München: BMW supremasi dari kekuatan teori


(Artikel ini pertama kali dipublikasikan pada Thu Apr 24, 2008 3:44 pm)

–Mohon jangan salah paham. Tulisan ini untuk mengejek diri sendiri… he,he,he :))

Ferizal Ramli1Praktisi idiot! Saya tidak percaya dengan para praktisi! Hanya para
mahasiswa snobbish yang belum punya pengalaman kerjalah yang percaya
bahwa para praktisi itu adalah orang yang ilmunya mumpuni, menjadi
panutan dan paling bertanggung jawab dengan kredibilitas perusahaan.

Sampeyan boleh tidak percaya dengan statement saya. Apalagi jika
sampeyan praktisi, sampeyan pasti misuh-2 (coro njowone: memaki-maki)
karena saya “menghina” para praktisi dengan kata “idiot!”.

Saya terima semua komplain sampeyan atas ketidaksetujannya terhadap
saya. Tapi mohon jangan membenci saya. Saya juga praktisi, jelek-2
begini saya berstatus Project Manager dan SAP Consultant. Jadi, saat
saya menulis “praktisi idiot,” saya sedang meledek diri sendiri… =))

XXX

Hamburg. Shubuh dini hari. Sayang sekali tidak ada ayam jantan
berkokok di sini. Check in sebentar di Bandara. Setelah proses tetek
bengek security selesai, mulailah merebahkan badan yang masih mengatuk
di kursi Business Class Lufthansa menuju München. Lumayan 1 jam
perjalanan bisa melanjutkan mimpi indah…

BMW mengundang saya bertemu untuk Vorstellungsgespräch (wawancara)
sebuah posisi lowong bidang SAP. Fantastis, untuk sebuah wawancara
kerja mereka memfasilitasi Lufthansa Business Class lengkap dengan
Sofitel Hotel, Acord Chain Management. Pikir saya, BMW ini pasti
sinting! Saya toh belum tentu memenuhi kualifikasi mereka, tapi mereka
sudah buang-2 uang untuk hanya sebuah proses “sepele”: wawancara
penerimaan karyawan baru… :))

Tapi itu belum seberapa…

München. Beberapa saat keluar dari U-Bahn (subway) Olympia stasiun,
disinilah supermasi kedigdaya BMW flamboyant gagah berada. Lambang
mobil paling prestius itu elegan terlihat di kejauhan tepat persis
diatap Headquarter-nya. Gedung kembar 4, dengan fenomena silindris. Di
dalam gedung itulah saya akan bertemu dengan beberapa orang untuk
sebuah meeting…

Tepat jam 10, wawancara dimulai. Demi Tuhan, ini sih bukan wawancara
pekerjaan. Ini lebih tepat seperti sidang promosi doktor :))

Di depan saya ada 5 orang dalam satu meja bundar kecil. Satu persatu,
mereka memperkenalkan diri dari mulai konsultan SDM, Manajer Projek,
Manajer Akuntansi, Manajer Controlling dan Manajer IT. Yang membuat
saya tercengang, semuanya bergelar DOKTOR! alias berpendidikkan S-3.
Jadi, saat itu saya sedang berhadapan dengan 5 orang Doktor.

Saya sudah bersentuhan dengan beberapa perusahaan Jerman seperti TH
Winkel, Otto Versandt, T-System International, BASF IT Service, dll.
Dan BMW telah semakin menambah keyakinan saya tentang sesuatu yang
unik dari tradisi perusahaan-2 raksasa di Jerman.

Satu hal yang paling menonjol dari perusahaan Jerman. Mereka
memperkerjakan puluhan bahkan ratusan karyawan berpendidikan DOKTOR!
Jumlah karyawan Doktor mereka tidak kalah banyak dengan jumlah Doktor
di Universitas elit di Indonesia.

XXX

Mari kita lihat Astra Internasional, perusahaan terbaik dan sangat
profesional dalam pengembangan SDM di Indonesia. Lihatlah, apakah
mereka memiliki karyawan berpendidikkan Doktor? (mohon dicatat doktor
dari Universitas kredible bukan Doktor dari Univ rumah toko).

Makanya, meskipun Astra itu selalu untung dengan omset gila. Itu
perusahaan pengecut! Hanya jago kandang! Perusahaan awak bawang, kelas
assembly tanpa inovasi! Karyawannya cuma level STM, Insinyur dan es-e
(baca: sarjana ekonomi) kelas teri!

(Seperti saya yang juga berpendidikan minimalis), innovasi apa yang
bisa diharapkan dari karyawan yang cuma berpendidikan insinyur dan
es-e kelas teri? (Bei allem Respekt, dengan segala hormat, mohon maaf
buat para insinyur dan es-e serta pada diri saya sendiri tentu saja.
Mohon agar statement saya dilihat dari spirit positifnya supaya
putra-putri sampeyan juga saya perlu sekolah sampe doktor:)).

