Piala Dunia 2006 di bawah Bayangan Kekerasan Neo Nazi


(Tulisan ini dipublikasikan pertama kali saat membuat laporan Piala Dunia di Jerman pada Harian Jurnal Nasional)

Ferizal Ramli2 Brandenburg, 29.05.2006. „Die Welt zu Gast zu Freuenden“. Dunia yang ramah menyambut para tamu dan pengunjung, begitulah kira-kira motto Piala Dunia 2006. Akankah motto itu terealisasi? Ini lah jawabnya jika kita mengengok apa yang terjadi pada sebagian masyarakat Jerman khususnya mantan negara Jerman Timur. Rambut cepak atau potongan gundul klimis, badan tinggi kekar, wajah garang, tangan terkepal keatas dan meneriakkan kemarahan itulah hari-hari yang meramaikan jalan-jalan di protokol utama kota Potsdam baru-baru ini, negara bagian Brandenburg. Dibawah bendera partai NPD (Nationaldemokratische Partei Deutschlands, Partai Demokrasi Nasional Jerman), para pendukung partai ekstrim kanan ini unjuk aksi. NPD yang didukung oleh para anak muda pengagum neo Nazi ini semakin populer bahkan berhasil mendudukan kadernya di parlemen.

Pada pemilihan umum 2005 yang baru lalu NPD mendapatkan suara 1,6% dari seluruh hasil pemilu. Prosentasi tersebut memang relatif kecil tetapi perlu dicatat bahwa prestasi ini adalah lonjakan hasil terbaik yang mereka peroleh selama ini. Sebelumnya hasil pemilu mereka selalu berada pada prosentase nol koma alias tidak mendapatkan kursi di parlemen, tapi tahun 2005 adalah tahun semakin dipercayainya NDP oleh masyarakat Jerman. Ini menjadi indikasi kebangkitan gerakan neo Nazi. Bagi NPD keberhasilannya menduduki kader di parlemen merupakan suatu catatan prestasi partai yang cemerlang sekaligus goresan keresahan buat masyarakat umum di Jerman. Goresan keresahan yang bisa berubah menjadi ancaman nyata akan kekerasan yang dilakukan oleh para ekstrim kanan saat piala dunia 2006 berlangsung.

Mengapa ekstrim kanan si neo Nazi ini begitu populer di Brandenburg dan Jerman Timur pada umumnya? Matthias Platzeck, Minister Praesident (setingkat gubernur di Indonesia tetapi dengan kekuasaan lebih besar karena Jerman menganut sistem federasi) punya penjelasan tersendiri atas fenomena ini. Menurutnya, penduduk di bekas negara Jerman Timur ini tidak punya pengalaman yang panjang berinteraksi dengan masyarakat multi kultur. Masyarakat yang tidak berpengalaman menyikapi heterogenitas. Akibatnya, masyarakatnya begitu sangat reaktif terhadap orang asing. Dalam banyak kasus malah agresif dan menggunakan kekerasan serta intimidasi pada orang asing.

Hanya saja tidak semua tokoh masyarakat di Jerman sami’na wa ato’na, setuju dengan pendapat Platzeck. Para pengamat sosial punya pendapat berbeda. Tingginya tingkat pengangguran di daerah bekas Jerman Timur. Tambahan lagi skill yang rendah yang dimiliki para pemudanya sehingga kalah berkompetisi dengan saudara kembarnya dari bekas Jerman barat menyebabkan mereka tidak punya masa depan jelas. Pada gilirannya terjebak dalam frustasi dan kemarahan yang berkepanjangan. Apa yang akan dilakukan oleh orang-orang kalah, frustasi, tetapi memiliki rasa chauvinisme yang tinggi? Fenomena masyarakat seperti ini lah yang ada di Jerman bagian timur.

Bayangan kekerasan yang akan dilakukan neo Nazi pada event piala dunia 2006 ini bisa berwujud nyata. Ibarat api disiram dengan minyak. Sikap rasis, rasa benci terhadap orang asing, masa depan yang tidak jelas karena tidak tersedianya lapangan kerja, bertemu dan menyatu dalam momentum yang tepat yaitu: piala dunia! Sangat mungkin ini adalah panggung yang pas untuk mengekspresikan eksistensinya: „Deutschland über alles!“. Jerman diatas segalanya tetapi ekspresi ini dilakukan dengan cara yang sempit. Menindas orang lain yang bukan Jerman untuk menunjukan diri, sang neo Nazi, lebih kuat dari orang lain yang bukan Jerman.

