Diskusi Ekonomi seri-2: Das Ende des Kapitalismus – MORAL HAZARD


Diskusi Ekonomi seri-2: Das Ende des Kapitalismus – MORAL HAZARD

Saya sebenarnya sangat lama berpikir, apa yang membuat banyak orang begitu
yakin bahwa krisis Amrik yang terjadi ini bukan karena moral Harzard?

Begitu disenggol-2 skadal Wallstreet kasus ENRON sebagai pembanding barulah saya paham logika berpikir tentang determinasi moral hazard. Ternyata buat banyak orang mendeterminasikan suatu perbuatan baru boleh dikatakan moral hazard jika dia melakukan tindakan melawan hukum formal.

Bagi saya pemahaman tentang moral hazard seperti diatas itu adalah pemahaman begitu (nyuwun sewu) sangat sederhana. Sangat primitif jika kita berkeyakinan sebuah perbuatan baru dikatakan moral hazard jika kejahatan telah terjadi melalui pelanggaran sebuah aturan main…

Padahal kenyataannya sistem ekonomi itu yang lebih sophisticated lagi 🙂

XXX

Saya akan mencoba jelaskan bahwa krisis Amrik ini 100% karena moral Hazard. No doubt untuk itu.

Hanya, sebelumnya harus dipahami dulu konsep kejahatan dalam Ekonomi…

1. Kejahatan yang tertinggi adalah Moral Hazard pada Policy.
Kebijakannya bertentangan dengan moral akal sehat.

2. Kejahatan Menangah adalah Moral Hazard pada Eksekusi.
Pelaksanaannya bertentangan dengan kebijakan/Aturan yang ada.

3. Kejahatan Paling ringan adalah kejahatan pada level Street Criminal.

Agar mudah pemahamannya, saya kontekstualisasikan dalam kasus Indonesia:

Jika kita bicara tentang Polantas sekali “prit” Goban (lima puluh rebu), atau uang siluman KTP, SIM, dsb maka ini Street Criminal, kriminal kecil…

Jika kita bicara korupsi Mark up, Dana Non Budgeter, Pemalsuan laporan keuangan Lippo beberapa waktu lalu misalkan, ini kita bicara Moral Hazard dalam level eksekusi. Aturannya tidak boleh dilakukan, tapi dilanggar. KPK (Komisi Penyelidik Korupsi) itu mampu mengatasi hal ini. KPK cukup melihat apakah ada pelanggaran aturan.

Jika kita bicara tentang Kebijakan bersama DPR dan Pemerintah misalkan, yang membolehkan asing meng-eksploitasi kekayaan minyak Indonesia, maka bagi saya ini moral Hazard dalam bentuk kebijakan.

KPK ndak mampu mendeteksi kejahatan model demikian, karena para pelakunya saat melakukan kejahatan dilindungi oleh UU yang sah. Yang nanti bisa dirasakan adalah ada suatu masa, saat bangsa Indonesia membayar mahal atas kebijakan yang moral hazard itu…

Saya berharap bisa memaknai bersama metodologi Moral Hazard diatas supaya tidak hantam kromo berdiskusinya…

XXX

Sekarang mari kita ke Amrik

Kejahatan pada kasus ENRON dalam kapitalisme adalah kejahatan level Menengah. Aturan Mainnya jelas, itu tidak boleh. Tapi ENRON dengan jaringan kejahatannya melakukan kecurangan dengan cara mensiasati aturan main. Membuat laporan keuangan palsu: cute accounting dikombinasikan dengan cooking books di bursa saham.

Jadi, moral hazard-nya dilevel eksekusi. Kebijakan resminya dari SEC (Regulator Bursa di Amrik) jelas menyatakan cara-2 Enron tidak diperbolehkan

Belajar dari kasus Enron, lalu oleh Pemerintah Amrik dibuatlah aturan yang lebih ketat lagi agar tidak bisa disiasati. Aturan ketat itu dikenal dengan “Sarbanes-Oxley Act”. Prinsipnya meminimalkan terjadinya “Cute Accounting” dan “Cooking Booking”, serta membuat para
Pemegang Keputusan harus bertanggung jawab atas laporan yang dibuatnya…

Untuk semua kejahatan ENRON itu, ada yang mengaggap ini contoh dari tindakan Moral Hazard. Itu benar 100%, saya setuju. Yang kurang dari pemahaman adalah, bahwa moral hazard itu bukan cuma seperti kasus Enron.

Kasus Enron itu C-U-M-A moral Harzard untuk level eksekusi. Para eksekutor (Dunia Usaha) melanggar aturan main yang telah dibuat oleh regulator (Pemerintah dan Negara Bangsa). Padahal ada moral hazard yang lebih tinggi lagi dari kasus Enron…

Sekarang kita lihat, bagaimana dengan Bubble Economic yang menyeret Amrik di dalam Krisis? Sayangnya pemahaman kita seringkali tentang Moral Hazard ekonomi terlalu sederhana. Jadinya, banyak dari kita gagal memahami apa itu yang namanya moral hazard dalam bentuk kebijakan. Moral Hazard yang dilakukan oleh sebuah regulator (Pemerintah dan Negara Bangsa) dalam membuat kebijakan…

Saya akan jelaskan secara detail dititik-2 mana moral hazard itu
terjadi dalam Bubble Ekonomi di Amrik ini. Mudah-2 besok sepulang Kerja…

Salam hangat,

München, 01.02.2009
Dari Tepian Lembah Sungai Isar

Ferizal Ramli

Iklan

2 thoughts on “Diskusi Ekonomi seri-2: Das Ende des Kapitalismus – MORAL HAZARD

  1. Diskusi Ekonomi: Das Ende des Kapitalismus-4 (Berbagai tanggapan)

    —-

    TANGGAPAN: Kibroto

    > (Ferizal) Saya sebenarnya sangat lama berpikir, apa yang membuat Kibroto begitu
    yakin bahwa krisis Amrik ini bukan karena moral Harzard?

    # (Kibroto) Saya bukan sekedar `lama berfikir’ tetapi pernah kuliah etika 🙂
    What is moral?

    > (Ferizal) Hanya, sebelumnya Kibroto itu harus paham dulu konsep kejahatan dalam
    Ekonomi…

    # (Kibroto) Ini konsep kejahatan menurut siapa? Menurut UU, kitab tahayul, budaya Jawa, mamah Loreng, mbah Marijan?

    Kejahatan Enron adalah dalam artian melanggar UU akuntansi.

    > (Ferizal) Jika kita bicara tentang Polantas sekali “prit” Goban (lima puluh
    rebu), atau uang siluman KTP, SIM, dsb maka ini Street Criminal…

    # (Kibroto) Itu mah, bukan moral hazard. Itu melanggar UU lalu lintas

    > (Ferizal) Jika kita bicara korupsi Mark up, Dana Non Budgeter, Pemalsuan laporan
    keuangan Lippo beberapa waktu lalu misalkan, ini kita bicara Moral
    Hazard dalam level eksekusi. Aturannya tidak boleh dilakukan, tapi
    dilanggar. KPK (Komisi Penyelidik Korupsi) itu mampu mengatasi hal
    ini. KPK cukup melihat apakah ada pelanggaran aturan.

    # (Kibroto) Btul, itu adalah pelanggaran aturan dan undang2.

    > (Ferizal) Jika kita bicara tentang Kebijakan bersama DPR dan Pemerintah
    misalkan, yang membolehkan asing meng-eksploitasi kekayaan minyak
    Indonesia, maka bagi saya ini moral Hazard dalam bentuk kebijakan.

    # (Kibroto) Dus, sesuatu itu moral hazard apabila `bagi pak Feri’?
    Siapa yang memberi sampiyan kewenangan menentukan suatu itu moral hazard? Mamah Loreng? Mbah marijan?

    > (Ferizal) KPK ndak mampu mendeteksi kejahatan model demikian, karena para
    pelakunya saat melakukan kejahatan dilindungi oleh UU yang sah. Yang
    nanti bisa dirasakan adalah ada suatu masa, saat bangsa Indonesia
    membayar mahal atas kebijakan yang moral hazard itu…

    # (Kibroto) Yang bisa HANYA pak Feri?
    Karena mendapat wangsit dari Hyang Monaz?

    > (Ferizal) Saya berharap Kibroto bisa memahami metodologi Moral Hazard diatas
    supaya tidak hantam kromo berdiskusinya…

    # (Kibroto) Jadiiiii, yang namanya moral hazard adalah `menurut pak Feri’?

    > (Ferizal) Yang kurang dari pemahaman Kibroto adalah, bahwa moral hazard itu bukan cuma seperti kasus Enron.

