Termenung di Basel, di Basel!!!


(Artikel ini pertama kali dipublikasikan pada Wed Jul 25, 2007 8:43 pm)

Ferizal Ramli4Basel Salah satu kota tua di Swiss. Terletak di perbatasan Jerman,
Swiss dan Perancis.

Arus deras S. Rhein melintas membelah kota. Naluri alamiah bahwa Basel
terletak di ketinggian, di kaki pegunungan Schwarzwald, dengan
pegunungan legendaris Alpen agak jauh disisi lainnya.

Basler Münster, Gereja tua abad pertengahan didirikan hampir 1000
tahun yang silam. Disini di salah satu sudut gereja, di tepian Sungai
Rhein, aku berdialog dalam diam.

Khayalan jauh melayang ke masa lampau. Seolah-olah aku sudah hidup
beberapa ratus tahun yang lalu. Basel sangat terkesan di hatiku.
Bukan, bukan karena keindahan kotanya. Tidak, aku tidak sedang
berbicara tentang keindahan kota.

Khayalanku melayang seolah-olah aku melihat seseorang. Pengarang yang
bukunya membuat keningku berkerut-kerut dan dadaku amat sangat sesak.
Basel begitu berkesan di dadaku karena disitulah pertautan antara
kemarahan, kegeraman bahkan caci maki, tetapi juga kekaguman dan
penghormatan menyatu di dadaku.

Konon khabarnya dari rahim kota Basel, di sebuah pasar, suatu hari di
tahun 1880-an, Nietzsche berteriak seperti orang gila;
“Gott ist tot!
“Gott ist tot!”
“Und wir haben ihn getötet!

“Tuhan sudah mati!” “Tuhan sudah mati!” “Dan kita lah yang membunuh
Tuhan!” “Anda tidak perlu lagi menyembah Tuhan, karena Tuhan sudah
mati!” —begitu teriak Nietzsche.

“Die fröhliche Wissenschaft”, adalah tulisan legendaris dari Nietzsche
yang membuat masyarakat Eropa terperangah. Tidak cuma terperangah,
tapi masyarakat Eropa begitu mempercayai apa yang dikatakan Nietzsche
bahwa “Tuhan sudah mati!” Masyarakat Eropa memutuskan untuk “mengubur”
Tuhan karena Tuhan sudah mati.

Saat ini di Eropa tidak ada lagi Tuhan, seluruh rumah peribadatan
kosong melompong. Mereka (masyarakat Eropa) telah bersepakat untuk
mencari Tuhan yang lain; materi, kekuasaan, karir atau apalah yang
bisa mendatangkan kesenangan.

“Die fröhliche Wissenschaft”, yang ditulis rumit dalam bahasa Jerman
klasik, adalah karya agung. Jika dimaknai dalam konteks kegelapan
Eropa, “Die fröhliche Wissenschaft” tidak dimaksudkan untuk “membunuh”
Tuhan. Dia cuma ingin mengatakan ke masyarakat bahwa simbol-2 magis
yang dipakai oleh para agamawan dengan mengatasnamakan Tuhan itu telah
membodohi penduduk. Telah membuat Eropa terbenam selama 1000 tahun
dalam kegelapan.

Para agamawan Eropa, dengan status privilege-nya, sering kali
menakut-nakuti masyarakat dan menindas demi kepentingannya. Jika ada
yang menentang maka digunakanlah ayat-2 Tuhan untuk membungkam para
penentangnya. Jika para agamawan salah, maka digunakan lah ayat-2
Tuhan untuk menutupi kesalahannya.

Nietzsche sadar ini salah. Ini harus dirubah. Maka berteriaklah dia:
“Gott ist tot!”, “Tuhan sudah mati!” Dilihat pada konteks waktu saat
itu, sangat mungkin Nietzsche tidak bermaksud “membunuh” Tuhan. Tapi
karena para agamawan penindas itu selalu berlindung mengatasnamakan
Tuhan, maka Nietzsche kesulitan untuk menghancurkan tirani para
agamawan tanpa “membunuh” Tuhan.

Dari Basel, saya teringat Istambul, Turki. Kota indah perpaduan dua
kultur dunia; Asia dan Eropa, Barat dan Timur. Disinilah tanda-2
kejayaan peradaban ke-khalifahan Turki Osmani yang berlangsung hampir
seribu tahun masih jelas terlihat.

Tapi disini pula, masyarakat Turki sudah bersepakat “membunuh” Tuhan.
Jangan bicara agama disini. Kenikmatan apapun bisa didapatkan disini.
Mengapa masyarakat yang punya tradisi agama ribuan tahun bisa begitu
mudahnya “membunuh” Tuhan?

Seperti juga Eropa, Turki tampaknya juga muak dengan penindasan para
agamawan. Tampaknya apapun agamanya jika para agamawan secara
semena-mena menggunakan ayat-2 Tuhan untuk kepentingannya. Maka: Eropa
dan Turki sudah membuktikan, bahwa reaksi masyarakatnya malah
memutuskan untuk “membunuh” Tuhan.

Aku gelisah. Bagaimana dengan Indonesiaku. Adakah sesuatu yang bisa
kita belajar dari Basel dan Istambul???

Dalam ketersendirian di tepian Sungai Rhein,
Salam

Ferizal Ramli

Iklan

2 thoughts on “Termenung di Basel, di Basel!!!

  1. Manusia memiliki sanubari, yang membawa kita untuk condong kepada kebenaran. Ada begitu banyak agama didunia ini tetapi sekali lagi manusia condong kepada kebenaran. Kita dihadapkan pada dua pilihan yaitu salah semua atau salah satu benar untuk memilih suatu agama. Penting untuk manusia memiliki suatu agama karena agama berasal dari nilai hingga membentuk suatu peradaban jika agamanya salah maka akan tercipta peradaban yang salah. Begitupun sebaliknya. Agama tidak hanya dipelajari oleh sekelompok orang. Maka dari itu, tidak ada alasan untuk menggunakan ayat-ayat Tuhan sebagai alat untuk menguntungkan diri sendiri ataupun kelompok. Karena banyak orang yang mengkaji nilai-nilai agama itu maka orang lain akan menentang penguasa yg dzolim tanpa melepaskan agamanya.

  2. Ping-balik: Catatan “Dari Tepian Lembah Sungai…” | Ferizal Ramli's Blog

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s