Pahlawan-Pahlawan Egaliter


Ferizal Ramli1(Tulisan ini dipublikasikan pertama kali saat membuat laporan Piala Dunia di Jerman pada Harian Jurnal Nasional)

Sejarah itu dicatat oleh para Pemenang. Hanya pemenang perang lah yang berhak jadi pahlawan. Pihak yang kalah perang akan menjadi penjahat perang. Jerman tahu persis makna pameo diatas. Kekalahannya dalam dua kali perang dunia menjadikan tokoh-tokoh Jerman terseok-seok menghadapi pengadilan kriminal perang, divonis sebagai penjahat perang. Harry S. Truman, presiden Amerika yang memerintahkan menjatuhkan bom Atom di Jepang adalah pahlawan bagi bangsanya. Tapi Adolf Hitler Hitler adalah penjahat perang yang menjadi musuh abadi kemanusian.

“The nation needs hero. Hero makes something impossible becoming possible, begitu cuplikan dialog Commodore laut Sir Edward Pellew dengan Lieutenant Horatio Hornblower dalam epik klasik kisah kepahlawan angkatan laut Britania Raya karya CS Forester. Pahlawan membuat orang menjadi percaya bahwa sesuatu yang mustahil tetap bisa diwujudkan. Tidak perduli terkadang apakah pahlawan itu benar-benar ada atau cuma mitos, yang jelas sebuah bangsa membutuhkan pahlawan. Kepahlawanan membuat masyarakat suatu bangsa menjadi percaya diri. Oleh karena itu, bila pahlawan tidak terlahir, maka harus dibuat.

Amerika adalah contoh paling berhasil “menciptakan” pahlawannya. Meskipun masyarakat dunia jelas tidak pernah lupa dengan kekejian tentara Amerika pada Perang Vietman seperti pembantaian rakyat sipil di desa kecil My Lay. Tapi tetap saja pahlawan harus lahir dari perang tersebut. Sebagai pihak yang kalah perang memang sulit mengharapkan pahlawan sejati terlahir dari perang Vietman. Apa boleh buat karena masyarakat tetap butuh pahlawan maka Hollywood lah yang akhirnya berfungsi sebagai „mesin produksi“ untuk menciptakan pahlawan. Rambo adalah pahlawan perang modern Amerika. Toh masyarakat Amerika tidak perduli itu tokoh nyata atau hayal. Masyarakat senang, pemimpin Amerika senang, Industri film Hollywood mendapat untung, semuanya berlangsung sempurna.

Jerman adalah negara yang dua kali menjadi pecundang dalam perang. Jerman tidak punya pahlawan dari medan peperangan. Jerman memang punya tokoh berani dalam PD II yang mengharumkan bangsa Jerman seperti Offizier Graf von Stauffenberg. Tapi Stauffenberg bukanlah pahlawan yang terlahir karena perang gagah berani mengalahkan musuh. Stauffenberg menjadi teladan karena keberaniannya memegang teguh kebenaran. Stauffenberg meyakini bahwa tindakan Hitler itu salah. Dengan berani, dia meletakkan bom di kediaman Hitler. Sejarah mencatat meskipun bom tersebut meledak tapi Hitler selamat dari serangan. Stauffenberg harus mengakhiri hidupnya secara tragis di depan regu tembak pasukan elit SS.

Selain kalah dalam perang, Jerman juga tidak memiliki Hollywood tempat untuk mencetak pahlawan perang secara instant. Tapi untungnya Jerman diselamatkan oleh sepak bola. Olah raga yang paling populer sejagat ini menjadi panggung bagi lahirnya pahlawan-pahlawan baru Jerman. Tokoh pahlawan Jerman bukan seperti Horation Nelson, admiral Inggris yang gugur ketika memenangkan legenda perang laut Trafalgar atau Jenderal karismatik Napoleon Bonaparte si penakluk Eropa. Pahlawan utama Jerman itu adalah Kaisar Franz Bakenbauer.

