Studi di Jerman!…Di Jerman!!!


Saat pertama kali saya diterima di Universitas Jerman, salah seorang mentor saya yang banyak sekali mengajari saya tentang “Marketing Strategy” Bapak Drs. Teguh Budiarto, MIM bertanya begini: „Lah Mas Ferizal, belajar bisnis kok ke Jerman? Kenapa ndak ambil MBA ke Universitas elit yang ada di Amerika?“.

Maklum Pak Teguh Budiarto adalah alumnus dari salah satu sekolah bisnis terbaik, Top-B di Amerika sana, yaitu: A.G.S.I.M. Thunderbird. Juga memang selama ini jika kita bicara tentang para intelektual manajemen di Indonesia maka kita kenalnya yah para akademisi Amerika. Anda bisa sebut Michael Porter, Philip Kotler, Michael Hammer, Peter Drucker, lah semua akademisi Amerika semua toh?

XXX

Ada banyak tahapan kenapa saya pilih Jerman:

Sponsor yang membiayai saya hanya memberi budget kurang lebih USD 15.000 untuk biaya kuliah, biaya hidup, biaya persiapan kuliah, biaya transport ke luar negeri termasuk biaya hidup untuk istri saya selama saya kuliah di luar negeri.

Itu pun adik kadung saya sekaligus mitra kerja saat itu (Karnila Willard, SE., BSc., MBA., MA.) yang kebetulan menjadi „Procurement Manager di Malaysia/Singapura“ yang punya akses kuat mempengaruhi “decision making” ke Project Director sudah begitu berjuang keras agar proposal dana untuk sekolah saya gol.

Kegigihannya dan ketangguhannya dalam me-lobby benar-benar membuahkan hasil! Dana sponsorship turun. Hanya dana 15.000 USD tidak cukup untuk ke Amerika atau Inggris sehingga 2 negara tersebut terpaksa saya coret untuk tujuan studi saya. Sementara di Jerman kuliah gratis atau di Jepang relatif murah.

XXX

Pilihan tinggal sekolah ke Jepang atau ke Jerman yang bisa saya raih dengan budget yang digelontorkan ke saya. Sebenarnya, saya ingin ke Jepang saat itu. Alasannya sederhana: saya pernah kerja sebagai Administrator Officer di Mitsubishi Heavy Industries, Ltd sehingga saya kenal corporate culture Jepang. Selain itu, saya juga pernah ikut intensif kursus privat Bahasa Jepang di Pusat Studi Jepang UGM sampai level intermediate.

Tetapi kembali adik saya mempengaruhi keputusan saya. Kata-katanya yang saya ingat betul: “Uda, ngapain belajar ke Jepang. Lha Uda kan sudah tahu cara berpikir orang Jepang. Sudah belajar ke Jerman saja. Pahami dan bernafas lah pada tradisi masyarakat yang menyakini bahwa mereka adalah bangsa Über Alles!“.

Okay, saya setuju dengan logika sang adik, jadilah saya putuskan ke Jerman saja.

XXX

Dari Malaysia saya telpon sang istri yang ada di Yogya untuk minta persetujuan.

Kataku: “Nduk, Uda dapat sponsor sekolah sebesar 15.000 USD. Kalau Uda kuliah di luar negeri seperti Jerman maka uang itu ndak cukup untuk ngajak kamu. Kamu terpaksa Uda tinggal“.

„Bagaimana jika Uda ambil Master di UGM Yogya saja? Paling cuma 35 juta (saat itu). Itu uang lebih dari cukup bahkan bisa untuk bayar angsuran rumah atau cicilan beli mobil“ begitu kataku, hehehe… :))

Biasanya wanita Jawa itukan gayanya priyayi dengan filosofis „Mangan ora Mangan sing penting Kumpul“. Lah, jawaban istri-ku amat mencengangkan: “Uda, Uda harus ke luar negeri. Untuk bisa maju Uda harus berani hijrah seperti Kanjeng Rasul. Jadi, jangan ragu berangkat ke Eropa dan taklukan Eropa. Wiwiek (begitu jika istriku menyebut namanya, red) akan doakan Uda dari sini setiap selesai sholat!“, begitu kata istriku mantap penuh optimisme dan tanpa keraguan sama sekali.