    # (Kibroto) Harus ditambahi `menurut pak Feri’? 🙂

    > (Ferizal) Sayangnya pemahaman Kibroto tentang Moral Hazard ekonomi terlalu sederhana. Jadinya, Kibroto gagal memahami apa itu yang namanya moral hazard dalam bentuk kebijakan. Moral Hazard yang dilakukan oleh sebuah regulator (Pemerintah dan Negara Bangsa) dalam membuat kebijakan…

    # (Kibroto) Saya memang ndak mampu membuat definisi apa itu moral hazard ekonomi. Dan saya kaget karena ternyata yang namanya moral hazard adalah `menurut pak Feri’ 🙂

    > (Ferizal) Saya akan jelaskan secara detail dititik-2 mana moral hazard itu
    terjadi dalam Bubble Ekonomi di Amrik ini. Mudah-2 besok sepulang Kerja…

    # (Kibroto) Ya, silahken. Alangkah baiknya sampiyan baca2 dolo, misalnya ini
    http://plato.stanford.edu/entries/morality-definition/
    http://en.wikipedia.org/wiki/Morality
    http://en.wikipedia.org/wiki/Ethics

    Sampiyan akan kelimpungan bicara tentang `moral’. Lebih mudah `melanggar ndang2′. Jika tak terbukti melanggar undang2 maka yang ada hanyalah `menurut gue’ itu salah/benar atau baik/buruk. Yang tak ada gunanya dibicaraken karena sangat sangat subyektip.

    XXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXX

    TANGGAPAN: Anung Nurcahya

    > (Ferizal) Kejahatan pada kasus ENRON dalam kapitalisme adalah kejahatan level
    > Menengah. Aturan Mainnya jelas, itu tidak boleh. Tapi ENRON dengan
    > jaringan kejahatannya melakukan kecurangan dengan cara mensiasati
    > aturan main.
    >

    Anung: Enron menyalahi aturan main, itu moral hazzard. Jelas. Yang
    mana yang sekarang yang nyalahi aturan?

    > (Ferizal) Aturan ketat itu
    > dikenal dengan “Sarbanes-Oxley Act”. Prinsipnya meminimalkan
    > terjadinya “Cute Accounting” dan “Cooking Booking”.
    >

    Anung: Lha, itu sudah ada aturannya. Apakah di aturan ini mengandung
    moral hazzard? Ada ketentuan yang sengaja ditaruh untuk bisa diplesetkan?

    > (Ferizal) Moral Hazard
    > yang dilakukan oleh sebuah regulator (Pemerintah dan Negara Bangsa)
    > dalam membuat kebijakan…
    >

    Anung: Apakah benar terjadi moral hazzard, ataukah para CEO itu hanya
    “salah perhitungan”, mungkin juga pemerintah “hanya telat melihat
    bahaya-nya” saja?

    -Anung-

    XXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXX

    TANGGAPAN: Kibroto

    > Anung: Apakah benar terjadi moral hazzard, ataukah para CEO itu hanya
    “salah perhitungan”, mungkin juga pemerintah “hanya telat melihat
    bahaya-nya” saja?

    # (Kibroto) Pegimane sih, sampiyan niki? Sudah ditulis dengan jelasnya bawa yang
    namanya moral hazard itu adalah MENURUT PAK FERI. Titik, ini harus
    diterima sebagai dogma 🙂

    Nek ndak, tapak sampiyan dijilat nisa dut, lho.

    XXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXX

    TANGGAPAN: Trihidayatno

    (Tri) ‘Ini pasti hasil kerja kelompok Freemason!’, kalo menurut HY, Sabili,
    …(wekekekek, nyuwun sewu tiba2 urun rembug poro begawan!)

    # (RDP) Fluida ada dua macam yaitu laminar (linear) ada pula turbulen
    (chaotic). Lebih mudah mengatakan bahwa sistem ikonomi itu ada yang
    determinsitik ada pulak yang chaotic. Sistim selalu menuju ke
    keseimbangan dimana situasi menjadi deterministik (bisa ditebak). Jika
    ada gangguan maka akan terjadi turbulensi (tak bisa ditebak).

    (Tri) Dinamika turbulen bisa dikalkulasikan, yaitu dengan analisa dimensional. Jika
    suatu keadaan ekonomi menjadi turbulen dan tidak ada yang bisa menebak, maka
    saya katakan para ekonom2 itu tidak becus!

    Tidak becusnya ya mungkin gara-gara greed kuwi, shg matane klilipen dolah. Atau
    mungkin gak sempet/males ngurusin, gak mau sinau ke Scientist. Mungkin juga ada
    yang tahu tapi diem2 saja. Atau apa lagi ya?

    Salam,

    Mas Tri from Pakem

    XXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXX

    TANGGAPAN: Anung Nurcahya

    > (Tri) Jika suatu keadaan ekonomi menjadi turbulen dan tidak ada yang bisa
    > menebak, maka saya katakan para ekonom2 itu tidak becus!
    >

    Anung: Tidak becus = moral hazzard?

    -Anung-

    XXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXX

    TANGGAPAN: Anung Nurcahya

    > # (Kibroto) Pegimane sih, sampiyan niki? Sudah ditulis dengan jelasnya bawa
    > yang
    > namanya moral hazard itu adalah MENURUT PAK FERI. Titik, ini harus
    > diterima sebagai dogma 🙂
    >

    Anung: Mungkin besok ada penjelasan dari Uda Fer mengenai ini. Karena
    menurut beliau memang ada moral hazzard dari pembuat kebijakan. Pengen
    tahu, kayak apa bentuknya, apa yang sesungguhnya terjadi?
    Apakah misalnya pemerintah sengaja memanipulasi angka inflasi, atau
    pemerintah sengaja kolusi dengan wall street untuk “membiarkan”
    praktek penggelembungan asset dengan “credit bubble”, atau …?
    Praktek curang oleh pembuat kebijakan, yang bagaimana yang sudah terjadi?

    Saya berpendapat itu salah hitung, semua orang over optimistic, bahwa
    ekonomi akan terus membesar. Karena over confident, makanya berani
    terus berhutang, dan bahkan sampai2 berani beli minyak 140 USD/barrel.
    Belakangan ketahuan bahwa itu salah hitung. Semua salah hitung: Bush,
    The Fed, Wall Street, Rating agencies, Freddy/Fanny, Republican,
    Democrat, dll. Nggak hanya di USA, tapi Eropa dll juga.
    Nah, nggak becus berhitung apakah sama dengan moral hazzard?

    Oh ya, kayaknya ada pertemuan di Swiss. Apakah mereka sdh bisa
    menemukan penyebabnya, apakah solusinya sudah didapat?

    -Anung-

    XXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXX

    TANGGAPAN: Ferizal

    Sabar Kang Anung dan sahabat semua,

    Besok aku kebetulan juga ada acara ke Davos (ups sorry maksudku Basel
    tapi cedak Davos juga kok ha…, ha…). Besok malam pas balik ke
    München aku nulis lagi akan menulisnya…

    Okya sampiyan pernah denger tulisan Adam Smith tentang “The Theory of
    the Moral Sentiments?” Percayakah sampeyan klo Adam Smith saat menulis
    Kapitalis tanpa landasan moral?

    Salam hangat dari suasana musim dingin,

    Ferizal Ramli
    Powered by Strawberry sent from Tepian Lembah Sungai Isar

    XXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXX

    TANGGAPAN: Kibroto

    > (RDP) Saya berpendapat itu salah hitung, semua orang over optimistic, bahwa
    ekonomi akan terus membesar. Karena over confident, makanya berani
    terus berhutang, dan bahkan sampai2 berani beli minyak 140 USD/barrel.
    Belakangan ketahuan bahwa itu salah hitung.

    # (Kibroto) Berikut contoh nyata. Setelah berprestasi dari omzet 200,000 ke
    sejuta, dua juta, tiga juta, dst sampai mencapai lima juta maka sangat
    mangsuk akal ia brani ngutang. Bank2 jugak mangsuk akal memberi dana
    karena prestasinya. Supplier2 juga percaya. Karyawan2 berharap akan
    dapet bonus. Pelanggan2 terus memberi order. Ketika yang terjadi tak
    sesuai dengan harapan, omset jatuh dan merugi maka mau tidak mau suka
    tidak suka terjadi peristiwa2 sbb :

    – ada pelanggan2 sudah bayar muka barangnya ndak dikirim.
    – pengrajin2 sudah stor barang tetapi dikemplang
    – supplier2 biasanya paling2 telat dibayar, kali ini dikemplang
    – riba ke bank berhenti. Apalagi cicilan. Bank2, BPR2, kreditor2
    pribadi, semua dikemplang
    – tak ada bonus tak ada thr dan ketika di phk, tak ada pesangon.
    – investor (termangsuk saya) dikemplang paling dolo.

    Jika melihat ke pihak2 yang dirugikan, kelihatannya ini adalah
    perbuatan tak bermoral berupa wan-prestasi = ingkar janji =
    ngemplang2. Pengemplangan itu disebabkan uangnya memang benar2 ndak
    ado. Saya dimintak untuk bail-out tetapi saya tak sanggup. Benar2 ndak
    ada uang.