(Seperti saya yang juga berpendidikan minimalis), teori apa sih yang
dikuasai oleh para insinyur dan es-e yang kuliahnya paling-2 cuma baca
diktat tipis di kampus? Otak mereka itu kosong dengan teori.
Akibatnya, mereka „tidak tahu apa-2″. Mereka paling-2 menjalankan
business as usual. Tanpa keberanian menemukan inovasi teknologi baru
untuk memenangkan pertarungan kapitalis global.

Lihatlah perusahaan kebanggaan Orde Baru, model Pertamina. Adakah
karyawan yang berpendidikan doktor disana? Makanya Pertamina itu
benar-2 perusahaan memalukan yang memiliki perfomance njelehi. Puluhan
tahun berpengalaman di bidang pertambangan, baru ketemu anak bau
kencur ABG kemarin sore model Petronas, Pertamina keok seperti ayam
sayur.

Pertamina itu benar-2 perusahaan lugu (lutju tur guoblok:)). Mosok sih
para karyawan Pertamina itu ndak punya malu, bisa kalah dengan anak
bau kencur ABG model Petronas? Inilah akibatnya, jika perusahaan besar
dikelola oleh para „praktisi idiot amatiran”. Tidak menguasai teori.
Jadilah perusahaan-2 dengan omset raksasa tidak lebih dari ayam sayur =))

XXX

Seperti yang terjadi pada diri saya, para insinyur dan es-e itu tidak
lebih seperti serdadu-serdadu „sepak pantat”. Layaknya para serdadu,
jika berperang itu cuma dijadikan „umpan” ke musuh agar mati duluan.

Mereka bukanlah ahli-2 strategi yang menguasai teori dan visi masa
depan. Makanya mereka hanya mampu melihat beberapa meter dari panca
indera mereka. Mereka melihat persoalan dengan mata bukan dengan otak!

Keterbatasan penguasaan teori dan tools-2 manajemen dan teknologi pada
para karyawannnya membuat perusahaan-2 cap „Melayu Njowo” tidak siap
bertarung frontal dengan lawannya perusahaan-2 cap „Londo Bule”.

Sementara sang lawan model BMW, Airbus, T-System, BASF, Otto Versandt,
SAP didukung oleh ratusan doktor yang berkerja secara sinerji dan
kolaboratif. Memang jika 1 doktor itu itu tidak bisa banyak berbuat.
Tapi jika 50 atau 100 doktor dengan kemampuan berbagai bidang bersatu
dalam kolaborasi sebuah sistem, maka berbagai innovasi masa depan
pasti terlahir dari mereka. Seperti sebuah orkestra yang melahirkan
kreasi nada-nada inovasi teknologi.

XXX

Doktor itu adalah kapten-kapten industri yang akan memimpin peradaban
masa depan. Tanpa mereka, sebuah perusahaan akan mandul dari
kratifitas. Mereka hanya mampu berkompetisi dengan kaedah manajemen
primitif tradisional.

Apa kelebihan para doktor dibandingkan para insinyur dan es-e kelas
teri? Kumpulan para doktor dengan pemahaman teorinya akan mampu
membuat kondisi lingkungan industri dan bisnis yang uncertainty
menjadi certainty. Mereka mampu menurunkan berbagai simpton-2
persoalan abstrak menjadi sebuah model yang ter-standarisasi.

Dari model yang certainty inilah mereka bisa membuat tools manajemen
seperti business intelligent, early warning system, performance
measurement, balance score card, dll. Akibatnya berbagai prediksi
masa depan, analisa dan solusi sudah bisa dibuat jauh sebelum masalah
itu terjadi dengan presisi yang sangat akurat.

Disinilah perlunya para akdemisi berpendidikkan doktor bekerja di
perusahaan. Dan menurut saya inilah kunci suksesnya kenapa
perusahaan-2 di Jerman bisa menjadi pemenang dalam kapitalis global.

XXX

Saya benar-benar bermimpi di suatu masa nanti, Astra Internasional,
Telkom, BNI, Garuda, dll memiliki puluhan atau bahkan ratusan karyawan
berpendidikkan doktor. Saya berharap dari kumpulan para doktor inilah,
beserta innovasi yang terlahir darinya, akan memimpin kita mengalahkan
BMW, Deutsche Bank, T-System, dsb.