XXX

Jadi lah aku melamar ke Jerman. Waktuku amat mepet sekali saat itu. Jika aku ndak diterima semester ini maka harus tunggu semester depan. Jadi, harus cepat. Dari Malaysia aku segera terbang ke Jakarta. Aku cuma kirim satu lamaran ke Universitas di Jerman. Saat itu yang cocok dengan latar belakangku cuma FH Furtwangen, Programnya “Master of Computer Science in Business Consulting” dengan spesialis Standard Software SAP.

Wah keren sekali spesialisnya SAP (yang konon khabarnya biaya untuk implementasi itu SAP software di perusahaan maka budget proyeknya minimal 2 juta Euro. Angka itu menunjukkan betapa prestiusnya itu software). Hanya sedikit sekali ahli SAP di dunia kala itu. Apalagi FH Furtwangen berdasarkan ranking di Jerman adalah Fachhochschule nomor 1 terbaik di Jerman untuk jurusan Wirtschaftsinformatik (Business Computing). FH Furtwangen sendiri adalah Fachhochschule (Politeknik) tertua di Jerman yang telah berumur 160 tahun yang terletak persis di tengah hutan „Black Forest“ kota tertinggi di Jerman yang bersuhu bisa minus 20 derajat saat winter, maka melambung angan agar diterima disana.

Menanti keputusan dari Furtwangen adalah kondisi stress yang benar-2 amat berat. Celakanya keputusannya sampai harus tunggu 3 bulan. Selama 3 bulan saya, istri dan sang Ibu dan Ibu Mertua cuma bisa Tahajud dan berdoa. Bahkan karena begitu beratnya beban stress menunggu keputusan, saya sampai sakit dalam 1 bulan terakhir. Untunglah akhirnya surat panggilan DITERIMA akhirnya datang. Jadilah, sekolah ke Jerman menjadi kenyataan.

XXX

Setelah diterima di Jerman saya pun pamit pada mentor saya, Pak Teguh Budiarto yang telah banyak melibatkan saya dalam berbagai Proyek Konsultan waktu bekerja sebagai Staf beliau dulu di UGM Yogyakarta.

Pertanyaan beliau: „Lah Mas Ferizal, belajar bisnis kok ke Jerman? Kenapa ndak ambil MBA ke Universitas elit yang ada di Amerika?“

Saya lupa jawaban saya saat itu atas pertanyaan Pak Teguh. Toh sebenarnya Pak Teguh juga tidak berharap saya menjawabnya. Beliau lebih suka saat itu mengajak saya menyeduh teh hangat dan makanan yang tersaji. Nyruput pelan-pelan sambil ngobrol ngalur-ngidul karena itu bisa jadi pertemuan yang akan membuat terpisah dalam waktu lama.

XXX

Tapi kelak akhirnya saya tahun bahwa Jerman adalah negara terdepan dalam kajian ilmu Bisnis, Ekonomi, Filsafat, Sosiologi dan Seni.

Tercatat 5 “Nabi Ilmu Sosial” adalah didikan tradisi pemikiran Jerman: Ada Martin Luther “nabi”-nya Kristen Protestan, ada Johann Wolfgang Goethe “nabi”-nya Islam, Karl Mark “nabi”-nya Atheis, Frederick Nietzsche “nabi”-nya Agnostik serta Rudolf Steiner “nabi”-nya Ilmu Klenik. Negara mana yang punya intelektual sosial sehebat Jerman?

Dalam dunia seni pun para composer Jerman adalah yang terbaik di dunia: Wolfgang Amadeus Mozart, Ludwig van Beethoven atau pun Johann Sebastian Bach. Mana ada Negara di dunia ini yang bisa melahirkan begitu banyak komposer yang amat melegenda yang tidak pernah lekang oleh waktu?

Di bidang Ekonomi pun, daya tahan ekonomi Jerman teruji oleh waktu. Bersama Jepang yang hancur total kalah dalam perang dunia II, bangkit sebagai kekuatan ekonomi dunia. Bedanya, Ekonomi Jerman tidak pernah mengenal krisis. Jepang dalam 2 dekade lebih ekonominya stagnan dalam krisis. Amerika dan Inggris sejak 2 tahun ini terjebak dalam krisis yang dalam. Jerman tampaknya masih tetap kuat untuk waktu-waktu mendatang.

