Gelora diantara karya agung dan sisi kelam…


(ini Forward dari tulisan seorang sahabat lama yang bernama „Friedrich Rasyidin“. Anda perlu rileks membaca tulisan sobat saya Mas Friedrich ini. Se-rileks mungkin…)

„Asrul, aku kena spilis. Tampaknya aku ndak bisa sembuh dan aku akan mati karenanya. Kau ndak usah bersedih karena kematianku. Jangan khawatir sobat setiap sastrawan-2 besar mati karena spilis…“

Kurang lebih itulah sepenggal kalimat yang ditulis oleh sastrawan Asrul Sani terhadap sohib kentalnya si binatang jalang Chairil Anwar disaat terakhir menjelang kematiannya. Lelaki inspirasi atas nama kejalangan dan keliaran yang begitu apik flamboyant.

Ah, aku tidak ingat persis keutuhan potongan paragraf indah yang melukai hatiku. Itu kubaca mungkin sekitar lebih 20 tahun lalu. Kubaca saat aku baru belajar mengenal jati diriku. Saat darah muda idialisku bergelora seakan ingin menggenggam dunia. Saat darah mudaku juga berfantasi liar atas keindahan lekuk-lekuk tubuh gadis-2 lawan jenisku yang dibalut dalam seragam sekolahnya.

Disaat cinta monyet masa-2 SMA mengejawantah pasti. Saat mungkin sebagian diantara kita sudah merasakan indahnya madu cinta. Direguk habis dengan berbagai cita rasa dalam hasrat gelora atas nama cinta. Saat semuanya diselesaikan secara tuntas tanpa peduli apa yang akan dipersembahkan nanti atas nama institusi pernikahan.

Saat itulah tulisan Asrul Sani di detik-2 kematian Chairil Anwar begitu terekam di memoriku terdalam.

Spilis! Chiril Anwar benar, para pecinta besar mati karena spilis. Hanya Chairil Anwar terlalu jalang sehingga ekspresi cintanya harus dibayar secara nyata dengan penyakit yang begitu menyakitkan…

Spilis adalah bagian dari ekspresi cinta dari sisi yang kelam jahanam. Chairil Anwar muda adalah pelahap Also sprach Zarathrusta, karya Agung dari Nietzsche. Chairil Anwar adalah eksistensialis sejati. Begitu kagumnya pada Nietzsche sehingga konon khabarnya pernah suatu ketika Chairil Anwar perlu mencuri buku hanya untuk dapat membaca karya-2 Nietzsche.

Imajinasi liarnya pasti tahu moment-moment dikala Nietzsche dalam gelora liar bergumul dalam penjelajahan imajinasi coretan karya-2 agung dan lekuk tubuh indah wanita-wanita yang menjadi inspirasi, diantara kecemerlangan ide dan kedahagaan hasrat.

Tidak cuma Nietzsche, Khalil Gibran adalah pecinta sejati yang meleburkan geloranya liar tanpa batas. Seakan setelah menyetuh nyata „Salma sang terkasih“, Kahlil Gibran mencoretkannya dalam karya agung yang membuat air mata kita mengucur deras, menguras. „Sayap-sayap Patah“.

Bahkan sebagaian diantara kita, diantara berbagai topeng-topengnya, dan keterbatasan dalam mengejahwantahkan hasrat dan mengekspresikan karya, sebenar ada sisi-2 liar yang menuntut dipenuhi. Baik dipenuhi atau tidak, sisi itu selalu ada.

Hanya Nietzsche, Kahlil Gibran menjadikan hasrat sisi liar itu sebagai coretan agung. Coretan yang menginspirasi kehidupan. Coretan yang diraih dari desah-2 nafas kehidupan untuk akhirnya ditulis untuk lentera pengetahuan yang memperpanjang nafas kehidupan.

Iwan Fals dalam sebuah Syair lagunya menulis „Lonteku, terima kasih atas pertolonganmu malam itu“. Mengapa lonte? Mengapa harus mempercayakan hatinya pada lonte? Mengapa? Karena lonte mampu menutupi rasa dukanya, dalam hati teriris tanpa peduli berapa berat beban yang ditanggung, dia melebur, menyatu dalam hasrat tuannya. Lonte adalah manifestasi penyerahan total dalam gelora.

Chairil Anwar, tampaknya untuk menulis karya-2 insiprasi kehidupan membutuhkan gairah nafas-2 desahan lembut. Tidak peduli itu desahan dari dunia kelam atau tidak kelam. Apa bedanya? Hanya norma-2 arogansi masyarakat saja yang membedakan.

Apa bedanya bagi Chairil Anwar tidur dengan lonte atau tidak dengan lonte? Toh klo hanya untuk meniduri, dia bisa mendapatkan wanita secantik apapun semudah menggertakkan kedua jemarinya. Tapi mencari pengabdi total dalam gelora, tampaknya lonte atau tidak lonte bukan masalah lagi…

Sampai akhirnya Spilis harus mengakhiri petualangannya…

Chairal Anwar benar. Semua sastrawan-2 besar mati karena spilis. Hanya pada Nietzsche, Kahlil Gibran, atau lainnya spilis itu tidak menjadi nyata. Malang buat si binatang jalan, spilis itu nyata dan akhirnya membunuhnya…

Mungkin juga saat ini sisi kelam itu bukan spilis lagi namanya. Dia bisa bermetamorfosis menjadi HIV atau apapun namanya. Tidak peduli dia mengejawantah menjadi nyata dalam tubuh kita atau masih bernasib baik karenanya. Tidak peduli dia telah merasuk pada tubuh, menjelma dalam sisi-sisi kelam atau kita tetap „putih“ tanpa nodanya.

Yang jelas saat kita memacu sisi liar gelora tanpa batas, maka sejatinya kita telah terkena „spilis“. Kita harus jujur akui itu. Hanya jika penyakit itu mungkin tidak nyata ada dalam nafas hidup kita, itu hanya kebetulan nasib baik belaka. Tidak lebih! Tidak ada yang perlu dibanggakan.

Chairil Anwar benar. Jangan bersedih karena mati kena spilis. Yang memilukan adalah saat tidak ada karya agung terlahir tetapi sejati kita mengindap „spilis“ yang kebetulan nasib baik belaka masih memihak kita…

20.02.09

-Friedrich Rasyidin-

Iklan

2 thoughts on “Gelora diantara karya agung dan sisi kelam…

  1. Bingung nih… “Spilis” sama “Sipilis” sama nggak sih? saya baca dari atas sampe akhir nggak tau juga maksud “Spilis”…. :mrgreen:
    Apa saya malah tangkap?
    Maklum ga bakat seni… :mrgreen:

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s