    Apakah mitra2 saya berperilaku jahat? Yang jelas adalah ia bersalah
    yaitu salah itung, terlalu optimistik, salah perkiraan arus kas, dll.
    Tetapi tidak bisa disebut NIAT jahat. Walaupun terbukti `menipu’ dalam
    artian janji mbayar tetapi ngemplang. Bagi pihak2 yang dirugikan
    mereka dipersilahkan mengajukan tuntutan PERDATA. Prosedurnya adalah
    saat ini sedang proses pailit. Ketika pailit disahkan, maka sisa harta
    kantor + pribadi akan dilikuidasi dan dibagi ke masing2 pihak yang
    mengajukan gugatan.

    Jika ada yang menuduh mitra saya jahat ia harus lapor ke polisi
    lengkap dengan bukti2nya serta mengajukan gugatan PIDANA. Bukti
    misalnya uang pembeli bukan dibayarkan ke pengrajin tetapi buat poya.
    Tanpa bukti, kita tidak bisa menilai perbuatannya sebagai moral hazard.

    Nah, USA itu seperti mitra saya. Salah itung, ndak ati2, ceroboh,
    terlalu optimistis, dll. Akibatnya ia merugikan banyak orang,
    institusi, dan negara2. Sejauh ini bahkan tuntutan perdatapun tak ada.
    Apalagi pidana. Tuduhan pak Feri tentang adanya moral hazard karena ia
    berpendapat bahwa seseorang itu jahat, ia yang menentukan :-).

    XXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXX

    TANGGAPAN: Kibroto

    > (Ferizal) Okya sampiyan pernah denger tulisan Adam Smith tentang “The Theory of
    the Moral Sentiments?” Percayakah sampeyan klo Adam Smith saat menulis
    Kapitalis tanpa landasan moral?

    # (Kibroto) Tahukah sampiyan, tahun berapa Adam menulis? 250 tahun yll. Pada
    saat itu perbudakan terhadap negro adalah lazim dan bukan perbuatan
    tak bermoral. Perempuan2 ndak bole ikut pemilihan umum.

    Sesuatu itu bermoral atau tidak bisa tergantung dari (a) tahayul, (b)
    tradisi / budaya, (c) hasil musyowaroh, (d) reason, (e) waktu, dll.
    wanita mendapat warisa sepaoro ribuan tahun yll adalah perbaikan dari
    nasib buruk sebelumnya. Dijaman sekarang bagi yang tak percaya islam,
    warisan separo bagi wanita adalah economic moral hazard.

    Moral bukanlah sesuatu yang bisa dibuktikan salah/benar sebagaimana
    halnya 2+3=7 bisa dibuktikan salah. Atau dollah besok 8500 bisa
    dibuktikan salah. Bagaimana caranya membuktikan bahwa mencuri adalah
    salah?

    Apakah penjual/pembeli minyak waktu itu 120 dollah segentong salah?
    Jika tidak, salahkah orang menjuwal/beli harga saham sesuai pasar
    ketika IHSG > 2000? Salahkah orang memberi/meminta kredit dengan
    agunan yang waktu itu harganya sesuai dengan pasar?

    > Ferizal Ramli
    Powered by Strawberry sent from Tepian Lembah Sungai Isar

    # Kibroto
    Powered by wéðang bajigur from jauh dari Kalimalang 🙂

    XXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXX

    TANGGAPAN: Anung Nurcahya

    > (Kibroto) Nah, USA itu seperti mitra saya. Salah itung, ndak ati2, ceroboh,
    > terlalu optimistis, dll. Akibatnya ia merugikan banyak orang,
    > institusi, dan negara2. Sejauh ini bahkan tuntutan perdatapun tak ada.
    > Apalagi pidana.

    Anung: Ada beberapa yang sudah nampak sebagai pidana, misalnya kasus
    “skema Ponzi” dari Waldorf. Ada yang hanya bisa dikategorikan “tidak
    patut”, misalnya pake uang bail-out untuk mbayar bonus, pake jet
    pribadi padahal mau minta bantuan uang pajak.
    Tapi itu kalo menurut Uda Fer masih level 2, bukan “moral hazzard oleh
    pembuat kebijakan”. Nah, yang termasuk moral hazzard oleh pembuat
    kebijakan itu yang seperti apa? Kita tunggu penjelasan Uda Fer
    sebentar lagi.

    -Anung-

    XXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXX

    TANGGAPAN: Anung Nurcahya

    >> (RDP) Dengan adanya krisis ini, semuanya akan kembali ke harga wajar, nilai
    >> monetary akan mendekati nilai riil-nya. Mengkerut sejenak, dan
    >> kemudian naik lagi. Sudah siklus kok.
    >
    > Lah kalau sudah fatalis gini ya susyah. Semua hanya siklus … semua
    > sudah alamiah. Tapi justru tugas manusia itu untuk mampu mengontrol
    > dirinya supaya tidak terjerumus pada kerjadian-kejadian alam.
    > Manusia justru menggunakan inteligent-nya bisa “beradaptasi” dengan
    > siklus alami.
    >

    Anung: Nggak fatalis, hanya saja memang kayak gitu. Sebabnya karena
    manusia punya “short memory”, lupa harusnya bisa belajar dari sejarah.
    Lupa kalo dulu pernah mengalami yang sama, bubble economic, dan
    akhirnya pecah (mengkerut).

    -Anung-

    XXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXX

    TANGGAPAN: Tri Hadiyatno

    >>Anung: Tidak becus = moral hazzard?

    (Tri)
    Sing jelas matane klilipen dolar dan mabuk kepayang. Ekonom (juga fisikawan) yang mengingatkan akan terjadi depresi adalah Rizal Ramli (Ada hubungan gak ya dengan anggota milis ini? Namanya mirip)

    Salam,
    Mas Tri

    XXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXX

    TANGGAPAN: Rovicky Dwi Putrohari

    > Anung: Nggak fatalis, hanya saja memang kayak gitu. Sebabnya karena
    > manusia punya “short memory”, lupa harusnya bisa belajar dari sejarah.
    > Lupa kalo dulu pernah mengalami yang sama, bubble economic, dan
    > akhirnya pecah (mengkerut).

    (RDP) Short memory manusia itu berada pada otak individu, Namun dalam loong
    memory yang tersipan mboh dimana (barangkali tertanam dalam DNA),
    manusia menjadi berbeda dengan binatang ketika manusia (merasa) mampu
    mengontrol badan wadagnya dengan inteligent.
    Manusia jelas dapat belajar dari sejarah dan membacanya dengan bahasa
    inteligent, sedangkan binatang hanya menimpan loong historynta dalam
    perjalanan evolusi (mungin tercatat dalam DNA).
    Dengan inteligent manusia inilah yang mampu men-decode masa lalu yang
    pernah dilalui.

    Kapitalis meruipakan fenomena yang menjadi bagian sejarah dari
    manusia. Pak Ki menjabarkan bahwa “nafas” awal kapitalisme berasal
    dari “greedy”. Greedy dianggap sebagai “bawaan” lahir manusia. Namun
    greedy ini perlu dikontrol. Apa yang yang mengontrol ? Seperti yang
    saya tulis sebelumnya bisa saja kontrolya berupa value (tata nilai)
    atau moral. Sayangnya greedy kali ini lebih dikontrol atau
    dikendalikan oleh freedom dan liberalisasi yang menjadi energinya
    Amrik. Dan Kapitalis menjadi runtuh mungkin akibat salah urus atau
    malah mungkin runtuh karena emang saatnya runtuh.

    Mungkin nggak ya “greedy” dibumbui dengan sharing bukan dengan freedom
    yang disajikan dalam pinggan liberalisme ?
    Mungkinkah pertumbuhan masih akan ada tetapi ada batasan-batasan
    (value/moral) supaya tidak menjadi bola liar tak terkendali ?

    rdp

    XXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXX

    TANGGAPAN: Albert Pratama

    > (RDP) Sayangnya greedy kali ini lebih dikontrol atau
    > dikendalikan oleh freedom dan liberalisasi yang menjadi energinya
    > Amrik.

    (Albert Pratama) Pak Rovick, saya mau numpang tanya. Bisakah dijelaskan, apa yang
    dimaksud “greedy yang dikontrol oleh freedom dan liberalisasi”?
    Bagaimana cara mengontrolnya? Soalnya sepengetahuan saya, freedom dan
    liberalisasi rasanya malah cenderung mengurangi batasan dan kontrol.

    Regards,
    Albert

    XXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXX

    TANGGAPAN: Rovicky Dwi Putrohari

    > (Albert Pratama) Pak Rovick, saya mau numpang tanya. Bisakah dijelaskan, apa yang
    > dimaksud “greedy yang dikontrol oleh freedom dan liberalisasi”?
    > Bagaimana cara mengontrolnya? Soalnya sepengetahuan saya, freedom dan
    > liberalisasi rasanya malah cenderung mengurangi batasan dan kontrol.

