Kontroversi Masa Depan Uni Eropa


(Artikel ini pertama kali dipublikasi pada akhir 2006 di Harian Jurnal Nasional)

Ferizal Ramli2“Apa arti 12 bintang dalam lambang Uni Eropa?” Kesalahan umum sering kali terjadi dengan menganggap simbol 12 bintang diartikan sebagai jumlah negara pendiri Uni Eropa. Tetapi faktanya pendiri Uni Eropa itu cuma 6 negara tahun 1952 pada saat penandatanganan European Defence Community (EDC) dan European Economic Community (EEC) 1957.


Lambang Uni Eropa tidak memiliki makna politik. Itu lebih bermakna relijius. 12 bintang melambangkan jumlah rosul yang mendampingin Yesus. Jadi, pendirian Uni Eropa didasari oleh semangat relijius. Meskipun konstitusi Uni Eropa itu sekular tetapi visi yang mendasarinya adalah relijius. Visi untuk membuat Eropa bisa sejahtera dan terbebas dari peperangan dan penindasan. Sama persis dengan misi para rosul kristiani yang ingin mensejahterakan manusia, setidaknya begitu menurut penjelasan seorang staf Parlemen Uni Eropa di Strasbourg.


Uni Eropa dibangun pertama kali diatas puing-puing trauma perang dunia. Winston Churchill, PM Inggris saat itu, yang memprakarsai ide untuk kebersamaan Eropa. Dalam pidatonya di Zurich 19 September 1946; “kita harus membangun United States of Europe dengan Jerman serta Perancis harus ada di dalamnya”. Churchill ingin membuat “sangkar” bagi Jerman agar tidak mengulangi lagi perang di Eropa.

Tetapi paradoks terjadi saat ini. Justru Inggris yang paling enggan untuk melebur sungguh-sungguh dalam Uni Eropa. Rivalitas dengan Jerman serta keinginan untuk tetap mempertahankan identitas Anglo-Saxon menjadi salah satu faktor penting yang menjadikan Inggris tetap berada “di batas pintu” dalam organisasi Uni Eropa.

Perjalanan sejarah Uni Eropa sebenarnya penuh dengan keberhasilan. Tahun 1995 hampir seluruh negara Eropa barat bergabung. Tahun 1998 sistem keuangan Eropa terintegrasi dalam mata uang tunggal: Euro. Tahun 2004 bertambah lagi 10 negara Uni Eropa baru dari mantan negara komunis Eropa Timur. Ini menjadikan UE sebagai kekuatan ekonomi besar di dunia. Hanya saja setelah itu Uni Eropa mulai memasuki fase-fase sulit.

Tantangan terberat Uni Eropa terjadi setelah hasil referendum Perancis dan Belanda, 2 negara pendukung utama Uni Eropa, dimana rakyatnya menolak untuk menyetujui konstitusi baru untuk membuat Uni Eropa lebih terintegrasi. “Eropa? Tidak, terima kasih”, begitu sikap 55% masyarakat Perancis dan 62% masyarakat Belanda menolak Uni Eropa.

Masyarakat skeptis. Brussel pusat Uni Eropa telah berubah menjadi kota birokrasi. Tercatat dari Brussel dalam urusan mengatur industri automotif saja telah 3.000 peraturan dikeluarkan. Berbagai aturan lainnya juga dikeluarkan untuk mengatur 450 juta penduduknya termasuk peraturan tentang merokok, makan, minum, dsb. Bagi masyarakat, Uni Eropa tidak lebih proyek elit para politisi. Penuh aturan birokrasi njlimet tapi tidak memberikan keuntungan nyata buat masyarakat umum. Penduduk dari negara maju Eropa juga dibebani biaya untuk mensubsidi pendudukan dari negara yang terbelakang khususnya mantan Eropa Timur.

Tabel: Beban yang ditanggung setiap Penduduk untuk Solidaritas UE tahun 2003

Negara

Euro

Luxemborg

125

Belanda

121

Swedia

106

Jerman

93

Belgia

74

Inggris

47

Austria

42

Denmark

40

Perancis

32

Italia

14

Filandia

4

Sumber: Spiegel 4/2005

Kesemuannya ini memunculkan ketidakpuasan bagi sebagian masyarakat Eropa khususnya Eropa Barat. Hasil riset Maret 2006 menunjukkan; meskipun pro dan kontra menjadi anggota UE masih berimbang tapi sebagian besar penduduk Eropa sepakat bahwa saat ini Uni Eropa berjalan pada arah yang salah.

Tabel: Prosentasi Penduduk yang Setuju menjadi Anggota UE

Tabel: Prosentasi Penduduk yang Menganggap UE berada pada arah yang benar

Jean-Claude Junkler, Perdana Menteri Luxemborg, mengatakan saat ini Eropa tidak dalam keadaan krisis, melainkan pada titik krisis yang sangat dalam. Masa depan Uni Eropa tidak jelas. Pada saat bersamaan pemimpin negara Eropa juga dalam posisi transisi. Angela Merkel, kanselir Jerman atau Romano Prodi, Presiden Italia baru saja menduduki pemerintahan. PM Belanda Balkenende baru saja meletakkan jabatan. Presiden Perancis Chirac tidak lama lagi dalam pemilu mendatang juga akan meletakkan jabatan. Para pemimpin negara-negara Eropa masih bimbang untuk menentukan kemana kemudi akan diarahkan. Mungkin saat ini adalah waktu yang tepat buat pemimpin dan masyarakat Eropa untuk berkontemplasi dalam menentukan masa depan Eropa. Sejarah nanti akan mencatat apakah Eropa berhasil atau tidak mengatasi masa-masa sulit ini.

Iklan

2 thoughts on “Kontroversi Masa Depan Uni Eropa

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s