Nasionalisme Orang Jerman Terletak pada Sepak Bola


(Tulisan ini dipublikasikan pertama kali saat membuat laporan Piala Dunia di Jerman pada Harian Jurnal Nasional)


Ferizal Ramli2Suatu siang di laboratorium jaringan komputer di salah satu sudut Universitas Hamburg sehari sebelum pertarungan kesebelasan Jerman melawan Ekuador. Para mahasiswa pasca sarjana spesialis data base dan informasi manajemen sibuk ber-skype dan kirim e-mail. Mereka bukan sedang berkolaborasi transfer data dengan SAP NetWeaver, OLAP, SQL, BizTalkServer atau hal yang sophiscated lainnya. Lebih dari itu mereka sedang tenggelam dalam deal penting, dengan satu tujuan: meminta Professor agar membatalkan perkuliahan pada hari pertarungan Jerman versus Ekuador. Professor setuju, Perkuliahan batal! Kepedulian mahasiswa saat ini —termasuk sang Professor— cuma satu: mendukung kesebelasan Jerman untuk memang. Meskipun sudah dipastikan Jerman melaju pada babak selanjutnya, tetapi pada hari itu semua aktivitas dan kepentingan lain harus mengalah demi mendukung kesebelasannya bertarung.

„Berlin, Berlin, wir fahren nach Berlin“. „Kita berangkat menuju Berlin“ begitu teriakan warga Jerman ramai-ramai setiap kali tim nasional Jerman bertarung. Para pengemar sepak bola —di Jerman mana ada yang bukan penggemar sepak bola?— ketika saling bertemu di jalan akan balas menyapa dengan meneriakan slogan tadi. Slogan yang berupa spirit, bauran antara keinginan, kebanggaan dan cita-cita warga Jerman agar tim kesayangannya dapat berlaga di Berlin dan menjadi juara piala dunia. Slogan ini begitu heroik dan penuh dengan patriotisme. Ini seperti mengingatkan patriotisme yang sama pada kita ketika jaman kemerdekaan. Sesama pejuang dan rakyat jika bertemu akan meneriakan slogan: „Merdeka!“

Jerman memang telah kehilangan semangat patriotismenya semenjak kalah dua kali dalam perang dunia yang memalukan. Pemahaman masyarakat Jerman tentang nasionalisme penuh dengan kontradiksi yang menyakitkan dan sering kali terjadi salah paham, tulis Hugo Hamilton, penulis Jerman keturunan Irlandia. Seperti ada kecemasan bahwa dengan menunjukkan semangat patriotisme sama saja menyetujui perilaku Nazi di masa lalu.

Bangsa Jerman gamang dengan makna patriotisme. Konsep „fatherland“, tanah air, mereka hempaskan penuh kegeraman. Mereka „malu” menggunakan atribut nasionalnya. Sulit untuk dijumpai ada warga Jerman yang mengibarkan bendera: Hitam-Merah-Kuning, bendera nasional Jerman, atau menyanyikan lagu nasional. Seakan seperti aib yang mengingatkan pada Nazi, bendera dan lagu nasional disimpan dalam-dalam oleh warga Jerman.

Disisi lain, bangsa Inggris yang mantan musuh bebuyutannya justru selalu bergairah mencemoohkan orang Jerman. „The British have zero interest in the new Germany. The British have zero interest in the old Germany. The British are interested ONLY in Nazi Germany”, tulis Matthias Matussek salah seorang jurnalis senior Jerman. “Nazi, Nazi!”, begitu stigma yang dilabelkan pada anak-anak yang bermain di taman-taman kota London terhadap rekan mereka yang kebetulan keturunan Jerman. Bahkan sekarang pun, meskipun sebagian besar anak-anak tersebut tidak pernah paham apa itu Holocaust, tetapi cap Nazi tetap saja dilekatkan pada orang Jerman.

Para pemimpin Jerman bukan tidak menyadari stigma negatif ini. Mereka ingin merubahnya. Bagi Jerman perubahan persepsi masyarakat Inggris terhadap Jerman sangat penting mengingat Inggris berperan sentral dalam pergaulan internasional. Hampir segala cara dicoba. Termasuk dengan melakukan pendekatan pada para guru sejarah di Inggris agar mereka mau merubah persepsi mereka tentang Jerman.

Jerman ingin agar guru sejarah tersebut mengajar kepada anak didiknya tentang Jerman secara utuh. Jangan cuma sejarah Nazi saja diajarkan yang nota bene hanya berlangsung “seumur jagung”. Jerman ingin mengatakan bahwa Hitler memang orang Jerman. Tetapi Jerman pun melahirkan komposer besar seperti Beethoven atau Mozart. Jika Inggris punya Shakespear maka Jerman punya Goethe. Ada juga tokoh termasyhur Wilhelm von Humboldt, model cantik Claudia Schieffer atau Heidi Klum, atau negarawan pemenang nobel perdamaian seperti Willy Brandt, dsb. Singkatnya, pesan yang ingin disampaikan adalah Jerman bukanlah Hitler, meskipun Hitler orang Jerman.