    (RDP) Kapitalisme memang bertumpu pada greed (Kibro)

    Kapitalisme dijalankan/dimotori oleh US karena porsi pergerakan
    ekonomi dunia dikuasai oleh ekonomi US. US emang superpower tidak
    hanya militer. Negeri besar ini harus diakui sebagai negeri yang
    dominan terutama pasca perding (Perang Dingin), dimana USSR rontok.
    US memiliki nafas freedom dan energi liberal. Bagaimana dia
    menggunakannnya ? Banyak sekali tekanan-tekanan US pada dunia lain
    untuk menjalankan pasar bebas. Tekanan untuk membuat pasarnya terbuka
    salah satunya ya negeriku ini Bert. Liberalisasi di Indonesia
    dilakukan melalui tangan IMF. Pembatasan-pembatasan untuk
    mempertahankan negeri kecil dengan mudah selalu didobrak oleh US
    dengan satu senggolan saja.
    Cepu runtuh disenggol dengan tangan Amrik dan ditampani oleh Exxon.
    Kalimat yang digunakan hanyalah keterbukaan atau liberalisasi pasar.
    Indonesia terlalu nurut dan enggan mempertahankan proteksi demi demi
    negerinya. US dengan mudah menembus proteksi Indonesia dengan ujung
    jari tangan IMF.

    Freedom memang mengurangi batasan, freedom dan liberal mengharamkan
    proteksi, maunya pasar bebas.

    gitu yang kutahu bert

    rdp

    XXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXX

    TANGGAPAN: M Aziz

    Ada yang tahu nggak, kenapa US begitu kuat cengkeram dunia?

    XXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXX

    TANGGAPAN: Rovicky Dwi Putrohari

    Sependek pengetahuanku utamanya MILITER !
    Aspek yang lainnya akan ngikut dibelakangnya. Mungkin bukan karena
    salut tetapi karena takut 😦

    RDP

    XXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXX

    TANGGAPAN: Albert Pratama

    Kalo menurut saya, itu namanya bukan “greedy yang dikontrol oleh
    freedom dan liberalisasi”, “greedy yang DIDUKUNG oleh jargon freedom
    dan liberalisasi” rasanya lebih pas. Dari apa yang Pak Rovick
    sampaikan, greedy bukannya dikontrol, malah diumbar. Memang sepertinya
    siapapun yang memiliki kekuatan cenderung ingin menguasai semuanya,
    dengan cara halus ataupun tidak.

    Regards,
    Albert

    XXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXX

    TANGGAPAN: Rovicky Dwi Putrohari

    Ya boleh saja anda sebut didukung atau disupport. Boleh juga greedy yg
    diramu dengan bumbu freedom dan sambel liberal 🙂
    Nah apakah supporter atau sponsor bisa disalahkan atau dianggep salah
    atau engga, Bert ?

    Rdp

    XXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXX

    TANGGAPAN: Albert Pratama

    > (RDP) Ya boleh saja anda sebut didukung atau disupport. Boleh juga greedy yg
    > diramu dengan bumbu freedom dan sambel liberal 🙂

    (Albert Pratama) Lho, tadi katanya greedynya dikontrol sama freedom, kok sekarang jadi
    greedy didukung freedom? 🙂

    > (RDP) Nah apakah supporter atau sponsor bisa disalahkan atau dianggep salah
    > atau engga, Bert ?

    (Albert Pratama) Wah dalam hal ini ilmu saya masih cethek, belum sanggup menghakimi
    apakah supporter atau sponsor bisa disalahkan atau tidak.

    Regards,
    Albert

    XXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXX

    TANGGAPAN: Iwang BK

    hhmm..
    ngeliat greed atau tidak, dari mana yak?
    thanks

    hihihi..akhirnya jadi 4 baris….

    XXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXX

    TANGGAPAN: Anung Nurcahya

    > (RDP) Liberalisasi di Indonesia
    > dilakukan melalui tangan IMF. Pembatasan-pembatasan untuk
    > mempertahankan negeri kecil dengan mudah selalu didobrak oleh US
    > dengan satu senggolan saja.
    >

    Anung: Kok nyalahkan IMF? Setahu saya, Indonesia waktu itu butuh
    bantuan – Nah, syarat untuk mendapat bantuan itu adalah Indonesia
    harus menyerahkan proposal rencana kedepan. Rencana usulan Indonesia
    itu disetujui IMF, dan dibuatlah dalam Letter of Intent, biar ada
    hitam diatas putih. Lha, ya jangan nyalahkan IMF – wong yang usul juga
    pemerintah Indonesia dan yang melaksanakan juga pemerintah Indonesia.

    > (RDP) Cepu runtuh disenggol dengan tangan Amrik dan ditampani oleh Exxon.

    Anung: Nah, kalo yang ini saya stuju dengan Widya Purnama. Harusnya
    kita bisa ambil sendiri. Eh, malah Widya yang diganti oleh SBY dengan
    CEO dgn kompetensi dibawah par (direktur yang sekarang).

    -Anung-

    XXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXX

    TANGGAPAN: Kibroto

    > (Albert Pratama) Pak Rovick, saya mau numpang tanya. Bisakah dijelaskan, apa yang
    dimaksud “greedy yang dikontrol oleh freedom dan liberalisasi”?
    Bagaimana cara mengontrolnya? Soalnya sepengetahuan saya, freedom dan
    liberalisasi rasanya malah cenderung mengurangi batasan dan kontrol.

    >> hhmm..
    ngeliat greed atau tidak, dari mana yak?
    thanks

    # Pokoké, yang namanya kampung ini adalah definisi-maniak :-). Kalo
    ndak mempertanyaken definisi, semua masuk UGD.

    Definisi termudah serakah = beyond necesity = melebihi kebutuhan. Jika
    demikian maka semua orang praktis adalah serakah. Cuman malu2 mengakui
    = munapik. Sama dengan bini mustinya cukup sebiji tetapi kalo semua
    orang dikalungi poligraf akan ketahuan bahwa semua pria adalah
    serakah, maunya ngencuki beyond necesity.

    Maka yang dipertanyakan adalah caranya. Kalo ia kerja keras banting
    tulang tidak tipu sana tipu sini dan punya ber-losin2 sepatu yang
    beyond necesity, what wrong with that? Yang jadi pertanyaan disini
    adalah kalo dalam upayanya untuk memenuhi serakah, ia salah itung dan
    menyebabkan banyak pihak ikut2an menderita rugi, apakah itu moral hazard?

    Kedua, dampaknya. Kalo lebih banyak yang diuntungkan daripada yang
    dirugikan, salahkah serakah? Jika ia bekerja biasa2 saja, ia mampu
    cukup sandang pangan papan sehat dan saru. Jika ia kerja keras agar
    bisa menikmati yang sekunder, biarpun beyond necesity, salahkah ia?

    ===================

    > Pak Ki menjabarkan bahwa “nafas” awal kapitalisme berasal dari
    “greedy”. Greedy dianggap sebagai “bawaan” lahir manusia. Namun greedy
    ini perlu dikontrol

    # (Kibroto) Greed ndak perlu dikontrol. Akan muncul reaksi2. entah itu hukum
    penawaran dan permintaan, the law of diminishing return, ewuilibrium,
    dst, akan mengontrol secara otomatis.

    > Apa yang yang mengontrol ? Seperti yang saya tulis sebelumnya bisa
    saja kontrolya berupa value (tata nilai) atau moral.

    # (Kibroto) Moral hanyalah ilusi, persis dibilang pak Farid. Moral berevolusi.
    Hukum penawaran permintaan ceteris paribus, bukan ilusi.

    > Sayangnya greedy kali ini lebih dikontrol atau dikendalikan oleh
    freedom dan liberalisasi yang menjadi energinya Amrik

    # (Kibroto) Sudah saya bilang, ndak ado yang namanya full liberal dan full
    laizess faire.

    > Dan Kapitalis menjadi runtuh mungkin akibat salah urus atau malah
    mungkin runtuh karena emang saatnya runtuh.

    > Mungkin nggak ya “greedy” dibumbui dengan sharing bukan dengan
    freedom yang disajikan dalam pinggan liberalisme ?

    # (Kibroto) Mungkin saja tetapi who is gonna pay the cost? Pada akirnya, kawulo
    alit juga.
    Misalnya tak ada free-trade. Masing2 negara pasang tariff barrier.
    Maka eksportir2 kita akan binasa. Non liberal seringkali bermakna
    proteksi dan proteksi identik dengan kemanjaan dan kemanjaan berujung
    pada kelemahan dan et the end, selamanya kita akan di injek2 orang
    karena terlalu diproteksi.

    Liberal berarti tawuran. Itu hanya direspons oleh sikuat. Jika ndak
    brani tawuran yo wis, narimo ing pandum wae. Itu dilema liberalisme.
    Mo liberal disalah2in, mo propteksi salah pulak. Trus piye?

    XXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXX

    TANGGAPAN: Anung Nurcahya

    > (RDP) Apa iya mas Anung menganggap IMF menjalankan tugasnya dengan benar
    > secara manusiawi atau humanity ?
    >

    Anung: Bukan begitu, Mas Rovick. Sejatinya yang salah itu kita atau IMF?

