Memprediksi Pemenang Piala Dunia 2006


(Tulisan ini dipublikasikan pertama kali saat membuat laporan Piala Dunia di Jerman pada Harian Jurnal Nasional)

Ferizal Ramli1Adalah suatu yang menggelitik untuk memprediksi siapa yang akan menjadi pemenang PD 2006, ajang pertarungan paling diminati dan paling bergengsi di dunia. Favorit Brazil kah dengan Ronaldinho-nya, atau mungkin Spanyol yang baru-baru ini 2 klub terbaik negara matador tersebut sukses mempersandingkan Piala UEFA dan Piala Champions? Bisa juga Italia, Inggris, Belanda, Argentina atau malah tuan rumah Jerman? Seluruh penggemar sepak bola sudah pasti akan menyebut salah satu dari kesebelasan favorit tersebutlah yang berpeluang untuk memenangkan pertarungan piala dunia.

Bagi pengemar sepak bola prediksi itu logis adanya. Akan tetapi jika jawabannya mengacu pada laporan majalah bisnis terkemuka di Jerman seperti Capital, Manager Magazine, atau Wirtschaftswoche maka bisa jadi prediksi penggemar sepak bola tadi hampir pasti salah semua. Kesebelasan kebanggaannya tidak akan menjadi “pemenang”. Kemungkinan besar Adidas, Nike, Puma, McDonald, Coca Cola, atau perusahaan sponsor lainnya lah yang akan menjadi pemenang event piala dunia. Mereka lah yang akan meraup keuntungan milyaran Euro atas perhelatan piala dunia ini.

Dibalik gemerlapnya pertarungan antar kesebelasan yang menjadi aktor-aktor utama dalam kompetisi akbar tersebut, ternyata ada pertarungan sengit lain yang tidak kalah prestisiusnya. Pertarungan para „sutradara dan produser“. Pertarungan para bisnis korporasi yang menjadi sponsor piala dunia. Dipastikan akan terjadi saling salip mengambil point-point keuntungan, meningkatkan omset penjualan dan menaikkan citra korporasi dalam moment piala dunia ini. Jadi bukan hanya Juergen Klismann, Sven-Goeran Eriksson, Marco van Basten atau Carlos Alberto Parreira yang beradu strategi untuk mencuri point mengalahkan lawan. Herbert Hainer, CEO Adidas dan Mark Parker, CEO Nike misalkan, dua seteru bebuyutan yang tidak pernah bosan bertarung dalam meperebutkan pangsa pasar produk-produk olah raga dunia dipaksa juga berkeringat mengantur langkah-langkah untuk menjatuhkan lawan.

Berbeda dengan Nike yang tidak menjadi partner FIFA pada PD 2006, Adidas sebagai sponsor utama piala dunia berada diatas angin. Dia memiliki kesempatan besar menggunakan moment ini untuk meningkatkan keuntungan penjualannya. Tapi perlu juga dicatat sebagai market leader, Nike tetap memiliki keunggulan komparatif karena konsumennya saat ini lebih besar dari Adidas. Oleh karena itu, sudah pasti Herbert Hainer di Herzogenaurach, Jerman maupun Mark Parker di Oregon, USA akan saling adu cerdik, mengatur marketing strategik, meletakkan pion-pion armada pemasarannya secara cermat untuk menggejot omset penjualan dan memelintingkan keuntungan bagi korporasinya.

Selain itu, Puma si “kucing hitam” ini juga ikut meramaikan kompetisi. Sebagai underdog Puma tidak boleh diremehkan, bisa menggunting dalam berbagai kesempatan. Puma adalah perusahaan lokal Jerman sama seperti Adidas, bahkan pendirinya dulu bersaudara. Perbedaan pendapat yang tajam diantara anggota keluarga menjadikan perusahaan keluarga ini terpecah menjadi dua. Sang adik Rudolf Desser, tahun 1947 keluar dari bisnis keluarga dan mendirikan perusahaan Puma. Sedangkan sang kakak Adolf Desser melanjutkan terus usaha bisnisnya yang akhirnya dikenal dengan nama Adidas. Pameo lama mengatakan: “business is business”, bisnis tidak kenal hubungan keluarga tampak benar adanya. Di piala dunia 2006 ini perang saudara antara Adidas dan Puma tidak mungkin terelakan lagi. Ini menjadi warisan atas perseteruan masa lalu diantara kakak-beradik pendiri masing-masing perusahaan.

