Diskusi Ekonomi seri-3: Das Ende des Kapitalismus – The Moral Sentiment


Diskusi Ekonomi seri-3: Das Ende des Kapitalismus – The Moral Sentiment

Saat kita bicara tentang Kapitalisme maka kita bicara tentang karya Adam Smith, An Inquiry into the Nature and Causes of the Wealth of Nations”. Kita bicara sebuah bangunan yang di-fondasikan dan ditiang-pancangkang oleh Adam Smith. Tidak ada yang mampu menyangkal bahwa Adam Smith lah yang meng-“kunfayakun”, meniupkan roh kapitalisme.

Point penting sampai hari ini yang menjadi ciri khas kapitalisme:

1. Laissez-faire, persaingan bebas tentu saja dengan berbagai improvisasi

2. Akumulasi kapital, prinsipnya unit ekonomi (baca: perusahaan) harus mengumpulkan kapital sebanyak-2 nya untuk mendapatkan keuntungan dan memenangkan persaingan.

Kedua hal itulah yang menjadi content penting kapitalisme selama ini, sekali lagi tentu saja dengan berbagai improvisasi disana-sini sesuai dengan kebutuhan jaman.

Hanya orang lupa, sebelum Adam Smith menulis “the Wealth of Nation”, dia menulis dulu karya apik “The Theory of the Moral Sentiments” sebagai spirit moralnya. Jika kita membaca secara utuh series karya Adam Smith maka kita akan mendapatkan gambaran jernih bahwa ekonomi (baca: kapitalisme) ini harus dilandaskan moral.

Adam Smith mau bilang: saat aktor ekonomi mau bersaing bebas dan mengumpulkan keuntungan sebanyak-banyak, itu harus di-“batasi”oleh sebuah kesadaran dan simpatik terhadap kepentingan orang lain! Artinya, kapitalisme yang mengeruk keuntungan sebanyak-banyaknya tanpa ada kesadaran dan simpatik orang lain yang rugi karena sepak terjang kita, adalah kapitalisme tanpa moral (itu kata Adam Smith, bukan kata saya)

Adalah menyedihkan jika ada yang menuduh bahwa nilai moral Adam Smith itu sudah tidak berlaku lagi saat ini, karena sudah kuno. Sudah berusia 300 tahun lalu. Padahal konsep persaingan bebas dan akumulasi kapital/keuntungan sampai hari ini tetap diterapkan oleh seluruh aktor kapitalis. Jelas ini ketidakkonsistenan dari para penganut persaingan bebas dan akumulasi kapital.

Bagi saya pribadi, dengan menggunakan bahasa ekstrim bahwa mengimplementasikan konten dari “The Wealth of Nation” tanpa dilandasi oleh “The Moral Sentiment”, itu adalah ekonomi moral hazard. Ekonomi greedy. Ekonomi tanpa moral.

XXX

Berangkat dari “the moral sentiment” itu maka sebuah perekonomian kapitalisme dikatakan terbebas dari moral hazard jika:

Pertama, perekonomi itu harus dilandasi oleh “standard moral”. Sebuah kesadaran dan simpatik kolektif untuk tidak menjerumuskan orang lain saat kita ingin meraih keuntungan.

Kedua, harus dibuat sebuah aturan main bahwa “standard moral” itu bisa dimplimentasikan dan diikuti oleh para pelaku ekonomi.

Ketiga, aturan itu dibuat harus berlandaskan pada standard moral bukan pada kepentingan pihak-pihak tertentu untuk memuaskan sifat greedy-nya.

Bagi saya pribadi, sebuah sistem perekonomian yang tidak memenuhi ketiga kaidah diatas maka adalah perekonomian tanpa moral.