Sayangnya, persepsi masyarakat Inggris tetap jauh dari yang diharapkan. Bagi Inggris, Nazi itu sexy, punya daya pesona yang kuat. Karena Nazi lah, bangsa Inggris dapat terus mempertahankan kenangan akan kejayaan masa lalunya. Inggris juga tidak pernah bisa melupakan pahitnya berperang melawan Nazi 60 tahun yang lalu. Sekalipun Inggris bersama sekutu menjadi pemenang perang dunia, tetapi Inggris kehilangan hegemoninya. Begitu perang usai, imperium Pax Britannia seketika pudar. Seperti kartu domino satu persatu koloni Inggris lepas menjadi negara merdeka. Sampai hari ini pun diyakini bangsa Inggris belum pernah juga siap menerima kenyataan bahwa imperiumnya sudah menjadi sejarah masa lalu. Untuk hal ini, Jerman lah yang dipersalahkan sebagai biang penyebabnya. Disinilah „dosa“ terbesar Jerman terhadap bangsa Inggris. Jadi, bagi bangsa Inggris apa perlunya merubah persepsi tentang Jerman, Hitler dan Nazi.

Masa setelah perang dunia memang menjadikan Jerman sebagai kuburan massal bagi dimakamkannya perasaan patriotisme. Orang Jerman menguburkan idiologi bangsanya. Kebutuhan akan rasa nasionalisme dikompensasikan selama puluhan tahun dengan melarutkan diri dalam kerja keras. Hampir saja makna nasionalisme terhadap tanah air tidak dikenal lagi. Nasionalisme seperti bermetapora menjadi loyalitas terhadap produk “made in Germany”, cinta produk dalam negeri. Tetapi tiba-tiba piala dunia 2006 datang menyentak seperti momentum yang membalikkan keadaan. Sepak bola mengembalikan rasa patriotisme yang hilang tadi.

Warga Jerman seperti lupa akan beban sejarah masa lalunya, yang ada hanya gairah untuk mendukung kesebelasannya. Dukungan tersebut diekspresikan dengan memakai berbagai atribut, bendera, simbol, yel-yel yang semuanya berbau nasionalisme. Patriotisme seketika menyentak didada. Tidak ada lagi kecemasan. Jika pendukung dari berbagai kesebelasan dari negara lain begitu bangga mengibarkan bendera nasionalnya dan menyanyikan lagu nasionalnya maka kenapa bangsa Jerman harus ragu untuk melakukan hal serupa, itulah setidaknya yang ada pada setiap warga Jerman.

Bagi pendukung negara lain, penggunaan atribut negara tidak lebih dari pada ungkapan dukungan terhadap kesebelasannya belaka. Tapi bagi warga Jerman bermakna lebih dalam lagi. Warga Jerman seperti mendapatkan kekuatan moral bahwa mereka juga berhak untuk menggunakan atribut nasionalnya. Mereka juga menjadi berani menunjukan kebanggaan secara terbuka sebagai bangsa Jerman, sesuatu hampir 60 tahun berlalu sulit untuk dilakukan. Piala dunia 2006 menjelma sebagai „dewi kebaikan“ yang membantu proses pembebasan diri generasi saat ini dari bayangan dosa warisan masa lalu yang sama sekali tidak mereka perbuat. Pembebasan diri dari dekapan sejarah yang menyesakkan. Proses ini diyakini oleh para pencinta sepak bola Jerman menjadi lebih sempurna lagi jika Juergen Klismann, Michael Ballack +10, berhasil membuat piala dunia tinggal di Jerman.

Disini, di lapangan sepak bola dan di jalan-jalan kota lagu kebangsaan Jerman terdengar. Einigkeit und Recht und Freiheit für das deutsche Vaterland!Persatuan, hukum dan kebebasan untuk tanah air Jerman…“ Para pendukung sepak bola Jerman beramai-ramai asyik menyanyikan lagu kebangsaannya. Tampaknya nasionalis bangsa Jerman terlahir dari lapangan sepak bola, bukan dari medan perang.

Iklan

3 thoughts on “Nasionalisme Orang Jerman Terletak pada Sepak Bola

  1. Emang kayanya sepak bola itu biasanya banyak nasionalismenya

    tapi kalo di hal hal yang laen malah gk

    aneh emang

    —–
    Kadang memang sepak bola seperti mewakili sebuah negara. Mungkin karena ini olah raga tim bukan olah raga individu. Jadi seperti reperesentasi emosi sebuah negara. Selain itu memang sepak bola antra klub saja akan memberikan nuansa emosional. Sepak bola memang olah raga unik 🙂

    Salam hangat

    Ferizal

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s