Satu yang perlu dicatat dengan sistem ekonomi sosialisnya maka kesejahteraan penduduk Jerman itu merata dinikmati oleh seluruh penduduknya. Di Jerman memang tidak ada orang se kaya Bill Gate tapi di Jerman tidak ada ribuan atau jutaan orang miskin mati terlantar kedinginan atau tidak mampu berobat seperti di Amerika. Sistem sosial ekonomi yang tangguh ini jelas bukti nyata betapa majunya kajian ilmu ekonomi di Jerman.

Juga satu lagi yang perlu diingat. Bersama Amerika dan Jepang maka MNC Jerman tercatat yang paling banyak di dunia. Selain itu, industri Jerman relatif imun terhadap krisis. Krisis perbankan derivatif Amerika atau Inggris tidak terlalu berdampak pada industri perbankan Jerman. Skandal-skandal keuangan perusahaan, moral hazard yang di Amerika adalah sebuah „kelumrahan“ seperti skandal Enron, dalam sejarah industri Jerman relatif tidak ada.

Sistem akuntansi dunia IFRS (International Financial Report Standard) itu diinisiasi oleh Eropa di bawah koordinasi Jerman tentu saja. Saat ini ternyata IFRS itulah yang lebih diterima dunia. Ini juga membuktikan bahwa standard akuntansi internasional yang diterima oleh seluruh negara itu yang desain Eropa (Jerman) yang saat ini jauh meninggalkan US GAAP yang cuma berlaku di Amerika saja.

Dengan catatan-catatan prestasi seperti ini tidak inginkan anda belajar dan bernafas dalam tradisi kajian ilmu sosial di Jerman?

Dini hari di Musim Salju Lembah Sungai Isar
München, Freitag, 05.01.2011

Ferizal Ramli


Link ini amat berguna bagi siapapun yang ingin sekolah di Jerman. Sekolah di Jerman itu gratis, belajar B. Jerman pun bisa dilakukan secara online dengan gratis. Jadi, ini peluang emas buat siapapun yang ingin study di Jerman.

http://www.dw.de/belajar-b-jerman/kursus-b-jerman/s-2716

Berikut dibawah ini ada 5 artikel terkait tentang study di Jerman untuk menambah informasi anda tentang sekolah di Jerman:

1. Study di Jerman, siapa takut…?!!!

https://ferizalramli.wordpress.com/2009/01/02/study-di-jerman-siapa-takut/

2. Studi di Jerman!…Di Jerman!!!

https://ferizalramli.wordpress.com/2011/01/07/1015/

3. Ranking Universitas Eropa

https://ferizalramli.wordpress.com/2010/12/19/ranking-universitas-eropa/

4. 7 Alasan Kuliah di Jerman Fardhu Ain Hukumnya

https://ferizalramli.wordpress.com/2012/01/12/7-alasan-kenapa-kuliah-di-jerman-fardhu-ain-hukumnya/

5. TIPS buat yang ingin kuliah di Jerman: from Zero to Hero

https://ferizalramli.wordpress.com/2013/08/12/tips-buat-yang-ingin-kuliah-di-jerman-from-zero-to-hero/

6. Untuk mengetahui daftar universitas di Jerman beserta program studinya silahkan lihat website data base Universitas Jerman sekaligus sebagai hub dari berbagai jejaring universitas di Jerman:

http://www.hochschulkompass.de/en.html

7. Untuk mengetahui lembaga pemberi dana riset S3 di Jerman silahkan eksplore website ini:

http://www.academics.com/science/research_funding_30519.html

8. Jawaban terbuka atas salah satu surat orang tua yang putra/i-nya selepas SMU studi S1 di JERMAN
https://ferizalramli.wordpress.com/2014/01/30/1653/

Jangan lupa juga untuk mengunjungi website DAAD.

Iklan

35 thoughts on “Studi di Jerman!…Di Jerman!!!

    • Beberapa Univ di Jerman menawarkan spesialis SAP salah satunya FH Furtwangen untuk Program Master in Business Consulting. Hanya, khusus sekolah di jurusan ini bayar sekita 4.500 Euro totalnya.