    Ngapain kita minjam ke IMF tahun 1997 itu 23 Milyar Dollar? Ingat ini
    cuma stand-by loan, mana pencairannya bertahap pulak = 11.05; 7.13 ;
    4.82. Yang termyn ke-2 dan 3 itu sifatnya Extended Fund Facility.
    Plus, kita harus bayar dengan bunga lagi 4.1%.

    Kita minjam bantuan likuiditas IMF karena kita geblek. Duit kita habis
    untuk nalangi konglomerat hitam dengan BLBI. Bail-out ya bail-out,
    tapi pilih2 dong. Pilih yang layak di-bail-out, pilih yang bisa kasih
    collateral bagus, etc.
    Sejarah mencatat, kita diwakili BPPN nggak bisa ambil kembali itu uang
    BLBI, hanya 20%-an yang kembali.

    Jadi, yang salah siapa – kita sendiri (baca: rejim Soeharto) atau IMF?

    CMIIW
    Anung

    XXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXX

    TANGGAPAN: Anung Nurcahya

    > (Anymous) Jadi, yang salah siapa – kita sendiri (baca: rejim Soeharto) atau IMF?
    >

    Tambahan Anung: Tapi, para jurkam (PR officer) rejim Soeharto itu
    pintar2, dibilanglah bahwa kita korban IMF. Lha, wong kita ini korban
    pemerintah sendiri, kok – bukan IMF. Rejim Soeharto mau menyelamatkan
    BCA dkk, tapi malah kehilangan Indosat, dll – dan untuk itu yang jadi
    penjahatnya adalah IMF. IMF was the bad guy, Soeharto was not.

    Apa iya begitu?

    -Anung-

    XXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXX

    TANGGAPAN: Anung Nurcahyo

    > (Anymous) Liberal berarti tawuran. Itu hanya direspons oleh sikuat. Jika ndak
    > brani tawuran yo wis, narimo ing pandum wae. Itu dilema liberalisme.
    > Mo liberal disalah2in, mo propteksi salah pulak. Trus piye?
    >

    Anung: Tawuran ya kan pake aturan main, Ki. Harusnya sih nggak takut
    tawuran, yang ditakutkan adalah jika ada yang main curang. Tapi di
    krisis ini siapa yang main curang? Itu yang saya tunggu nanti posting
    Uda Fer. Benarkah ada moral hazzard di level pembuat kebijakan?

    Si lemah pun harusnya pintar, kalo nggak bisa menang dengan si kuat ya
    gabung aja. If you cannot beat them, join them.

    Masalahnya, sekarang si kuat ini ternyata kolesterolnya tinggi, asam
    uratnya naik, gula darah melebihi batas. Si lemah yang bergantung pada
    si kuat pun terkena imbasnya.

    Anung
    -masih-menunggu-posting-uda-Fer-

    XXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXX

    TANGGAPAN: Nukman Luthfie

    Anung: Tawuran ya kan pake aturan main, Ki. Harusnya sih nggak takut
    tawuran, yang ditakutkan adalah jika ada yang main curang. Tapi di
    krisis ini siapa yang main curang? Itu yang saya tunggu nanti posting
    Uda Fer. Benarkah ada moral hazzard di level pembuat kebijakan?

    NL:
    Pada level tinggi, pengusaha adalah pelobi kelas berat. Mereka berusaha melobi
    pemerintah agar ada peraturan yang menguntungkan mereka. Ndak di AS ndak di sini
    sami mawon.

    Di krisis sekarang yg ditengarai bermain curang ya para eksekutif pasar modal,
    keuangan dan asuransi yang terus menciptakan produk pembiayaan bertingkat,
    ngasih kredit terus menerus, sampai penerima kredit modar sendiri karena ndak
    mampu bayar cicilan. Itu sebabnya mereka ndak tampil di Davos seheboh tahun2
    sebelumnya karena dianggap sebagai biang keladi krisis.

    XXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXX

    TANGGAPAN: Anung Nurcahyo

    > NL:
    > Pada level tinggi, pengusaha adalah pelobi kelas berat. Mereka
    berusaha melobi pemerintah agar ada peraturan yang menguntungkan
    mereka. Ndak di AS ndak di sini sami mawon.
    >
    > Di krisis sekarang yg ditengarai bermain curang ya para eksekutif
    pasar modal, keuangan dan asuransi yang terus menciptakan produk
    pembiayaan bertingkat, ngasih kredit terus menerus, sampai penerima
    kredit modar sendiri karena ndak mampu bayar cicilan.
    >

    Anung: Apa benar cuma salah si pemberi kredit (e.g. si Fannie/Freddie)
    yang serakah? Apa nggak karena yang ngambil kredit juga serakah,
    mencoba meniti arus kenaikan harga rumah, sebelum akhirnya tergulung
    ombak mortgage-nya sendiri?

    Kayaknya dua-duanya serakah, dua-duanya kalah. Si peminjam akhirnya
    rumahnya disita, dan si pemberi kredit-pun jadi kesulitan likuiditas.

    Semua serakah, semua kalah. Pertanyaannya (masih kepada Uda Fer):
    adakah yang curang disini? Dimana ada moral hazzard itu?

    -Anung-

    XXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXX

    TANGGAPAN: Rovicky Dwi Putohari

    > Anung: Bukan begitu, Mas Rovick. Sejatinya yang salah itu kita atau IMF?

    (RDP) Menyalahkan IMF bukan berarti membenarkan tindakan pemerintah. Ketika
    ada perang tanding tidak selalu ada penjahat dan pahlawan kan ?
    Ketika Copet berantem sama rampok berebut harta keduanya bisa saja salah.
    Pemerintah memiliki kesalahan, and IMF make it even worse !

    Tapi seperti yang anda tuiskan sebelumnya bawah Indonesia minta tolong
    IMF, tetapi malah ditodong bukan ditolong.

    > (ANUNG) Ngapain kita minjam ke IMF tahun 1997 itu 23 Milyar Dollar? Ingat ini
    > cuma stand-by loan, mana pencairannya bertahap pulak = 11.05; 7.13 ;
    > 4.82. Yang termyn ke-2 dan 3 itu sifatnya Extended Fund Facility.
    > Plus, kita harus bayar dengan bunga lagi 4.1%.

    (RDP) Soal tehnisnya aku ga dong.
    Nah apakah anda menganggap langkah permerintah saat itu karena
    ketidaktahuan atau kesengajaan menghancurkan Indonesia ?

    > (Anung) Kita minjam bantuan likuiditas IMF karena kita geblek. Duit kita habis
    > untuk nalangi konglomerat hitam dengan BLBI. Bail-out ya bail-out,
    > tapi pilih2 dong. Pilih yang layak di-bail-out, pilih yang bisa kasih
    > collateral bagus, etc.

    (RDP) Geblek itu salah opo nggak ?

    > (Anung) Sejarah mencatat, kita diwakili BPPN nggak bisa ambil kembali itu uang
    > BLBI, hanya 20%-an yang kembali.
    >
    > Jadi, yang salah siapa – kita sendiri (baca: rejim Soeharto) atau IMF?

    (RDP) Skali lagi dalam sebuah fenomena perang tanding, jangan terlalu
    mudahberbicara benar-salah. Kebiasaan membenturkan dua kutub, sering
    “memaksa” kita berbicara benar dan salah. Bagaimana kalau sekedar
    berbeda cara tetapi keduanya sama-sama penjahat?

    RDP

    XXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXX

    TANGGAPAN: Rovicky Dwi Putrohari

    >> Jadi, yang salah siapa – kita sendiri (baca: rejim Soeharto) atau IMF?
    >>
    >
    > Tambahan Anung: Tapi, para jurkam (PR officer) rejim Soeharto itu
    > pintar2, dibilanglah bahwa kita korban IMF. Lha, wong kita ini korban
    > pemerintah sendiri, kok – bukan IMF. Rejim Soeharto mau menyelamatkan
    > BCA dkk, tapi malah kehilangan Indosat, dll – dan untuk itu yang jadi
    > penjahatnya adalah IMF. IMF was the bad guy, Soeharto was not.
    >
    > Apa iya begitu?

    Kalau kita kecopetan, dan copetnya dirampok habis-habisan, bahkan
    digendir pakai ganden …
    Apakah trus kita bilang copet kita telah ditangkep sama rampok. Kita
    harus berterimakasih sama Pak Rampok … gitu ?
    Pak Tampok adalah pahlawan kita ?

    its not simply right and wrong.

    Phrase anda ” Rejim Soeharto mau menyelamatkan …. dst dst ” Bisakah
    frase ini menandakan ingin menjadi baik, walaupun sakjane gebleg ?
    Copet yang minta tolong, sebaiknya ditolong apa disungkurkan skalian ?