Berbagai pihak yang terlibat dalam piala dunia Jerman tidak dapat menyembunyikan kegelisahannya atas fenomena ini. Apa yang terjadi jika para hooligans dari Inggris misalkan bertemu dengan neo Nazi? Dua kelompok yang sama-sama punya reputasi tinggi dalam melakukan kekerasan. Publik Eropa tentu tidak akan pernah melupakan pembantaian berdarah yang dilakukan oleh para hooligans tersebut terhadap pendukung Juventus dalam perebutan piala Champion 29 May 1985 di stadion Koning Boudewijn, Belgia.

Neo Nazi adalah penyeimbangnya. Reputasi rasis neo Nazi atas tindakan kekerasan ke orang asing atau pendatang juga tidak diragukan lagi. Penganiayaan fisik yang berujung pada kematian beberapa kali dilakukan. Bahkan para politisi NPD tidak kalah kerasnya memprovokasi. Andreas Storr (NPD) peryataannya sangat tegas: „…Jerman milik orang Jerman dan harus terbebas dari orang asing“. Di jalanan pernyataan tersebut diikuti betul oleh pengikutnya. Bulan Februari kemarin para neo Nazi ini memburu Omar Ben Noui. „Ausländer raus!“ Orang asing harus pergi teriak mereka sambil menganiaya keturunan Aljazair tadi yang berakhir pada kematian. Kasus terakhir juga baru saja terjadi 2 pekan yang lalu ketika seorang Jerman keturunan Ethiopia, Ermyas M, di Postdam mengalami penganiayaan brutal sehingga terluka parah dan mengalami cacat oleh sekelompok pemuda neo Nazi.

Hal yang menarik dari kasus tersebut, meskipun Platzeck sebagai Minister Praesident sekaligus mantan Ketua Umum SPD (separtai dengan Gerhard Schroeder, mantan Kanselir) menyatakan bahwa penganiayaan terhadap warga Jerman keturunan Afrika tersebut di latar belakangi oleh kebencian ras, ternyata pendapat tersebut ditentang oleh teman separtainya Günter Baaske, ketua fraksi SPD. Seperti dikutip dalam koran lokal Tagesspiegel menurutnya, penganiayaan tersebut adalah insiden yang tidak sengaja. Ini terjadi ketika si korban bertemu dengan sekelompok pemabuk dan kemungkinan terlibat adu mulut. “Apakah sekelompok pemabok yang memukuli orang lain bisa langsung dikatagorikan sebagai tindakan rasis?“, katanya beretorika.

Rasis atau tidak rasis, yang jelas para pemimpin Jerman gamang menghadapi kasus ini. Sebagian pemimpin Jerman bisa saja menolak bahwa kekerasan yang terjadi di Jerman timur tidak berlandaskan rasis. Itu tidak lebih hanya stigmanisasi, begitu mereka beralasan. Hanya saja, catatan terakhir dari der Spiegel (21/22.05.06) memaparkan kenyataan yang sebaliknya. Terjadi peningkatan signifikan jumlah anggota ekstrim kanan. Jika tahun 2004 jumlah ekstrim kanan 0,7 untuk Jerman bagian barat dan 2,1 untuk bagian timur per 100.000 penduduk, maka tahun 2005 menjadi 0,9 untuk bagian barat dan 2,6 untuk bagian timur. Khusus untuk Saschen-Anhalt dan Bradenburg mencapai angka 4,7 dan 3,8 per 100.000 penduduk. Diikuti dengan catatan kekerasan terhadap korban di Saschen-Anhalt sebanyak 12 kali dan Bradenburg sebanyak 10 kali sepanjang 2005.

Kondisi yang kontras terjadi. Jerman menganut sistem pasar ekonomi sosial. Negara memberikan kemudahaan bagi penduduknya; sekolah gratis, asuransi kesehatan dijamin, perumahan gratis termasuk pula santuan biaya hidup per bulan diberikan bagi para penganggur. Pemerintah bahkan juga bertanggung jawab dalam mencarikan kerja para penganggur tersebut ke berbagai perusahaan. Kenyataannya banyak pemuda yang frustasi sehingga bersikap ekstrim, rasis dan melakukan kekerasan. Lantas bagaimana dengan Indonesia yang tingkat penganggurannya mencapai 40 juta dan tidak ada sistem perlidungan sosial bagi masyarakatnya? Mungkin bedanya, masyarakat Jerman selalu menekan pemerintah agar bisa memenuhi seluruh hak-hak masyarakatnya sebaik mungkin. Sedangkan masyarakat Indonesia adalah masyarakat bisa memaklumi akan ketidakmampuan pemerintah dalam mensejahterakan rakyatnya.

„Die Welt nicht zu Gast, dunia bukan untuk para pendatang“, merupakan sisi gelap dari gemerlapnya piala dunia 2006 yang perlu direnungkan bersama…

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s