Piala Dunia 2006: Hamburg menghitung mundur


(Tulisan ini dipublikasikan pertama kali saat membuat laporan Piala Dunia di Jerman pada Harian Jurnal Nasional)

Ferizal Ramli1Hamburg. „Weltmeisterschaft noch 20 Tage“. Piala Dunia tinggal 20 hari lagi! informasi digital itu yang tertera di setiap stasion kereta di kota Hamburg. Begitu mudah terbaca sehingga mengingatkan khalayak akan adanya event sepak bola sejagat akan berlangsung dalam waktu dekat.

Kota Pelabuhan Metropolitan Hamburg menjadi salah satu tuan rumah Piala Dunia untuk babak penyisihan group dan perempat final. Perhelatan ini melibatkan partai-partai pertandingan antara Pantai Gading, Ekuador, Costa Rica, Saudi Arabia, Italia serta Argentina. Sebenarnya hanya Italia dan Argentina lah yang difavoritkan khalayak. Laga keduanya memang sangat dinantikan. Sayangnya kedua favorit bertemu dengan lawan yang relatif ringan sehingga bobot ketegangannya pun berkurang. Hanya kondisi ini tidak mengurangi gairah turis untuk mem-booking hotel-hotel di kota Hamburg. Para turis mulai membaur dengan degupan kehidupan kota. Hotel-hotel mulai memasang label “full booking”. Dari hotel bintang lima sampai hotel tingkat melati tampaknya banyak yang harus terus-menurus menolak tamu datang. Jurnal Nasional sempat mengecek beberapa hotel-hotel ternama, harus puas dengan jawaban: “Es tut mir Leid, leider ist kein Zimmer mehr frei”. „Maaf tidak ada kamar kosong lagi!“

Pesona Hamburg memang lain. Ia tidak hanya menawarkan piala dunia. Citra eksklusif membuat kota Hamburg punya daya tarik berbeda. Hamburg adalah kota orkestra. Kolaborasi antara hiruk pikuk aktivitas transaksi bisnis export-import, pergelaran high-tech bongkar muat peti kemas di pelabuhan yang terbesar di Eropa serta lalu lintas padat kapal-kapal kontainer raksasa antar benua yang lalu lalang dalam kubangan sungai sempit selebar tidak lebih 1.500 meter yang kesemuannya menjadikan atraksi modernitas yang menarik bagi turis. Keluar sebentar dari pelabuhan muncul mata rantai kerumitan baru ditandai dengan jaringan rel-rel kereta api “tumpah tindih” yang mengantarkan peti kemas ke berbagai kota di pelosok Eropa. Di sudut sisi yang lain yang agak menyendiri berdiri Airbus pusat industri penerbangan dunia yang menyempurnakan pertujukan supremasi teknologi negara Jerman.

Kedigdayaan teknologi tersebut berpadu harmonis dengan alam natural yang tetap dipelihara seperti orkestra kota. Tepat persis ditengah kota Hamburg terdapat oase kota, Danau Alster. Oase kembar seluas 200 Ha ditengah perpaduan bangunan modern Kosmopolitan dengan keantikan gedung-gedung tua. Perpaduan antara spirit bisnis kehidupan kota dan eksistensi bangunan antik yang tetap menjaga citra kota. Meskipun sekutu dalam perang dunia dua menghujani kota Hamburg dengan puluhan ribu ton bom, tampaknya bom tersebut tidak mampu mengalahkan kegigihan penduduk mempertahankan bangunan-bangunan tua yang tersisa. Jika bom sekutu saja tidak mampu „membongkar“ bangunan-bangunan tua bersejarah di kota Hamburg, apalagi kalau cuma rencana pemerintah kota untuk membangun pabrik baru atau pusat perbelanjaan baru (mal) sudah pasti tidak berani mengusik keberadaan bangunan tadi — mungkin disinilah berbedanya Hamburg dengan Jakarta. Gereja St. Micheal berdiri di awal tahun 1600 dan St. Nicolai zu Altengamme berdiri 1247 adalah salah satu bangunan-bangunan yang tetap dijaga oleh masyarakat sehingga berperan sebagai „juru kunci“ untuk menjaga jati diri kota Hamburg.

Kota Hamburg dibelah oleh Sungai Elbe seperti belahan pisang goreng, dengan ratusan anak sungai kecil, kanal dan lebih dari 2.500 jembatan menjadikan wisata air sebagai daya pikat tersendiri. Dengan merogoh dompet minimal 8,5 Euro untuk sekali perjalanan, para turis dapat menikmati atraksi alam mengelilingi danau, lalu terus menyusuri anak-anak sungai kecil Elbe ke seluruh pelosok kota. Kemudian tidak jauh dari salah satu sudut tepi Sungai Elbe terdapat St. Pauli, sentra kehidupan malam. St Pauli lah lakon utama kota Hamburg. Lengkap dengan kecantikan artifisial yang membuat reputasinya sejajar dengan Amsterdam, pusat red line di Eropa. Surga untuk memacu adrenaline bagi pencinta kehidupan malam.

