Terhimpit di tengah Perbedaan Kepentingan


(Artikel ini pertama kali dipublikasikan pada pertengahan 2006 di Harian Jurnal Nasional)

Ferizal Ramli1Apa yang melatar-belakangi Israel melakukan serangan besar ke Lebanon selatan? Margaret Johannsen pakar Timur Tengah dari Institut perdamaian dan keamanan ISFH-Universitas Hamburg menjelaskan bahwa ambisi Israel saat ini hanya satu ingin merubah konstelasi politik di Lebanon sehingga menguntungkan posisi Israel. Dengan hancurnya kekuatan Hizbullah dan Hamas maka Israel bisa mendikte kepentinganya di Palestina.

Hanya saja von Günther Nonnenmacher, analis timur tengah dari Frankfurter Allgemeine Zeitung meragukan bahwa target Israel menyerang Hizbullah akan tercapai. „Serangan atas kota Haifa menunjukkan, kemampuan misil Hizbullah dapat menjangkau negara lain sampai Israel dimana kondisi ini tentu saja mengancam posisi-posisi penting bahkan sangat mungkin
sampai ke Tel Aviv“ terang Nonnenmacher. Kemampuan tempur yang tinggi dari Hizbullah menjadikan banyak pihak ragu bahwa Israel akan mendapatkan keuntungan dari aksinya. Pembuktian dari sinyalemen ini akan bisa dilihat beberapa hari atau minggu ke depan pada saat kampanye perang darat dimulai.

Terlepas siapa akan menjadi pemenangnya, rakyat Lebanon kembali harus menerima pengalaman pahit menanggung beban perang. Terlahir sebagai bangsa yang heterogen dengan kekuatan saling berimbang menjadikan Lebanon dari dulu selalu didera konflik berkepanjangan. Sejarah mencatat bahwa penderitaan akibat perang di Lebanon seperti menjadi tradisi bagi rakyatnya.

Pada awal kemerdekaannya 1943 sebenarnya para elit Lebanon sudah membuat kompromi untuk mereduksi benih-benih perbedaan diantara mereka. Setiap kelompok di Lebanon berpartisiasi dalam kepemimpinan nasional. Presiden diberikan pada kelompok Maronite, Perdana Menteri dipegang oleh Sunni, Ketua Parlemen oleh Syiah, Kepala Staf Militer dipegang oleh Maronite, Menteri Pertahanan oleh seorang dari Druze. Komposisi elit ini menjadi sarana check and balance. Setiap keputusan harus didasarkan pada kompromi para elit dari setiap kelompok. Keinginan salah satu kelompok tidak dapat diwujudkan begitu saja tanpa adanya kesepakatan bersama dari pihak lain.

Tapi struktur demografi penduduk Lebanon menunjukkan betapa rapuhnya bangunan sosial kehidupan masyarakat dari ancaman konflik (lihat tabel). Rakyat Lebanon gamang untuk menyepakati bersama identitas nasionalnya. Setiap golongan memiliki ambisi untuk mendominasi. Sulit untuk menentukan siapa yang terlebih dahulu memulai perang yang jelas pertentangan pada tahun 1975 menjadi awal terjerumusnya Lebanon dalam perang sipil berkepanjangan.


Grafik: Komposisi Penduduk Lebanon Tahun 1979

Sumber: Arnon Sofer, Population Economy in Lebanon, Maarachot, No 7, July 1982

Konflik Lebanon bertambah buruk karena setiap golongan mengundang negara lain untuk memperkuat posisinya di dalam negeri. Tahun 1976 kelompok Maronit mengundang Suriah agar membantu melawan kelompok Muslim. Campur tangan Suriah ini mencegah kelompok Maronit dari kehancuran. Liga Arab sendiri demi mengimbangi Suriah, mendukung secara moral Kelompok Sunni bersama Palestine (PLO). Selain itu, Israel demi strategi dan kepentinganya terlibat pula dalam perang di Lebanon. Israel ingin menghancurkan PLO sekaligus juga mengimbangi dominasi Suriah di Lebanon.

Keseluruhan konflik itu berlangsung 18 tahun lamanya. Semenjak tahun 1992 sampai dua minggu yang lalu rakyat Lebanon merasakan nikmatnya hidup damai. Tapi sudah 10 hari terakhir ini semuanya berubah. Perang kembali pecah dan melibatkan berbagai pihak dari luar. Selain milisi Hizbullah melawan Israel, bisa jadi Suriah dan Iran akan terjerumus juga ke dalam perang. Kalau hal terjadi maka mimpi-mimpi buruk masa lalu rakyat Lebanon kembali terulang

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s