Mencoba membedah anatomi Korupsi


(Artikel ini pertama kali dipublikasikan pada Sun Mar 18, 2007 12:44 pm)

Ferizal Ramli1Dari hasil kajian yang saya ikuti ternyata ada 5 kelompok penting
aktor korupsi. Maaf pembagian ini cuma untuk menyederhanakan model:
(1) Aparat Penegak Hukum (Jaksa, Hakim, Polisi dengan karakteristik
agak berbeda)
(2) Aparat Birokrasi (PNS sipil dan dengan karkateristik tertentu
polisi juga termasuk disini)
(3) Politisi (Parpol dan DPR)
(4) Masyarakat Umum (yang tidak masuk dalam golong memiliki kekuasaan)
(5) Korporasi

Korupsi yang paling sulit diberantas adalah Korupsi Korporasi. Negara
majupun saat ini masih berperang dengan para aktor korupsi korporasi.
Ingat kasus ENRON yang menyebabkan skandal besar Wallstreet. Atau di
Jerman kasus VW, Deutsche Bank, Telkom, dsb, dsb. Dampak dari korupsi
korporasi jauh lebih hebat dan lebih susah diatasi. Kenapa? karena
mereka lebih lihai. Apakah Indonesia tidak ada korupsi korporasi?
Jelas banyak, kasus Exxon, Freeport, Pertamina, BLBI, adalah contoh-2
korupsi korporasi. Economic Hitman-nya John Perkins, merupakan cerita
gamblang tentang korupsi korporasi. Hanya jangan mimpi kasus korupsi
bisa diatasi saat ini. Itu tahap yang paling sophisticated! Harus
dimulai dari tahap yang paling gampang…

Tapi bisakah korupsi diberantas? Jawabnya bisa, bahkan kita harus
jihad untuk memberantas itu. Bagaimana caranya?

Dari hasil studi kasus beberapa Negara yang sukses memberantas korupsi
dalam waktu relative “singkat” biasanya mengikuti pola berikut:

Tahap I: Memberantas korupsi pada level Aparat Penegak Hukum. Ini yang
paling mudah, karena aparat penegak hukum itu tidak memiliki
“kekuasaan” nyata di masyarakat. Korps mereka (kecuali polisi) tidak
bisa melawan. Kekuasaan Jaksa dan Hakim itu cuma dipersidangan jadi
kalau mereka memboikot karena melawan terhadap arus pembersihan
korupsi, dampak perlawan mereka tidak terlalu mengganggu masyarakat.
Mestinya Presiden harus memulainya dari sini.

Thailand adalah contoh sukses pada tahap I ini. PM-nya yang dulu
pernah mengeluarkan kebijakan semua hakim dan jaksa yang sudah berumur
40 tahun (kalau tidak salah) harus pensiun. Harus diganti dengan
Hakim-Jaksa lain yang masih fresh belum pernah terlibat kolusi jual
beli kasus atau mafia peradilan. Jadilah, peradilan saat itu begitu
bersih dipenuhi hamkim-2 muda ala Judge Bao.

Tahap II: memberantas korupsi di birokrasi dan polisi. Ini agak
sedikit sulit karena birokrasi itu terkait langsung dengan pelayanan
masyarakat. Jadi, kalau korps-nya melawan maka masyarakat akan terkena
dampak langsung. Caranya: dengan pengawasan internal yang lebih baik
dan bila bersalah akan menghadapi pengadilan yang angker buat koruptor
karena hakim dan jaksa-nya semuanya bersih seperti Judge Bao.

Tahap III: memberantas korupsi di Politisi. Apabila birokrasinya tidak
korup maka peluang politisi untuk korup langsung menguap. Mereka ndak
punya kesempatan berkolusi. Disisi lain dukung pers terbuka untuk
melakukan investigasi berita. Politisi itu karakteristiknya kalau
terpukul langsung jatuh K.O. hanya masalahnya sulit untuk kena pukul.
Investigasi pers tentang kasus korupsi politisi adalah cara efektif
untuk langsung membunuh karir si politisi tsb. Sisanya diselesaikan
oleh aparat hakim model Judge Bao.

China merupakan salah satu negara yang sukses memberantas korupsi
sampai pada tahap III ini.

Tahap IV adalah pemberantasan korupsi di masyarakat. Ini hanya bisa
dilakukan melalui proses pendidikan. Harus dikasih tahu bahwa nyontek
itu perilaku korupsi misalkan, dsb., dsb. Tapi cara pendidikan ini
menjadi tidak efektif jika anak didik dan masyarakat melihat bahkan
tidak bisa menghindari aktivitas korupsi dalam keseharian. Seperti di
pengadilan kalau menang harus melalui mafia perkara ataupun dengan
birokrasi seperti sogok KTP, SIM bahkan lebih canggih seperti
penggelapan pajak, imigrasi, dsb.

Artinya, tahap IV baru bisa berjalan efektif jika tahap I, II, III
terlampaui. Masyarakat Eropa Barat adalah contoh keberhasilan mereka
mengatasi korupsi sampai tahap IV. Bisa dilihat masyarakat Eropa itu
taat hukum. Kasus sederhana, kalau ujian pasti deh yang paling sering
nyontek itu orang-2 India, China, Arab, termasuk orang Indonesia.
Orang Eropa seperti Jerman secara umum paling ndak sudi yang namanya
nyontek meskipun peluangnya besar dan tidak beresiko untuk melakukan itu.

Tahap V adalah mengatasi korupsi di level korporasi. Ini yang saat ini
menjadi tantangan terbesar untuk semua negara maju. „Korruption ist
über alles”. Korupsi diatas segalanya, sepertinya slogan ini menjadi
masalah bersama. Kasus Enron, atau skandal VW di Jerman dan berbagai
skandal lainnya adalah kejahatan korporasi yang sangat sulit untuk
diatasi.

Akhirnya, kesadaran kita untuk tidak korup dan ketabahan kita untuk
mau hidup halal adalah modal awal untuk melawan perilaku korupsi. Tapi
lebih dari itu harus ada pressure bersama bahwa untuk memberantas
korupsi aparat penegak hukum harus benar-benar direformasi secara
radikal. Tanpa itu usaha pemberantasan korupsi cuma usaha jaga image
ala SBY yang selama ini kita lakukan.

Salam,

Ferizal Ramli

Iklan

2 thoughts on “Mencoba membedah anatomi Korupsi

  1. Ping-balik: Apakah Teknologi Informasi bisa mencegah Korupsi yang berkuasa Über Alles??? | Ferizal Ramli's Blog

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s