      • Asaalamulaikum bg rizal…
        saya erick,salam kenal bg…
        makasih infonya dan sukses selalu bwt abang..saya InsaALLAH segera menyusul…

        Jujur bg,Cita2 saya pengen ngambil master di jerman.
        saat ini saya dari O (nol) semua bg..mungkin bg ngerti semua..tpi keinginan saya kuat, terkadang sering tergoyahkan dgn keadaan bg

        Jalan dan langkah awal apa yg harus saya lakukan bg..

        —–
        Doa saya buat anda. Jangan lupa kuliah S1 sebaik mungkin. Usahakan IPK diatas 3,00. B. Inggris usahakan TOEFL 570 dan minimal bisa B. Jerman samapai level B1. Jangan lupa ikut organisasi mahasiswa tapi jangan terlalu larut di Organisasi Mahasiswa.

        Selamat berjuang. Wujudkan visi anda menjadi realitas nyata 🙂

        Salam hangat

        Ferizal

    • Semoga anda sukses dengan yang dicita-citakan. Jangan lupa pertajam kemampuan B. Inggris jika anda ingin kuliah level Master.

      Jika anda kuliah level Bachelor maka B. Jerman yang harus dipersiapkan.

  1. tulisannya sangat menginspirasi, pak.
    saya jg pernah mnta rekomendasi pak teguh utk beasiswa ke AS. sempat lolos seleksi tapi akhirnya gagal pada tahap akhir. 🙂
    membaca tulisan bapak, semangat saya jadi terbakar lg utk nyari beasiswa ke LN.
    sukses selalu, pak
    🙂

  2. salam…
    berikut kutipan artikel mas “…Menanti keputusan dari Furtwangen adalah kondisi stress yang benar-2 amat berat. Celakanya keputusannya sampai harus tunggu 3 bulan. Selama 3 bulan saya, istri dan sang Ibu dan Ibu Mertua CUMA bisa Tahajud dan berdoa….”
    Memang sy edit text cuma dg CUMA. Krn mnrt saya sesuai pemahaman agama Islam yg kita anut, JUSTRU KARENA TAHAJUD DAN DOA yg dipanjatkan mas sekeluarga, maka KUASA ALLAH mengantarkan perjalanan hidupmu spt skrg ini yg tentu membahagiakan. Akhirnya, saya menasehati diri saya sendiri utk istiqomah TAHAJUD DAN DOA tidak hanya pas “kepepet”. krn takut pikiran yg muncul berupa HANYA/ GUR/ CUMA doa….. insyaallah
    salam
    from Solo with Love
    se almamater juga mas tp beda angkatan dan beda nasib, hehehe….
    ex mhs FE UGM 1989, aktifis gelanggang/ kopma UGM

  3. Wah notenya bagus banget Pak ….. Saya 4 tahun sekarang ini tinggal disaudi Arabia menemani suami yang bekerja disini, tahun pertama saya disini saya sering mendengarkan radio DW …. dan saya mulai mengenal Jerman walau hanya melalui radio. Dan sekarang tambah wawasan saya tentang Jerman melalui Bapak.
    Mudah-mudahan kelak anakku bisa menginjakan kaki dan bernafas di Jerman ….. Amin

  4. Pak, klo boleh saya tahu, bagaimana caranya apply langsung untuk bisa mendapatkan sponsor dan apply langsung ke universitasnya..terima kasih pak.. say sedang coba untuk mengikuti program DDAD, tapi saya tidak tahu jelasnya..

    email saya He_nya@yahoo.com terima kasih bantuannya pak..

  5. assalamualaikum…
    pagi pak ferizal, aku boleh tanya?
    gimana caranya dapat sponsor untuk biaya kul di LN dan caranya itu gimana ya?
    ada rekomendasikah ttg universitas bisnis/ekonomi mana yg sekiranya mudah untuk bisa kuliah disana atau bahkan dapat beasiswa..

    saya sangat berharap bapak bisa memberi info nya ya pak, soalnya saya punya cita” lanjut S2 ke LN, kalau bisa malah dapet beasiswa hehe 🙂
    email saya ke putri_rhysta@yahoo.com

    terima kasih

  6. salam,

    sekarang ini saya baru saja menyelesaikan S1 saya jurusan Akuntansi.. Cita2 ke-dua terbesar yang saya miliki adalah melanjutkan S2 ke Jerman, Namun sekarang ini masih sedikit referensi yang saya punya.