Dalam perbincangan dengan pendukung Inggris, diketahui “hooligan” tersebut memilih lebih senang tinggal di Hamburg selama piala dunia berlangsung. Dekat dengan St. Pauli, sudut kota yang tidak pernah tidur sehingga dapat menikmati denyut malam kota Hamburg. Pengakuan serupa juga dikemukakan beberapa pendukung dari Negara Sakura. Meskipun Jepang tidak berlaga di Hamburg, mereka memilih di Hamburg karena ingin menikmati hari-hari malam indahnya dengan para wanita-wanita penghibur St Pauli yang banyak di-import dari Eropa timur. Menurut pengakuanya lagi, dia suka mendengar wanita-wanita cantik Eropa Timur tersebut berbahasa Jerman terpatah-patah dengan tercampur aksen Rusia, Bulgaria atau Rumania karena terdengar seksi. Menariknya lagi, si turis Jepang ini sama sekali tidak bisa B. Jerman lantas bagaimana mungkin mereka bisa senang berbicara dengan wanita-wanita tadi dalam B. Jerman?

Toh bagi para turis bukan suatu masalah meskipun kesebelasan dukunganya tidak berlaga di stadion Hamburg. Dari sini mereka bisa begitu mudah meloncat ke kota dimana kesebelasannya berlaga. Sistem transportasi kereta api yang begitu canggih menjadikan jarak antara 2 kota terjauh di Jerman, Hamburg – dan München hanya ditempuh dalam 6 jam saja menggunakan kereta ICE (Intercontinental Europe) dengan kecepatan bisa diatas 250 km/jam. Padahal jarak antara Hamburg – München itu lebih 780 km. Waktu yang lebih pendek jika kita menempuh perjalan Jakarta – Yogya dengan Taksaka atau Argo Lawu. Apalagi hampir setiap jam ada jadwal kereta yang akan mengantarkan penumpang ke seluruh kota besar di Jerman. Jadi, kapanpun ingin berangkat, maka berangkatlah mereka tanpa perlu terlalu repot-repot menyesuaikan jadwal keberangkatan kereta. Dengan sistem transportasi seperti ini bisa dipahami jika para pendukung kesebelasan tersebut lebih suka tinggal dekat St. Pauli dari pada di kota dimana kesebelasan pujaannya bertanding.

Hanya kehidupan malam kota Hamburg tidak hanya berkisar sebatas St. Pauli – Reeperbahn saja. 2 halte dari St. Pauli, 4 menit perjalanan dengan U-Bahn (kereta bawah tanah) akan sampailah di Sternschanzen. Puluhan kafe malam berjejer disepanjang jalan, tempat para aktivis muda berkumpul. Nuansa ini mengingatkan akan kehidupan mahasiswa malam di jalan kaliurang kota pelajar Yogyakarta atau kawasan simpang Dago Bandung; diskusi di warung koboy, ditemani oleh nasi kucing khas menu murah ala mahasiswa.

Penuturan dari orang Indonesia yang telah tinggal di Hamburg lebih dari 20 tahun dan berprofesi sebagai sopir sekaligus pemilik Taxi mengatakan di Sternschanzen inilah keresahan dan kegelisahan mahasiswa bertumpah satu. Diskusi politik, ekonomi, ketimpangan sosial meluncur hangat disini. Menurut penuturannya, demostrasi menentang pemerintah biasanya digagas dan direncanakan di keremangan kafe-kafe ini. Beberapa aktivis lingkungan Greenpeace pun lahir dari komunitas Sternschanzen. Hanya anda jangan salah pilih kafe disini sarannya lagi, salah masuk kafe kita bisa ketemu dengan mahasiswa-mahasiswa hippies, pro gele dan pro ekstasi dan pro narkotika termasuk anak-anak muda rasis yang anti orang asing. Bisa panjang urusannya nanti begitu sang pemilik taxi tadi mengingatkan. Tapi terlepas dari keberagamannya, Sternschanzen ini juga salah satu pilihan favorit para turis muda yang ingin menikmati piala dunia dengan kantong pas-pasan, memesan hotel-hotel murah kelas melati bertarif sekitar 50 Euro-an per hari.

„Weltmeisterschaft noch 20 Tage, Herzliche Willkommen in Deutschland“, Selamat Datang di Jerman…

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s