    RDP

    XXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXX

    TANGGAPAN: Anung Nurcahya

    > (RDP) Kalau kita kecopetan, dan copetnya dirampok habis-habisan, bahkan
    > digendir pakai ganden …
    > Apakah trus kita bilang copet kita telah ditangkep sama rampok. Kita
    > harus berterimakasih sama Pak Rampok … gitu ?
    > Pak Tampok adalah pahlawan kita ?
    >
    > its not simply right and wrong.
    >
    > Phrase anda ” Rejim Soeharto mau menyelamatkan …. dst dst ” Bisakah
    > frase ini menandakan ingin menjadi baik, walaupun sakjane gebleg ?
    > Copet yang minta tolong, sebaiknya ditolong apa disungkurkan skalian ?
    >

    Anung: Mungkin sama-sama perampok. Tapi lihat urutannya, Mas Rovick.
    IMF datang karena kita undang. Kita undang IMF karena kita perlu. Kita
    perlu karena kita butuh duit. Kita butuh duit karena duit kita habis.
    Duit kita habis karena untuk nalangi gerombolan siberat. gerombolan
    siberat bisa dapat talangan karena mereka adlh kroni pemerintah kita.

    Dus, dari urutan itu, apa IMF-kah yang salah? Kalo IMF perampok,
    berarti salah pemerintah dobel2: sudah ngasih duit kepada gerombolan
    siberat, eh malah ngundang perampok masuk rumah.

    -Anung-

    XXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXX

    TANGGAPAN: Rovicky Dwi Putrohari

    > Anung: Mungkin sama-sama perampok. Tapi lihat urutannya, Mas Rovick.
    > IMF datang karena kita undang. Kita undang IMF karena kita perlu. Kita
    > perlu karena kita butuh duit. Kita butuh duit karena duit kita habis.
    > Duit kita habis karena untuk nalangi gerombolan siberat. gerombolan
    > siberat bisa dapat talangan karena mereka adlh kroni pemerintah kita.

    (RDP) Haddduh kok seneng bangget nyari yang salah to, Nung.
    Lah kalau kamu sedang sakit, trus bapakmu ngundang dukun trus malah
    tambah sakit kau bilang apa ?
    Mosok sih bapak-bapak niat jahat sama anaknya. Apa karena bapak kere,
    sampai ngga kuat ngundang dokter, berarti bapak yang jahat. Mungkin
    duik habis soale bapak suka mabok dan ngrokok.

    > (Anung) Dus, dari urutan itu, apa IMF-kah yang salah? Kalo IMF perampok,
    > berarti salah pemerintah dobel2: sudah ngasih duit kepada gerombolan
    > siberat, eh malah ngundang perampok masuk rumah.

    (RDP) Kalau “dipaksakan” untuk menilai, ini akan sangat tergantung bagaimana
    metode penilaiannya.

    Dengan intention (niat)
    IMF diharapkan menolong ternyata mbalah menghancurkan. Apakah IMF
    memang berniat jahat ?
    Pemerintah apakah memang berusaha menghancurkan negerinya sendiri ?
    Keduanya jadi ngga salah …

    Kalau ngeliat urutannya, jelas pemerintah akan duluan
    Kalau ngeliat seberapa besar akibatnya (tingkat kesengsaraannya) ya
    bisa jadi IMF, karena negara yang dirugikan (termasuk pemerintah dan
    rakyatnya).

    Lah mau dinilai pakai apa ?

    RDP

    XXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXX

    TANGGAPAN: Anung Nurcahya

    > > (RDP) Anung: Mungkin sama-sama perampok.
    >
    > Haddduh kok seneng bangget nyari yang salah to, Nung.
    >
    > IMF diharapkan menolong ternyata mbalah menghancurkan. Apakah IMF
    > memang berniat jahat ?
    > Pemerintah apakah memang berusaha menghancurkan negerinya sendiri ?
    > Keduanya jadi ngga salah …
    >

    Anung: Lha, yang duluan menilai IMF ‘jahat’ kan posting Mas Rovick.
    Trus saya menawarkan sudut pandang baru = pemerintah (rejim HMS) juga
    jahat. Trus, merembet jadi mungkin dua2nya adalah perampok. Trus saya
    kasih lagi, lihat urutannya dulu. Nah, disitu melebar lagi, mungkin
    dua2nya nggak punya niat jelek.

    See, mungkin nggak ada moral hazzard disini. Mungkin yang ada adalah
    keputusan yang jelek (dari pembuat kebijakan), atau implementasi yang
    kurang optimal (dari eksekutor kebijakan).

    Yang masih saya tunggu sih, penjelasan Uda Fer = dalam krisis yang
    sekarang, yang mana yang moral hazzard itu?

    -Anung-

    XXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXX

    TANGGAPAN: Alfred Alinazar

    > # (Kibroto) Jelas ada! Kalo mao greed, jual bakso semangkuk sejuta. Siapa mao
    > beli? Ada hukum penawaran dan permintaan yang membatasi greed.

    (Alfred Alinazar) Kalau yg dikontrol itu kebutuhna pokok gimana Ki?
    Semisal di sebuah daerah yg nggak ada air, dan cuma Anung yg punya dan
    menjual air.
    Jika Anung menjual air itu dengan harga sejuta bakal ada yg beli nggak?
    Kayaknya batasannya cuma kemampuan si pembeli saja deh, dan bukan lagi
    permintaan karena air itu sudah pasti dibutuhkan.

    Nah bagaimana dengan minyak? Saat ini rasanya minyak masih jadi energi
    yg utama dan hampir tidak ada energi alternatif yg sudah mampu
    menggantikan minyak. Gimana kalau seandainya orang dibuat berpikir
    bahwa seseorang telah menguasai minyak dan yg lain nggak kebagian?
    Bakalan pada kalang-kabut nggak tuh orang yg nggak punya minyak?

    Mungkinkah greedy ini yg dimaksud dengan moral hazard?

    salam,

    -bank al-

    XXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXX

    TANGGAPAN: Alfred Alinazar

    > # (Kibroto) Ya, silahken. Alangkah baiknya sampiyan baca2 dolo, misalnya ini
    >
    > http://plato.stanford.edu/entries/morality-definition/
    >
    > http://en.wikipedia.org/wiki/Morality
    >
    > http://en.wikipedia.org/wiki/Ethics

    Yang di atas itu khan definisi Moral menurut wikipedia Ki.
    Nah bagaimana dengan definisi hazard?
    Lantas bagaimana jika kedua kata ini digabung?

    Seingatku dari pelajaran safety dulu, yg dimaksud dengan hazard ini
    adalah sesuatu yg mempunyai potensi untuk menimbulkan bahaya.

    salam,

    -bank al-

    XXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXX

    TANGGAPAN: Rovicky Dwi Putrohari

    > (Anung) See, mungkin nggak ada moral hazzard disini. Mungkin yang ada adalah
    > keputusan yang jelek (dari pembuat kebijakan), atau implementasi yang
    > kurang optimal (dari eksekutor kebijakan).

    Kalau hazard diterjemahkan bahaya
    Moral hazard dalam sistem ini mungkin ya “greedy” tadi. Greedy adalah
    sifat alami manusia yang memiliki potensi bahaya kalau ndak dikontrol.
    Kalau malah disirami pakai freedom dan liberal jadilah disaster 😦

    rdp

    XXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXX

    TANGGAPAN: M Aziz

    Tahu nggak mula bukane nilai tukar gonjang ganjing?
    Karena uang jadi komoditi perdagangan
    Ide siapa uang didagangin?
    Amrik si pemegang n pemuja kapitailsme n liberalisme
    Lho kok kita melu2, katanya ekonomi kita kerakyatan?
    Jenenge kita wis dijajah, lewat IMF
    Lho kok saiki Amkrik dewe sing klepek2
    Bukti klw kapitalisme n liberalisme gak bonafid
    XXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXX

    TANGGAPAN: Tri Hadinyato

    Sembari menunggu tulisan Uda, ada baiknya membaca tulisan dibawah, semoga tidak repost! (halah, istilah kaskuser dibawa2 di Kampuang)
    Sugeng midangetaken,
    Mas Tri

    Krisis Subprime di Amerika Serikat
    Kalau Langit Masih Kurang Tinggi.
    Oleh: Dahlan Iskan.

    Meski saya bukan ekonom, banyak pembaca tetap minta saya ”menceritakan”
    secara awam mengenai hebatnya krisis keuangan di AS saat ini. Seperti juga,
    banyak pembaca tetap bertanya tentang sakit liver, meski mereka tahu saya
    bukan dokter. Saya coba:

    Semua perusahaan yang sudah go public lebih dituntut untuk terus berkembang
    di semua sektor. Terutama labanya. Kalau bisa, laba sebuah perusahaan publik
    terus meningkat sampai 20 persen setiap tahun. Soal caranya bagaimana, itu
    urusan kiat para CEO dan Direkturnya. .

    Pemilik perusahaan itu (para pemilik saham) biasanya sudah tidak mau tahu
    lagi apa dan bagaimana perusahaan tersebut dijalankan. Yang mereka mau tahu
    adalah dua hal yang terpenting saja: harga sahamnya harus terus naik dan
    labanya harus terus meningkat

    Perusahaan publik di AS biasanya dimiliki ribuan atau ratusan ribu orang,
    sehingga mereka tidak peduli lagi dengan tetek-bengek perusahaan mereka.