    Saya sangat berharap pak Ferizal bersedia berbagi info terkait Universitas Ekonomi terbaik di Jerman dan Info serta tips untuk mendapatkan Beasiswa…:)
    email saya puspita.asa08@yahoo.com

    Terima Kasih…

  7. Ping-balik: Buat yang ingin belajar B. Jerman dari Level Dasar hingga level Mahir GRATIS | Ferizal Ramli's Blog

  8. Pak cerita bapak menginspirasi sekali, kebetulan saya sebentar lagi lulus sarjana akuntantansi, saya ingin melanjutkan s2 k jerman, ada saran tidak pak yang baik untuk saya. Terimakasih

  9. Ping-balik: Study di Jerman, siapa takut …?!!! | Ferizal Ramli's Blog

  10. Ping-balik: Ranking Universitas Eropa | Ferizal Ramli's Blog

  11. Ping-balik: 7 Alasan kenapa kuliah di Jerman Fardhu Ain Hukumnya! | Ferizal Ramli's Blog

  12. Ping-balik: TIPS buat yang ingin kuliah di Jerman: from Zero to Hero! | Ferizal Ramli's Blog

  13. Ping-balik: Jawaban terbuka atas salah satu surat orang tua yang putra/i-nya selepas SMU studi S1 di JERMAN | Ferizal Ramli's Blog

  14. Ping-balik: 7 Alasan Kenapa Kuliah di Jerman Fardhu Ain Hukumnya | Rahmatullah's Blog

  15. Hi Pak., sy sudah lama skali berminat kuliah di jerman, dlu baru berminat stlh mndekati kelas 3 SMA, tp trllu trlambat. Skrg sy sudh smster 7 fak.hukum dr sbuah universitas kecil dan baru di tangsel. Sy msih berminat, apalagi stelah sy bru sj mndapat pkerjaan dr perusahaan jerman yg trletak di daerh buncit. Kira2, bpk ada info ttg studi S2 di Jerman sprti apa dan apa saja persyaratanny, apa dg pngalaman bekerja pd sbuah MNC made in germany bisa dijadikan referensi ? Saya harapkan skali balasannya, terimakasih

  16. Tulisan yg bagus, Pak Ferizal. Cuma mau menanggapi ttg pendapat adik Bapak yg mengatakan bhw org Jerman meyakini bhw mereka adalah bangsa über alles. Sebenarnya ini merupakan keyakinan bangsa Jerman di era Nazi pak. Kalau jaman skrg ada org Jerman yg mengatakan bhw mereka adlh bangsa über alles, maka dijamin bhw org tersebut akan dicap sbg ekstrimis kanan atau Neonazi oleh org Jerman sendiri 😀 Salam dari Regensburg, tanah Bavaria.

    XXXXXXX

    Salam hangat kang Juanda,

    Ndak juga Klo itu dianggap semata2 representatif masa Nazi. Nazi itu konteks Jerman dan Eropa dengan berbagai masalahnya.

    Klo konteks Asia “ndak kenal” konteks itu. Kejahatan Nazi buat Asia ndak ada bedanya dengan Kejahatan Bom Atom di Jepang, Kejahatan Perang Vietnam, Kejahatan Sovyet dan Amrik di Afghan dan Iraq. Kejahatan Revolusi Kebudayaan di China, Kejahatan Stalin atau malah juga G-30 S PKI?

    Jadi, konteks Nazi TIDAK relevan menurut saya dalam bahasan ini kayaknya 🙂

    Dalam bahasan ini Yang relevan adalah bagaimana Kita memahami kok kenapa bangsa Jerman punya percaya diri Yang tinggi. Terlepas dia punya kecelakaan sejarah dimasa Nazi tetap saja Jerman memimpin dan menginspirasi bangsa lain bahkan sampai hari ini Eropa bisa selamat dari Krisis karena kepemimpinanya.

