Doa buat Sang Matahari


Sang Petualang JATUH terkulai! Tapi inspirasi semangatnya bagai MATAHARI.

Seorang Dokter Bedah Brilyant yang begitu mashyur dan dermawan. Konon khabarnya seorang athies sejati yang tidak membutuhkan Tuhan. Pisau bedah di tanganya dipercaya lebih perkasa memotong kuku-2 tajam malaikat pencabut nyawa. Sobekan pisau bedahnya lebih cepat dari kecepatan malaikat dalam mencabut nyawa.

Hanya diantara pisau-2 bedah yang penuh perhitungan dingin, terlihat sang Dokter selalu menyelinap menyendiri dalam diam. Dengan beban hasrat ingin tahu, para stafnya amati apa yang dilakukan sang Dokter. Terperangah! Ternyata sang Dokter sedang tertunduk sujud berdoa. Terheran semua bertanya; „Kenapa dan untuk apa seorang atheis perlu berdoa?“

Jawabnya: “Aku memang (pernah mejadi) athies. Hanya menjadi seorang atheis membuatku tidak bisa berdoa. Sementara aku butuh berdoa untuk seorang Petualang SUFI yang memberi semangat seperti Matahari”.

Kala itu dalam kemiskinanku berkutat dengan buku, bersahabatlah aku dengan Matahari. Sebuah persahabatan dalam diam yang kebak dialog akan jati diri penuh intimasi. Saat ku memaki tanpa asa. Sang Matahari dalam diam mengajari aku:”bekerja untuk mengisi hari-2 menjadi bermakna, bukan mengisi hari-2 bermakna ini hanya untuk kerja!”

Matahari itu bukan lah sosok phisik perkasa. Matahari itu hanya seorang kuli angkut tua dalam kemiskinan yang lebih pekat tanpa serapah. Tersenyum dalam beban bagai menerima anugerah. Seluruh beban yang diterimanya selalu dipersembahkan dalam sujud doanya. Beban luka itu adalah sejatinya persembahan tertinggi sang kuli tua pada Junjungan-nya yang membuat kerja hari ini menjadi bermakna.

Dalam harapan kelelahan amat sangat, dikumpulkan keping-2 sen atas jerih payah sepanjang harinya. Dalam diam dicitakan untuk membeli sebuah gerobak tua. Untuk membantu tubuhnya yang tua renta agar sanggup mengangkat beban lebih banyak. Sang kuli tua menabung untuk sebuah gerobak. Gerobak yang merupakan harapan akan hidup yang lebih baik.

Hari itu semua keping sen-nya terkumpul di tangan dan cukup ditukarkan untuk gerobak tua. Kuli tua renta bersiap menyambut harapan. Senyum sumringahnya bertemu dengan kakunya wajahku dalam putus asa. Hari itu juga, adalah hari pembuktianku apakah aku layak menjadi seorang Dokter. Aku putus asa bukan atas nama pengetahuanku. Aku putus asa karena kemiskinan ini akan menghentikan langkahku.

Atas nama kapitalis maka pembuktianku sebagai seorang yang layak menyandang Diploma Medikus harus disyarati oleh biaya. Biaya yang akan digunakan untuk mensubsidi universitas angkuh yang telah begitu kaya. Membiayai kebesaran atribut para guru besarnya.

Si kuli tua tersenyum melihat ku putus asa. Semua uang dalam kantong kusamnya diserahkan padaku. Lembut katanya, dia bekerja kumpulkan uang itu memang disiapkan untuk membiayai ujian akhirku. „Ambilah uang ini, jika kamu jadi dokter kamu akan jadi Matahari yang bisa menerangi mereka yang sakit yang membutuhkan tangan dinginmu“. Dan ini adalah kalimat terpanjangnya yang pernah kudengar saat bersahabat dengannya.

Suka cita! Kusiapkan perjalanan akhir untuk ujian Diploma Medis-ku. 40 hari, 40 malam berpisah dengan sahabat tua membuat hasratku membucah di dada. Ingin kukatakan padanya bahwa aku tidak menyia-nyiakan pengorbanannya. Aku lulus dengan Predikat terbaik bahkan Tuhan pun tidak sanggup memberi pertanyaan sulit padaku!

Sambutan sahabat tuaku atas keberhasilanku benar-2 tidak kuduga. Begitu dingin, diam dan amat menyakitkan! Membuatkan mengeluarkan air mata. Dia menyambutku dalam bongkahan sebuah batu diatas sebidang tanah yang masih basah, yang namanya pun tidak tercoretkan disana. Tanpa bunga, tanpa upacara penghormatan, tiada yang peduli padanya. Kecuali tanah yang selalu rendah hati terbuka menyambut jasadnya.

Aku menangis. Aku tahu, aku sama sekali tidak mampu membalas segala yang telah dikorbankannya untukku. Rasa sesal tidak mempu membalas pengorbanan itu ternyata menghantuiku. Akhirnya, satu-2nya cara untuk membalas semua pengorbanannya, kuputuskan untuk mendoakannya. Hari-2nya sang kuli tua selalu diisi dengan berdoa. Dengan mendoakannya pulalah, kuharap aku bisa membayar semua kebaikannya…

Itulah yang menjadikanku akhirnya tertunduk sujud 5 kali dalam doaku. Doa buat sang Matahari…

Shubuh dini hari, 8 März 2010
Dari Tepian Lembah Sungai Elbe – Hamburg

Ferizal Ramli

2 thoughts on “Doa buat Sang Matahari

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s