SBY, Polri, Matinya Nurani, Mahasiswa dan Pembangkangan Sipil


Sebenarnya sebagai Presiden terpilih dengan suara mayoritas SBY punya kesempatan besar untuk menegakkan kejujuran dan kebenaran dalam memberantas korupsi kronis di negera ini. Adalah KPK (Komisi Pemberantas Korupsi) saat ini sebagai institusi terdepan dalam pemberantasan korupsi. Selama ini prestasi KPK adalah nyata dalam pemberantasan korupsi. Apabila SBY terus mendukung eksistensi dari KPK maka kemajuan pemberantasan korupsi akan memberikan dampak yang baik bagi bangsa Indonesia. Negeri yang berkubang korupsi ini akan mucul menjadi wajah yang lebih jernih dan bersih.

Hanya sayangnya, alih-2 SBY mendukung eksistensi KPK yang terjadi justru sikapnya sampai saat ini malah anomali. SBY membiarkan Polri dan juga Kejaksaan Agung mengkebiri KPK. Pimpinan KPK ditahan Polri untuk sebuah alasan yang tidak pernah bisa dijelaskan bahkan oleh Polri sendiri. Ini jelas bentuk kesewenang-wenangan Polri. Ini bentuk hukum rimba dari penguasa. Hanya saja, atas kesewenang-wenangan kekusaan ini, SBY bukannya segera bertindak untuk mencegahnya malah mendiamkan, menutup mata dan telinga.

Penangkapan para pimpinan KPK yang nota bene garda terdepan pemberantasan korupsi ini justru memberikan indikasi nyata matinya nurani di negara kita. Penangkapan KPK ini juga seperti „ancaman“ langsung kepada BPK (Badan Pemeriksa Keuangan) yang saat ini sedang mengaudit adanya kemungkinan penyalahgunaan dana 7 Trilyun Bank Century. Pesannya jelas, jika BPK berani macam-macam maka akan ditangkap seperti KPK. Jika BPK berani mengeluarkan hasil audit yang „tidak menguntungkan“ penguasa maka akan di-KPK-kan! Sangat mungkin kejadian KPK ini dijadikan intimidasi psikologis pada siapapun yang berani melawan korupsi. Ini jelas merupakan kematian hati nurani dan kejujuran pada bangsa ini.

Dalam kondisi ini maka dimungkinkan ada dua skenario yang bisa berjalan yang menarik dicermati untuk dianalisa:

Skenario pertama, Polri berhasil dengan teknik kesewenang-wenangannya. Pimpinan KPK tetap di Penjara. Pihak lain seperti BPK menjadi tertekan dan terancam melihat dipenjaranya para pimpinan KPK. Ini menjadi intimidasi nyata bahwa mereka (BPK atau lainnya) pun bisa di-KPK-kan (di penjara) oleh Polri untuk sebuah alasan yang tidak ada alasannya. Akibatnya, semua komponen bangsa takut melawan korupsi dan akhirnya korupsi berjalan normal tanpa hambatan sama sekali. Benarkah ini yang diinginkan SBY?

Skenario kedua, masyarakat melawan tindakan kesewenangan ini. Biasanya para mahasiswalah yang berada pada garda terdepan. Sangat dimungkinkan kejadian penguasaan Gedung DPR oleh mahasiswa terulang lagi. Apabila BEM (Badan Eksekutif Mahasiswa) seluruh Indonesia bersatu dan berkumpul di Trunojoyo dan mengepung MABES Polri memprotes kesewenang-wenangan maka akan terjadi nurani idialisme Mahasiswa yang membela KPK akan berhadapan dengan kesewenang-2an Polri. Ini bisa menjadi bola liar buat Polri dan pemerintah SBY jika tidak cepat diselesaikan secara bijak.

Sangat dimungkinkan akan berkembang pada terjadinya pembangkangan sipil terhadap institusi Polri sebagai bentuk solidaritas memperjuangkan nurani. Akibatnya, masyarakat tidak tunduk lagi pada Polri. Mereka tidak ikuti aturan Polri lagi. Mereka tidak menghormati Polri sebagai institusi hukum. Akibatnya bisa fatal. Bisa terjadi kekacauan hukum di Indonesia. Skenario kemungkinan terjadinya pembangkangan sipil jangan dianggap sepele. Dalam banyak kasus di banyak negara, kekuasaan yang didemostrasikan secara sewenang-wenang bisa membuat masyarakat menjadi tergerak untuk melawannya secara bersama-sama. Ini juga bisa mengancam kelangsungan pemerintahan SBY dan berarti kerugian bagi seluruh bangsa Indonesia. Apakah seperti inikah yang diinginkan SBY?

Berangkat dari kekhawatiran itulah maka sebaiknya SBY segera bersikap. SBY harus berpihak pada nurani dan kebenaran. SBY adalah presiden pilihan sebagian besar masyarakat Indonesia. Terpilihnya SBY jelas sebagai wujud cintanya masyarakat pada SBY. Jika SBY menunjukkan pada masyarakat bahwa SBY berpihak pada nurani maka masyarakat yang telah memilih SBY beberapa waktu lalu akan lega dan bahagia. Mereka tidak salah memilih…

Tapi jika SBY tetap diam dan membiarkan kesewenangan ini terjadi maka orang tua kita sering memberi nasehat: ”Gusti Allah itu boten sare…”

Dari tepian lembah Sungai Isar

Iklan

4 thoughts on “SBY, Polri, Matinya Nurani, Mahasiswa dan Pembangkangan Sipil

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s