berubah dari situasi bullish ke titik balik. Semua tahu itu, tapi tidak semua dapat mengukur kapan titik balik itu terjadi. Dikarenakan perubahan perilaku saham mengikuti prinsip business dynamics. Ada rentang waktu antara keputusan yang diambil untuk mengintervensi lingkungan dengan perubahan lingkungan itu sendiri.

Ini sama persis dengan kasus temperatur AC diatas. Semua orang tahu bahwa menurunkan suhu AC akan membuat ruangan dingin. Tapi tidak semua orang mampu menentukan secara akurat pada titik mana intervensi dianggap cukup sehingga mendatangkan dampak menguntukan yang paling optimal. Disinilah seni memahami hubungan antara intervensi keputusan dan dampak dari keputusannya.

Tapi satu hal yang pasti, business dynamics itu mengikuti satu sunahtullah yaitu selalu bergerak dari satu keseimbangan ke kesimbangan baru lainnya…

Di Pertengahan Musim Semi,
Di Tepian Lembang Sungai Isar,
München 11.05.2011

-Mas Uda Fe-

(Syarat Marantau adalah coretan pengalaman Merantau Penulis. Berisi tulisan tentang Konsep Manajemen, Akuntansi dan Sistem Informasi yang ditulis ala Manajemen Kulakan atau Manajemen Lapak Kaki Lima sebangsa obrolan santai lesehan; menikmati Wedang Jahe dan sego kucing di Warung Koboy Yogyakarta).

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s