Mari Kita Bicara Cinta-2


(Artikel ini dipublikasikan pertama kali pada Sun Nov 16, 2008 6:53 pm)

Ferizal Ramli4—terinspirasi dari sebuah legenda cinta Telenovela di masa Eropa
kegelapan—

Entah kesalahan apa yang dilakukan oleh Leonora, terkecuali lahir dari
tempat yang salah dan waktu yang salah. Sekat sosial kasta terendah.
Dalam timbunan masalah. Dalam beban yang tidak ada lagi yang perduli
berapa beratnya kecuali tanpa hak bertanya kenapa beban harus tetap
dipikul, untuk dipikul. Dan, ditempat itulah Leonora terlahir dalam
kutukan kecantikannya.

Dalam waktu dimana cita rasa kebodohan pekat yang mengganggap
kecantikkan wanita adalah sebuah kekayaan keluarga. Masyarakat itulah
Leonora tumbuh. Tumbuh besar mengembangkan bahasa citra dan cintanya.
Tumbuh dalam keluarga besar bersatu dalam gubuk reyot, disertai irama
derit-2 dipan reyot yang bergoyang pada malam harinya, sebagai
ekspresi hasrat manusiawi diantara serakan dan tumpukan masalah.

Kelak ternyata diketahui bahwa kecantikan itu sebenarnya sebuah
kutukan. Dingin dalam kalkulasi ekonomi, Leonora adalah sebuah asset
yang dianggap menyelamatkan. Transaksi rasional, tanpa pernah
diijinkan cinta menemukan citranya, Leonora membuat komitmen cinta
atas nama Tuhan kepada seorang Don Priyayi Tua Bangka seumur hidupnya.

XXX

Rodriguez adalah kharisma ksatria panglima tangguh tanpa pernah
terkalahkan. Berdiri tegak dalam keyakinan, bahkan Matahari pun akan
bersujud padanya. Sebagai bentuk penghormatan atas keyakinan teguh
seorang lelaki.

Sang Ksatria Panglima Rodriguez terdiam diatas kudanya, saat tidak
sengaja kedua sorot matanya beradu menebus bola mata biru Leonora yang
tanpa sengaja berjalan di hadapannya. Seketika itu juga semua berubah
cepat. Bagai tsunami, kecantikan Leonora mengkreasi hasrat cinta
estetika Sang Panglima.

Tanpa perduli siapa itu Leonora, istri seorang Don Priyayi Tua Bangka,
Ksatria Redriguez menghempaskan semua etika kebenaran yang selama ini
teguh digenggamnya untuk dipertukarkan dengan hasrat cinta
estetikanya. Begitu perkasakah kelembutan seorang wanita sehingga dia
bisa merubah keyakinan seorang pria yang kuat dalam sekejap?

Leonora yang hidup terhimpit sesak dalam kasta paria cinta, hampa
kerontang, seketika melihat oase indah pemuas dahaga. Oase cinta
estetika untuk pemuas hasrat kewanitaannya. Dibukakan pintu buat
Redriguez. Dibiarkan Ksatria itu menyentuhnya. Mereka berdua
memutuskan untuk melupakan ketaatannya atas norma, karena estetika
cinta tahu bagaimana cara melanggarnya. Estetika cinta itu tahu persis
bagaimana nurani kebenaran bisa didustai atas nama cinta.

XXX

Topan badai, Don Priyayi Tua Bangka tersentak saat halilitar
mengabarkan citra hitam istri sahnya. Istri yang dia miliki diatas
janji Altar Tuhan. Ego lelakinya terluka parah dan marah. Hukuman
harus ditegakkan untuk membalut luka menganga pada egonya. Leonora
dicerai dan harus menikah dengan seorang lelaki tua buruk rupa
berpenyakitan, dan dari rahimnya harus terlahir seorang keturunan dari
si buruk rupa.

Tertunduk ikhlas Leonora, diterimanya hukuman itu. Kesucian itu
diperoleh bukan dari wanita yang tidak pernah melakukan kesalahan.
Kesucian itu diperoleh dari wanita ikhlas menerima hukuman atas
kesalahan —begitulah nurani Leonora berbicara sebagai pelita. Dalam
hari-2 berat, dalam tangisan bayi mungil mereka, didampinginnya si
lelaki tua buruk rupa yang bernapas begitu berat sampai napas terakhir
sang lelaki sunyi…

15.11.2008
Dari Tepian Lembah Sungai Isar
(Dilanjutin nanti, jalan-2 dulu, lha wong batere laptop-nya sudah mau
habis je, mana musim winter jadi lebah sungainya dingin buanget…, hi…,
hi…)

XXXXX

 

(Lanjutin dongeng telenovela ah…)

Ksatria Redriguez marah dan terluka. Cinta indahnya terhempas secara
paksa. Seakan setengah dari paru-2 nya dicabut paksa dari tubuhnya.
Matanya gelap, hatinya guncang. Dia ingin menangis untuk pertama kali
dalam hidupnya sebagai lelaki karena kehilangan cintanya. Hanya saja,
egonya bicara bahwa seorang lelaki ksatria yang terluka itu pantang
menangis.

