Ekstra Parlementer, masih efektifkah? artikel ke-2 dari 3


(Artikel ini pertama kali dipublikasikan pada Tue Sep 9, 2008 5:35 pm)

Ferizal Ramli1Meritokrasi, GCG, Pemberantasan Korupsi, Globalisasi dan Otonomi Daerah

Kembali pada pertanyaan awal; “masih efektifkah gerakan aktivis jalanan?”

Mari kita bercermin pada organisasi kemahasiswaan di Eropa. Di benua
dimana demokrasi adalah anak kandungnya.

AstA, atau student senat untuk universitas di Jerman. Kegiatan AStA
jika saya mau simpulkan menyangkut hanya pada 2 hal: Pelayanan dan
Advokasi mahasiswa.

(1) Pelayanan, misalkan informasi bea siswa, info untuk mahasiswa
baru, info pertukaran mahasiswa, info untuk mencari rumah, dan pelayan
lainnya yang memudahkan mahasiswa termasuk adanya konsultasi mahasiswa
dengan psikolog. Selain itu juga pembuatan program-2 seminar, training
untuk mahasiswa, program kursus bahasa, keakraban dan yang seperti itu.

(2) Advokasi, pemberian bantuan hukum jika ada mahasiswa yang hak-2
nya dilangkahi oleh fakultas/universitas, atau jika ada mahasiswa yang
terkena kasus hukum. Mungkin juga mengorganisir demo menentang
kebijakan universitas yang dianggap merugikan aspirasi mahasiswa.

Jadi, student senat itu berperan sangat minimalis. Di AStA tidak ada
yang namanya Presiden Mahasiswa, Menteri Mahasiswa, Gubernur Mahasiswa
atau mungkin Bupati atau Camat mahasiswa dan sebutan-2 snobish lainnya
yang membuat orang malah tersenyum geli (atau kenapa mahasiswa
Indonesia ndak lebih menggunakan identitas nasionalis saja seperti:
Patih Mahasiswa, Adipati Mahasiswa, Tumengung Mahasiswa atau Senopati
Mahasiswa, dll?)

Sementara di AStA yang ada yah cuma sebutan wajar saja: Vorsitzender
atau Chairman atau Ketua. Sebutan yang egaliter sesuai dengan semangat
mahasiswa: egaliter, bukan feodal yang keberatan sebutan jabatan! Ndak
lutjukan kita teriak-teriak menuduh Rektorat atau Pemerintah feodal
sementara kita malah menggunakan sebutan jabatan feodal.

Di Universitas Jerman, tidak ada juga lembaga yang begitu lengkap:
Eksekutif, Legislatif atau Yudhikatif Mahasiswa. Memangnya mahasiswa
ini mau ngurus negara apa, pake menggunakan filosofis „trias
politika”? Mahasiswa itu tugasnya belajar menemukan jati dirinya
selama berada di kampus bukan jadi pemerintah atau penguasa di dalam
kampus.

XXX

Lantas, apa yang dilakukan oleh mahasiswa di Universitas-2 Eropa?
Belajar! Mereka mengejar ilmu, tekun melakukan riset, ikut program-2
kursus yang diakan oleh AstA atau Universitas yang bisa menambah
pengetahuannya.

Jika tertarik pada politik maka langsung terjun bergabung ke partai
politik. Partai politik akan memberikan bea siswa pada mahasiswa yang
ingin bergabung. Jadinya, para politikus mahasiswa ini sejak muda
sudah dikader profesional oleh partai politik dan masa depannya
sebagai politisi sudah terjamin. Yang penting berprestasi selama jadi
mahasiswa.

Kenapa para mahasiswa di Eropa tidak menjadi aktivis jalanan seperti
kebanyakan para aktivis di Indonesia?
Jawabnya sederhana: karena sudah demokrasi. Aktivis mahasiswa jalanan
itu dibutuhkan pada sebuah negara yang pemerintahannya menganut
otoriter, diktaktor dan rejim tangan besi, seperti ORBA.

Pada pemerintah otoriter ini maka peran mahasiswa vital sebagai agen
perubahan. Mahasiswa relatif bersih dan masih idialis dari
kepentingan. Jika kebetulan ada sebuah momentum, maka mahasiswa yang
penuh warna akan bersatu. Biasanya momentum yang itu harus disertai
common issue dan common enemy untuk bisa menyatukan mahasiswa yang
penuh warna.

Seperti tahun 98, Momentumnya Krisis Moneter, common issue-nya KKN,
common enemy-nya Soeharto dan Keluarga. Maka saat itulah Indonesia
kelompok hijau, kuning, merah, dll bersatu. Dari aliran kanan sampai
aliran Kiri bersatu. Dari HTI, IM/KAMMI, HMI MPO, HMI Dipo, IMM, PMNI,
GMKI, PMKRI, SMID/PRD, dll bersatu. Diluar itu (tanpa momentun, common
issue dan common enemy), mimpi jika berharap mahasiswa bisa bersatu.

Jadi, kesimpulannya aktivis gerakan jalanan itu sangat dibutuhkan pada
rejim pemerintahan yang otoriter seperti terlihat pada kehancurannya
rejim ORBA dulu.

Bagaimana pada pemerintahan demokrasi seperti Indonesia saat ini?

(Kita lanjutkan nanti)

Salam,
Dari tepian lembah Sungai Spree

Ferizal Ramli
SAP Senior Consultant dan Project Manager
10179 Berlin
(Sempat jadi Pimpinan Senat UGM dan Ketua Umum Kopma UPNVY)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s