Anda menuduh saya saat ini sedang bermimpi dan uthopie? Yah biarin
aja… Pokoknya semua tuduhan anda akan saya terima dengan ikhlas 🙂

Salam hormat,

Ferizal Ramli
Praktisi Industri dan Konsultan IT

Iklan

9 thoughts on “München: BMW supremasi dari kekuatan teori

  1. weh,,
    ne baru nyari sources buat tmen truz kbuka deh blog ne…
    ps dibaca isinya…deuh..ckckckckc
    berani+lucu+ n lumayan masuk akal jg ..

    iy seh di negara kita tercinta ini perusahan2nya cm jago kandang doank…itupun masih di kandang jg masih sering sakit-sakitan..
    trus, pkerjanya mostly cm dg gelar ecek2..toh klo gelas es-e tp cuma nama doank n isisnya nol besar..
    perguruan tinggi di Indonesia kyaknya perlu dirobah abiz2 cz g ad sistem yg jelas toh klo iy g dijalanin akhirnya imbasnya outputnya pun cm dg kadar yg minimalis…

    Horas Bankkkk
    hahaha

  2. Lucu…
    Masuk akal juga sie…

    Trus….
    Ngapa sie penulis yang “kayanya sie cukup kredibel” ntu juga kaya kebanyakan orang2 pinter indonesia laen….
    Mau kerja buat wong londo…..

    Dah tau dalam negeri bobrok dan “butuh”….

    Jangan cuma kritik-kritik dunk….
    saya yang cuma pekerja rendahan juga bisa…..

    Coba masuk ke dalam sistem,
    Perbaiki..
    Kalau memang cinta sama tanah air ni….

    Keh…..

  3. barusan aku ketemu sama PhD di Khartoum, kita ngobrol-ngobrol dan ternyata aku satu SMA sama anaknya, satu angkatan lagi. ketika dia tahu aku “cuma” sarjana, dia segera menyergah: sekolah lagi dong…di eropa, S-2 aja gak dianggep…..

  4. Wah wah wah…

    Klo aku kemaren baru salut ama PT PAL.
    Pabrik Kapal kita.

    Lagi2 bisnis innovasi di indonesia selalu terkendala dana.

    Gimana mau bayar Dr? Bayar yang pokok2 aja mefet…

    Itu juga dialami IPTN….!

    Masih inget Pak Habibie ? Yang sekarang menyelamatkan diri ke Jerman. Klo ketemu, tolong kasih tahu: ” Rakyat mengharapkan Anda kembali…. Saatnya untuk Indonesia kembali”

    Sebagai Pengamat Praktisi di Indonesia, saya memahami hal itu.

    Di Indonesia itu kebanyakan bisnis makelar.
    Ha ha ha……

    Maklum aja…
    Tenaga Ahli, gajinya lebih kecil dari makelar…

    Ha ha ha……

    Ini Sok Tau aja Lho…..

  5. Tapi saya juga pernah juga ketemu dengan Mbah kyai…
    yang pernah mau diberi Gelar Dr kehormatan…
    oleh sebuah Universitas terkenal…

    ha ha ha…..

    Tapi, beliaunya nggak kerso.

    Lha wong Guru Besar dr NZ aja hormat ama Beliau….

    Hormat karena ketinggian ilmunya.

    .

  6. Sori baru baca postingan ini, Fer.
    Saat ini pemberi beasiswa luar negeri terbesar di Indonesia adalah Kementrian Pendidikan Nasional. 1000 beasiswa LN untuk dosen. DOSEN? pulang-pulang mereka mau jadi apa? Nulis jurnal ok, tapi kok cuma jurnal dalam negeri? bukan ngejek, tapi saya salut dengan Habibie dulu yg menyekolahkan karyawan di bawah Badan Penyelenggara Industri Strategis master-doktor ke luar negeri. dalam waktu 10 tahun, dengan pendidikan LN yg mumpuni, IPTN mampu memproduksi pesawat terbang, dsb. INTI zaman dulu mampu menjadi kontraktor EPC telekomunikasi. sekarang, INTI cuma jualan MENARA TELEKOMUNIKASI dan perawatannya. waduh…..
    COba dari 1000 beasiswa itu, 20 per tahun untuk Pertamina, 20 PAL, 20 Mandiri, 20 INTI, 20 Sucofindo, dsb. dalam 5 tahun industri kita, BUMN kita, akan lebih maju.

  7. Seharusnya di Indonesia ada program beasiswa doktor untuk eksekutif-eksekutif industri di BUMN dan perusahaan-perusahaan swasta yang bekerjasama dengan pemerintah. Bukan hanya dosen. Pulang-pulang mereka diberi jabatan dan kewenangan strategis,

    Saya pernah merasakan punya bos MBA dan PhD, beda banget. Bos yang MBA wawasannya hanya sekitar cost reduction, perampingan pegawai, hire sales yang banyak…itu thok!!

    Bos yang doktor pendekatannya dengan inovasi dan strategi yang belum pernah terpikirkan sebelumnya, semua keputusan management sangat quantitative dan evidence based.

    Ada alasannya CEO terbaik sepanjang sejarah korporasi Amerika, Jack Welch, adalah pemegang PhD engineering dan bukan MBA. Kalau para petinggi industri dan keuangan di Wall Street Amerika adalah pemegang gelar doktor, dunia tidak akan terpuruk ke krisis berkepanjangan seperti sekarang!!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s