None Dare Call It Conspiracy – Tinjuan Kritis


(Artikel ini pertama kali dipublikasikan pada Mon Aug 9, 2004 3:10 pm)

Ferizal Ramli3NDCIC (None Dare Call It Conspiracy) karya Gary Allen adalah bacaan yang menarik, memberi warna berbeda dengan sudut pandang baru, tentu saja ditulis dengan pilihan-2 kata provokatif yang membuat pembaca larut dalam cerita-2 konspirasi…

Setelah aku baca buku NDCIC, ini beberapa tinjauan kritisnya:

1. Logika dan sistimatika yang ada sangat runtut dan compag. Apalagi beberapa statement sering provokatif sehingga buku ini bisa sebagai “brainwashing” terutama buat pengagum global kapitalis. Pada dataran tertentu paradigma seseorang bisa berubah ketika membaca buku NDCIC dari kapitalis menjadi nasionalis.

2. Kelemahan yang mendasar pada buku ini adalah sangat spekulatif dan bergaya fiction mirip novel John Grishamn. Tentu saja kalau sepintas membacanya orang akan sangat menikmati. Tapi coba cermati data-data lemah yang diajukan serta kesimpulan yang sangat spekulatif, maka akan diketahui bahwa buku NDCIC ini memang diarahkan untuk segment pasar pembaca populer bukan segment akademis. Untuk tambahan referensi berdebat „warung kopi“, maka buku ini bisa jadi amunisi cukup bagus dalam berdiskusi. Tapi untuk diskusi akademis serius maka hampir yakin kita akan jadi bahan „tertawaan“ jika menggunakan NDCIC sebagai referensi.

3. Beberapa contoh argumen yang sangat spekualitif: Pembaca digiring untuk bersepakat bahwa kekejaman Hitler karena akibat dari teori konspirasi dengan cara ditampilkannya Kelompok Rotschild dan Warburg (yang nota bene Yahudi) justru membantu keuangan Hitler. NDCIC ingin mengesankan Rotschild dan Warburg memprovokasi Hitler sehingga menyerang Yahudi dan terjadi perang dunia lalu mereka mengambil keuntungan dari perang karena dalam perang tersebut Hitler harus pinjam uang dan bayar bunga pinjaman. NDCIC bener-bener menafikan fakta Sejarah (kesepatakan para ahli sejarah) bahwa bukan karena provokasi kelompok insider (Konspirasi dari Rotschild dan Warburg), —Hitler dan didukung penuh oleh seluruh rakyat Jerman (fakta ini yang membuat Jerman malu pada sejarah karena partisipasi rakyat Jerman full) berperang—, tapi ada persoalan hakiki lain yang membuat mereka perang.

4. Untuk menghindari serangan dari berbagai pihak yang kritis dengan NDCIC, penulis NDCIC cukup pandai dengan memulai menulis Bab I (Jangan dibingungkan oleh Fakta) sebagai tameng argumentasinya (cuci otak pembaca) agar pada Bab-bab selanjutnya pembaca akan menelan dengan mudah argumentasi NDCIC. Begitu juga dengan perang-perang lainnya seperti perang saudara Amerika, revolusi Bosolvik, dsb seperti seolah-olah semua perang itu di-remote oleh konspirasi. Yah kalau mau dihubung-hubungkan semua
juga bisa terhubung. Tapikan apa memang iya konspirasi yang menjadi arsitek utama perangnya ?

Hanya kalau mau membandingkan sejarah secara jujur, manusia itu sudah lama sekali demen perang didunia ini bahkan sebelum konspirasi itu ada. Cerita Ramayana, Mahabrata, Troja, Hercules, Mushasi sampai pada perebutan kekuasaan Singasari atau Mataram merupakan fakta sejarah bahwa orang seneng perang dengan atau tanpa diprovokasi oleh Insider. Motif perang itukan sentimen idiologi, ras, kekuasaan, uang dan perempuan. Insider (kelompok yang dituduh menjalin konspirasi) cuma “penumpang gelap” yang dengan rakus mengambil keuntungan dari sedemikian ber-varisasinya motif perang.

5. Tidak ada data-data akademis akurat yang diajukan, misal satu dari sekian banyak contoh, “Colonel” Hause, dituduh sebagai “malaikat yang menjaga UU tentang The Fed” yang pro konspirasi agar bisa gol. Padahal tidak ada sama sekali keterlibatan transaksi atau kepemilikan saham atau bentuk komisi apapun yang diajukan oleh NDCIC sehingga si `Colonel’ itu memang punya vested interest dan menjadi bagian dari insider. Mungkin saja data itu sulit
diperoleh karena `kejahatan keuangan’ memang sulit untuk diketahui. Canggih, sophisticated dan misterius. Tapi jika NDCIC tidak bisa mengajukan data financial maka buatku itu ndak ada istimewanya, analisisnya ndak lebih dari analisis dalam cerita film-film konspirasi ala Hollywood.

6. Kalau buat para mahasiswa ekonomi yang kebetulan diajarkan oleh para dosennya dengan mainstream mahzab Nasionalis maka paradigma-nya akan mirip dengan NDCIC. Artinya ndak ada yang baru dari NDCIC kecuali beberapa tambahan contoh kasus Amerika dan Eropa yang disajikan oleh NDCIC sebagai tambahan referensi. Artinya, mereka, ekonom-ekonom nasionalis ini sepakat bahwa para konspirasi ini mempunya daya rusak yang luar biasa buat perekonomian suatu bangsa.

Dalam konteks Indonesia secara filosofis Mochammad Hatta bahkan sudah mengantisipasi secara visioner dengan pembuatan koperasi dan pengembangan ekonomi rakyat. Karena jika diseriusin model ekonomi seperti ini akan resisten terhadap serangan konspirasi; yang biasanya dalam bentuk merger, akusisi, valas-international banking, stock cooking, dsb.

Sayangnya setiap strategi ekonomi harus ada kebijakan dan political will untuk melaksanakannya, serta harus ada payung hukum untuk melindunginya. Tapi aku tidak yakin jika Sukarno, misalkan presiden 20 tahun (bukan Suharto lho), tidak memberikan dukungan penuh terhadap ekonomi rakyat bukan karena dipengaruhi oleh para konspirator. Tapikan tetap bisa aja dibuat analisis Sukarno “ndak mau” ngurusi ekonomi rakyat karena sibuk direcoki oleh Imperialis Barat melalui invisible hand-nya CIA yang dibelakangnya di-backing-ing para insider konspirasi. Yah kalau mau dihubung-hubungkan seperti itu sih bisa aja. Hanya saya khawatir model metodologi seperti itu yang dikembangkan oleh NDCIC.

7. Buat saya sih, potensi daya rusak konspirasi (dalam bentuk oligarki pihak swasta) tetap sama bahayanya dengan potensi daya rusak pemerintahan diktatorisme apabila mereka punya akses memegang uang tanpa batas dan tanpa pertanggungjawaban. Jadi persoalannya bukan
pada siapa yang memegang uang tapi pada bagaimana cara membatasinya.

8. Tapi aku tetap akan merekomendasikan NDCIC buat anak-2 muda yang ingin mempelajarai politik ekonomi dan tentu saja para mahasiswa ekonomi jika aku jadi dosen sebagai bacaan yang “wajib dibaca”. Paling tidak dia punya argumentasi populis dari NDCIC apabila berdebat dengan para neokolonialis. NDCIC juga menarik jika difungsikan sebagai alarm buat para calon mahasiswa ekonomi sehingga ndak kebablasan memuji kapitalisme.

Salam…
Dari lembah Sungai Saar,

Ferizal Ramli

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s