    Mengapa mereka menginginkan harga saham harus terus naik? Agar kalau para
    pemilik saham itu ingin menjual saham, bisa dapat harga lebih tinggi
    dibanding waktu mereka beli dulu: untung. !
    Mengapa laba juga harus terus naik? Agar, kalau mereka tidak ingin jual
    saham, setiap tahun mereka bisa dapat pembagian laba (dividen) yang kian
    banyak.
    Soal cara bagaimana agar keinginan dua hal itu bisa terlaksana dengan baik,
    terserah pada CEO-nya. Mau pakai cara kucing hitam atau cara kucing putih,
    terserah saja. Sudah ada hukum yang mengawasi cara kerja para CEO tersebut:
    hukum perusahaan, hukum pasar modal, hukum pajak, hokum perburuhan, dan
    seterusnya.
    Apakah para CEO yang harus selalu memikirkan dua hal itu merasa tertekan dan
    stres setiap hari? Bukankah sebuah perusahaan kadang bisa untung, tapi
    kadang bisa rugi ?

    Anehnya, para CEO belum tentu merasa terus-menerus diuber target. Tanpa
    disuruh pun para CEO sendiri memang juga menginginkannya. Mengapa? Pertama,
    agar dia tidak terancam kehilangan jabatan CEO. Kedua, agar dia mendapat
    bonus superbesar yang biasanya dihitung sekian persen dari laba dan
    pertumbuhan yang dicapai. Gaji dan bonus yang diterima para CEO perusahaan
    besar di AS bisa 100 kali lebih besar dari gaji Presiden George Bush. Mana
    bisa dengan gaji sebesar itu masih stres?

    Keinginan pemegang saham dan keinginan para CEO dengan demikian seperti
    tumbu ketemu tutup: klop. Maka, semua perusahaan dipaksa untuk terus-menerus
    berkembang dan membesar. Kalau tidak ada jalan, harus dicarikan jalan lain.
    Kalau jalan lain tidak ditemukan, bikin jalan baru. Kalau bikin jalan baru
    ternyata sulit, ambil saja jalannya orang
    lain. Kalau tidak boleh diambil? Beli! Kalau tidak dijual? Beli dengan cara
    yang licik -dan kasar! Istilah populernya hostile take over.
    Kalau masih tidak bisa juga, masih ada jalan aneh: minta politisi untuk
    bikinkan berbagai peraturan yang memungkinkan perusahaan bisa mendapat
    jalan.

    Kalau perusahaan terus berkembang, semua orang happy. CEO dan para
    direkturnya happy karena dapat bonus yang mencapai Rp 500 miliar setahun.
    Para pemilik saham juga happy karena kekayaannya terus naik. Pemerintah
    happy karena penerimaan pajak yang terus membesar. Politisi happy karena
    dapat dukungan atau sumber dana.

    Dengan gambaran seperti itulah ekonomi AS berkembang pesat dan kesejahteraan
    rakyatnya meningkat. Semua orang lantas mampu membeli kebutuhan hidupnya.
    Kulkas, TV, mobil, dan rumah laku dengan kerasnya. Semakin banyak yang bisa
    membeli barang, ekonomi semakin maju lagi.
    Karena itu, AS perlu banyak sekali barang. Barang apa saja. Kalau tidak bisa
    bikin sendiri, datangkan saja dari Tiongkok atau Indonesia atau negara
    lainnya. Itulah yang membuat Tiongkok bisa menjual barang apa saja ke AS
    yang bisa membuat Tiongkok punya cadangan devisa terbesar di dunia: USD 2
    triliun!

    Sudah lebih dari 60 tahun cara ”membesarkan’ ‘ perusahaan seperti itu
    dilakukan di AS dengan suksesnya. Itulah bagian dari ekonomi kapitalis.
    AS dengan kemakmuran dan kekuatan ekonominya lalu menjadi penguasa dunia.
    Tapi, itu belum cukup.
    Yang makmur harus terus lebih makmur. Punya toilet otomatis dianggap tidak
    cukup lagi: harus computerized!
    Bonus yang sudah amat besar masih kurang besar. Laba yang terus meningkat
    harus terus mengejar langit. Ukuran perusahaan yang sudah sebesar gajah
    harus dibikin lebih jumbo. Langit, gajah, jumbo juga belum cukup.
    Ketika semua orang sudah mampu beli rumah, mestinya tidak ada lagi
    perusahaan yang jual rumah. Tapi, karena perusahaan harus terus meningkat,
    dicarilah jalan agar penjualan rumah tetap bisa dilakukan dalam jumlah yang
    kian banyak. Kalau orangnya sudah punya rumah, harus diciptakan agar kucing
    atau anjingnya juga punya rumah. Demikian juga mobilnya.
    Tapi, ketika anjingnya pun sudah punya rumah, siapa pula yang akan beli
    rumah?

    Kalau tidak ada lagi yang beli rumah, bagaimana perusahaan bisa lebih besar?
    Bagaimana perusahaan penjamin bisa lebih besar? Bagaimana perusahaan
    alat-alat bangunan bisa lebih besar? Bagaimana bank bisa lebih besar?
    Bagaimana notaris bisa lebih besar? Bagaimana perusahaan penjual kloset bisa
    lebih besar? Padahal, doktrinnya, semua perusahaan
    harus semakin besar?

    Ada jalan baru. Pemerintah AS-lah yang membuat jalan baru itu. Pada 1980,
    pemerintah bikin keputusan yang disebut ”Deregulasi Kontrol Moneter”.
    Intinya, dalam hal kredit rumah, perusahaan realestat diperbolehkan
    menggunakan variabel bunga. Maksudnya: boleh mengenakan bunga tambahan dari
    bunga yang sudah ditetapkan secara pasti. Peraturan
    baru itu berlaku dua tahun kemudian. Inilah peluang besar bagi banyak sektor
    usaha: realestat, perbankan, asuransi, broker, underwriter, dan seterusnya.
    Peluang itulah yang dimanfaatkan perbankan secara nyata.

    Begini ceritanya:

    Sejak sebelum 1925, di AS sudah ada UU Mortgage. Yakni, semacam
    undang-undang kredit pemilikan rumah (KPR). Semua warga AS, asalkan memenuhi
    syarat tertentu, bisa mendapat mortgage (anggap saja seperti KPR, meski
    tidak sama).

    Misalnya, kalau gaji seseorang sudah Rp 100 juta setahun, boleh ambil
    mortgage untuk beli rumah seharga Rp 250 juta. Cicilan bulanannya ringan
    karena mortgage itu berjangka 30 tahun dengan bunga 6 persen setahun.
    Negara-negara maju, termasuk Singapura, umumnya punya UU Mortgage. Yang
    terbaru adalah UU Mortgage di Dubai . Sejak itu, penjualan properti di Dubai
    naik 55 persen. UU Mortgage tersebut sangat ketat dalam menetapkan syarat
    orang yang bisa mendapat mortgage.

    Dengan keluarnya ”jalan baru” pada 1980 itu, terbuka peluang untuk
    menaikkan bunga. Bisnis yang terkait dengan perumahan kembali hidup. Bank
    bisa dapat peluang bunga tambahan. Bank menjadi lebih agresif. Juga para
    broker dan bisnis lain yang terkait.

    Tapi, karena semua orang sudah punya rumah, tetap saja ada hambatan. Maka,
    ada lagi ”jalan baru” yang dibuat pemerintah enam tahun kemudian. Yakni,
    tahun 1986.

    Pada 1986 itu, pemerintah menetapkan reformasi pajak. Salah satu isinya:
    pembeli rumah diberi keringanan pajak. Keringanan itu juga berlaku bagi
    pembelian rumah satu lagi. Artinya, meski sudah punya rumah, kalau mau beli
    rumah satu lagi, masih bisa dimasukkan dalam fasilitas itu.
    Di negara-negara maju, sebuah keringanan pajak mendapat sambutan yang luar
    biasa. Di sana pajak memang sangat tinggi. Bahkan, seperti di Swedia atau
    Denmark, gaji seseorang dipajaki sampai 50 persen. Imbalannya, semua
    keperluan hidup seperti sekolah dan pengobatan gratis. Hari tua juga
    terjamin.

    Dengan adanya fasilitas pajak itu, gairah bisnis rumah meningkat drastic
    menjelang 1990. Dan terus melejit selama 12 tahun berikutnya.
    Kredit yang disebut mortgage yang biasanya hanya USD 150 miliar setahun
    langsung menjadi dua kali lipat pada tahun berikutnya. Tahun-tahun
    berikutnya terus meningkat lagi. Pada 2004 mencapai hampir USD 700 miliar
    setahun.
    Kata ”mortgage” berasal dari istilah hukum dalam bahasa Prancis. Artinya:
    matinya sebuah ikrar. Itu agak berbeda dari kredit rumah. Dalam mortgage,
    Anda mendapat kredit. Lalu, Anda memiliki rumah. Rumah itu Anda serahkan
    kepada pihak yang memberi kredit. Anda boleh menempatinya selama cicilan
    Anda belum lunas.