Kompetisi antara Nike, Puma dan Adidas sudah dimulai sebelum piala dunia resmi dibuka. Sadar akan posisinya bukan sebagai sponsor utama, Nike langsung menyerang ke “kandang lawan” kantor pusat Adidas di Herzogenaurach. Secara provokatif Nike membuat parade kendaraan yang berlogo seperti “tinju hook”, lambang Nike. Ditempat tersebut didirikan factory Nike. Tepat berada didekatnya berdiri pula outlet Merah-Putih milik Puma. Padahal pusat penjualan Adidas, sekaligus kantor pusat Adidas hanya terpaut beberapa ratus meter saja disisi lain. Ini jelas strategi „keroyokan“ dari Nike dan Puma untuk mengintimidasi Adidas sekaligus untuk menarik perhatian konsumen.

Bukan itu saja Nike jauh-jauh hari sudah mengklaim secara terbuka bahwa dialah saat ini yang nomor satu. „Kita memulai omset penjualan pada tahun 1994 hanya 400 juta US Dollar untuk sepak bola, tetapi pada tahun 2006 mencapai rekor tertinggi 1,5 milyar US Dollar (silahkan dikalikan kira-kira Rp 9 ribu)” tegas Hubertus Hoyt, executive corporate Nike Jerman. Bagi Nike memenangkan pertarungan di cabang sepak bola menjadi sangat penting setelah pangsa pasar tradisionalnya di USA yaitu penjualan produk olah raga bola basket dan America football saat ini terancam oleh strategi Adidas. Inilah latar belakang mengapa Nike begitu agresif dalam ajang PD 2006.

Adidas tentu saja tidak tinggal diam. „Wir greifen an!“, kita taklukan (mereka), balas Hainer sang CEO Adidas sengit. Kita akan hancurkan “mahkota” (sebagai market leader) yang saat ini dimiliki oleh Nike. Target kita adalah menjadi pemimpin terdepan dalam industri olah raga. Kunci dari penaklukan ini adalah 53 hari-hari piala dunia. “Kita akan melakukan kampanye ofensif yang sama sekali belum pernah terjadi di Jerman”, tegasnya. Taktik pertarungannya dengan menyerang seluruh produk Nike, tipe per tipe, disemua lapisan. Saat ini Adidas sudah begitu percaya diri. Menurut Erich Stamminger (Direktur Pemasaran Adidas) tingkat penjualan produk sepak bolanya berkat piala dunia ini akan meraih rekor tertinggi. Diperkirakan bisa melampaui target 1,2 milyar Euro.

Agustus 2005 lalu, Adidas menggelontorkan dananya 3,1 milyar Euro untuk mengakusisi Reebok. Padahal Reebok adalah pesaing terkuat Nike untuk penjualan produk bola basket dan America football yang menjadi olah raga favorit masyarakat Paman Sam. Ini suatu serangan mematikan untuk menguasai pangsa pasar Amerika sekaligus menghancurkan dominasi Nike dikandangnya. Bagi Adidas saat ini cuma ada satu rumus. Setelah sukses memukul Nike di USA, selanjutnya menyiapkan pukulan pamungkas untuk mengalahkan Nike pada ajang piala dunia 2006 yang akan mengakhiri kejayaannya sebagai market leader.

Inilah peta masing-masing kekuatan yang sudah mulai berlaga sebelum ajang piala dunia 2006 resmi dipertandingkan:

Nike

Adidas

Puma

Omset 2005

10,9 Milyar Euro

6,6 Milyar Euro

1,8 Milyar Euro

Laba sebelum bunga dan pajak

1,5 Milyar Euro

0,7 Milyar Euro

0,4 Milyar Euro

Merek produk

Nike, Cole Haan, Bauer, Converse, Hurley, Starter

Adidas, Reebok, Taylor Made, Maxfi

Puma, Tretorn

Perkiran Omset yang diraih dalam PD 2006

1,2 Milyar Euro

1,0 Milyar Euro

0,25 Milyar Euro

Jumlah Tim Kesebelasan yang disponsori

8

6

12

Sumber: Capital, 17.05.2006.

Pada akhirnya, para penggemar sepak bola boleh bahagia atas kemenangan kesebelasan kesayangannya. Para pemain dan pelatih boleh saja bangga dengan hasil yang telah dicapai. Tentu saja diikuti pula oleh mengalirnya berbagai bonus termasuk tawaran untuk menjadi model iklan. Uang, berbagai fasilitas dan privilege sudah pasti menjadi konsekuensi wajar atas prestasinya. Tapi pada titik ini para CEO korporasi lah yang sejatinya paling menikmati manisnya kemenangan piala dunia. Deviden, promosi atau prosentase kepemilikan saham perusahaan akan mengalir ke rekening mereka masing-masing apabila perusahaannya mencapai target yang diinginkan. Tampaknya piala dunia bukan cuma pertandingan sepak bola tapi lebih dari itu pertarungan hidup mati kejayaan sebuah korporasi. Jadi, masihkah kita yakin bahwa kesebelasan kebanggaan kita lah yang akan menjadi pemenang piala dunia?

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s