Tidak bisa “benar atau salah” itu hanya berdasarkan pada kita melanggar aturan atau tidak melanggar aturan. Tidak bisa “benar atau salah” itu dilihat dari aturan hukum formal semata. It doesn’t work. Itu sistem yang keropos dan barbar. Suatu ketika akan terjadi chaos…

Adam Smith jelas bilang kok bahwa “benar atau salah” itu berdasakan nilai moral, lalu dibuat aturan hukum. Dan aturan hukum itu tidak boleh menyimpang dari nilai moral. Aturan yang dibuat tidak untuk mengabdi pada kepentingan golongan tertentu.

XXX

Sekarang mari sedikit ke Amerika. Emanuell Todd (After the empire the braekdown of America order) bilang bahwa Amrik itu adalah Ekonomi tanpa moral. Bagi Todd, Amrik itu kehilangan moral wisdom. Ekonominya di-navigasi oleh sifat greedy. Penguasaan resources orang lain secara paksa untuk keuntungan dirinya sendiri adalah sifat utama perekonomian Amrik. Bukan dengan cara kompetisi secara fair tapi dengan cara penguasaan secara paksa militeristik.

Lantas apa hubungannya antara kehilangan moral wisdom dengan krisis keuangan Amrik yang saat ini terjadi?

Elma Alvater (das Ende des Kapitalismus) mempunyai jawabannya. Menurut Alvater, karena ciri khas ekonomi Amrik itu greedy dan penguasaan resources orang lain maka ekonomi Amrik itu tidak didesain untuk berkompetisi. Industri riil Amrik itu hanya bisa berkompetisi melawan konkruent-nya (Eropa, Jepang, Cina, dll) karena mendapatkan minyak murah dengan kolonialisasi Timur Tengah dan boleh merusak lingkungan (tanpa mau menandatangani piagam lingkungan).

Hanya penguasaan resources tersebut bagaimanapun juga terbatas. Akibatnya, industri riil Amrik itu stagnan. Mandeg! Sementara Amrik ingin terus menerus mendapatkan keuntungan.

Dikarenakan sektor industri riil-nya ndak bisa kompetisi lagi. Jadi, satu-2nya cara adalah menggelembungkan sektor finansial. Harus dibuat angka-2 akrobat agar orang tetap menganggap Ekonomi Amrik super power dan dengan angka-2 tersebut Amrik ingin menguasai/membeli aset orang lain.

Akibatnya, aturan-2 yang dikeluarkan untuk mengatur dunia perbankan, investment bank, pasar saham, yang harusnya memihak pada kebenaran justru dibuat untuk mendukung perolehan keuntungan yang sebesar-besar. Sampai suatu ketika karena angka-2 akrobat kebohongan dan greedy-nya begitu massif, maka terjadilah koreksi dari sistem. Koreksi sistem inilah yang membuat seluruh industri keuangan Amrik hancur berantakan.

Jika kita menyimak pada Alvater maka menurut Alvater, Amrik tidak akan bisa bangkit kembali. Amrik itu sudah finish. Untuk ilustrasi mudah, tentu saja Amrik tidak jatuh menjadi negara paria model Timur Leste. Tapi masyarakat Amrik sangat mungkin tidak akan lebih sejahtera dari masyarakat emerging countries seperti Korea Selatan atau Taiwan. Atau malah mungkin cuma selevel China, India, Brazil, Rusia atau Indonesia 🙂

Salam hangat,

München, 11.02.2009

Dari Kesunyian Musim Dingin Tepian Lembah Sungai Isar

Ferizal Ramli

Iklan

2 thoughts on “Diskusi Ekonomi seri-3: Das Ende des Kapitalismus – The Moral Sentiment

  1. Lam knal, Mas. Tulisannya bagus bgt. Iya pelaku bisnis maupun siapa pun, tanpa dilandasi standar moral, sangat membahayakan. Membunuh perlahan dengan rasa sakit yang mendalam.

    Di Indonesia mall, pasar modern kian menjamur. Pelaku bisnis pasar tradisional terus tergerus, itu contoh kecil. Hmm, kira-kira pemain bisnis ini pnya standar moral gak ya? ^__^

    Kasihan rakyat..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s