Bakenbauer mengantarkan Jerman 2 kali menjuarai piala dunia tahun 1974 ketika memperkuat kesebalasan Jerman dan tahun 1990 saat menjadi pelatih. Tetapi lebih dari itu jasa Bakenbauer yang paling besar adalah ketika dia sukses memimpin even besar sepak bola piala dunia 2006 yang baru saja berakhir tanpa cacat. Di piala dunia 2006 inilah Bakenbauer berhasil memimpin masyarakat Jerman membalikan citra buruk masa lalu negaranya, dari bangsa rasis menjadi bangsa yang humanis.

Selain Jerman, Brazil dan Argentina juga negara yang menikmati lahirnya pahlawan nasional dari sepak bola. Brasil memiliki legenda sepak bola dunia Pele dan seabreg lainnya. Argentina memiliki Maradona. Bahkan si „Wiro Sableng“ Maradona dari Argentina membuat prestasi yang jauh lebih spektakuler lagi dalam mengembalikan harga diri bangsanya. Kekalahan meyakitkan Argentina dalam perang laut Malvinas dengan Inggris, dibayar tunai oleh gol „tangan tuhan“-nya Maradona dalam piala dunia tahun 1986 di Mexico. Maradona tidak pernah sekalipun „mencabut“ nyawa serdadu Inggris untuk membuat Inggris menyerah di tangan Argentina.

Ada pemaknaan yang berbeda antara pahlawan medan perang dengan pahlawan sepak bola. Bisa jadi medan tanding lapangan hijau justru lebih sejati dari pada medan perang dalam melahirkan pahlawannya. Jika pahlawan medan perang itu kebanyakan Jenderal, Admiral atau para politisi yang mereka menjadi pahlawan biasanya dibantu oleh pengorbanan nyawa anak buahnya, maka pahlawan sepak bola itu lebih egaliter.

Dari Zinedine Zidane, Ronaldinho sampai ke Weyne Rooney adalah pahlawan yang masa lalunya diasuh oleh keterhimpitan. Besar dan tumbuh di jalanan. Lahir dari keluarga terbelakang. Siapa yang duga bahwa mereka yang lahir dari rahim orang-orang kalah ini malah menjadi pahlawan kelak bagi masyarakatnya?

Di daerah tandus sub sahara Afrika sana, para kanak-kanak kecil dengan gumpalan plastik yang diikat berbentuk bola sibuk mengejar bola, menggiring bola tersebut ke gawang lawan. Bukan bola plastik, melainkan impian lah yang sebenarnya mereka giring. Bukan gawang lawan yang ingin mereka jebol, tapi keterbelakangan dan keterhimpitan lah sebenarnya yang ingin mereka taklukan. Para bocah kecil dengan impian besar inilah yang kelak akhirnya berhasil memaksa masyarakat dunia terpaksa membuka peta untuk mencari tahu dan mengingat dimana letaknya negara Pantai Gading, Anggola, Ghana dan Togo, atau lainnya.

Ketika para bocah di Jerman bertanya ke saya, dari mana saya berasal. Tangkas saya jawab: “Ich komme aus Indonesien”. Hanya reaksi para bocah di Jerman bener-benar di luar dugaan. Tanpa minat melanjutkan pembicaraan para bocah kecil tersebut ngeloyor pergi sambil berkata lugu: “Indonesien? Ich kenne nicht Indonesien. Das muss ein kleines Land sein weil es keine Mannschaft aus Indonesien gibt!“ „Saya tidak tahu Indonesia. Pasti itu negara kecil. Soalnya tidak punya tim sepak bola!“ Celotehan bocah tadi hanya bisa membuat saya tercenung diam.

Memimpikan dari sudut kampung-kampung kumuh kota Jakarta, atau dari salah satu petak rumah sempit di tepian kali code yogyakarta, atau dari kawasan kumuh lainnya di tanah air suatu ketika lahir seorang pahlawan sekelas Bakenbauer, Pele atau Maradona. Semoga bukan sebuah utopi…

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s