    Salam hangat

  17. Ping-balik: rendisukirman

  18. Assalamualikum wr.wb
    Selamat pagi/siang/sore

    Saya telah membaca artikel saudara(bapak).
    Saya masih kelas 10 sma. Dan saya baru saja mendapatkan info tentang kuliah di jerman lalu saya mencari informasi mengenai kuliah di jerman. Saya ingin bertanya bagaimana cara mendapatkan living cost pertama kali jika kita di terima universitas di jerman?saya sangat membutuhkan informasi lapangan(real) mengenai kuliah di jerman agar saya semakin mantap dalam menentukan tujuan saya kedepan agar saya dapat menyiapkan nya sejak sekarang.
    Terima kasih

    XXXXXXX

    Saya tidak paham dengan maksudnya bagaimana mendapatkan “Living Cost” pertama kali?
    Jika maksud anda ingin kerja sambil kuliah maka saya pastikan 1,5 tahun pertama anda tidak bisa kerja. Anda masih perlu untuk persiapan bahasa lagi, persiapan Studienkolleg dan sekolah di Studienkolleg paling tidak 1 tahun.

    Jadi, saya mau katakan paling tidak 2 tahun pertama anda tidak bisa kerja. Setelah itu baru anda bisa kerja sambil kuliah. Jika anda kerja minijob maka anda bisa dapat uang paling tidak 400-450 Euro per bulan dan itu cukup untuk biaya hidup anda secara sederhana.

    Salam Hangat

    Ferizal Ramli

  19. Hallo pak. Makasih artikelnya Bagus. Pak saya mau kuliah di Jerman tapi ingin dapat biasiswa. Gimana caranya yah pak? Makasih

    XXXXX

    Hallo Gabrielkanine,

    Program S1 di Jerman tidak ada bea siswa. Program S2 bea siswanya dari DAAD , silahkan kontak langsung persyaratan bea siswanya ke DAAD.

    Semoga sukses selalu dan salam hangat,

    FErizal

  20. maaf pak farizal.saya lulusan sma pengalaman mekanik sepeda motor 4 tahun dan skrng usia 24.saya ingin mengikuti program dualestudium atau ausbildung di bidang mesin.tp saya kendala uang jaminan..dan difikiran saya untuk skrng menuju ke aupair terlebih dahulu.nah yg saya tanyakan.apa langkah saya benar untuk menuju program tersebut untuk mencapai yg saya inginkan?dan kesulitan apa saja nantinya setelah saya selesai aupair agar bisa lanjut proses dualestudium dan ausbildung?

    XXXXX

    Hallo Sendy,

    1. Iya itu benar. Itu adalah cara yang baik dengan Program Aupair dulu.
    2. Kendala terbesarnya: B. Jerman. Jika B. Jerman anda tidak bisa B2 maka anda akan kesulitan untuk daftar ke Ausbildung.
    3. Hanya tidak semua Ausbildung membolehkan buat mahasiswa asing. Jadi, anda juga harus mencoba juga untuk mendaftar ke Studkol lalu kuliah di Fachhochschule atau Berufsakademie (Dual-System di Universitas) sehingga anda punya 2 opsi: Ausbildung atau Kuliah di FH atau BA.
    4. Tantangan terbesar anda adalah: sejak hari pertama Aupair anda harus kerja keras menjalankan tugas Aupair sebaik2nya sehingga keluarga Jerman akan membantu anda serta belajar B. Jerman sebaik mungkin.

    Semoga sukses dengan masa depan anda 🙂

    Salam Tabik,

    Ferizal Ramli

  21. Halo, pak. Saya masih kelas 1 sma tapi sudah minat ikut kuliah s1 di jerman. Saya mau tanya, ada nggak beasiswa s1 ke jerman untuk kedokteran?

    XXXXX

    Hallo Marsya,

    Dengan sangat menyesal setahu saya tidak ada bea siswa untuk S1 di Jerman. Sekolah di Jerman itu sudah gratis bagi siapapun. Jadinya mereka tidak memberikan bea siswa. Yang perlu anda siapkan adalah biaya hidup.

    Salam

    FR

  22. Salam pak Ferizal ramli, setelah baca bbrp artikel bapak ada yg saya ingin tanyakan, anak saya sd dan smp sekolah di international school paris prancis, masa tugas suami berakhir juli 2017 dan rec anak saya akan masuk sma sekolah international school di jakarta (IB). Krn anak saya ingin kuliah di jerman rec akan saya masukkan kursus bhs jerman goethe, apakah masih harus ikut studienkolleg lulusan sekolah IB , bahasa anak saya udah bagus dlm bhs inggris& prancis dan bhs jerman akan diusahakan dlm 3 th ini, terimaksih

    XXXXX

    Salam Mbak Ida,

    Jika IB di Perancis maka itu harus dicek langsung ke Jermannya. Itu adalah sistem yang berbeda. Jadi, harus dicek kasus ini. Hanya setahu saya semua lulusan dari SMA luar Jerman harus masuk Studkol.