    Karena rumah itu bukan milik Anda, begitu pembayaran mortgage macet, rumah
    itu otomatis tidak bisa Anda tempati. Sejak awal ada ikrar bahwa itu bukan
    rumah Anda. Atau belum. Maka, ketika Anda tidak membayar cicilan, ikrar itu
    dianggap mati. Dengan demikian, Anda harus langsung pergi dari rumah
    tersebut.

    Lalu, apa hubungannya dengan bangkrutnya investment banking seperti Lehman
    Brothers?

    Gairah bisnis rumah yang luar biasa pada 1990-2004 itu bukan hanya karena
    fasilitas pajak tersebut. Fasilitas itu telah dilihat oleh ”para pelaku
    bisnis keuangan” sebagai peluang untuk membesarkan perusahaan dan
    meningkatkan laba.

    Warga terus dirangsang dengan berbagai iklan dan berbagai fasilitas
    mortgage. Jor-joran memberi kredit bertemu dengan jor-joran membeli rumah.
    Harga rumah dan tanah naik terus melebihi bunga bank.
    Akibatnya, yang pintar bukan hanya orang-orang bank, tapi juga para pemilik
    rumah. Yang rumahnya sudah lunas, di-mortgage- kan lagi untuk membeli rumah
    berikutnya. Yang belum memenuhi syarat beli rumah pun bisa mendapatkan
    kredit dengan harapan toh harga rumahnya terus naik. Kalau toh suatu saat
    ada yang tidak bisa bayar, bank masih untung.
    Jadi, tidak ada kata takut dalam memberi kredit rumah.

    Tapi, bank tentu punya batasan yang ketat sebagaimana diatur dalam
    undang-undang perbankan yang keras.

    Sekali lagi, bagi orang bisnis, selalu ada jalan. Jalan baru itu adalah ini:
    bank bisa bekerja sama dengan ”bank jenis lain” yang disebut investment
    banking.

    Apakah investment banking itu bank? Bukan. Ia perusahaan keuangan yang
    ”hanya mirip” bank. Ia lebih bebas daripada bank. Ia tidak terikat
    peraturan bank. Bisa berbuat banyak hal: menerima macam-macam ”deposito”
    dari para pemilik uang, meminjamkan uang, meminjam uang, membeli perusahaan,
    membeli saham, menjadi penjamin, membeli rumah, menjual rumah, private
    placement, dan apa pun yang orang bisa lakukan.
    Bahkan, bisa melakukan apa yang orang tidak pernah memikirkan! Lehman
    Brothers, Bear Stern, dan banyak lagi adalah jenis investment banking itu.

    Dengan kebebasannya tersebut, ia bisa lebih agresif. Bisa memberi pinjaman
    tanpa ketentuan pembatasan apa pun. Bisa membeli perusahaan dan menjualnya
    kapan saja. Kalau uangnya tidak cukup, ia bisa pinjam kepada siapa saja:
    kepada bank lain atau kepada sesama investment banking. Atau, juga kepada
    orang-orang kaya yang punya banyak uang dengan istilah ”personal banking”.
    Saya sering kedatangan orang dari investment banking seperti itu yang
    menawarkan banyak fasilitas. Kalau saya mau menempatkan dana di sana, saya
    dapat bunga lebih baik dengan hitungan yang rumit. Biasanya saya tidak
    sanggup mengikuti hitung-hitungan yang canggih itu.
    Saya orang yang berpikiran sederhana. Biasanya tamu-tamu seperti itu saya
    serahkan ke Dirut Jawa Pos Wenny Ratna Dewi. Yang kalau menghitung angka
    lebih cepat dari kalkulator. Kini saya tahu, pada dasarnya dia tidak
    menawarkan fasilitas, tapi cari pinjaman untuk memutar cash-flow.

    Begitu agresifnya para investment banking itu, sehingga kalau dulu hanya
    orang yang memenuhi syarat (prime) yang bisa dapat mortgage, yang kurang
    memenuhi syarat pun (sub-prime) dirangsang untuk minta mortgage.
    Di AS, setiap orang punya rating. Tinggi rendahnya rating ditentukan oleh
    besar kecilnya penghasilan dan boros-tidaknya gaya hidup seseorang. Orang
    yang disebut prime adalah yang ratingnya 600 ke atas.
    Setiap tahun orang bisa memperkirakan sendiri, ratingnya naik atau turun.
    Kalau sudah mencapai 600, dia sudah boleh bercita-cita punya rumah lewat
    mortgage. Kalau belum 600, dia harus berusaha mencapai 600. Bisa dengan
    terus bekerja keras agar gajinya naik atau terus melakukan penghematan
    pengeluaran.

    Tapi, karena perusahaan harus semakin besar dan laba harus kian tinggi,
    pasar pun digelembungkan. Orang yang ratingnya baru 500 sudah ditawari
    mortgage. Toh kalau gagal bayar, rumah itu bisa disita.
    Setelah disita, bisa dijual dengan harga yang lebih tinggi dari nilai
    pinjaman. Tidak pernah dipikirkan jangka panjangnya.

    Jangka panjang itu ternyata tidak terlalu panjang. Dalam waktu kurang dari
    10 tahun, kegagalan bayar mortgage langsung melejit. Rumah yang disita
    sangat banyak. Rumah yang dijual kian bertambah. Kian banyak orang yang jual
    rumah, kian turun harganya. Kian turun harga, berarti nilai jaminan rumah
    itu kian tidak cocok dengan nilai pinjaman. Itu berarti kian banyak yang
    gagal bayar.

    Bank atau investment banking yang memberi pinjaman telah pula menjaminkan
    rumah-rumah itu kepada bank atau investment banking yang lain. Yang lain itu
    menjaminkan ke yang lain lagi. Yang lain lagi itu menjamin an ke yang
    beriktunya lagi. Satu ambruk, membuat yang lain ambruk. Seperti kartu domino
    yang didirikan berjajar. Satu roboh menimpa kartu lain. Roboh semua.

    Berapa ratus ribu atau juta rumah yang termasuk dalam mortgage itu? Belum
    ada data. Yang ada baru nilai uangnya. Kira-kira mencapai 5 triliun dolar.
    Jadi, kalau Presiden Bush merencanakan menyuntik dana APBN USD 700 miliar,
    memang perlu dipertanyakan: kalau ternyata dana itu tidak menyelesaikan
    masalah, apa harus menambah USD 700 miliar lagi? Lalu, USD 700 miliar lagi?

    Itulah yang ditanyakan anggota DPR AS sekarang, sehingga belum mau
    menyetujui rencana pemerintah tersebut. Padahal, jumlah suntikan sebanyak
    USD 700 miliar itu sudah sama dengan pendapatan seluruh bangsa dan Negara
    Indonesia dijadikan satu.

    Jadi, kita masih harus menunggu apa yang akan dilakukan pemerintah dan
    rakyat AS. Kita juga masih menunggu data berapa banyak perusahaan dan orang
    Indonesia yang ”menabung” – kan uangnya di lembaga-lembaga investment
    banking yang kini lagi pada kesulitan itu. Sebesar tabungan itulah Indonesia
    akan terseret ke dalamnya. Rasanya tidak banyak, sehingga pengaruhnya tidak
    akan sebesar pengaruhnya pada Singapura, Hongkong, atau Tiongkok.

    Singapura dan Hongkong terpengaruh besar karena dua negara itu menjadi salah
    satu pusat beroperasinya raksasa-raksasa keuangan dunia.
    Sedangkan Tiongkok akan terpengaruh karena daya beli rakyat AS akan sangat
    menurun, yang berarti banyak barang buatan Tiongkok yang tidak bisa dikirim
    secara besar-besaran ke sana. Kita, setidaknya, masih bisa menanam
    jagung.(*)

    mit freundlichen Gruessen

    Tri H
    XXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXX
    TANGGAPAN: Ferizal

    Sorry Boss Bagus dan Jeng Ayu semua,

    Baru pulang sudah malam. Terlalu capek untuk nulis tentang “Moral Hazard Ekonomi ala Kapitalisme Amrik…”

    Numpang tidur dulu, bitte, please…sudah hampir 30 jam ndak tidur , hiks 😦

    Salam hangat dari München,

    Ferizal Ramli

  2. Bagaimana dengan eksistensi siklus ekonomi yang selalu berulang ? Setelah ekspansi sejatinya ada kontraksi agar fenomena siklus tetap bergulir. Semacam ‘invisible hand’ dalam mekanisme pasar

    Saya pribadi juga penasaran apakah uang yang selama ini terakumulasi akan terus mengalir (berpindah tangan) atau bisa hilang begitu saja (mandek) ? sehingga dibutuhkan uang baru untuk menggerakkan ekonomi. Kemana larinya uang2 yg lama tsb? Jika supply akan selalu sama dengan demand.

    Berikut link yg lumayan kritis sbg tambahan referensi untuk mengembangkan pembahasan 😉

    http://pc.blogspot.com/2008/10/john-maynard-keynes-destroyer-of-monies.html

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s