Cerita Curhat Telenovela


Kutulis kisah cengeng ala Telenovela.
Sekali-kali nulis curhat yah. Mengakui kekalahan dan ketidakberdayaan. Hari ini bener-bener hari yang buruk menerima realita pahit. Break my pride!

Pagi itu jam masih pukul 4 dini hari tidur sendiri di Hotel. Telpon HP-ku berdering. Malas kuangkat. Dengan suara berat kujawab
sambil menahan kantuk.
“Servus, Ferizal am Telefon. Was kann ich für Sie tun?”
(Hallo, dengan Ferizal ada yang bisa saya bantu?)

Jawab diujung saya:
“Hey, morning Ferizal, bla, bla…” sapa suara lembut dari dengan B. Inggris cas-cis-cus dari seberang sana.

Samar tapi rasanya aku sangat kenal akrab suara itu. Ah iya, ingat aku sekarang! Suara yang sama belasan tahun yang lalu. Suara wanita lembut yang pernah jadi pujaan hati ketika masih kuliah di Yogyakarta kota tercinta. Suara yang sama ketika dulu saat kuliah sering menyanyikan lagu-nya Baverly Craven; “Promise me” khusus buatku.

Seketika silloute anggun profile dirinya kembali terbayang. Kulihat kode internasional sang penelpon: +1, dari Amerika pikirku. Apa yang dilakukan oleh si mantan pujaan hati di sana? tanyaku dalam hati penuh keingintahuan.

Dengan tenang kudengar dia bercerita, sambil sesekali mengajukan pertanyaan penuh selidik tentang dia. Sebenarnya naluri laki-2 ku melarang bertanya tentang dirinya, terutama tentang karirnya. Pengalaman managerial-ku mengatakan bahwa fakta yang akan kudapat sangat mungkin bisa sebuah kejutan yang akan menyakitkan. Tapi rasa keinginantahuan memaksa juga untuk bertanya. Dan jawaban yang kudapat benar-2 menyakitkan seperti yang aku takutkan: dia menduduki karir yang teramat sulit bisa diraih untuk kebanyakan orang. Posisi ekesekutif untuk perusahaan Consultant Management Multinasional di New York!

Ndak percaya dengan ceritanya. Sambil terus ditelpon, turn on-kan IBM Thinkpad-ku segera online ke internet. Ketik namanya di google search engine. Keluar namanya. Verdammt! (coro jowo:Bajigur!), memang benar. Si mantan pujaan hati menduduki level itu, di New York lagi! Dia lebih muda dariku dan menduduki level setinggi itu dalam waktu begitu singkat. Beberapa teman yang cukup senior dengan MBA atau bahkan dengan PhD dari World Class University dibelakang namanya saja sulit untuk meraih posisi itu.

Seketika sendi-sendi harga diri ini gontai. Tidak siap menerima khabar bahwa mantan pujaan hati mempunyai karir melenting seperti meteror. Meskipun dia tetap rendah hati (dan tidak berbasa-basi) mengucapkan terima kasih karena semasa mahasiswa dulu —katanya— akulah yang telah mengkadernya, mengajarkan tentang kepemimpinan dalam organisasi kemahasiswa, tapi ucapan itu sama sekali tidak membantu buat pulihnya harga diriku.

Segera lamunan kembali ke masa belasan tahun yang telah berlalu semasa mahasiswa. Gadis cerdas memang dia. Dari buku-2 bisnis model Aaker, Potler, Toffler, Ohmahe, Naisbitt, buku tentang agama seperti teologi feminisme Riffat Hassan sampai teori-2 sosialis kritis macam dari Hegel, Nietzsche, Habbermas, dilahap habis.

Pesonanya yang tidak pernah bisa aku lupakan ketika kita sering berdebat dengannya. Begitu memikat oleh ketajaman argumentasinya. Dengan senyum terkulum setiap argumentasinya selalu diakhiri dengan statement yang sengaja dibuat bersayap. Jika aku protes atas statemen bersayap tesebut karena sulit kukejar untuk dimintakan pertanggungjawaban jika kelak ternyata salah, paling dia akan kerlingkan matanya untuk menggodaku.

Lamunan ini tiba-2 terhenyak ketika dia bertanya: “Tell me about you, please”. Aku diam. Dia ulangi pertanyaan yang sama. Tapi aku ndak menjawab. Bukan aku ndak mau menjawab. Tapi aku sudah terlalu asyik larut meratapi kekalahanku. Aku sudah tidak berminat lagi melanjutkan pembicaraan. Bahkan aku sudah tidak perduli dengan semua pertanyaannya. Terlalu sulit buatku untuk menerima kekalahan ini, dari seorang wanita lagi…

“Lelaki cerdas itu ideal, tapi wanita cerdas itu adalah masalah. Masalah besar buat kaum lelaki seperti aku ini!”***

Dari keterasingan ditepi lembah Sungai Elbe,
Salam,

Ferizal
*** Sorry para Jeng Ayu, kalau diskriminasi gender mohon dimaafkan. Lha wong kulo tuh mau curhat jujur jeh… 🙂

Promise me – Baverly Craven…

Iklan

One thought on “Cerita Curhat Telenovela

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s