    Sidebar (untuk semuanya):
    Untuk Internasional School di Indonesia. IB di Indonesia dan Sekolah biasa itu secara kualitas tidak ada bedanya. Apakah seorang yang lulus Internasional School itu lebih baik dari yang lulus SMAN di Yogyakarta yang bagus2 atau sekolah Swasta model SMAK 1 Penabur atau SMA Lab School atau lainnya? Itu semua tidak bisa kita jadikan legitimasi apa pun untuk membuat seseorang dari IB mendapat kemudahan dari negara lainnya. Selain itu secara legal formal di mata sistem Jerman tidak ada bedanya antara IB dengan SMA reguler, KECUALI jika itu sekolah yang dibuat resmi pemerintah Jerman di luar negeri seperti International Gymnasium maka akan mendapatkan perlakuan berbeda oleh pemerintah Jerman.

    Kembali ke diskusi:
    HANYA yang bagus yang telah Ibu lakukan adalah telah mempersiapkan sekolah Bahasa buat anak Ibu baik B. Inggris, bahasa lainnya dan sekarang B. Jerman. Ini adalah sebuah langkah persiapan awal yang bagus. Hanya ini penting dipahami secara benar:

    1. Untuk level Bachelor maka B. Inggris BUKAN sebagai syarat masuk ke Uni atau FH Jerman kecuali ambil jurusan Internasional di Jermannya yang bayarnya semahal sekolah di UK atau USA. Jika ingin program “gratis” di Univ Negeri di Jerman maka yang mutlak adalah kemampuan B. Jerman. B. Inggris di level ini cuma pada nice to have, tapi tidak berpengaruh besar untuk bisa diterima di Studkol atau untuk diterima kuliah level Bachelor.

    2. Studienkolleg itu WAJIB buat lulusan SMA dari luar Jerman. Syarat untuk Studkol itu bisa B. Jerman level B1 minimal tapi biasanya B2. Jadi belajar di Goethe Intsitut itu HARUS supaya B. Jermannya cukup untuk bisa diterima di Studkol.

    3. Sekolah di Jerman itu amat sulit untuk bisa lulus jadi mohon JANGAN PERNAH berpikir untuk “potong kompas” biar cepat lulus maka misalkan tidak ingin Studkol. Studkol itu malah bagus untuk persiapannya agar matang.
    Faktanya peluang lulus bisa Sarjana (Bachelor) buat para mahasiswa Indonesia di Jerman saja itu erdasarkan pengamatan saya rata-2 dibawah 50%, yang sisanya pulang di DO tanpa hasil kecuali air mata.

    Saya perkirakan anak Ibu/Bapak jika kuliah Bachelor di Jerman butuh waktu 6-7 tahun untuk bisa lulus Bachelor di Jerman dengan hasil bagus.
    (1) 6 bulan persiapan
    (2) 1 tahun Studkol
    (3) 5 tahun Bachelor, termasuk bisa Praktikum di Perusahaan
    (4) 6 bulannya lagi waktu lain-lain.

    Jika saja bisa dalam waktu 6-7 tahun lulus Bachelor di Jerman, sekaligus dalam proses sekolahnya selama sekolah mampu 1-2 semester kerja internship atau praktikum di Perusahaan maka itu adalah prestasi yang amat luar biasa.

    Saya perlu kasih penjelasan tanpa tendeng2 aling2 supaya tertanam di mindset para pembaca semua bahwa jika anak2 Bapak/Ibu ingin sekolah ke Jerman setelah lulus SMA maka tanamkan betul di kepalanya sebagaian besar dari mereka atau lebih dari separuhnya PULANG cuma dengan air mata karena gagal. Jadi, persiapkan betul mentalnya bahwa mereka akan bertarung dalam jangka waktu panjang yang amat lama.

    Salam Hangat

    FR

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s