Lelaki jika terluka harus diam ningrat seperti para aristrokat Jawa
yang mampu mengendalikan rasanya. Jika tidak mampu diam ningrat, maka
lebih baik meledakkan dunia dari pada menangis. Seperti Gunung Merapi
memuntahkan „wedus gembel”-nya. Seorang lelaki tidak boleh menangis
saat terluka!

Berlari gila menuju medan perang tanpa perhitungan. Kecuali dengan
satu keinginan: meledakan dunia! „Tidak perduli hidup atau mati”,
teriak gilanya. Redriguez begitu terluka dalam marah untuk mampu
membuat kalkulasi-2 rasional.

Mengamuk, mengamuk, tidak perduli, seperti Burung Phoenix pertarung
perkasa dalam kerentanan emosi labilnya. Sekelebat sebuah pedang
menyentuhnya, melumpuhkan Redriguez yang berperang kalap. Perlahan
tapi pasti kedua kaki sang Panglima tidak mampu lagi menahan tubuh
gagahnya…

Dalam detik-2 akhir kesadarannya, Redriguez mengadah lurus keatas.
Sadarlah dia bahwa matahari yang selama ini melindungi kemenangan
ternyata sudah tidak sudi lagi bersujud padanya. Matahari telah lama
berlalu meninggalkannya, karena matahari tidak pernah berpihak pada
kesalahan…

XXX

Kematian suami si buruk rupa adalah sebuah sasmita nyata bahwa hukuman
masa lalu Leonora telah berakhir…

Dalam sebuah Altar Tuhan, Leonara bersimpuh khusus dalam doa. Doa atas
kisah cinta masa lalu dengan lelaki tangguh Redriguez. Doa atas
kematian Redriguez yang sayup-2 terdengar juga di telinganya,
kekalahan perang pasukan sang ksatria.

Leonora berketetatapan hati untuk tidak akan mengganti cinta masa
lalunya terhadap sang Ksatria. Meskipun itu adalah cinta salah dan
telarang, cinta yang penuh estetika belaka, tapi itulah satu-2 nya
referensi cinta terindah yang pernah dimilikinya. Tersimpan rapih
dalam nurani terdalam. Tidak boleh ada yang tahu, karena keanggungan
cinta seorang wanita terletak dalam kemampuannya menyimpan misteri
cinta seumur hidupnya. Dan dengan memori cinta itulah yang membuatnya
mampu tetap hidup bertahan.

Diputuskan untuk menutupi tubuhnya dalam balutan jubah biara. Kepada
Tuhan lah semua perasaan atas kelihangan Redriguez akan
dipersembahkan. Seluruh hidupnya akan dipersembahkan untuk melawan
kemiskinan dan kebodohan. Sesuatu yang dulu membebani seluruh
hidupnya. Hanya saat cinta Tuhan telah menyatu dalam dirinya, maka
kemiskinan dan kebodohan telah berubah. Dia bukan lagi sebuah masalah.
Tapi dia telah berubah menjadi surga dakwah…

XXX

Tangan lelaki kecil itu sedang berusaha menolong seorang budak yang
berdiri goyah. Leonora mendekati putra kecilnya. Terkejut. Ah, budak
yang ditolong oleh putranya, samar adalah wajah yang begitu lekat pada
masa lalunya…

Tapi kemanakah keyakinan teguh itu?, kemanakan sikap tegak ksatria
itu? Lelaki itu tidak lebih dari pada lelaki payah. Goyah tanpa
harapan. Lelaki dari masa lalu yang kalah. Bukan lagi seorang panglima
perang ksatria gagah. Dia tidak lebih orang kalah yang ingin cepat mati…

(Dilanjuti nanti lagi, harus tugas ke luar kota demi dapur ngebul
anak-istri. Siapa tahu nanti kesurupan Dewi Cinta sehingga dapat ilham
baru melanjutkan menulis. Klo ndak dapat ilham ya nyuwun sewu, jika
memang tertarik dengang dongeng cinta maka monggo dilanjutkan sesuai
selera pembaca masing-2 aja deh, ha…, ha…)

17.11.2008
Dari Kesunyian Tepian Lembah Sungai Isar,
Salam

Ferizal Ramli

Iklan

4 thoughts on “Mari Kita Bicara Cinta-2

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s