Korupsi dan Pengkhianatan Intelektual…


(Artikel ini pertama kali dipublikasikan pada Wed Jun 25, 2008 7:09 pm)

Ferizal Ramli3Was diese Wissenschaft betrifft,
Es ist so schwer, den falschen Weg zu meiden,
Es liegt in ihr so viel verborgnes Gift,
Und von der Arznei ist’s kaum zu unterscheiden.
Am besten ist’s auch hier, wenn Ihr nur einen hört,
Und auf des Meisters Worte schwört.

Im ganzen – haltet Euch an Worte!
Dann geht Ihr durch die sichre Pforte
Zum Tempel der Gewissheit ein.

Terjemahan ngawurnya, kira-kira begini 🙂

Apa yang menjadi hakekat dari ilmu pengetahuan,
Itu sangat sulit menghindari kesalahan pemahaman,
Di dalamnya terkadung begitu banyak racun yang mematikan,
dan darinya juga terdapat obat mujarab, yang diantara keduanya tidak
mudah dibedakan.
Yang terbaik adalah kita berada dimana kita mendengar sebuah kebenaran,
dan pada kata-kata yang terbaiklah kita berpegang teguh.

Dalam kondisi apapun peganglah kata kebenaran!
Kemudian berjalan lah dengan penuh gerbang kepastian
Memasuki keyakinan Tuhan…

Dari Filsuf Johann W. Von Goethe
dalam Karya Masterpiece-nya:
“Faust – Der Tragödie Erster Teil”
(Tragedi „Faust” bagian pertama)

XXX

Sulitnya menggunakan pengetahuan demi menjunjung kebenaran adalah
tantangan hakiki semua intelektual. Goethe jelas menyatakan bahwa para
intelektual sangat mudah terjebak pada arah yang salah. Adalah
“wajar”, jika kesalahan itu karena kekhilafan. Tapi jika intelektual
karena kepentingannya sengaja memilih jalan yang salah maka inilah
yang dikenal oleh sejarah sebagai pengkhinatan intelektual.

Sejarah mencatat filsuf besar Martin Heidegger melalukan pengkhianatan
terhadap ilmu pengetahuan. Atas nama kepentingan politiknya, Heidegger
yang pernah menulis karya filsafat lembut yang tertulis dalam „Sein
und Zeit” tentang kemanusian, berubah menjadi filsafat fatalis yang
propagandais mendukung Hitler dengan gaya intelektual elegence tetapi
mematikan kehidupan.

Pengkhinatan intelektual biasanya dilakukan dengan menggunakan
pengetahuannya meraih semua kepentingannya tanpa pernah memperdulikan
nilai-nilai kebenaran yang ada di hadapannya.

XXX

Pengkhinatan intelektual adalah cerita klasik kejahatan kaum terdidik.
Ini terjadi dimanapun tanpa terkecuali.

Di Indonesia, pengkhianatan paling menojol adalah pada kejahatan
ekonomi. Masih tajam diingatan bagaimana Mafia Berkeley dengan
privilege pengetahuan yang dimilikinya memporak-porandakan
perekonomian bangsa. Menjadikan bangsa Indonesia menjadi bangsa
terbenam dalam kejahatan korupsi tanpa bandingan. Jargonya: “Teori neo
klasik!”

Atas nama pertumbuhan dan kestabilan ekonomi, kekayaan alam yang
dimiliki digadaikan. Atas nama pertumbuhan dan kestabilan ekonomi
seluruh akses untuk mendapatkan kebenaran dibungkam. Atas nama
pertumbuhan dan kestabilan ekonomi, berbagai kontrak karya, kontrak
hutang, dan kontrak-kontrak lainnya ditandatangani tanpa pernah tahu
seberapa besar manfaatnya buat rakyat. Disini, jalinan korupsi disulam
melalui tangan-2 intelektual anak negeri berkolaborasi dengan para
bromocorah pengeruk kekayaan sumber daya alam lintas negara.

Semua ini untuk pertumbuhan ekonomi siapa? Untuk kestabilan ekonomi
siapa? Siapa yang sejahtera? Apa manfaat yang bisa dinikmati oleh
rakyat kecil atas ilmu pengetahuan yang dimiliki para intelektual?
Mafia Berkeley adalah cerita tragis pengkhinatan inteletual dalam
kejahatan ekonomi.

Tapi tidak usah bersedih, di Cile nun jauh disana para intelektualnya
yang tergabung dalam Chicago boys, juga menggunakan jargon neo klasik,
menghancurkan bangsanya. Jadi, kita tidak sendiri…

XXX

Semua sudah terjadi. Tapi pepatah “nasi telah menjadi bubur” tidak
berlaku disini. Biarlah para generasi dulu pernah melakukan
pengkhianatan intelektual. Tapi saat ini, seharusnya tidak ada lagi
tempat buat pengkhianatan intelektual. Saatnya intelektual tahu kemana
berpihak. Pada kebenaran. Pengabdian pengetahuannya buat kesejahteran
rakyat, bukan untuk memuaskan kepentingan-kepentingan korup segelintir
orang yang akan menghancurkan kita semua…

Saatnya zero tolerance terhadap korupsi dimanapun berada dan sekecil
apapun ditegakkan. Dan jadikanlah nurani sebagai batas untuk
menentukan apa yang benar dan apa yang salah. Dan gunakan pengetahuan
untuk menegakkan yang benar tanpa kompromi with all cost in any
circumstance…

Semoga para intelektual tahu persis kemana mereka berpihak…

Dari Lembah Sungai Spree,

Ferizal Ramli
Sebuah mimpi yang uthopie

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s